Seorang pemuda bernama Rendi Irawan yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas hanya bisa pasrah pada saat sebuah mobil truk yang kehilangan kendali menabraknya pada saat perjalanan pulang menuju rumah kontrakannya. Awalnya ia sudah pasrah akan keadaan yang menimpanya dan hanya bisa melihat truk tersebut yang perlahan menuju ke arahnya sampai akhirnya truk tersebut menabrak dan melindas hingga kepalanya hancur, namun sebuah keajaiban terjadi, sebelum ia benar-benar mati, tiba-tiba saja sebuah tangan bercahaya menarik rohnya hingga melintasi ruang dan waktu dan masuk kedalam tubuh seorang pemuda yang terdampar di atas batu dalam sungai, sampai akhirnya sebuah suara aneh terdengar di telinganya
DING!!!! Sistem Beladiri Terhebat telah menemukan player terpilih, tekan tombol YA jika ingin melanjutkan penyatuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aras507, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19. Monster Singa Merah Darah
Keesokan harinya, Rendy dan Mei Lan kini sudah bersiap-siap untuk keluar dari dalam hutan giok dan menuju kota kediaman Klan Gu, untuk keluar dari dalam hutan tentu saja keduanya akan mengikuti jalur yang ditempuh oleh para perampok macan hitam untuk meminimalisir kemungkinan mereka akan tersesat.
Selain itu jalur yang ditempuh para perampok sepertinya merupakan jalur yang cukup aman karena ke 12 perampok tersebut berhasil masuk kedalam hutan giok tanpa mendapatkan luka sedikitpun, yang berarti perampok itu sama sekali tidak bertemu siluman berbahaya selama perjalanan mereka.
Srettt
Rendy memasukkan semua peralatan yang ia miliki kedalam cincin penyimpanan seperti alat memasak dan benda-benda lainnya. sama seperti Rendy, Mei Lan juga sudah selesai mengemasi barang-barangnya serta gulungan teknik pedang aliran air yang akan ia serahkan pada Klan dan sektenya.
Rendy melihat ke arah Mei Lan dan mendapati kalung giok keluarga Gu masih tergantung di lehernya. "Hmmm.... Mungkin sebaiknya kau menyimpan pedang dan kalung giok itu kedalam cincin penyimpananmu, kau tidak ingin langsung tertangkap pada saat baru keluar dari dalam hutan bukan?"
Mei Lan melihat ke arah Rendy yang juga tidak memegang senjata apapun di tangannya dan berpenampilan seperti rakyat biasa. Mei Lan bisa melihat kalau Rendy ingin meminimalisir adanya pertarungan pada saat berhasil keluar dari dalam hutan.
"Aku mengerti." Angguk gadis itu, dan perjalanan mereka pun akhirnya dimulai. Sebenarnya Mei Lan sedikit enggan melakukan permintaan Rendy tadi, karena ia merasa kalau Rendi bisa saja menyelesaikan masalah jika nantinya bertemu dengan kelompok perampok atau para petarung aliran hitam.
Namun mengingat di atas petarung ahli masih ada Petarung yang lebih kuat membuat Mei Lan mengikuti perintah Rendy, karena walau bagaimanapun hari-hari sial saat bertemu dengan petarung seperti itu tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Keduanya pun memulai perjalanan dan menyusuri jalan dengan cara berlari, Rendy yang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh tentu saja menggunakan energi Qi untuk mempercepat langkahnya, dan hal itu tentu saja bisa dilihat oleh Mei Lan.
Meskipun begitu, Rendy tetap saja berada di tempat paling depan dan memimpin jalan membuat Mei Lan tertawa kecil dalam hatinya. "Kita akan lihat, berapa lama dia akan bertahan menggunakan tenaga dalamnya seperti itu." Batin Mei Lan yang terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Setelah menempuh perjalanan sejauh 5 kilo meter, apa yang ditunggu-tunggu oleh Mei Lan tidak kunjung datang. "Bagaimana bisa dia bertahan dengan kondisi seperti itu tanpa kelelahan, apa mungkin energi Qi yang ia miliki jauh lebih banyak dari yang aku pikirkan?."
Mei Lan nampak mengerutkan dahinya pada saat mendapati kalau sekarang energi Qinya lah yang mulai berkurang, sementara Rendy, kondisi fisik yang ia miliki masih terlihat bugar seperti di awal perjalanan.
Tak lama kemudian Rendy tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Mei Lan tersenyum kecil dan berniat mengejek pemuda itu.
"Sepertinya kau sudah kehabisan....." Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Rendi mengulurkan tangannya untuk mencegah gadis itu berbicara.
"Jangan bersuara." Rendy yang sebenarnya menyadari adanya kehadiran seekor monster nampak menarik Mei Lan untuk bersembunyi di balik semak belukar, ia kemudian mengintip di balik semak dan mendapati seekor singa merah tengah memakan daging domba bertanduk.
"Apa yang kau lihat...." Belum sempat ia bertanya lebih jauh, pandangan Mei Lan tiba-tiba tertuju pada monster singa merah darah tingkat 6 yang sedang makan dan hanya berjarak 10 meter dari tempat mereka sekarang.
Dengan cepat Rendy bergerak menutup mulut gadis itu agar tidak bersuara dan tidak menarik perhatian singa merah darah itu. "Itu monster tingkat 6, singa merah darah yang biasanya hanya di temukan di tengah hutan giok, bagaimana bisa monster seperti itu ada di bagian terluar hutan ini." Ucap Rendy sambil terus mengawasi sekitarnya.
Ekspresi wajahnya nampak begitu waspada terhadap sekitar karena biasanya monster singa merah darah hidup berkelompok dan sangat jarang terpisah dari kelompoknya kecuali.....
"Singa ini..... Apa mungkin ia datang sendiri." Rendy mengingat kembali kalau singa jantan di dunia asalnya biasanya memang hidup bersama kawanan betina, namun ada masa dimana singa jantan akan menyendiri yaitu pada saat daerah kekuasaannya direbut oleh pejantan lain.
"Jika singa merah tua ini memiliki sifat hidup yang sama dengan singa di duniaku, maka bisa dipastikan singa ini datang sendirian, dan alasan ia berada di sini adalah karena mencium bau daging domba bertanduk ya g saat ini menjadi santapannya." Batin Rendy yang bisa melihat luka sayatan pedang pada domba santapan singa itu.
"Rendy, sekarang bagaimana, kita tidak akan bisa menang melawan singa itu dengan kekuatan yang kita miliki sekarang, tapi jika kita terus berada di tempat ini, maka singa itu lama kelamaan juga bisa menemukan kita." Ucap Mei Lan pelan.
Rendy dan Mei Lan saat ini berada di posisi serba salah, ia tau betul kalau pertemuan dengan singa merah tua adalah sebuah masalah besar, karena jika singa ini melihat keduanya, ia tidak akan pergi jika tidak membuat masalah atau pertarungan terlebih dahulu, dan itu akan sangat berbahaya bagi keduanya.
Satu-satunya cara agar keduanya bisa lolos dari monster singa ini adalah menghindarinya dan menjauh dari singa itu, namun ada masalah lain yang membuat mereka tetap diam saja di tempat, yaitu singa merah tua memiliki kualitas pendengaran dan kecepatan yang sangat tinggi.
Hal ini membuat Rendy dan Mei Lan semakin tidak bisa bergerak dari tempat mereka, dan lagi jika keduanya tetap berada di tempat yang sama, maka bukan tidak mungkin malah singa itu ya g lebih dulu menemukan tempat persembunyian mereka.
"Sial!! Ini seperti memilih antara mati dikejar sebagai mangsa, atau mati ditemukan dan di mangsa." Batin Rendi mengumpat keras pada keadaan saat ini. Selang beberapa detik, tiba-tiba saja Rendi tersenyum lebar membuat Mei Lan memasang ekspresi wajah bingung.
"Apakah kau sudah gila, saat ini kita sedang berada di antara hidup dan mati, tapi kau malah tersenyum lebar seperti itu, apa kau....." Mei Lan tiba-tiba menghentikan kalimatnya saat menyadari kalau singa merah darah itu sudah selesai dengan kegiatan makannya, dan yang paling membuat Mei Lan tersentak adalah tatapan mata singa merah darah itu tertuju tepat pada Rendy dan dirinya.
"Mei Lan.... Apapun yang terjadi aku mohon jangan bergerak dari tempatmu sedikitpun." Ucap Rendy membuat gadis itu tanpa sadar menganggukkan kepalanya, ia sama sekali tidak tau apa yang direncanakan oleh pemuda itu, tetapi ia bisa memastikan kalau rencana yang ia miliki sangat berbahaya.
Di detik berikutnya Rendy tiba-tiba melompat keluar tepat di hadapan singa merah tua itu membuat singa itu tiba-tiba terkejut dan menatap Rendy marah, tidak hanya singa itu, Mei Lan yang melihat Rendy yang tiba-tiba melompat keluar seketika tersadar dan mengetahui rencana yang Rendy lakukan.
Tepat saat itu juga Rendy mengalirkan energi Qi pada kakinya dan berlari sangat cepat meninggalkan tempat itu, dan di waktu yang sama, singa merah tua itu seketika mengejar Rendy dengan kecepatan yang hampir sama cepatnya dengan pemuda tersebut.