Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Akhirnya Berpisah
Diandra sudah melewati beberapa kali persidangan cerainya dengan Bagas,dan akhirnya hari ini dia sudah diputuskan bercerai dengan Bagas.
Diandra berjalan ke arah Nina yang selalu setia menemaninya saat persidangan berlangsung. Nina datang memeluk Diandra dengan tangisnya, antara sedih dan bahagia hati Nina melihat Diandra. Sahabatnya itu saat ini sudah menyandang gelar seorang janda. Tapi ini sudah jalan hidup Diandra,dan Nina yakin Diandra bisa melewati ini semua.
"Di, aku gak tau harus merasa seperti apa dengan keadaanmu saat ini, tapi aku selalu mendoakan kamu,aku yakin kamu akan bisa menjalani kehidupanmu yang selanjutnya dengan lebih baik" bisik Nina sambil mengusap air matanya.
Diandra tersenyum, dan tampak disudut matanya titik bening mengambang.
"Terimakasih Nin, kamu selalu ada didekatku disituasi apapun" ucap Diandra terharu.
Nina melepas pelukannya dan menggandeng tangan Diandra kemudian membawanya keluar ruangan pengadilan.
"Keluar yuk, aku trauma dengan tempat ini, aku gak ingin kesini lagi"seru Nina.
"Kenapa bisa kamu trauma?" tanya Diandra bingung.
"Yaaaa,,,trauma karena aku melihat,aku mengantarkan sahabatku sendiri ke tempat ini"
Diandra sedikit tertawa kemudian menepuk bahu Nina pelan.
"Buka lembaran baru ya Di,,,kalau ada jodoh lagi ku doakan itu yang terakhir dan kamu bahagia " ucap Nina mendoakan Diandra tulus.
"Aamiin"
Mereka berdua berjalan menuju parkiran. Tapi saat sampai Bagas sudah ada didekat mobil Nina.
Nina menatap Diandra,Diandra hanya diam melihat Nina yang terlihat kesal.
"Mau apa dia?" tanya Nina kemudian.
"Entahlah" jawab Diandra sambil mengangkat kedua bahunya.
Tapi mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju ke mobil.
"Di,,," sapa Bagas saat Diandra sudah mendekat.
"Ada apa ?" tanya Diandra pelan.
"Maafkan aku"
"Aku sudah maafkan kamu"
"Apakah kita masih bisa tetap berhubungan baik?" tanya Bagas seperti tidak merasa bersalah.
"Buat apa?" tanya Diandra merasa aneh.
"Aku gak mau jauh dari kamu Di"
"Segila ini pikiranmu,,,kamu sudah bersama Sinta, jaga saja perasannya, jangan sampai kamu menyakiti dia juga, aku sudah ikhlaskan semuanya, makanya aku memilih berpisah"
"Lanjutkan saja hubungan kalian, ingat Sinta sedang mengandung anakmu, itu kan yang kamu harapkan selama ini, hal yang gak kamu dapatkan dari aku. Jaga saja hubungan kalian, semoga kalian selalu bahagia" ucap Diandra kemudian berlalu meninggalkan Bagas masuk ke dalam mobil diikuti oleh Nina yang sedari tadi menatap Bagas tajam.
Bagas menyingkir dari depan mobil Nina, seakan pasrah dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang.
Mobil pun berlalu meninggalkan halaman parkir pengadilan agama dan juga Bagas yang menatap kepergian mobil Nina dan Diandra.
Sepanjang jalan Diandra hanya diam, tatapannya selalu keluar jendela mobil, menatap jalanan yang ramai oleh kendaraan yang mendahului mobilnya.
"Di,,,gimana perasaanmu?" tanya Nina setelah hampir 1 jam mereka berdua saling diam.
Terdengar Diandra menghela nafas pelan kemudian menatap Nina.
"Entahlah Nin,meski ini keinginanku tapi aku tahu aku belum bisa sepenuhnya menerima keadaan ini" jawab Diandra jujur.
"Ya Di,aku tahu itu,,gak semudah itu. Tapi aku harap kamu gak berlarut larut, kamu harus bisa melewati ini semua" jelas Nina.
"Pasti Nin,,aku hanya perlu beradaptasi sebentar, mencerna apa yang sedang aku terima sekarang ini, setelah itu bangkit lagi untuk memulai kehidupanku, menata kembali semuanya"
"Yaa,,itu harus Di" ucap Nina peman dan kembali fokus pada jalan raya yang cukup ramai.
"Kita langsung pulang aja ya Nin" pinta Diandra pelan.
"Enggak makan dulu"
"Enggak" jawab Diandra singkat sambil menggeleng.
"Oke,,," Nina menuruti permintaan Diandra.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Diandra. Diandra segera turun dari mobil.
"Masuk dulu Nin" ajak Diandra.
"Kita buat makan siang aja di rumahku" ajak Diandra lagi.
"Enggak usah Di, aku mau langsung pulang saja"
"Kenapa?, kamu gak pengen ngobrol ngobrol dulu sama aku?"
Nina tersenyum mendengar pertanyaan Diandra.
"Justru aku mau berinkamu kesempatan buat istirahat, aku tahu kamu pasti capek banget. Bukan cuman capek fisik, tapi juga isi kepalamu" jelas Nina.
Diandra ikut tersenyum mendengar kalimat kalimat Nina yang paham dengan situasi hatinya saat ini.
"Oke lah" jawab Diandra akhirnya.
"Yukk aku pulang ya,,kalau ada apa apa atau kamu butuh aku kamu telpon aja aku" pinta Nina sebelum meninggalkan Diandra.
"Iya aku pasti hubungi kamu kalau aku butuh bantuan kamu" jawab Diandra.
"Oke,,ya sudah aku pulang yaa" ucap Nina sambil menjalankan mobilnya dan melambaikan tangannya pada Diandra.
Diandra menatap kepergian Nina yang mulai menghilang dari pandangannya bersama mobilnya, setelah itu Diandra masuk kehalaman rumahnya.
Setelah mengunci pintu, Diandra berjalan menuju kamarnya, menghempaskan tubuh di atas kasur setelah menaruh tas mungil dan berkas berkasnya yang dari pengadilan di atas nakas mungil berwarna putih di sudut kamarnya.
Ponselnya yang sedari tadi dia pegang juga dia taruh di sisinya berbaring. Sepanjang perjalanan dia sengaja meng offkan ponselnya karena dia tidak ingin Bagas mengganggunya lewat telpon atau pesan whatsapp.
Tanpa terasa air mata menitik dari sudut mata Diandra, Diandra mengenang kembali tentnag dirinya dan Bagas. Bagaimana duku mereka bertemu, berkenalan, berteman, dan memutuskan untuk menjalin hubungan, setelah bebebrapa tahun kemudian memutuskan untuk menikah.
Semua sudah dia lewati, dari sedih dan bahagia, jatuh dan bangun. Sampai menjalani rumah tangga diangka 4 tahun.
Seenggak menyangka itu dirinya kalau Bagas bisa menyakiti hatinya. Tidak ada dipikiran Diandra kalau Bagas mampu menghianatinya.
Semua sudah selesai sekarang, Diandra gak mau berlama lama larut dalam kesedihan, karena waktu terus berjalan, tidak mungkin mau menunggunya terus meratapi keadaannya sekarang. Diandra meyakinkan dirinya kalau dia bisa melewati semua ini.