Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Subuh
"Alhamdulillah, pembukaan lahan untuk lokasi wisata di Bali sukses berkat kerja keras Saudara Varun, terimakasih Saudara Varun" Puji Romo di meja makan.
Penyambutan malam ini berbeda-beda seperti sebelumnya. Lebih ramai orang dan lebih spesial hidangannya. Yang paling spesial untukku adalah kehadiran pria yang dipujinya, Varun. Dan yang paling kelihatan bahagia adalah Lestari. Hampir dua minggu ia berduaan dengan Romo, sesuatu yang selalu ia impikan.
Kulihat leher Lestari. Kalungnya baru. Romo pasti membelikannya di Bunaken. Seperti apa Bunaken itu, aku jadi ingin tahu. Setahuku panorama bawah lautnya sangat indah sampai Bunaken disebut surga kedua. Aku juga ingin kesana, tapi tentunya tidak dengan si tua itu. Sebenarnya aku bisa saja minta ini dan itu sesukaku pada Romo, tapi aku tidak ingin ia meminta balasan lebih. Bagaimana jika dia minta anak dariku sesegera mungkin. Membayangkannya saja aku tidak sanggup.
Aku melirik Mbakyu. Sejak aku menceritakan sesuatu tentang Mehmed, Mbakyu menjaga jarak dariku. Sedih rasanya dijauhi oleh orang uang membantuku beradaptasi di rumah ini. Temanku yang pertama di daerah ini. Sepanjang malam aku entah ke berapa kalinya aku tidak bisa tidur. Pertama pikiranku dipenuhi Varun dengan kalimat-kalimatnya yang gila. Kedua, aku memikirkan Mbakyu. Ia terlihat tidak setenang dulu. Mimik wajahnya menyembunyikan sesuatu. Antara sedih benci, atau apalah yang sulit kuterjemahkan. Dia tidak begitu senang meski lokasi wisata di Bali yang Romo bangun kerjasama dengan perusahaan swasta, sahamnya diatasnamakan Mehmed. Entahlah. Mbakyu memang pandai menyembunyikan perasaannya.
***
Masih subuh.
Semua majikan masih mendengkur di kasurnya. Hanya para pelayan yang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk kami. Tak beda dengan Tina dan Marni jika subuh begini. Tapi pagi ini berbeda. Hanya Tina yang ada di kamarku membereskan kamar tidurku.
"Marni kemana? Kenapa hanya kamu saja yang kerja?" Tanyaku.
Aku masih memakai mukena, setelah subuh aku ingin mengaji sebentar. Setelah menikah dengan Romi aku jadi jarang mengaji.
"Sebentar Nyonya saya panggil dulu, tadi sudah persiapan mau ke sini kok belum datang ya" Kata Tina.
Aku mengangguk, kuteruskan ngajiku yang sempat terputus karena bertanya pada Tina.
Tak lama Tina kembali lagi dengan tergopoh-gopoh. Nafasnya terengah-engah.
"Nyonya, tolong Mbak Marni Nyonya" Kata Tina.
Aku menghentikan ngajiku. Aku segera berdiri menghampiri Tina.
"Ada apa?" Tanyaku. Melihat Tina yang ketakutan begitu aku pun ikutan panik.
"Mbak Marni....mari ikut saya Nyonya"
Aku mengikuti Tina tanpa melepas mukena yang kupakai. Sudah tak ada waktu. Kami berlari agar sampai tepat waktu. Kami menuruni tangga, melewati ruang tengah tempat perjamuan makan tadi malam, melewati taman lalu kolam renang kemudian melewati lorong menuju area rumah yang baru dibangun. Di antara lorong itu ada ruangan kecil yang sepertinya gudang. Tapi aku tidak tahu pasti. Gufang yang dulu digunakan untuk menyekap ku bukan di sini. Jadi ini ruangan apa.
Bruk...prak...prang ..
Ada suara berdenting di dalam. Tina melihat Marni digelandang ke tempat ini oleh adik sepupu Romo, Bayu.
Bismillah. Brakk...aku membuka paksa pintunya. Rupanya pintu itu tidak dikunci. Mungkin karena terburu-buru sampai lupa mengunci pintu. Aku terkejut dengan pemandangan di depanku. Ini bukan gudang. Ini semacam kamar rahasia. Ada kasur yang tak kalah mewah dengan kamar-kamar yang lain, ada almari kecil, meja dan dilengkapi dengan kamar mandi di dalam. Tetapi barang-barang yanga da di sini berserakan tak karuan. Aku tidak tahu ada kamar di sini karena memang aku jarang berkeliling rumah yang kelewat luas ini.
Lalu aku melihat Marni, pelayanku tengah berbaring di kasur dengan setengah telanjang. Dan Bayu sedang mencengkeram kedua tangan Marni. Kulihat lengan Bayu terdapat goresan luka. Kulihat pula rambut Marni acak-acakan dan hidungnya berdarah. Jadi kusimpulkan, Bayu ingin memperkosa Marni.
Melihat kedatanganku Bayu segera melepas cengkeramannya dari Marni. Tina yang sedari tadi menemaniku bergidik ketakutan.
"Maaf Tuan Bayu, Marni harus menguras bak mandiku" Kataku dengan nada datar.
"Oke" Jawab Bayu santai. Sepertinya ia memang sering berbuat demikian terhadap para pelayan. Jadi kalau ketahuan begini sudah biasa menghadapi. Aku tak heran. Sikapnya memang tidak begitu baik.
"Tuan Bayu" Panggilku saat ia hendak keluar kamar.
Bayu berhenti.
"Saya rasa anda sudah paham peraturan di rumah ini, anda tidak diperkenankan memerintah pelayan yang sudah ditugaskan untuk melayani anggota keluarga yang lain" Kataku tetap dengan nada datar.
"Hm" Hanya begitu jawaban Bayu.
Huft. Aku telah mengeluarkan segenap keberanian ku untuk mengatakan itu. Berbicara pada Bayu lebih berat dari bicara dengan Mbakyu. Entah apakah ini akan menjadi masalah baru untukku atau tidak.
Tina segera membantu Marni membenahi dandanannya yang amburadul karena ulah Bayu. Marni menangis di pelukan Tina. Tina pun tampak begitu ketakutan. Mungkin ia takut suatu saat akan tiba gilirannya diperlakukan seperti itu oleh Bayu.
Kami membawa Marni ke kamarku sebelum ada yang tahu. Agar tidak menimbulkan curiga, Marni kupakaikan mukena yang tadi kupakai. Untung aku masih memakai kerudung dalan tipis jadi rambutku tidak begitu terlihat kecuali rambut bawah yang terurai panjang di punggung.
Sampai di kamarku. Marni duduk di kursi ditemani Tina. Aku mengambil kotak obat di lemari. Mahasiswa yang mempelajari kesehatan harus punya hal-hal kecil semacam ini. Disamping itu aku membelinya untuk kupelajari lebih lanjut.
Tina mengambilkan air hangat untuk mengompres luka lebam di bibir dan hidungnya agar tidak membengkak. Kuberikan sedikit roti sebagai karbohidrat agar ia bisa segera minim obat. Kuberi obat dengan kandungan Ibuprofen dan kuolesi salep arnica untuk menghilangkan lebamnya. Sedikit banyak aku tahu obat-obatan ringan. Tentu saja kudapat dari kuliah.
"Apakah memang seperti itu perlakuannya pada pelayan?" Tanyaku.
Marni hanya mengangguk
"Apa Romo tidak tahu?"
"Beberapa kali ada yang lapor tapi entah kenapa masalah itu akhirnya hilang tanpa bekas seperti asap yang hilang diterpa angin" Marni berbicara dengan lirih.
"Lalu bagaimana para pelayan yang diperlakukan begitu?" Tanyaku miris.
"Tak lama mereka pasti mengundurkan diri"
"Kita simpan rahasia ini rapat-rapat. Kita tidak perlu melawan Bayu atau melaporkan ke Romo, kita jangan cari masalah dengannya. Mengerti?" Kataku.
Oh jadi begitu trik nya. Sehingga pelayan baru tidak akan tahu kelakuan bejatnya. Dan mereka dengan mudah bisa diperdaya. Tapi Marni, dia bukan pelayan baru. Dia justru tergolong pelayan senior. Kenapa dia juga jadi korban?
Sudah jam enam pagi. Marni kuijinkan untuk istirahat di kamarnya. Lalu kuminta Tina mengawasinya dan menengoknya sesering mungkin. Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan. Kulihat Bayu dengan perban di lengan kanannya. Itu adalah goresan dari Marni yang membela diri. Dia beberapa kali melirikku tapi aku pura-pura tidak tahu.
Romo muncul dengan wajah yang sedikit kurang bergairah, terlihat beberapa kali dia menguap. Romo pasti capek habis perjalanan jauh. Sebenarnya dia bisa saja bangun lebih siang. Tapi tradisi makan bareng saat Romo di rumah tidak bisa dihindari begitu saja. Apalagi Mehmed juga harus berangkat sekolah. Entah benar-benar ke sekolah atau tidak.
"Bayu, kenapa tanganmu itu?" Tanya Romi.
Bayu tampak gelagapan menjawab, tapi kuakui dia memang pintar bersilat lidah.
"Oh, ini latihan beladiri malah cedera begini" Jawabnya ngasal.
"Hmm latihan beladirinya dimana? Di dapur?" Tanya Romo iseng.
Bayu tidak akan berani mengatakan yang sebenarnya bahwa Marni yang mencelakainya. Jika sampai dia mengatakan itu, aku akan bongkar semuanya. Perang aja sekalian aku tidak takut. Jika Romo menghukumku, aku harap hukumannya adalah perceraian. Bayu melirikku penuh dendam. Terserah aku tidak peduli. Aku hanya cukup melindungi diriku dan kedua pelayanku. Saat ini hanya mereka yang kumiliki. Mbakyu sudah menjauh dariku.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕