Novel kesembilan🪻
Rania adalah seorang wanita muda yang berprofesi sebagai guru. Ia multitalenta, baik hati, cantik, dan mandiri. Suatu hari Rania bertemu dengan seorang pemuda tampan yang lebih muda darinya, Logan namanya.
Awal pertemuannya dengan Logan, diwarnai dengan banyak kesalahpahaman. Namun apa daya cinta terlanjur tumbuh di hati keduanya.
Walaupun banyak perbedaan dan rintangan yang hadir di antara keduanya, termasuk kenyataan bahwa ternyata Logan adalah siswa di tempat Rania mengajar, tak cukup kuat untuk menghapus rasa yang sudah tumbuh di antara mereka.
Suatu hal kemudian terjadi. Logan bak seorang putra mahkota yang tiba-tiba saja harus menggantikan posisi raja yang diduduki sang ayah di perusahaan besar miliknya.
Hari-hari berat harus dijalani Logan dan membentangkan jurang pemisah lebih jauh lagi antara dia dan Rania.
Bagaimana kisahnya? Apakah kesempatan untuk mereka bersatu masih ada?
Unofficial Sound Track: Coldplay-The Scientist
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Cowok yang Perhatian
Logan memarkirkan mobilnya dan mereka turun dari mobil untuk meregangkan otot-otot yang pegal. Mereka beristirahat di sebuah minimarket, yang terdapat di rest area.
"Aku mau beli minum dulu ya. Kamu mau sesuatu gak?" tanya Logan.
"Nggak deh saya udah bawa roti dan susu coklat almond. Titip tisu basah aja boleh?" Rania memilih duduk di kursi yang ada di depan minimarket.
"Ya udah tunggu ya." Logan masuk ke dalam minimarket. Rania membuka tasnya dan mengeluarkan misting berisi sandwich isi telur yang dibuat sang ibu. Tidak lama Logan membawa dua botol air mineral dan sebungkus tisu basah.
"Berapa tisunya?" tanya Rania.
"Gak usah gak apa-apa," ucap Logan tulus sambil meneguk air mineralnya.
"Ya udah saya bayar pake roti dan susu aja." Rania menyodorkan roti dan sekotak susu coklat almond pada Logan.
"Makasih." Logan mengambil sebuah roti. Rania membuka bungkus sedotan dan mulai minum susu coklatnya.
Diam-diam Logan memperhatikan Rania yang tengah asyik minum susu coklatnya.
"Kamu beneran dua puluh tiga tahun?" tanya Logan tiba-tiba.
Rania menoleh ke arah Logan. "Iyalah. Gak percaya? Mau saya lihatin KTP saya?" tanya Rania.
"Emang boleh?" tanya Logan.
Rania membuka dompetnya dan mengeluarkan KTPnya. Ia menutup bagian fotonya dan yang lainnya. Hanya memperlihatkan tahun lahirnya saja.
"Oh iya bener," ucap Logan setelah melihat KTP Rania.
"Tapi bener-bener gak kelihatan. Kamu tuh masih pantes loh pake baju SMA."
"Kenapa, kamu masih berharap saya seumuran kamu ya?" tanya Rania.
"Jujur sih iya."
"Maaf tapi kayaknya kamu harus kecewa. Saya ini lima tahun lebih tua dari kamu," tegas Rania sambil memandang ke sembarang arah.
"Aku gak peduli umur kamu berapa. Tiga kali ketemu di tempat berbeda, di waktu berbeda, itu aja udah yakinin aku kalau kamu itu calon pacar pertama aku."
Rania menghela nafas, "Logan udah deh. Itu cuma kebetulan. Lagian bukannya kamu pernah pacaran sebelumnya?"
"Gak ada kebetulan Ran. Semua itu udah ada yang atur. Jadi siap-siap aja kamu juga bakal suka sama aku bentar lagi," ucap Logan dengan sangat yakin.
Rania tertegun salah tingkah mendengarnya, 'pede banget sih ini anak?'
"Udah yuk ah kita lanjut." Rania mengabaikan desiran aneh yang muncul kembali di hatinya.
Logan kembali membukakan pintu dan kembali melindungi kepala Rania dengan punggung tangannya saat Rania masuk ke dalam mobil.
"Kamu, setiap sama cewek yang mau masuk mobil kamu, selalu kayak gitu? Dibukain pintu dan dijagain kepalanya?" tanya Rania.
Logan tersenyum, "iya," sahut Logan. Seketika wajah Rania berubah cemberut. "Tapi cewek yg pernah masuk mobil aku cuma Bunda, sama kamu."
Logan menutup pintu penumpang sambil tersenyum gemas melihat Rania yang tertegun mendengar ucapannya.
"Bohong banget. Masa Stella belum pernah naik mobil kamu?" tanya Rania saat Logan sudah berada di bangku kemudi.
"Beneran." Wajah Logan serius. "Kalau sama Stella aku gak pernah pakai mobil kesayangan aku ini. Aku selalu pakai mobilnya Bunda biar ada supirnya."
Logan tersenyum saat melihat wajah Rania yang cemberut berubah menjadi sedikit lebih cerah mendengar penjelasannya.
"Sekarang kita lanjutin perjalanannya. Lets go!"
Mobil Logan pun kembali melaju dan memasuki jalan tol. Sebentar lagi mereka akan sampai di tempat tujuan mereka.
***
Akhirnya mobil Ferrari Logan sampai di parkiran yang terletak di dekat pantai Ancol. Dufan masih tutup sehingga ia memarkirkan mobilnya di sini. Logan mematikan mesin mobil dan melihat ke arah Rania yang terlelap sepanjang perjalanan setelah mobil berangkat dari rest area.
Wajah Rania terlihat miring ke arah Logan, sehingga Logan bisa melihat wajah Rania dengan jelas. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Logan meraih helai-helai rambut itu dan menyelipkannya ke belakang telinga Rania. Wajah Rania kini dengan jelas bisa dipandang oleh Logan.
Logan semakin terpesona pada perempuan di depannya itu. Rania tidak menggunakan make up namun kulitnya sangat mulus. Bulu matanya lentik, bibirnya berwarna pink alami.
"Cantik banget kamu, Ran," gumam Logan semakin mengagumi Rania.
Setelah cukup lama, pelan-pelan Logan mengelus puncak kepala Rania untuk membangunkannya. "Ran, kita udah nyampe."
Perlahan Rania membuka matanya dan kaget karena Logan sedang memandangnya. Ia pun segera merapikan rambutnya dan melihat ke sekitar.
"Loh kok di sini? Ini pantai Ancol 'kan?"
"Iya kita istirahat dulu bentar. Dufannya juga belum buka. Bentar lagi paling," ucap Logan sambil melihat jam di tangannya.
Logan memarkirkan mobilnya tepat di bawah sebuah pohon. Ia memijit sebuah tombol dan atap mobil pun terbuka dan terbenam pada tempat yang ada di belakang Logan dan Rania duduk. Kini Rania bisa merasakan hawa panas kota Jakarta namun tetap teduh karena pohon rindang melindungi mereka.
"Aku buka gak apa-apa ya atapnya," ucap Logan sambil bersandar di kursi kemudi dan menarik nafas dalam-dalam beberapa kali.
"Kamu gak apa-apa? Phobia kamu kambuh?" Rania terlihat khawatir. Rania hampir tidak sadar bahwa dari tadi mereka ada di dalam mobil yang bisa dikatakan cukup sempit.
"Gak apa-apa kok. Emang agak sedikit gak nyaman sih. Udah lama mungkin gak nyetir lama. Biasanya aku nyetir gak terlalu jauh dan atapnya di buka. Atau nggak aku lebih milih pakai motor. "
"Harusnya kita pakai bis aja tadi. Atau jangan ke tempat jauh. Maaf ya."
Logan memandang wajah Rania yang sangat mencemaskannya. Tanpa sadar Logan menyentuh pipi Rania.
"Aku beneran gak apa-apa," ucap Logan yang masih menyentuh pipi Rania.
Rania segera mundur seraya memukul pelan tangan Logan, "jangan cari kesempatan."
Logan terkekeh melihat Rania yang memarahinya. "Galak banget sih kamu."
"Kita duduk di sana dulu." Rania menunjuk sebuah kursi taman yang terdapat tepat di depan mobil Logan terparkir.
Rania membuka pintu mobil dan berjalan menuju kursi itu. Ia melihat pantai di depannya. Sudah lama ia tidak ke pantai. Suara deburan ombak dan birunya langit benar-benar menenangkan hati.
"Nih." Logan memberikan sebuah kacamata hitam kepada Rania.
Logan yang juga sudah memakai kacamata hitam, duduk di samping Rania. Rania mengucapkan terimakasih dan memakai kacamata itu kemudian kembali memandang ke arah pantai. Kini matanya terasa nyaman dan teduh karena kacamata yang dikenakannya.
"Kamu gak apa-apa beneran?" Rania masih mencemaskan Logan.
"Beneran kok."
Rania menempelkan punggung tangannya pada dahi Logan. Dia tidak demam. Rania jadi merasa sangat menyesal karena setuju menggunakan mobil untuk pergi ke sini. Bagaimana kalau Carla tahu anaknya berkendara jauh ke luar kota.
"Tante Carla tahu kamu pergi ke Dufan sama saya?"
"Tahu."
"Tante Carla gak cemas anaknya bawa mobil sendiri ke luar kota?"
"Cemas sih. Banget malah. Tapi aku gak pernah denger. Semenjak punya mobil, aku sama temen-temen lama suka touring, kadang ke luar kota."
"Touring pakai mobil?"
"Iya aku ikut komunitas sama temen-temen aku yang punya supercar juga."
'Temen-temen komunitas supercar? Kirain ini anak dari kalangan biasa. Logan beneran dari kalangan Sultan ternyata.' Rania lagi-lagi terperangah sekaligus tidak percaya diri karena cowok di sampingnya ini ternyata memiliki status sosial jauh di atasnya.
Jangan cuma baca ya kak, ulasan, comment dan likenya please 🥰