Kisah ini adalah kisah nyata dari pengalaman seorang wanita bernama Indah Puspita Sari (samaran). Dia adalah wanita yang tegar dan mandiri. Kisahnya dimulai ketika ayahnya meninggal dunia. Hingga pada akhirnya Indah hidup terpisah dari keluarganya dan menjalani kisah hidup yang berliku-liku dan penuh air mata. Bagaimana kisah Indah selanjutnya? Selamat membaca🙏😘
*Autor tidak pandai menulis dan membuat novel, tapi dari tulisan ini semoga para pembaca dapat memetik pelajaran yang terkandung dalam tulisan ini. Terimakasih yang sudah baca🙏 jangan lupa tinggalkan jejak ya😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Anjarwati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Meskipun ditolak mentah-mentah, Randi tetap tidak mau menyerah. Berbagai macam cara dia lakukan untuk meluluhkan hatiku. Tetap saja tidak bisa membuat aku tertarik atau jatuh cinta padanya. Mungkin benar, kalau dia terlalu terobsesi denganku. Makanya tetep ngeyel dengan kemauannya.
Aku yang terus-menerus terdesak akhirnya pun memilih mengalah. Meskipun hatiku jelas terasa sakit, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mulai belajar membuka hatiku untuk dia. Biar bagaimanapun aku tetap harus bisa menghargai dia jika nanti menjadi suamiku.
Aku menikah dengan banyak pertimbangan. Selain desakan dan ancaman dari dia, aku juga didesak oleh keluarganya. Pikirku biarlah aku mengalah dan menerimanya saja. Buktinya banyak pasangan dijaman dulu yang tidak saling mengenal tapi bisa bahagia. Tidak ada salahnya membuka hati dan memberikan kesempatan kepadanya.
Acara ijab kabul diselenggarakan di KUA setempat. Dengan mengundang beberapa teman dan tetangga. Tidak banyak memang, tapi itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada resepsi atau sejenisnya. Aku dan dia menikah secara sederhana saja. Dan sah menurut hukum dan agama.
Sebelum ijab kabul dimulai, aku masih sempat ragu. Dan berniat mundur, membatalkan semuanya tapi aku tak sampai hati untuk melakukannya. Dia berjanji kepadaku akan menjadi suami yang baik, setia, dan bertanggungjawab kepada istrinya.
Setelah resmi menikah, aku tinggal bersama dia dirumahnya. Aku masih tetap bekerja seperti biasanya. Keseharianku melayani, menyiapkan semua keperluannya tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Aku melakukan dengan ikhlas dan tanpa beban.
Dia mulai merubah semua kebiasaan buruknya. Tidak lagi mabuk-mabukan, tidak lagi nongkrong-nongkrong nggak jelas, tidak lagi keluyuran, tidak lagi kasar, dan mengurangi rokoknya. Dia juga mulai belajar shalat dan belajar membaca Al Qur'an. Aku cukup bahagia dengan perubahan sikapnya itu.
Jujur untuk rasa cinta masih sulit untuk aku rasakan. Yang aku lakukan hanya berusaha semampu aku menjadi istri yang baik untuk suamiku. Aku tidak pernah menolak apa-apa yang diminta suamiku.
Aku menyiapkan baju kerjanya, aku menyiapkan handuk mandinya, aku menyiapkan makan dan bekalnya kerja, aku menyiapkan air mandinya, dan aku selalu menuruti jika dia meminta nafkah batinnya. Seberapa lama dia mau, seberapa banyak dia mau, dan seperti apa yang dia mau, aku selalu menurutinya. Dalam keadaan apapun aku berusaha menurutinya. Tidak perduli aku lagi capek, tidak perduli aku lagi ngantuk, tidak perduli aku lagi tidak enak badan, pasti aku turuti.
Semua yang aku rasakan terasa biasa saja. Hatiku memang belum bisa dia miliki tapi apa yang aku curahkan sudah cukup membuat dia bahagia. Biarlah aku terima semua itu tidak masalah, mungkin nanti aku bisa mencintainya dengan tulus.
Selama pernikahan semua baik-baik saja. Hanya saja dia memang orang yang cemburuan. Egonya tinggi tidak terbantahkan. Mudah sekali marah dan tidak menyukai jika aku pergi selain bekerja.
Selama pernikahan yang kujalani dengannya juga tidak pernah ada yang namanya pertengkaran. Aku selalu berusaha menghindari pertengkaran. Setiap ada sedikit selisih paham aku selalu mengalah. Rumah tangga kalau banyak berantemnya kan malu. Jelas malu jika didengar atau dilihat orang lain. Itu sebabnya aku selalu mengalah dalam hal apapun.
Mengalah demi kebaikan bersama tidak masalah. Aku dengan senang hati melakukannya. Kadang ada saja orang yang bilang aku ini katanya terlalu nurut suami lah. Terlalu banyak mengalah lah. Bahkan aku juga dibilang bodoh. Tidak perduli pandangan orang seperti apa. Aku tidak mau ambil pusing, anggap saja angin lalu. Entah orang-orang itu tahu darimana yang jelas aku tidak pernah bercerita tentang rumah tanggaku pada siapapun. Mungkin mereka hanya sekedar melihat dan sedikit mendengar saja.
* Terkadang dalam suatu hubungan harus ada salah satu yang mengalah. Dan mengalah demi kebaikan tidak jadi masalah. Apa yang terlihat berat jika dilakukan dengan hati yang ikhlas semua akan terasa ringan.