Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.
Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.
Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________
📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏
enjoyyyyyy💃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Alfin memperhatikan Vania di meja belajar yang sedang terlihat pusing, mengerjakan tugas kuliahnya.
Alfin yang sedang memainkan tablet-nya langsung meletakkannya di atas nakas. Ia mulai mendekati Vania dengan sebuah senyuman.
“Aku lagi pengen makan sesuatu nih, kayaknya makan martabak enak, deh," kata Alfin.
Vania terlihat tidak menghiraukannya, ia pura-pura tidak mendengar perkataan Alfin.
“Vania.” Alfin memanggilnya sedekat mungkin dan langsung menarik buku tugas Vania.
“Alfin! Kembalikan!” Vania meminta kembali buku tugasnya, semburat ekspresi kesal terpancar di wajahnya.
“Udah nanti aja lagi ngerjainnya. Sekarang temenin aku keluar dulu, pengen makan sesuatu nih,” kata Alfin.
“Enggak, kamu keluar aja sendiri,” tolak Vania dengan
tegas.
“Ayo!” Alfin menarik tangannya.
“Males ah, Fin. Tugas aku masih belum selesai nih, pokoknya aku bilang nggak ya enggak! Dan kamu nggak akan bisa maksa aku!” ketus Vania.
***
15 menit kemudian.
Vania memasang raut wajah yang teramat kesal. Alfin berhasil memaksanya untuk ikut dengannya keluar malam ini.
Alfin tadi bahkan menggendongnya dengan paksa karena enggan beranjak dari kursi.
“Masih ngambek ya?” tanya Alfin yang sedang menyetir mobil.
Vania bertekad tidak akan mau menjawab apapun yang dikatakan Alfin.
Beberapa saat kemudian, Alfin menghentikan mobilnya.
“Turun!” kata Alfin.
Vania bereaksi tak percaya. “Kamu mau nurunin aku di sini?”
“Udah sampai, Vania.”
Terlihat di tempat itu ada beberapa barisan gerobak yang terparkir menjual berbagai macam makanan di tepian jalan.
Di sisi-sisinya terdapat beberapa kursi yang disediakan, untuk pembeli duduk sambil menunggu pesanan.
Ada juga beberapa susunan meja dan kursi yang disediakan, khusus bagi pembeli yang ingin makan langsung di tempat ini.
Malam ini tampaknya cukup ramai orang yang membeli walau sudah jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
“Ayo.”
“Nggak! Aku disini aja.”
“Masih mikirin tugas kamu? Udah tenang aja, nanti ku bantu ngerjain deh,” kata Alfin mengiming-imingi.
Vania tak menghiraukannya, ia melipat tangan di depan dada.
“Masih ngambek aja.”
Alfin tidak kehabisan akal, tiba-tiba ia langsung mencium pipi Vania dengan cepat.
Mata Vania terbelalak, ia terkejut dan langsung berteriak kesal sambil mencubit-cubit perut Alfin yang sekarang tertawa geli.
"Udah, udah, ampun," pinta Alfin.
Kekesalan Vania malah bertambah, tapi sekarang pipinya mulai memerah.
Sial, batinnya.
“Udah mulai kurang ajar sekarang ya!” celetuk Vania marah.
“Mmm … dikit, seenggaknya kan gak kayak kemaren malam,” sahut Alfin.
Wajah Vania semakin memerah, tak ubah layaknya kepiting rebus.
“Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku minta dibungkus aja." Alfin segera turun dari mobil.
Vania menahan rahangnya dengan keras melihat kelakuan Alfin, yang akhir-akhir ini selalu menggodanya karena kejadian malam itu.
...✿✿✿...
Alfin sangat menikmati sekotak martabak yang ia beli tadi. Ia memakannya dengan lahap. Vania sudah terlihat berbaring di tempat tidurnya membelakangi Alfin.
“Kamu nggak mau? Enak loh, apalagi masih hangat nih,” kata Alfin dengan niat memancing keinginan Vania.
Tapi Vania hanya diam saja. Sepertinya sudah tidur. “Ya udah aku habisin ya,” lanjut Alfin.
Masih tidak ada sahutan juga.
“Eh, tugas kuliah kamu gimana? Hmmm.. dasar tukang ngambek!”
Selesai dengan aktivitasnya, Alfin langsung ke tempat tidurnya dan berbaring di samping Vania.
Alfin menatap punggung Vania yang membelakanginya. Lalu ia mendekat, dengan ringan tangan lalu memeluknya.
“Beneran udah tidur?” tanya Alfin memastikan.
Berharap kali ini Vania akan berteriak ketika ia memeluknya seperti ini.
Tetapi sepertinya tidak ada respon dari Vania, Alfin sekarang benar-benar yakin bahwa Vania sudah tertidur.
Sebenarnya sedari tadi Vania menahan untuk marah kepada Alfin, ia akan tetap pada pendiriannya pura-pura tidur.
Padahal ia masih dalam keadaan terjaga. Vania sudah mulai resah, karena Alfin belum juga melepas pelukannya.
Sepertinya malam ini ia akan tidur berada dalam pelukan Alfin, itupun kalau bisa terus mengendalikan gejolak perasaannya.
Vania berusaha tetap tenang, tapi jantungnya selalu berdegup dengan cepat ketika Alfin di dekatnya.
***
Hari ini Vania bersiap dengan tergesa-gesa karena Alfin memaksanya untuk berangkat lebih awal mengikuti jam ngantornya.
Alfin bersedia mengantar Vania ke kampusnya. Suasana di kampus masih tidak terlalu ramai pagi ini.
Mobil Alfin memasuki gapura kampus dan masuk sampai ke lingkungan fakultas tempat Vania belajar.
Begitu mobil Alfin berhenti di depan gedung fakultas, terlihat orang-orang yang berada di sana begitu memperhatikannya dengan penuh rasa heran.
Sebagian cewek-cewek yang memperhatikan, terlihat mengeluh-eluhkan mobil tersebut.
Vania langsung keluar dari mobil. Ia langsung menyadari bahwa orang-orang disekitarnya sedang memperhatikan dirinya.
Mobil Alfin sudah kembali melaju meninggalkannya. Vania segera masuk ke area gedung.
“Weehh. Vania sekarang mainannya sama om om ya?” ledek salah seorang dari beberapa cewek yang melewatinya.
“Mobilnya kece gitu, pasti orang berduit ya, kan?” timpal yang satunya lagi.
“Kalian ngomong jangan sembarangan ya?!” Vania terlihat marah. "Itu ..." Vania menahan ucapannya.
“Yee biasa aja kali, di bayar berapa lo?!!” tukas salah satunya.
“Pantesan cantik, orang perawatannya mahal, tinggal minta sama om.”
Vania begitu geram melihat orang-orang dengan celotehan nyinyiran tersebut mentertawakannya.
“Ni orang nggak ada kerjaan banget ya! Urus sana hidup lo sendiri!” ketus Vania.
Ia menghentakkan kakinya karena teramat kesal. Lalu memutuskan segera berlalu dari mereka.
“Weh weh weh! Kenapa lo? Muka lo kucel,” sapa Oris yang tiba-tiba datang.
“Itu, tu orang mulutnya nggak pernah disekolahin kali ya, nyinyir aja kerjaannya.”
“Santai dong! Orang cantik kaya lo pasti banyak yang sirik.”
“Panas kuping gue dengernya, Ris."
“Memangnya kenapa sih?” Oris penasaran.
“Gara-gara liat mobilnya Alfin, mereka kira gue di anter sama om om, mereka baru liat mobil mewah itu. Pengen deh gue bilang kalau itu suami gue. Tapi ... aarrgghh, nyebelin!” Vania kesal sendiri.
“Oh gitu, emang suami lo itu om om, kan?” Oris tertawa geli meledeknya.
“Dasar lo, Ris!”
“Becanda Vania.”
...✿✿✿...
Adelia tertawa geli mendengar cerita Vania.
“Aduh Vania, udah ah kata-kata sampah kayak gitu nggak usah didenger! Mereka belum liat aja yang di dalem mobil siapa ya kan? Selow.”
“Jadi gimana rencana kita mau survei-survei bangunan nih?” tanya Oris.
“Kalo akhir pekan ke puncak, gue setuju. Gue juga pengen sedikit refresing,” sahut Vania.
“Sipp, gue setuju,” timpal Adelia.
“Suami lo si pak bos, gimana?” tanya Oris.
“Aman lah, gue bisa izin. Kan hari libur juga,” jawab Vania.
“Kenapa nggak lo ajak sekalian Van?” pinta Adelia bersemangat.
“Ogah,” sambar Oris. “Nggak mau gue ada dia! Songong banget, gue bisa kewalahan ladenin dia, ntar yang ada dia manas-manasin gue lagi karena udah berhasil dapetin Vania.”
“Dia juga nggak mungkin ada waktu untuk ikutan hal kayak gitu. Gue juga pengen lepas kali sehari aja dari dia.”
“Emang kegiatan Alfin ngapain aja sih, Van? Gue pernah sih baca di koran kalo dia pengusaha gitu, usaha apa emang?” Adelia begitu penasaran.
“Setahu gue sih dia CEO nya HS Grup, punya papanya dulu, ya perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi gitu, trus ada cabang anak perusahaannya lagi, seperti bidang perhotelan dan restoran juga.”
“Gilaa!!” Adelia melongo mendengarnya. “Suami lo kaya banget ya? Cariin gue satu dong yang kayak gitu!”
“Elehh lo, dasar matre!” ejek Oris. “Gue juga kaya raya kok, bokap gue Jenderal.”
“Iya, bapaknya galak, gagah, pemberani, lah anaknya penakut!” sahut Adelia. Oris nyengir sambil menggaruk kepala tersipu.
Ponsel Vania tiba-tiba berdering. Ia segera menjawabnya.
“Halo?”
***
Vania memperhatikan Natasya yang duduk di seberang mejanya sedang mengaduk secangkir cappucino nya.
“Maaf Vania gue terburu-buru ngajak lo ketemu di sini karena waktu gue yang terbatas," jelas Natasya.
“Iya nggak papa kok, kebetulan gue juga ada jam kosong.”
“Lo pasti bahagia banget ya bisa hidup sama Alfin.”
“Maksudnya? Tentu bahagia dong,” sahut Vania.
Natasya meminum cappucinonya, Vania bahkan belum mau memesan apapun di kafe yang terletak tidak jauh dari kampusnya tersebut.
“Mungkin Alfin nggak pernah cerita tentang gue ke lo, tapi gue cuma mau lo tau satu hal, lo mungkin bisa jadi masa depannya, tapi perlu lo tau gue masa lalunya.”
“Oke ...” Vania masih menyimak.
“Gini ya Vania, gue jauh lebih dulu kenal dengan Alfin, gue tau dia masih memiliki perasaan ke gue. Dari dulu. Gue tau lo istri sahnya, cuman gue mau minta satu hal sama lo, tolong lo jangan jadi penghalang buat gue dan Alfin. Gue nggak akan bisa lepas dari kehidupannya, Vania. Dan Alfin nggak akan semudah itu bisa ngelupain gue.”
Natasya memegang tangan Vania di atas meja.
“Gue tau ini mungkin terdengar menyakitkan buat lo, tapi itu kenyataannya. Alfin nikah sama lo karena orang tuanya dan akan sulit baginya menerima orang baru dalam kehidupannya.”
Vania terlihat memikirkan kata-kata Natasya, ia belum mau menanggapi apapun.
“Oke Vania, gue rasa gue harus balik ke rumah sakit, maklum, kerjaan gue, pasti akan selalu dibutuhkan orang, gue duluan ya.”
Natasya berdiri dari kursinya dan membelai bahu Vania, lalu ia segera pergi menggunakan mobil sport nya.
Vania melihat Natasya memang memilki banyak kelebihan dibanding dirinya, ia cantik, modis, dan juga pintar. Akan sangat cocok jika berdampingan dengan Alfin.
***
Adelia dan Oris saling melempar pandangan melihat Vania berdiam diri.
“Lo mikirin apa sih, Vania?” tanya Adelia.
“Iya, dari tadi di kelas diem aja tuh,” timpal Oris.
“Ya udah kita liat anak-anak main futsal aja yuk,” ajak Adelia diiyakan oleh Oris.
Langkah kaki mereka terhenti ketika seseorang telah menunggu Vania didepan.
“Prima?”
“Siapa Van?” tanya Adelia.
“Asisten pribadinya Alfin.”
***
Vania melemparkan pandangannya ke ponselnya sekarang, ia dalam perjalanan dengan mobil yang dikemudikan oleh Prima.
Vania menstalking akun instagram Natasya, Vania hanya sedikit penasaran tentang cewek itu, ia menscroll beberapa foto-foto Natasya sampai ia menemukan beberapa fotonya yang bersama Alfin yang sepertinya memang baru-baru ini di posting.
Terlihat juga di foto-foto tersebut kebersamaan mereka dengan beberapa teman-teman mereka yang lain seperti sedang mengadakan sebuah acara. terlihat dari caption yang ditulis dengan hastag 'Welcome Back Alfin'.
Vania melepas pandangannya dari ponsel dengan perasaan kesal, entah apa yang dirasakannya saat ini. Ia hanya merasa kesal bahkan lebih dari biasanya.
“Prima, tolong antar saya ke kantor pak Alfin!”
“Tapi, Bu. Saya diminta mengantarkan
Ibu pulang ke rumah.”
“Tumben banget. Saya mau ke kantor Alfin sekarang!”
Prima mengangguk mengiyakan saja.
***
Vania berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan Alfin yang entah terletak di lantai berapa.
Sepanjang naik lift Prima mengantarnya, Vania tidak fokus terhadap apapun selain ingin ketemu Alfin. Beberapa karyawan terlihat heran melihatnya.
“Bu Vania mau ke mana?” tahan Santi--sekretaris Alfin.
“Saya mau ketemu sama suami saya!” kata Vania lalu langsung masuk ke dalam ruangan Alfin tanpa permisi.
Terlihat Alfin yang sedang berkutat dengan laptopnya langsung mengalihkan perhatiannya, begitu melihat Vania datang.
“Vania? Kok kamu ke sini? Aku menyuruh Prima untung mengantar kamu pulang,” ujarnya heran.
“Aku udah capek ya, Fin. Apa nggak bisa? Aku menjalani pergaulan layaknya orang seusiaku, temen-temenku yang lain?”
“Aku nggak ngerti maksud kamu,” kata Alfin
dengan tenang.
“Kamu bisa nggak? Nggak perlu nyuruh Prima buat jemput aku sampai harus ganggu waktu aku bareng temen-temenku! Biasanya kan juga gitu. Aku juga punya urusan sendiri sama kayak kamu! Bukankah kita udah sepakat nggak akan mengganggu privasi masing-masing?” kata Vania terkesan penuh penegasan, namun tak bisa menyembunyikan raut kesedihan wajahnya.
Matanya sudah mulai berkaca-kaca, entah apa yang dipikirkannya saat ini, yang ia tau ia hanya ingin marah kepada Alfin.
“Aku nggak mau lagi di atur sama kamu dalam segala hal! Apapun itu! Ngerti?!”
Sementara Alfin berusaha tetap tenang mendengarkan Vania. Ia tau istrinya tersebut hanya sedang ingin melampiaskan amarahnya, walau ia belum tahu letak kesalahannya.
Apa ia hanya karena menyuruh asistennya menjemput Vania? Tadinya Alfin berpikir hanya ingin menunjukkan sedikit perhatiannya.
Vania bersikap aneh hari ini seperti benar-benar marah kepadanya. Ia hanya terdiam menunduk sampai akhirnya Vania sudah keluar dari ruangannya.
Namun Alfin masih terlihat memikirkan sesuatu, sepertinya memahami cewek akan terasa jauh lebih sulit dari mengelola bisnisnya.
...✿✿✿...
Vania sedang duduk di sebuah halte bus yang terletak tidak jauh dari kantor Alfin, ia sudah merasa puas menumpahkan amarahnya hari ini tanpa memikirkan bagaimana perasaan Alfin.
Mengapa rasanya jadi menyakitkan saat ia tahu hubungannya dengan Alfin memang tidak sehat.
Karena memang dari awal, tidak ada perasaan sama sekali dan bahkan sampai saat ini.
Bodoh. Untuk apa dia melakukan itu kalau ... Vania merutuki dirinya sendiri. Ia teringat kembali saat malam kejadian itu.
Ia menatap datar ke depan jalan yang ramai akan lalu lalang kendaraan, meratapi nasibnya yang seperti terjebak dalam sebuah hubungan yang tidak sehat.
Seorang wanita berusia kisaran kepala tiga yang sepertinya sedang hamil tua, baru datang dan duduk di halte tersebut menyadarkannya.
Vania lalu menengok ke arah perempuan itu yang seperti sedang menahan sakit. Sambil sesekali ia mengatur napas yang terasa berat.
“Ibu nggak apa-apa?”tanya Vania.
“Sepertinya saya mau melahirkan, Neng.”
“Loh, kok Ibu pergi sendiri? Suami Ibu mana?”
“Suami saya lagi narik becak, Neng. Ya nyari-nyari rezeki buat sehari-hari. Harus ngejar target Neng buat biaya persalinan. Saya tidak mau mengganggu dia,” kata wanita itu dengan napas yang mulai lelah.
“Lalu keluarga Ibu nggak ada yang nganter?”
“Saya cuma punya suami saya, Neng, orang tua sudah kagak ada, anak saya masih kecil tinggal di rumah."
Tiba-tiba perempuan itu merasa kesakitan. Vania mulai panik, ia memaksa otaknya berpikir harus melakukan sesuatu.
Vania tidak tega melihatnya. Vania segera memperhatikan beberapa mobil yang melintas, mencari-cari taksi untuk mengantarkan wanita itu ke rumah sakit.
Tak berselang lama, akhirnya ia berhasil menyinggah kan sebuah taksi.
***
Vania semakin panik melihat wanita itu kesakitan sepanjang jalan. Sampai akhirnya mereka sudah tiba di rumah sakit.
Vania diminta mengurus administrasi. Menurut pemeriksaan dokter, wanita itu harus melahirkan dengan cara operasi cesar. Setelah dilakukan pemeriksaan, kandungannya mengalami plasenta previa, yaitu sebuah keadaan dimana plasenta menutupi jalan lahir. Akan sangat berisiko jika harus melahirkan secara normal.
Vania menjaminkan KTP nya dan segera mengurus pembayarannya, ia berharap uang di ATM nya cukup untuk biaya persalinan wanita itu.
***
Vania harap-harap cemas menunggu persalinannya. Cukup lama Vania menunggu proses persalinan tersebut.
Akhirnya Vania menemui dokter yang baru keluar dari ruang persalinan tersebut.
“Dengan keluarga ibu Fatma?” tanya dokter perempuan itu.
“Iya, Dok. Gimana, Dok?” Vania masih terlihat gemetar dan cemas.
“Persalinannya berjalan dengan lancar, ibu dan bayinya dalam keadaan sehat.”
Mendengar itu akhirnya Vania merasa lega. Ia pun segera masuk untuk menjenguk.
“Eh, Neng masih ada, makasih ya Neng udah nolongin saya.” kata Fatma dengan senyum berseri. Lalu ia menunjukkan bayi yang ada di sebuah tempat terpisah tidak jauh darinya. “Anaknya laki-laki, Neng. Sesuai keinginan ayahnya.”
“Selamat ya, Bu,” ucap Vania.
“Neng, gimana masalah biayanya?”
“Ibu nggak usah mikirin itu ya, yang penting sekarang Ibu dan bayinya sehat.”
“Kamu orang baik, Neng. Terima kasih ya sudah menolong saya.”
Tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke ruangan tersebut. Ia sangat terharu melihat istrinya dan anaknya dalam keadaan sehat.
“Maaf ya, Ma. ayah baru tau, kenapa Mama tidak beri kabar?” kata laki-laki itu sambil menggendong bayinya.
“Nggak apa apa, Yah. Untung ada neng ini.”
Vania menyalami laki-laki itu.
“Vania,” katanya memperkenalkan diri.
“Sutejo. Makasih ya Neng Vania sudah menolong istri saya," ucapnya. Vania tersenyum melihatnya.
“Kamu sih, Ma. Kan ayah sudah bilang kemana-mana jangan sendiri, biar Ayah yang antar, kalo Mama kenapa-kenapa gimana?” kata Sutejo kepada istrinya.
Vania benar-benar terharu melihat keluarga kecil di hadapannya saat ini. Mereka terlihat sangat bahagia di tengah beban hidup yang terus memaksa mereka untuk bertahan.
Tidak seperti dirinya, Alfin memberikan segala kemewahan kepadanya tanpa kekurangan apapun, tetapi Vania justru hanya terfokus pada hal-hal di luar yang belum tentu baik untuk dirinya.
Tiba-tiba ia teringat Alfin, suaminya. Ia teringat semua tentang Alfin, yang rela bekerja keras demi memberikan kehidupan yang layak untuknya. Meskipun dalam hatinya mungkin tidak bisa mencintainya.
Bahkan Alfin tidak pernah mengeluh sedikitpun ketika ia dituntut oleh pekerjaannya. Vania menyesal tadi sudah marah dan membentak Alfin hanya karena berawal dari omongan Natasya yang begitu mengganggu pikirannya.
Sekarang ia merasa harus menemui Alfin untuk meminta maaf.
***
Malam sudah semakin larut, Vania bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ketika ia membuka pintu kamarnya, terlihat Alfin yang masih terjaga menunggunya pulang.
Melihat Vania sudah datang, Alfin berdiri dari kursinya dan Vania langsung berlari untuk memeluknya dengan erat.
Vania menitikkan air mata dipelukan Alfin. Alfin mengusap rambutnya untuk menenangkan. Alfin tidak ingin menanyakan apapun, ia hanya memberi kesempatan untuk Vania mengeluarkan air matanya.
“Maafin aku ya, Fin? Aku udah marah marah nggak jelas sama kamu, aku nggak nurut sama kamu,” katanya sambil masih berlinang air mata.
“Iya nggak papa.” Alfin menyapu air mata Vania.
Alfin segera memeluk Vania lebih erat dan menciumi keningnya. Entah kenapa Kali ini pelukannya terasa hangat dan nyaman, membuat Vania merasa betah berlama-lama, ia merasa aman ketika dalam pelukan Alfin.
“Kamu marah ya sama aku?” tanya Vania.
“Enggak. Aku khawatir sama kamu, nomor kamu nggak bisa dihubungi. Mungkin jika beberapa menit lagi kamu masih belum pulang, aku pasti akan nyari kamu sendiri.”
“Iya aku minta maaf.”
“Iya, nggak papa.”
Waktu begitu cepat berlalu, entah apa yang telah terjadi.
Berawal dari pertemuan mereka dalam keadaan yang tidak menyenangkan, hingga sekarang laki-laki ini menjadi miliknya dalam sebuah ikatan.
Tetapi Vania tidak mengetahui apakah ia juga memiliki hati Alfin.
***
Hari ini Vania meminta Alfin untuk meluangkan sedikit waktu untuk menemaninya ke rumah sakit menjenguk ibu Fatma.
Ketika di perjalanan Vania sudah menceritakan tentang ibu Fatma dan cerita pertemuan mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di depan ruangan ibu Fatma di rawat.
Mereka mengetuk pintunya dan segera masuk, terlihat di dalam sudah ada Sutejo--suaminya dan seorang anak kecil, sepertinya anak pertama pasangan tersebut. Mereka menyambut gembira
kedatangan Vania dan Alfin.
“Gimana keadaanya Bu?” tanya Vania sambil meletakkan sebuah bingkisan di atas meja.
“Baik Neng, hari ini sudah boleh pulang,” kata Fatma. “Si Eneng bawa bingkisan segala,” katanya.
“Itu ada sedikit perlengkapan untuk bayi Ibu dari kami," kata Vania. “Oh ya, kenalkan ini suaminya Vania.”
“Alfin,” kata Alfin menyalami Sutejo.
“Saya Sutejo." Lalu ia menengok ke arah Fatma yang sedang menggendong anaknya. “Ma, Ayah kan belum ada uang untuk mnegganti semua biayanya.”
“Masalah biaya, Bapak sama Ibu tidak usah memikirkannya,” kata Alfin tersenyum.
Mendengar itu, Sutejo langsung bersyukur dan memeluk Alfin untuk berterima kasih.
“Terima kasih ya Den Alfin, Neng Vania," ucapnya. "Kalian baik sekali, semoga kalian selalu bahagia, diluaskan rezekinya, serta diberi keturunan yang sholeh dan sholehah."
Mereka mengaminkan. Alfin terlihat paling semangat mengaminkan kalimat terakhir dari pak Sutejo.
***
Selesai menjenguk ibu Fatma, Alfin akan mengantar Vania ke kampusnya.
Mobil Alfin sudah meluncur dari parkiran rumah sakit tersebut. Perjalanan saat ini masih sesekali diiringi dengan kemacetan jalan ibukota yang ramai.
“Kamu tuh kalo marah serem banget ya,” kata Alfin sambil fokus memegang setir.
“Ya nggak juga, emangnya setan apa, serem.”
“Kamu lebih seram dari itu kalo lagi marah dan ngambek.”
“Fin, masalah ucapanku kemaren, aku tarik kembali deh.”
“Ya terserah kamu Vania, kamu bisa mengatur waktu sesuka kamu, asal kamu nggak lupa tugas utama kamu.”
“Iya, Fin, makasih ya.”
“Buat?”
“Kita nggak punya ikatan darah, tapi kamu baik banget sama aku, juga peduli sama aku.”
“Kita ada ikatan pernikahan, Vania.”
Vania menatapnya dengan penuh pertanyaan di kepalanya.
Ia merasa Alfin baik dan peduli padanya hanya karena mereka terjebak dalam ikatan pernikahan, Vania masih meyakini dengan perkataan Natasya tentang perasaan Alfin yang sebenarnya.
***
arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.
ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
mengingat masa remaja wwkwk