Sebuah tragedi menimpa keluarga gadis berusia 18 tahun bernama Larissa Haninda. Sang Ibu dimasukkan ke dalam jeruji penjara oleh Adiknya sendiri. Wanita itu menuduh Ibu Larissa telah membunuh Kakaknya yang tak lain suami atau Ayahnya Larissa. Si Bibi pun mengusir keponakannya dari rumah, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada gadis tersebut diluaran sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shn_Bryy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 19
“Sedang apa kamu di sana?” tanya Pram.
Larissa menoleh, sang suami telah kembali bersama Bona. Gadis itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Pintu terbuka, Kenan melihat Larissa yang sedang dipeluk oleh Pram. Dia menundukkan kepalanya memberi hormat pada Pria dewasa tersebut.
“Senang bertemu anda secara langsung Pak Pramudita Wardhana,” ujarnya.
“Iya.”
“Ayo Larissa, kamu harus istirahat ngapain pergi-pergi keluar,” lanjut Pram. Kenan memperhatikan punggung pasangan suami istri itu. Ketika akan melihat ruangan Larissa sang nenek keburu memanggil.
...----------------...
Beberapa hari berlalu, Larissa sudah berada dirumahnya lagi. Riko yang tidak melihat adik iparnya belakangan ini sedikit kangen akan tingkah jahilnya. Wajah serta sifat dinginnya sedikit demi sedikit mulai berubah menjadi sosok pria ceria. Pram senang sang istri kini bisa akrab dengan kakaknya, dia berharap didalam rumah tidak ada lagi yang namanya pertengkaran. Pram sangat menghargai Riko sebagai orang tertua di sana, dia juga tidak mempermasalahkan jika kakaknya tinggal bersama.
Larissa bersantai ria dibalkon, menikmati angin pagi sambil menyeruput teh. Ketenangannya terganggu akan suara dering telpon yang terus berbunyi, dia melirik sebentar nomor tak dikenal menghubungi tanpa henti, karena terlalu lama tak mendapat respon, si penelpon pun beralih dengan mengirimkan pesan. Dalam pesan tersebut tertulis jika kehidupan Larissa tidak akan pernah bahagia dan akan terus dalam keadaan sedih serta sengsara. Tidak lupa si pengirim mengirimkan sebuah foto wanita yang sangat gadis itu kenali.
Handphone yang berada di genggamannya seketika terjatuh, dia menutup mulutnya. Beberapa detik kemudian Larissa berlari keluar dengan tangisan, Mitha dan Rara keheranan, keduanya saling tatap seolah bertanya apa yang terjadi pada Larissa.
“Kenapa lagi tuh? Selalu aja ada masalah, kemarin-kemarin dia nggak ada baik-baik aja di sini,” ujar Rara. Mitha tak menggubris, dia segera pergi ke ruangan kerja Riko memberitahu jika adik iparnya pergi sambil menangis. Hanya pria itu yang berada dirumah, Bona dan Pram tengah di kantor, meeting bersama klien penting dan tidak dapat dihubungi. Riko menghela napasnya berat, dia langsung bangkit dari kursi dan mengambil kunci mobil untuk mengejar si adik ipar.
Wajah Riko nampak sedikit terlihat panik sebab gadis itu tak kunjung ditemukan. Melacak ponselnya percuma karena Larissa meninggalkan handphonenya dibalkon. Larissa datang ke rumah sakit tempat dirinya dirawat kemarin. Tak sengaja dia menabrak seorang pria yang sangat dikenalnya. Bona, pria tua itu ternyata ada di sana, wajahnya langsung panik ketika melihat sang Nyonya.
Tak lama Pram datang sambil memanggil pria tua tersebut. Dirinya mematung sesaat setelah Bona menyingkir dan ada Larissa dihadapannya. Gadis itu bingung mengapa suami dan asistennya berada di rumah sakit. Setahu dia Pram izin pergi ke perusahaan karena ada meeting penting.
Larissa menebak pasti suaminya itu tahu jika Linda berada di rumah sakit dan dia merahasiakan darinya karena keadaan sang mertua yang sangat memprihatikan. Tanpa berkata apapun pada suaminya gadis itu berjalan pergi menuju tempat sang Ibu berada.
Dering telpon terdengar dari saku jas Pram. Sang kakak menghubungi dan memberitahu jika Larissa pergi dari rumah dengan keadaan sambil menangis. Riko panik sebab dia tidak menemukan keberadaannya sekarang. Pram memotong kakaknya berbicara, dia berkata jika istrinya berada bersamanya.
Usai telponan Pram langsung menyusul Larissa yang ditebaknya akan ke ruangan Linda. Benar saja sesampainya di sana Pram melihat sang istri yang menangis histeris. Baru saja dokter memberitahu jika pasien meninggal dunia, padahal saat Pram dan Bona menjenguk, mertuanya itu sudah cukup baik.
Hal paling membuat Larissa histeris adalah saat melihat luka-luka yang ada ditubuh Ibunya. Dia tidak menyangka jika sang Ibu mendapatkan kekerasan didalam sel. Pram mendekat menenangkan istrinya, dia berjanji akan membalas semuanya. Melihat Larissa yang sedih seperti itu membuat hatinya sakit, air mata mengalir begitu saja.
Wanita paling dia sayangi kini telah pergi. Anak mana yang tidak sedih ditinggalkan Ibunya untuk selama-lamanya. Ibu adalah tempat terhangat dan ternyaman bagi anaknya. Wanita yang selalu sabar, penyayang, lemah lembut tidak akan Larissa temukan pada wanita lain, jikalau ada rasanya berbeda. Kini dia telah menjadi gadis yatim piatu, kedua orang yang sangat dirinya sayangi telah tiada.
Sampai jenazah dibawa pulang Larissa tak henti-hentinya menangis hingga dia pingsan karena lelah. Kedatangan mobil ambulans ke rumah membuat orang-orang keluar melihat. Bona memerintah seluruh asisten menyiapkan keperluan untuk jenazah Ibu Larissa. Maya dan Wardhana yang berada dirumah diberitahu oleh Mitha jika besan mereka meninggal dunia.
Mendapat kabar seperti itu Maya tersenyum, dia sedikit terkejut karena tidak menyangka jika besan yang tak dia inginkan itu meninggal. Setahunya dari orang suruhan yang memantau, Ibu Larissa sudah siuman. Wardhana segera bersiap pergi ke rumah sang putra.
“Bagaimana Larissa? Dia sudah sadar?”
“Belum Tuan,” jawab Rara.
Pram mengelus rambut istrinya, menggenggam erat tangan Larissa memintanya segera bangun. Beberapa saat kemudian gadis itu membuka matanya, dia kembali menangis menanyakan keberadaan Ibunya.
Wardhana datang bersama istrinya. Papa mertuanya tersebut mengelus punggung sang menantu sedangkan Maya hanya berdiri memperhatikan. Tidak ada sama sekali raut wajah sedih dari wanita tua itu. Saat para tetangga datang barulah dia berakting, menenangkan Larissa sambil memeluk.
“Kamu yang ikhlas ya Larissa, masih ada Mama di sini,” serunya. Riko memandang malas pada Ibunya yang berpura-pura peduli.
“Ayo sayang bersiap, sebentar lagi kita akan ke pemakaman,” ujar Pram sembari mengangkat sang istri dari duduknya. Tubuh Larissa begitu lemas, tatapan matanya kosong. Perkataan dari keluarga sama sekali tidak dia jawab.