#Karya ini merupakan Karya Kreatif Modern
Setelah di-PHK dari pekerjaannya sebagai buruh, kehidupan Bara berputar 180 derajat. Kehidupan tak lagi berpihak kepadanya dan terpaksa harus menjadi pemulung yang selalu dihina oleh mertua.
Bara adalah laki-laki yang tak banyak bicara. Segala hinaan yang diberikan pun tak pernah ia balas. Hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Bara diberi tugas untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dia dibayar mahal untuk itu semua.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti series berlanjut dari Bacot System, ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Pelihara Tuyul
Bara memasang badan melindungi putranya.
"Sini kau, keluar!" teriak seorang pria di luar.
Bara tak mengenal suara tersebut. Dia memilih untuk diam.
"Orang yang memelihara tuyul, dilarang tinggal di sini!" teriak orang di luar kembali.
"Tuyul?" tanya Bara bingung.
Bara mulai bergerak menuju pintu. Akan tetapi, Rangga yang ketakutan memeluk dirinya pada salah satu kaki yang akan dilangkahkan. Bara mendelik sejenak melihat sang putra mulai menangis karena ketakutan.
"Diam lah, kamu itu lelaki. Lelaki itu tak boleh menangis," ucap Bara dengan suara beratnya.
"Rangga takut, Yah. Nanti batunya datang lagi, kan saki, Yah," rengek Rangga.
"Sudah Ayah bilang, diam lah!" Kali ini Bara setengah membentak membuat Rangga tersentak dan diam.
Setelah tak ada lagi suara Rangga, Bara menuju pintu ingin melihat siapa yang mencoba mengusik kehidupannya. Di pekarangan rumah itu, terlihat beberapa pria membawa pentungan yang memasang muka garang, dan sedikit tersentak melihat sosok kecil yang berurai air mata.
"Maaf, kalian siapa? Kenapa melempar batu ke dalam rumah ini? Apa kalian tahu, ada anak kecil di rumah ini? Kalian lihat, anak saya menangis gara-gara ketakutan karena tingkah kalian," ucap Bara dengan nada dingin.
Sejenak, mereka terdiam, tetapi mereka tampak telah sepakat dan kembali menatap Bara dengan garang.
"Kami tak mau tahu, orang yang melihara tuyul tak boleh tinggal di sini!" ucap salah satu dari mereka.
Kening Bara pun mengerut, mendengar hal yang dilontarkan oleh mereka. "Apa maksud kalian?"
"Halah, jangan berlaga bego. Kami sudah tabiat orang sepertimu!" balas yang lain.
"Kalian ini ngehalu terlalu jauh. Pagi-pagi sudah membuat keributan dengan saya. Jangan mentang-mentang saya ini bukan warga asli sini, kalian menuduh sembarangan! Kalian bisa saya laporkan kepada pihak berwajib atas kasus perbuatan tidak menyenangkan. Kalian telah mengganggu—"
"Halaaah, jangan bacot aja! Harusnya kau yang kami laporkan karena telah mencuri uang warga kami! Semenjak kehadiranmu di kampung sini, ada beberapa warga kehilangan uang secara tiba-tiba."
"Benar, ini pasti ulahmu!" sela yang lain.
"Selagi kami masih bisa berpikir dengan logis, kembalikan uang yang kau curi lewat pasukanmu para tuyul itu! Jika tidak, kami tak segan menyeretmu ke pihak yang berwajib!"
Bara bersidekap dada menatap warga yang datang satu per satu. "Kenapa harus saya yang kalian tuduh?"
"Yang punya kontrakan ini bilang, kamu datang dengan lusuh tanpa membawa apa-apa. Tak lama kemudian kamu telah membawa motor itu," ucap salah satu di antara mereka sembari menunjuk motor yang belum memiliki nomor seri kepolisian.
"Tadi malam, beberapa warga kami mengeluhkan kehilangan duit mereka secara serentak. Apa lagi kalau bukan karena pesugihan? Sebelumnya, ini tak pernah terjadi. Apa lagi artinya kalau bukan karena kehadiranmu yang menjadikan warga kami sebagai tumbal pesugihanmu!"
Mendengar penjelasan seperti itu, Bara tertawa dingin. "Jadi, begini kerja kalian setiap ada warga baru yang memilih untuk tinggal di sini? Selain tidak sopan, kalian menuduh tanpa ada satu pun bukti dari ucapan kalian. Apa masih ada lagi?" Bara menanggapi dengan nada enteng.
Karena, apa pun yang ada di dalam pikiran mereka, telah terbaca jelas oleh Bara. Para warga pun mulai terlihat gelisah usai reaksi Bara yang jauh dari ekspektasi mereka.
"Kau jangan berkilah seolah tak—" Tiba-tiba, mulut pria yang sedang bicara itu terbungkam. Ia merasa ada sesuatu yang membekap mulutnya dengan tiba-tiba. Pria itu mencoba membuka benda itu, tetapi malah membuat bibirnya terasa sakit.
Pria itu menatap Bara yang terulas senyum sinis dan menunjuk Bara dengan amarah.
...****************...
Karya berikutnya:
Napen: Selviana
Judul: Terpaksa Menikah dengan Kakak Ipar