Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Berusaha merebut perhatian Bunda
...****************...
Mawar menghentakkan kakinya karena suaminya seakan menghindarinya, Ia tidak terima dengan apa yang di lakukan Bayu. Mawar menarik tangan suaminya itu ketika Pria itu hendak meninggalkannya sendirian di kamar.
" Mas, cukup. Ini tidak lucu, Mas mengabaikan aku hanya karena dia. Aku tidak bisa terima ini Mas, dia yang salah kenapa harus aku yang kena imbasnya. "
Bayu enggan membahas masalah yang sama namun Mawar terus saja mendesak nya.
" Kenapa sih Mas selalu membelanya, seharusnya Mas membela aku. Dia itu bukan wanita baik-baik, dia sudah menghianati Mas Gibran. Terbukti Ia masih pergi bersama Pria lain di saat Ia masih menjadi Istri orang lain. "
Mendengar itu kesabaran Bayu akhirnya tergerus, Ia langsung meminta ponsel Istrinya itu.
" Cukup Mawar, aku sudah muak mendengar omong kosong mu itu. Berikan ponsel mu kepadaku, cepat. " Ucap Bayu dengan suara sedikit meninggi.
Mawar sedikit bingung kenapa Bayu meminta ponselnya, namun Ia pun menyerahkan ponselnya ketika mendengar nada suara Bayu yang tidak seperti biasanya.
" Coba perhatikan baik-baik siapa Pria yang kamu sebutkan berselingkuh itu, hatimu sudah di penuhi dengan prasangka buruk sehingga kamu tidak mengenali siapa yang sudah kamu curigai itu. Aku minta kamu cepat menghapus pesan yang telah kamu kirimkan pada Mas Gibran sebelum nanti kamu malu sendiri. "
Bayu menyerahkan kembali ponsel Istrinya dan melangkah pergi. Mawar merasa bingung dengan apa yang di katakan Gibran barusan, otak kecilnya mencoba mencerna semuanya. Mulutnya melongo sempurna setelah tau ciri-ciri Pria dan juga warna mobil beserta plat mobil tersebut.
" Tidak, tidak mungkin. Bagaimana mungkin dia pergi bersama Mas Bayu, ini tidak mungkin. Bukankah malam itu Mas Bayu bilang Ia ada keperluan penting di tempat lain, bisa- bisanya malah pulang berdua. "
Mawar mengepalkan tangannya, Ia pikir rencananya sudah berhasil namun lagi-lagi Ia gagal.
Di rumah sakit
Gibran membujuk Susan untuk menikmati makan siangnya, lagi-lagi Susan merengek ingin di suapi langsung oleh Gibran. Bibirnya tertarik ke arah pipi melihat ternyata perhatian Gibran masih tidak berubah padanya.
" Sayang, aku memutuskan untuk menetap disini. Bagaimana kalau kita menikah setelah aku keluar dari sini, aku ingin hidup bahagia bersamamu sayang. Aku ingin menebus semua waktu yang terbuang di antara kita, kamu mau kan. "
Gibran sedikit gugup, untuk beberapa saat Ia terdiam karena tidak tau harus berkata apa.
" Susan, kamu masih belum pulih. Sekarang yang penting adalah kesehatan mu, aku akan ambilkan minum untuk mu. " Ucap Gibran.
Ia menepis tangan Susan dan berniat melangkah pergi.
" Sayang, aku akan berjuang. Aku akan merebut perhatian Bunda, aku akan buat Bunda menerimaku. "
Gibran kembali melangkah pergi meninggalkan ruangan tempat Susan di rawat, Ia berdiri di depan pintu ruangan itu dan mengusap wajahnya kasar.
...----------------...
Susan sudah berdiri di depan rumah Gibran dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya, Ia tersenyum sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam rumah mewah itu.
" Assalamu'alaikum..... !! " Susan memberi salam.
" Wa'alaikum salam. " Jawab seseorang dari dalam rumah.
" Ah Bibi, apa Bunda Ayu ada di rumah. " Tanya Susan pada salah seorang asisten rumah tangga yang kebetulan menjawab salamnya.
Bunda Ayu yang berada di lantai atas samar-samar mendengar suara di bawah. Beliau pun melangkah keluar untuk memastikan siapa yang bertamu kerumahnya.
" Susan. " Gumam Bunda Ayu.
Ia pun perlahan turun ke lantai bawah karena mendengar pembicaraan keduanya.
" Bunda. "
Susan menghampiri Bunda Ayu, mencium punggung tangan wanita itu. Bunda Ayu melangkah ke arah sofa di ikuti oleh Susan, susah payah Bunda menekan rasa tidak sukanya agar tidak nampak oleh wanita di depannya.
" Hm Bunda, Susan baru kembali dari Amerika dan kebetulan waktu disana Susan lihat ada yang bagus Susan beli buat oleh-oleh untuk Bunda, semoga Bunda suka sama oleh-oleh nya ya. "
Bunda Ayu mencoba tersenyum walau terpaksa.
" Ah seharusnya kamu tidak perlu repot- repot membelikan Bunda oleh- oleh dari sana. Kamu pasti kerepotan untuk ini. "
Lagi-lagi Susan tersenyum dan mengatakan kalau dirinya tidak merasa di repotkan. Susan mengedarkan pandangannya di dalam rumah itu dan tidak menemukan ada yang aneh, pigura yang terpajang pun masih pigura yang lama tidak ada yang berubah.
" Cari siapa Susan. " Tanya Bunda yang melihat Susan mengamati seisi ruangan seolah mencari sesuatu.
" Ah tidak ada Bunda. Oh ya Bunda, aku sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia, kalau ada waktu senggang bisakah kita pergi jalan- jalan. "
Berharap bisa merebut hati Ibu dari Pria yang Ia cintai tapi nyatanya reaksi Bunda biasa- biasa saja.
" Maaf Susan, tapi Bunda belakangan ini sedikit sibuk. Mungkin lain waktu kalau memang ada waktu yang benar-benar luang. "
Susan tersenyum lalu mengangguk berulang-ulang. Karena merasa sikap Bunda biasa-biasa saja akhirnya Susan berpamitan untuk pulang.
" Oh iya Bunda, Susan lupa ada janji dengan seseorang. Bunda bisa kabari Susan kalau nanti Bunda sudah punya waktu luang ya, nomor ku masih nomor yang sama. "
Susan berpamitan pada Bunda Ayu, sesampai di mobil Ia tidak langsung berangkat namun Ia memandang rumah mewah milik kekasihnya.
***
Mawar menarik tangan Maudy ke suatu tempat, Maudy terkejut karena tangannya di tarik secara tiba-tiba.
" Hei, siapa yang mengijinkan mu pergi bersama Mas Bayu. Jangan pernah kamu berpikir untuk merebut perhatian Bayu, kamu sudah menikah dengan Mas Gibran dan jangan pernah berpikir merebut Mas Bayu dariku. "
Maudy mengerutkan keningnya heran, tidak mengerti apa yang di katakan Mawar.
" Apa maksudmu Mawar, aku tidak mengerti. "
Mawar tersenyum sinis, kebenciannya pada kakak iparnya itu kembali muncul di hatinya.
" Aku peringatkan kamu agar menjauhi Mas Bayu, jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku, karena aku tidak akan tinggal diam saja, aku akan buat perhitungan dengan mu. "
Maudy menepis kuat cengkraman tangan Mawar dan melangkah masuk ke dalam rumah, Ia geleng-geleng kepala.
" Benar-benar konyol, apa yang dia pikirkan. Haish..... benar-benar aneh. " Gumam Maudy.
Sementara Gibran meminta ijin untuk pulang ke rumah setelah melihat keadaan Susan yang sudah baik- baik saja.
" Sayang, bagaimana dengan permintaan ku. Aku benar-benar serius, aku ingin hidup bahagia bersama mu sayang, hanya kamu yang ku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku, bukan yang lain. " Ucap Susan.
Ia memeluk Gibran dengan sangat erat, Gibran membiarkan Susan memeluknya tubuhnya, namun lagi-lagi Ia bereaksi ketika Susan ingin mengecup bibirnya.
" Maaf Susan, kita belum menjadi pasangan yang halal, aku menghargai mu dan tidak ingin melukai mu. Aku mohon mengertilah. "
Susan menatap kepergian Gibran dengan penuh rasa kecewa, Ia tidak percaya bahwa Gibran akan menolaknya. Sebelum nya Ia akan membalas setiap ciuman yang di berikan Susan bahkan terkadang Gibran lah yang selalu melakukan hal itu padanya.
...****************...