Mohon doanya ya untuk bisa up date setiap hari. Jangan lupa like, komen dan share ya, agar aku bisa semangat lagi dalam menulis cerita dalam novel ini 😘😘
Deskripsi:
Sheina, adalah gadis cantik usia 22 tahun yang hidup sebatang kara menumpang di rumah paman dan bibi nya, selama 12 tahun setelah ayah dan ibunya meninggal gadis yang dulu periang itu sekarang menjadi gadis yang dewasa. Dan tepat pada hari ini telah menyelesaiakn study nya di salah satu universitas ternama di kota A dengan predikat nilai yang memuaskan.
Tapi nasib berkata lain dia terjebak dengan masalah hidup di keruarga paman dan bibinya untuk menebus hutang pamannya kepada Tuan pandra Putra Dahasian seorang laki-laki yang sangat dingin dan memiliki sifat arogan dan egois serta tempramental yang memiliki masalalu kelam.
Akankah pandra menemukan cinta sejatinya kepada sheina atau malah sebaliknya?
selalu ikuti cerita cinta pandra dan sheina ya karena akan ada kisah yang mengharu biru di dalam nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Fichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sheina dan pohon buah apel
“Kenapa begitu susah jev, apa harus menggunakan bahasa arab?, tidak bisakah menggunakan bahasa sehari-hari?”, pandra mengeluh sambil membaca beberapa buku tuntunan sholat, ia tak menyangka apa yang dilakukan istrinya selama ini begitu rumit untuk dipelajari, “tuan, menghafal bacaan sholat memang sedikit rumit, tapi nanti tuan akan terbiasa karena anda dan nona muda akan melakukannya lima kali sehari, tuan hanya perlu menghafalnya saja dan langsung mempraktekannya, mulai dari niat sampai salam tuan”, jev mengajarkan tuannya dengan sangat hati-hati ia takut pandra akan merasa bosan. pandra menghela nafas panjang, “baiklah puss ini semua untukmu”, pandra bergumam dalam hati untuk menyemangati diri.
Sekretaris jev mengajarkan tuannya dengan mulai dari mengambil wudhu, mengatur arah kiblat sampai benar-benar mengajarkan gerak sholat. Seharian penuh mereka berdua hanya didalam ruangan, pandra membaca setiap rinci dari gerakan sholat termasuk ayat-ayat pendek dan sampai tiba lah sholat dzuhur, “tuan, apakah kau mau langsung memulainya, sekarang sudah waktunya sholat dzuhur, aku sudah memasang aplikasi adzan otomatis di ponsel mu, apabila ada suara adzan berkumandang di ponselmu kau bisa segera mengambil wudhu untuk sholat.”oke, aku paham jev, tapi kapan aku bisa mengimami istri ku sholat jev?”, jev sejenak terdiam, “tuan saat ini ada harus lancarkan dulu saja gerakan sholatnya, pasti nanti anda bisa sholat jamaah dengan nona muda”. Jev memperhatikan mulai dari mengambil wudhu sampai pandra mulai membacakan nian dan tiba-tiba pada saat rakaat kedua, “mengapa aku sangat gugup ya?”, jev menutup kegelian ucapan tuannya dan bergumam dalam hati, “yang benar saja tuan, beberapa saat lalu kau berfikir ingin sholat jamaah kepada istrimu, mengapa di pertengahan sholat kau malah gugup, aku benar-benar tak bisa membayangkan apabila kau sholat jamaah dengan nona muda, sikap tempramental mu akan jatuh berkeping-keping di hadapan nona tuan”, pandra yang melihat senyum jev yang sedikit mengejeknya langsung menendang tulang kering kaki sekretaris nya itu, “ehh bisa-bisanya kau menertawakanku disaat begini, kau bisa berdosa tau”, kali ini jev tak kuat menahan tawanya, kembali ia bergumam dalam hatinya, “sejak kapan kau tau dosa tuan, selama aku hidup kau orang yang paling
kejam yang pernah aku temui, aku pun saat ini juga ikut terpengaruh akan kekejamanmu”, jev meringis kesakitan sambil reflek mengelus kakinya,”maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud begitu, mari kita mulai dari awal lagi ya tuan”, pinta jev kepada sang majikanya. Sholat pun berhasil, tetapi pada saat selesai sholat dan mengucapkan salam pandra kembali bertanya kepada sekretarisnya, “jev, biasanya selesai salam sheina menadahkan tangan dan menghadap ke atas apa yang ia lakukan jev”, tubuh jev menjadi kaku dan raut muka nya kembali ingin menyebar tawa tetapi ia tahan sampai mukanya memerah, “berdoa tuan”, dengan tanpa ragu pandra bertanya lagi, “apa yang harus aku lakukan, doa apa yang harus aku sampaikan jev?”, kali ini tawa yang di tahan oleh jev bisa dikendalikan sambil mengelus kakinya, “apa saja tuan, silahkan lakukan saja tuhan”. Pandra memulai menadahkan tangan dan mendongak ke atas,”Ya Tuhan terima kasih karena sudah melancarkan ku sholat hari ini, aku tidak minta banyak Tuhan, aku hanya ingin sheina selalu ada disisiku, amin”, jev terdiam dan terpaku atas doa yang di panjat kan oleh tuan nya, ia tak menyangka tuannya berdoa dengan suara yang didengar olehnya, selesai berdoa pandra kembali menatap sekretarisnya, “apakah itu sudah cukup jev?”, dengan tanpa ragu jev mengacungkan kedua jempolnya.”anda memang sangat luar biasa tuan”, pandra meyakinkan jev kembali, “benarkah seperti itu jev, jadi sholat selanjutnya aku sudah bisa bersama istriku”, jev kembali berfikir sejenak, “sepertinya jangan dulu tuan, ini baru satu kali tuan sholat, setelah ini tuan bisa melakukan sholat ashar dan magrib dulu di sini, bagaimana tuan?”, pandra terdiam dan mengernyitkan dahinya, “tidak bisa jev, aku harus pulang cepat sore ini, aku sudah sangat merindukan istriku jev, aku ingin ia melihat keberhasilanku dalam menunaikan sholat jev”, jev mengiyakan pinta tuannya, “baiklah tuan sehabis sholat ashar kita kembali ke rumah, tuan bisa menunaikan sholat magrib di rumah saja”. Senyum pandra mengembang bagaikan anak kecil yang di belikan balon oleh orang tuanya, “hanya cinta, yang bisa membuat tuanku ini menjadi begini, lama-lama aku yang bisa gila”, jev kembali bergumam dalam hati.
***
Sore pun tiba, adzan ashar berkumandang di ponsel milik pandra, pandra dengan cekatannya mengambil air wudhu, selesai mengambil wudhu ia kembali menuju meja kerjanya untuk menelpon sekretarisnya, ia ingin sekretarisnya menilai sholat untuk kali kedua ini. Beberapa saat jev masuk ke ruangan tuannya, “silahkan mulaikan tuan”, pandra memulai sholatnya, mulai dari niat sampai salam, saat berdoa pandra berdoa seperti saat sholat dzuhur, jev hanya menyaksikan saja atas doa dari tuannya, dan kembali mengacungkan kedua jempolnya.
Setelah selesai sholat bergegas mereka menuju mobil yang ada di depan hotel, jev membuka pintu mobil dan mempersilahkan tuannya untuk masuk, saat di dalam mobil jev sesekali melirik ke arah kaca spion melihat tuannya tersenyum lebar, seperti orang yang yang sedang kerasukan, memang cinta bisa membuat tuannya gila, sangat gila tetapi manis, jev sadar bahwa sheina telah membawa perubahan besar bagi hidup pandra, biasanya setiap hari pasti ada amarah tuannya itu memuncak terkadang karena hal yang sangat sepele. “Tuan, untuk berdoa anda bisa meminta apapun yang ada inginkan, tidak harus satu tujuan saja, Tuhan pasti mendengar apapun keinginan kita di dunia ini tuan, pandra mendengar kata-kata sekretaris nya itu sambil melihat kearah jendela, “saat ini aku hanya ingin istriku seutuhnya jev, memang tubuhnya bersamaku, tetapi aku belum merasa cintanya bersamaku saat ini jev, ia menuruti semua keinginanku karena takut, tapi aku ingin ia benar-benar ikhlas menerimaku, aku belum siap menerimanya kalau ia pergi dari hidupku jev, karena penyakitku ini”, jev kembali merilik kaca spion melihat posisi tuannya duduk, “tapi tuan, sampai kapan kau akan merahasiakannya?”, pandra hanya diam tak menjawab, dan sedikitpun tidak menggubris kata-kata sekretarisnya itu, sesampainya di kediaman tuannya itu pun pandra hanya diam.
Sesaat setelah sampai di rumah majikannya itu, jev kembali membuka pintu mobil. “Pulanglah jev”, hanya itu kata-kata yang terlontar dari mulut majikannya. Jev hanya sedikit menundukan kepalanya, “baik tuan”.
Pandra memasuki pintu rumah di sana sudah ada pak lim yang menyambutnya, “istriku mana?”, tanya pandra, “nona sedang berada di kebun buah di belakang tuan, bersama beberapa pelayan”, senyum pandra melebar dan sedikit penasaran, “apa yang ia lakukan di sana lim?, aku saja sudah lupa bahwa di rumah ini terdapat kebun buah, baiklah mari kita lihat apa yang ia lakukan disana lim”, pak lim hanya tersenyum melihat tingkah tuannya, ini kali pertama ia melihat tingkah aneh dari majikannya, “tuan mari saya buka jas tuan”, pandra hanya melirik sedikit ke arah asisten rumah tangga itu dan tidak menggubris, “pakai mobil golf saja lim, aku ingin cepat sampai di sana”, tidak beberapa lama pandra dan pak lim sampai ke kebun buah milik nya, alangkah terkejutnya ia menyaksikan istrinya sedang memanjat pohon buah apel, “tahan kau di sana”, pandra teriak muncul ide gila nya,”lim mana ponselku, aku ingin mengabadikannya”, sheina dan beberapa pelayan di sana sontak terdiam semua pelayan menundukan pandangannya dari tuan pandra yang terhormat itu, “tuan maafkan saya, saya mohon jangan lakukan itu”, sheina yang masih berada di atas pohon apel itu ingin segera turun tapi perintah pandra lebih kejam dari apapun, “berani kau turun saat ini, aku pastikan kau mendapat hukuman dariku seumur hidupmu, aku minta kau bergaya semaksimal mungkin di atas puss”, pandra mengambil ponselnya dari tangan pak lim, pak lim dan beberapa pelayan yang berada di sana hanya diam dan terpaku menyaksikan tingkah konyol majikannya itu. Setelah selesai mengabadikan momen yang sangat langkah itu, “turunlah puss, aku sudah puas”, pandra memerintahkan istrinya untuk turun dari pohon apel itu dengan penuh tawa, “tuan, kakiku sudah kram dan kaku, sepertinya aku tidak bisa turun”, sontak semua pasang mata di sana sangat panik menyaksikan nona muda kesayangan tuannya itu tidak bisa tutun, apalagi sang tuan muda mukanya mendadak memerah padam lebih panik dari yang lainnya, “bagai mana ini, kau benar-benar membuatku kesal puss, apa tidak ada orang di sini yang bisa menyelamatkan istriku, hei lim aku minta bawa tangga”, pak lim dan beberapa pelayan saling bertatapan, dan tak tau harus melakukan apa, “cepat!”, pandra teriak, semua pelayan yang ada di sana termasuk pak lim berhamburan meninggalkan tempat itu dan langsung mengikuti instruksi dari sang majikan.
“Bersabarlah sayang, aku yakin kau masih bisa bertahan”, pandra meyakinkan istrinya, tetapi saat ini sang istri sangat panik karena di saat ia melihat ke bawah rasa takut akan ketinggian kembali memuncak, “tuan aku sudah tidak tahan”, kali ini sheina benar-benar takut dan cemas, lebih-lebih lagi sang suami, ia kembali meneriaki para pelayannya dan kepala asisten rumah tangganya yang tak kunjung datang, “tuan, aku ingin buang air kecil, aku sangat takut”, pandra semakin panik, “aku minta kau tenang sedikit, kalau sampai kau jatuh aku tak segan-segan mematahkan kakimu”, pandra kembali menenangkan istrinya tetapi dengan ancaman yang sangat ditakuti istrinya, tetapi ia tersadar dengan kata-katanya dan bergumam dalam hati, “gawat, apa yang sudah aku ucapkan pada saat seperti ini, bisa-bisanya aku berkata ingin mematahkan kakinya, aku tak ingin ia benar-benar takut akan diriku”, pandra kembali mendongakkan kepalanya ke arah sang istri, “maaf sayang aku ralat kata-kataku, kalau kau jatuh aku tidak akan mematahkan kakimu, percayalah”, sheina membalas kata-kata suaminya, “apakah benar seperti itu tuan?”, pandra menganggukan kepalanya, sesaat setelahnya para pelayan dan pak lim tiba dengan membawa tangga yang sangat besar, sang nona muda berhasil turun, pandra menggendong istrinya, menggendong istrinya dari belakang, “apa ini, kenapa bau pesing dan basah”, pandra mendapati pinggang nya basah, sheina hanya diam, “kau buang air kecil di atas pohon puss?”, sheina hanya mengangguk, “aku takut akan ancamanmu tuan, kau tidak benar-benar ingin mematahkan kakiku kan”, pandra tergelak sangat kencang, “aku pastikan kali ini hukumanmu dua kali lipat puss, beraninya kau mengotori bajuku dengan pipis mu?”, sheina hanya diam, pandra menggendong istrinya sampai kamar. Sedangkan pak lim dan beberapa pelayan hanya terdiam dan merasa ketakutan, mereka sangat takut kalau nanti mendapat hukuman dari sang majikan karena telah membiarkan nona besar memanjat pohon apel.
q sampek berfikir yg enggak enggak...
nunggu ini novel..
semangat thor
karyamu bguss
nyampe lupa x cerita y🤦🏼
dimana dirimu
aku kangen cerita mu thor