Kiran adalah wanita yang mempunyai wajah jelek, bahkan semua orang menyebutnya dengan sebutan wanita si buruk rupa. Kiran dijodohkan oleh orangtuanya dengan seorang pengusaha tampan bernama Viki.
Viki terpaksa menikahi Kiran untuk menyelamatkan perusahaan orangtuanya yang hampir bangkrut.
Kehidupan Kiran sangatlah menderita, hingga suatu saat Kiran memergoki Viki sedang selingkuh dengan wanita lain. Kiran memutuskan untuk bercerai dengan Viki, dan bertekad ingin membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita.
Akankah Kiran berhasil membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 DESI
Mama Sasmita pulang dengan perasaan yang sangat dongkol, ternyata Tina tidak seperti yang dia bayangkan. Ia pikir tidak lemah lembut, tapi kenyataannya Tina lebih bahaya daripada Ishika.
Malam pun tiba...
Mama Sasmita memakai krim yang diberikan salah satu karyawan salon, ia tampak senang karena krim itu akan membuat wajahnya lebih muda dan glowing.
Berbeda halnya dengan Viki, dia sudah bersiap-siap akan makan malam bersama Kiran di sebuah restoran mewah yang sudah dia booking.
"Malam ini aku akan melamar Tina, pasti Tina akan sangat bahagia," gumam Viki dengan senyumannya.
Viki melajukan mobilnya menuju rumah Kiran, dan Kiran sudah menunggu di depan rumah. Viki tampak tercengang saat melihat penampilan Kiran yang sangat cantik itu.
"Kamu cantik banget, sayang."
"Ah, kamu bisa saja," sahut Kiran.
Viki membukakan pintu mobil untuk Kiran, dan tentu saja Kiran masuk ke dalam mobil Viki dengan senyuman yang mengembang.
Selama dalam perjalanan, Viki menggenggam tangan Kiran dan sesekali mencium punggung tangan Kiran membuat Kiran tersenyum sinis.
"Tersenyumlah Mas, sebelum senyuman mu hilang," batin Kiran.
Tidak membutuhkan waktu lama, Viki pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah. Viki menggandeng tangan Kiran dengan mesranya.
"Kita makan dulu ya, sayang."
"Boleh."
Keduanya tampak menikmati makan malam bersama, sesekali Kiran menyuapi Viki sehingga Viki semakin bahagia.
Sementara itu, dari kejauhan Raj sedang memperhatikan keduanya sembari menyesap minumannya.
"Nikmatilah kebahagiaanmu malam ini, karena sebentar lagi kebahagiaanmu akan berakhir," batin Raj.
Seorang pelayan mengantarkan sebotol minuman untuk Kiran dan Viki.
"Lah, saya tidak pesan minuman ini, Mba," seru Viki.
"Aku yang pesan Mas, biar tambah romantis," sahut Kiran.
Viki kembali menyunggingkan senyumannya, Viki menuangkan minuman itu ke gelasnya dan gelas Kiran. Setelah bersulang, Viki langsung meminumnya sedangkan Kiran pura-pura menempelkan bibirnya di gelas padahal dia sama sekali tidak meminumnya.
Baru saja beberapa menit Viki menghabiskan minuman itu, tiba-tiba Viki jatuh tak sadarkan diri. Orang suruhan Raj, segera menghampiri Viki dan membawa Viki dari restoran itu.
"Kerja bagus, sayang," seru Raj dengan memeluk Kiran.
Raj dan Kiran menyuruh orang suruhan mereka membawa Viki ke sebuah rumah kosong.
"Tidurkan orang itu," seru Raj.
Viki masih lemas, dan dia terlihat mengigau. Kiran menanyakan semua hal tentang kejahatan Viki dan kedua orang tuanya, dan Viki menjawab semua pertanyaan Kiran dengan lancar dan jujur.
Sementara itu, Raj merekam semua ucapan Viki sebagai bukti. Setelah selesai, Raj dan Kiran meninggalkan Viki yang sekarang sudah benar-benar pingsan.
"Sayang, kita lihat apa yang terjadi besok dan besok adalah hari paling bersejarah untuk Viki dan kedua orang tuanya," seru Raj.
"Iya Raj, aku tidak sabar menunggu esok hari tiba," sahut Kiran.
Raj membawa Kiran ke sebuah restoran, membuat Kiran mengerutkan keningnya.
"Kok malah ke restoran lagi? Memangnya kamu belum makan, Raj?" tanya Kiran bingung.
"Sudah jangan banyak bicara, kamu ikut saja."
Kiran merangkul lengan Raj masuk ke dalam restoran itu, dan betapa terkejutnya Kiran saat melihat suasana di dalam restoran yang sudah di dekor sedemikian rupa sangat romantis.
"Astaga, indah sekali," gumam Kiran.
"Kamu suka, sayang?"
"Suka banget, kapan kamu menyiapkan semua ini?"
"Rahasia," sahut Raj dengan mengedipkan matanya.
"Idih apaan sih, sudah berani main rahasia-rahasiaan," kesal Kiran dengan mencubit lengan Raj membuat Raj meringis kesakitan.
Raj merogoh kantong jasnya, lalu Raj berlutut di hadapan Kiran dengan mengeluarkan kotak kecil yang berisi cincin berlian itu.
"Kiran, maukah kamu menikah denganku?"
Kiran terperangah, sungguh dia tidak menyangka kalau Raj akan melamarnya. Untuk beberapa saat, Kiran terdiam sejenak hingga akhirnya Kiran pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya Raj, aku mau menikah denganmu."
Raj tampak sangat bahagia, dia memakaikan cincin berlian itu ke jari manis Kiran. Raj bangkit dan memeluk Kiran dengan sangat erat.
"Terima kasih sayang, aku janji akan selalu membahagiakanmu."
"Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu Raj, karena selama ini kamu sudah mau membantu aku," seru Kiran dengan meneteskan airmatanya.
Akhirnya malam itu menjadi malam paling membahagiakan untuk Kiran dan Raj.
***
Keesokan harinya...
Mama Sasmita bangun dari tidurnya. "Astaga, kenapa wajahku panas begini sih?" gumam Mama Sasmita.
Mama Sasmita bangkit dan segera menuju cermin besar untuk melihat wajahnya dan betapa terkejutnya Kiran saat melihat wajahnya yang hitam dan melepuh seperti terbakar.
"Aaaaaaa...."
Mama Sasmita berteriak sekuat tenaga dan itu membuat Papa Ajay kaget dan langsung terbangun.
"Ada apa, Ma? Pagi-pagi teriak-teriak?" seru Papa Ajay.
"Wajah Mama, Pa. Kenapa menjadi seperti ini?" sahut Mama Sasmita kaget.
"Memangnya wajah Mama kenapa?" tanya Papa Ajay dengan masih memejamkan matanya karena masih sangat ngantuk.
Mama Sasmita pun dengan paniknya menghampiri Papa Ajay.
"Lihat Pa, wajah Mama panas sekali dan perih," seru Mama Sasmita.
Papa Ajay membuka matanya, dan Papa Ajay sampai terjatuh dari atas tempat tidur saking terkejutnya melihat wajah istrinya yang berubah menjadi hancur dan mengerikan.
"Astaga Mama, kenapa wajah Mama menjadi hancur seperti itu?" tanya Papa Ajay.
"Mama juga tidak tahu, Pa."
"Memangnya Mama pakai apa? Sampai wajah Mama seperti itu?"
Mama Sasmita berpikir, dan teringat akan krim yang diberikan oleh salah satu karyawan salon kemarin.
"Ini pasti akibat krim yang kemarin karyawan salon itu berikan, kurang ajar dia sudah menipuku. Pokoknya Mama tidak mau tahu, Papa harus laporkan orang itu," seru Mama Sasmita.
"Iya, Papa akan urus semuanya."
"Cepat Pa, kita harus segera ke rumah sakit Mama sudah tidak tahan rasanya panas dan perih sekali!" teriak Mama Sasmita sembari memegang wajahnya.
Papa Ajay semakin panik, dia pun segera membawa istrinya ke rumah sakit. Disela-sela Mama Sasmita sedang diperiksa, Papa Ajay menghubungi Viki.
Viki mulai menggerakkan tubuhnya saat mendengar suara ponselnya yang terus berbunyi di dalam kantong celananya. Viki memegang kepalanya yang masih terasa sangat pusing, sedangkan matanya masih terpejam.
📞"Halo."
📞"Viki, kamu di mana? Cepat pulang, Mama kamu masuk rumah sakit wajahnya hancur dan mengerikan."
📞"Apa?"
Viki langsung bangun karena kaget mendengar penjelasan Papanya, tapi Viki jauh lebih terkejut saat melihat beberapa polisi sudah berdiri di hadapan Viki membuat ponsel yang dia pegang terjatuh.
"Aku ada di mana ini?" gumam Viki.
"Selamat pagi Pak, kami membawa surat perintah untuk penangkapan anda karena anda sudah dilaporkan atas kasus penipuan dan pembunuhan berencana terhadap Tuan Rahul."
"Apa? Siapa yang sudah melaporkan saya? Memangnya kalian punya bukti kalau saya pelakunya?" geram Viki.
"Kami sudah mendapatkan semua buktinya jadi sekarang Pak Viki ikut dengan kami ke kantor polisi."
"Tidak Pak, kalian jangan sembarangan menangkap saya."
"Bawa orang itu."
"Baik, Komandan."
Para polisi itu dengan paksa membawa Viki, sedangkan Papa Ajay yang mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya karena ponsel Viki belum sempat di matika.
📞"Viki, kamu kenapa?"
Polisi itu langsung mematikan ponsel Viki dan membawanya bersama Viki.
"Astaga, ada apa dengan Viki?" gumam Papa Ajay panik.