Demi menghindari pernikahan politik dan memenuhi permintaan Ayahnya, Xiao Su Jin memalsukan identitasnya sebagai seorang laki-laki bernama Xiao Su Yeo ditengah-tengah krisis ekonomi dan politik yang sedang terjadi serta tindakan korupsi yang dilakukan oleh anggota kerajaan hingga merugikan rakyat.
Dengan berpura-pura menjadi anak angkat dari pasangan Eun Ji dan Xiao Xuluan, Xiao Su Yeo banyak menemukan masalah dalam hidupnya bahkan harus terlibat dalam urusan politik istana dan terikat hubungan Tuan dan Pelayan dengan Pangeran ketiga bernama Zhou Yuan.
Di waktu yang berbeda, Adik dari sang Kaisar, Mu Xinyang mulai mencurigai kebenaran dibalik Xiao Su Yeo. Dia mulai mencari tahu dibalik sosok Xiao Su Yeo yang merupakan Xiao Su Jin yang asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Huacheng Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 - Api Di Desa Penyihir
”Mengapa ingin membakar semua orang di desa penyihir dan apa alasanmu tinggal di Istana?” tanya Zhou Yuan mulai serius begitu ia mendengar permintaan Wu Xing yang sangat tidak biasa.
Wu Xing menghela nafasnya. ”... Tentu saja karena hukum masih berlaku. Jangan katakan kau lupa kalau kau tidak tahu tentang peraturan di istana bahwa semua penyihir harus mati? Bukankah kalian semua yang membuat peraturan-peraturan di negara kalian?”
”Kau pasti memiliki alasan tersendiri kan?”
Wu Xing terdiam sejenak sebelum menjawab, ”Keluargaku dibunuh oleh mereka. Karena itu, aku tinggal seorang diri di sini. Sudah itu saja alasanku mengapa aku ingin semua penyihir di sini harus mati. Dan alasan mengapa aku ingin tinggal di Istana karena seseorang yang memintaku.”
”Bagaimana aku bisa memberikanmu tempat tinggal di istana kalau alasannya seperti ini?”
”Ahh! Ayolah! Berikan aku tempat tinggal! Aku janji akan melakukan apa yang kau suruh!” ucap Wu Xing merengek sembari memegang tangan Zhou Yuan.
”Jangan paksa dia dengan alasan akan melakukan apa yang dia minta. Kalau tidak kau akan diperlakukan seperti pelayan sungguhan.” ucap Su Yeo di belakang mereka berdua. Tentu suara Su Yeo yang datang tiba-tiba membuat Zhou Yuan merasa sangat terkejut dan seketika langsung menatap ke belakang.
Su Yeo berkedip berkali-kali, bingung dengan Zhou Yuan yang terus menatapnya dengan ekspresi terkejut seolah tidak menyangka melihatnya sudah sadar. ”Kenapa menatapku dengan tatapan mengerikan seperti itu? Kau membuatku merinding.”
Lagi-lagi Su Yeo berbicara padanya. Seketika, Zhou Yuan baru menyadari bahwa Su Yeo yang duduk di depan matanya bukanlah ilusi. Dia benar-benar Su Yeo yang jatuh bersamanya dari atas jurang. Saat itu juga, Zhou Yuan langsung berdiri kemudian dengan cepat ia menyambar Su Yeo dan memeluknya.
Bukan mimpi. Ini nyata.
”Syukurlah, kau baik-baik saja.” ucap Zhou Yuan pelan.
Su Yeo bingung bagaimana ia mengatasi hal ini. Saat ia mencoba melepaskan diri, Zhou Yuan malah semakin kuat memeluk dirinya. Ia pun menatap ke arah Wu Xing yang duduk di hadapannya dan berbisik, ”Ada apa dengannya.”
Wu Xing yang mendengarnya hanya mampu mengangkat kedua pundaknya sembari mengalihkan perhatiannya. Sebuah pemandangan yang tidak indah jika Wu Xing tetap bertahan pada posisinya. Ia pun akhirnya memilih untuk merapikan pisau buahnya kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
...~o0o~...
Desa penyihir berada di kaki gunung Mozi. Mu Xinyang dan bala tentaranya sebentar lagi akan tiba di sana. Namun, mereka menunggu sinyal dari Zhou Yuan yang tidak kunjung datang juga. ”Apakah sesuatu telah terjadi padanya?” gumam Mu Xinyang sembari menatap ke gunung Mozi yang menjulang tinggi di depannya.
”Yang mulia, sinyal dari Pangeran ketiga belum juga datang sampai sekarang. Apakah kita akan menyerang duluan?” tanya seorang pasukan yang berada di sebelahnya.
Mu Xinyang menjawab, ”Tidak. Tunggu sebentar lagi. Kita tidak tahu seberapa kuat mereka.”
”Tapi, Yang mulia. Sebentar lagi malam akan tiba. Para penyihir akan semakin kuat jika malam semakin larut. Kita tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu sinyal dari Pangeran ketiga.”
Mu Xinyang terdiam selama beberapa saat. ”Aku tidak bisa mengambil resiko kehilangan banyak bala tentaraku saat ini. Aku akan berusaha keras agar tidak ada satupun nyawa yang melayang malam ini.”
...~o0o~...
”Hei! Kau baru saja bangun. Istirahatlah sebentar di sini!” Wu Xing berusaha menghentikan Zhou Yuan yang hendak pergi menuju desa penyihir seorang diri di saat Su Yeo sedang mandi. Wu Xing pantas saja Zhou Yuan bergegas memakai pakaiannya tanpa mengatakan apapun. Jadi, tujuannya adalah pergi ke desa penyihir tanpa membawa Su Yeo dalam perjalanannya.
”Jangan menghentikan ku! Ini bukanlah kesepakatan yang kau buat!” Zhou Yuan berusaha menarik diri dari Wu Xing yang terus menarik pakaiannya agar ia kembali ke rumah.
”Bagaimana dengan Su Yeo?! Kau tidak takut aku melakukan sesuatu padanya? Kau lupa kalau aku ini juga laki-laki?”
Seketika Zhou Yuan langsung berhenti melawan saat Wu Xing mengatakan kata-kata yang sanggup membuatnya berpikir yang aneh-aneh.
Zhou Yuan menatap Wu Xing dengan dingin sembari mengepalkan tangannya sangat kuat sampai membuat Wu Xing merasa merinding saat menatap matanya. ”Awas saja kalau hal itu sampai terjadi. Aku akan menjamin kepalamu akan lepas dari tempatnya.”
”....”
Beberapa saat kemudian, Su Yeo yang sudah selesai mandi, berjalan masuk kembali ke rumah. Ia melihat Wu Xing yang duduk terdiam di depan meja duduk dengan keringat dingin yang tampak bercucuran dari atas kepalanya. Ia juga tidak mengatakan apapun saat Su Yeo masuk ke dalam rumahnya. Padahal Su Yeo berpikir Wu Xing akan mengatakan sesuatu padanya.
”Kenapa diam? Saat ini kau lapar?” tanya Su Yeo karena terus memikirkannya.
Wu Xing menatap Su Yeo sembari menggigit bibirnya. ”Hei, Su Yeo. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.” ucapnya dengan gemetar.
”Bicara apa kau ini? Mengapa suaramu terdengar sedang ketakutan? Kemana orang itu pergi?” tanya Su Yeo sembari berjalan menghampirinya dan duduk tepat di depannya.
”Pangeran ketiga mengancam akan memenggal kepalaku jika aku melakukan hal buruk padamu. Padahal aku hanya mencoba menahannya agar tidak pergi.” jelas Wu Xing.
Su Yeo mendadak bingung. ”Kenapa sih? Jelaskan yang apa yang terjadi.”
Wu Xing terdiam sejenak lalu menjawab, ”Pangeran ketiga pergi ke desa penyihir seorang diri. Padahal sudah kukatakan kalau tempat itu berbahaya untuknya!”
...~o0o~...
Zhou Yuan pergi menuju desa penyihir. Beruntungnya, desa itu sudah sangat dekat saat ini dibandingkan jika ia harus melewati pinggir jurang yang berbahaya. Hanya ada pepohonan di depannya. Tidak ada satupun pemukiman yang dilewatinya bahkan satu orang pun tidak ada di sana. Tempat itu benar-benar terpencil dan dijauhi semua orang. Tidak heran desa penyihir menjadi tempat ritual-ritual terlarang dilakukan. Termasuk ritual mereka yang telah menyihir selir keempat hingga membuatnya menjadi gila.
Padahal sebentar lagi dia akan sampai tetapi matahari sudah mulai tenggelam. Para penyihir akan semakin kuat jika malam semakin larut dan akan sangat berbahaya jika dia dan Mu Xinyang melancarkan perlawanan.
Lalu, dari jarak yang tidak terlalu jauh, Zhou Yuan mendengar suara dentingan pedang yang saling beradu dan teriakan orang-orang yang kesakitan. Tanah yang diinjaknya pun juga ikut bergetar. Ia semakin khawatir dan menduga bahwa Mu Xinyang datang menyerang desa penyihir saat malam akan tiba.
Zhou Yuan kembali berlari menuju desa penyihir untuk memastikan. Sebuah gerbang desa penyihir yang terbuat dari kayu tampak rusak bahkan hancur. Tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dia melihat perang yang terjadi saat ini antara orang-orang yang bisa menggunakan sihir dengan orang-orang yang hanya mampu menggunakan pedang dan anak panah.