Dipusingkan oleh pekerjaan, membuat Dakota Cynthia Higgins melampiaskan rasa lelah dengan bersenang-senang di club malam bersama teman. Dia yang sedang mabuk pun ditantang untuk menggoda seorang pria yang tak lain adalah Brennus Finlay Dominique.
Dalam kondisi terpengaruh alkohol, mabuk berat hingga kehilangan akal sehat, Dakota sungguh merayu Brennus hingga terjadi satu malam penuh tragedi. Padahal sebelumnya tak pernah melakukan hal segila itu dengan pria manapun.
Ketika sadar, Dakota benar-benar menyesal. Bukan akibat kehilangan mahkota yang selama ini dijaga, tapi karena pria itu adalah Brennus, salah satu keturunan Dominique. Di matanya, keluarga itu memiliki sifat menyebalkan.
Brennus berusaha untuk menerima segala konsekuensi atas apa yang terjadi malam itu, tapi ternyata Dakota tidak menginginkan hal serupa. Wanita itu sudah anti dengan keluarga Dominique.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Brennus benar-benar tak habis pikir dengan Dakota. Apa katanya? Melupakan begitu saja? Mana bisa ... yang ada dia terbayang-bayang terus. Semenjak malam itu, bahkan ia melupakan segalanya. Lupa kalau masih punya kekasih yang belum dihubungi sampai sekarang, belum diputuskan juga.
Wanita yang di depannya justru terlihat santai-santai saja seolah kehilangan virgin bukanlah masalah besar. Aneh. Tapi, semakin unik justru membuatnya kian menginginkan Dakota. Apakah Brennus juga aneh? Tidak ... tidak ... dia tidak menganggap diri begitu, tapi bentuk rasa tanggung jawab.
Disaat Brennus masih dalam kondisi melamun, Dakota telah pergi jalan mendahului. Ketika sudah tersadar karena ada orang yang menyenggolnya, barulah lekas menyusul.
“Seharusnya kau sedih, Dakota, lalu menuntut aku,” paksa Brennus, tepat di belakang wanita itu.
“Untuk apa sedih? Lagi pula itu kesalahanku. Malam itu mabuk dan tak sadar. Jadi, kau tenang saja, tidak perlu pusing aku menuntut tanggung jawab karena itu tidak mungkin.” Dakota mulai lelah menjauh terus. Brennus selalu mengejarnya. Jadi, kaki tetap melangkah pelan menuju perusahaan karena tidak ada tempat yang bisa ia pikirkan kecuali untuk kerja.
“Bagaimana jika kau hamil? Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri merawat anak kita.” Brennus menatap lekat mata Dakota, mencari titik dan memastikan wanita itu terpengaruh dengan ucapannya.
Namun, Sayang sekali, Dakota tetap biasa saja. “Hamil? Sepertinya tidak mungkin, sudahlah ... tenang saja, kita jalani hidup masing-masing. Oke?” Ia berhenti di depan lift dan menanti pintu terbuka. Segera masuk ke dalam dan harus menghembuskan napas kasar karena Brennus masih mengikutinya.
“Kau enak bisa mengatakan itu dengan santai. Aku? Pasti seumur hidup dihantui rasa bersalah, mengambil virgin yang seharusnya kau berikan pada orang spesial, kan? Ternyata sudah ku renggut.”
Rasanya Dakota ingin menyumpal mulut pria itu agar diam. Mengoceh terus seperti tidak ada rasa lelah. Dia yang mendengarkan saja capek.
“Tuan Brennus Finlay Dominique. Dengarkan aku.” Dakota berdiri menatap mata pria itu, memancarkan segala ketegasan. “Kau mau tanggung jawab, kan?”
Mengangguk. “Iya.”
“Maka, tanggung jawab yang ku minta adalah lupakan kejadian itu. Sudah cukup. Lagi pula kau tidak rugi apa-apa, kan?”
“Tidak rugi? Aku juga dirugikan, karena kau menggodaku, jadinya aku merasa berselingkuh dari kekasih.” Brennus berkacak pinggang. “Bagaimana jika aku saja yang meminta tanggung jawabmu?”
Pintu lift terbuka, Dakota ditarik keluar oleh Brennus dan dibawa masuk ke ruangan Aloysius. Manfaatkan saja ruangan tak berpenghuni itu.
Menghempas tubuh wanita itu ke sofa, lalu Brennus juga melakukan hal yang sama. “Karena kau yang memaksaku, sekarang aku mau kau membayar semuanya dengan menikah.”
Bukannya langsung disetujui, Dakota justru menahan tawa. Lucu sekali pria di depannya. “Begini, Tuan. Kau punya kekasih?”
Mengangguk membenarkan.
“Maka, aku akan menemui kekasihmu dan minta maaf padanya karena sudah menggodamu. Kau tidak mungkin dinilai selingkuh karena aku yang salah.”
Sepertinya salah besar membawa nama kekasihnya. Dakota justru terkesan kian jauh tergapai. Bagai bintang di angkasa yang tak mudah untuk didapatkan dengan raihan tangan saja.
“Jangan lakukan itu,” larang Brennus. Bukan beres urusan, yang ada Dakota diamuk Laura.
“Kau itu aneh, tadi menuntut aku tanggung jawab karena sudah membuatmu merasa menyelingkuhi kekasih. Sekarang niatku baik untuk menjelaskan, tidak boleh. Jadi, maunya apa? Kalau menikah, sudah pasti aku akan menolak karena nanti dianggap perebut kekasih orang.”
gass lah Brennus maju yrs jangan mundur takut nabrak.🤣🤣