Gwen, mendapatkan ujian dari sang ayah untuk tinggal di desa selama tiga puluh hari. Wanita itupun setuju demi mengembalikan kepercayaan sang ayah padanya.
Di desa, ia bertemu dengan Wira, anak kepala desa yang memiliki sifat menyebalkan. Gwen dan Wira sering kali bertengkar dan berdebat meski dalam hal-hal kecil. Namun setelah banyak waktu mereka lalui bersama, benih-benih cinta pun tumbuh secara diam-diam.
Keduanya belum sempat saling mengungkapkan sampai tiba saatnya Gwen harus segera kembali ke kota.
Bagaimana kisa mereka akan berlanjut? Akankah keduanya kembali bertemu dan mengungkapkan isi hati masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemala
Pagi ini, Gwen melamun di teras rumahnya. Ia duduk menghadap layar laptop yang menyala namun pandangan matanya tertuju pada bunga anggrek yang menempel di batang pohon kelapa.
Ia beru saja menerima telepon dari Pedro dan mendapatkan kiriman beberapa bukti pemindahan dana cukup besar dari rekening pribadi milik ibu tirinya ke sebuah perusahaan kecil yang ia curigai sebagai perusahaan cangkang sebagai kedok pencucian uang.
Gwen melamun, memikirkan cara agar Theo mempercayai apa yang sudah ia temukan. Namun konsentrasi wanita itupun terbagi, karena kesal dengan sikap Wira semalam.
Saat termenung sendirian, tiba-tiba saja ....
"Dor!" Suara keras Felix mengagetkan. Gwen yang terkejut pun sontak memukul bahu Felix dengan keras.
"Dasar anak nakal!" seru Gwen. "Kau hampir membuatku jantungan!"
"Siapa suruh, pagi-pagi sudah melamun," goda Felix.
"Tidak! Aku tidak melamun!" sanggah Gwen.
"Ah, yang benar."
"Hmm, anak kecil tahu apa kau!"
Gwen segera menutup layar laptopnya, mendengarkan Felix bercerita tentang kegiatan sekolahnya serta teman-teman sepermainannya.
Meskipun Gwen hanya diam dan mendengarkan, namun wanita itu tidak benar-benar fokus dengan apa saja yang Felix katakan. Pikiran Gwen melayang pada sosok gadis cantik yang ia temui semalam. Entah mengapa, nama Kemala seakan mengganggu pikirannya.
Seperti sebuah kebetulan, tiba-tiba saja sebuah sepeda motor masuk ke halaman rumah. Felix melambaikan tangan dan tersenyum menatap sosok Kemala yang tiba-tiba saja datang.
"Ada apa?" tanya Felix. "Apa kau mencari Kakak?" tanyanya.
"Tidak, aku mengantarkan ini," jawab Kemala sambil menunjukkan sebuah box makanan yang terbungkus tas kain.
Felix dengan cepat turun dari rumah panggung dan menghampiri Kemala. Mereka tampak mengobrol beberapa menit lalu Kemala pun berpamitan dan pergi.
Sepeninggal Kemala, Felix langsung masuk ke dalam rumahnya untuk mengantar barang pemberian Kemala pada ibunya. Setelah itu ia kembali menemui Gwen yang masih menunggunya.
"Bukankah dia gadis semalam?" tanya Gwen.
"Hmm, namanya Kemala, Kak."
"Oh." Gwen mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Cantik, ya? Dia kembang desa loh, Kak. Semua pemuda di sini mengidolakannya. Kemala itu, deskripsi menantu idaman seluruh ibu-ibu PKK," ujar Felix.
"Ya, ya, ya. Sepertinya Kakakmu juga menyukainya," seloroh Gwen.
"Hmm, bisa jadi," jawab Felix.
"Hah!" Gwen menghembuskan napas kasar. Entah mengapa ia tidak suka dengan jawaban yang baru saja ia dengar.
"Kak Wira dan Kak Kemala itu sudah dekat sejak kecil, karena Ibu kami berteman baik. Dengar-dengar, Bapak memang berniat menjodohkan Kakak dengan Kak Kemala," terang Felix.
"Apa masih jamannya menjodoh-jodohkan anak seperti itu? Ada-ada saja."
"Entah." Felix mengendikkan bahu.
Felix bukannya membuat pikiran Gwen makin tenang, justru anak itu semakin membuat Gwen sakit kepala dan banyak pikiran. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Wira sangat menganggu dan membuat perasaannya tidak tenang, namun dalam waktu bersamaan laki-laki itu telah menghidupkan perasaan yang tidak pernah muncul ke permukaan.
"Ngomong-ngomong, bagaimana tipe wanita yang disukai Kakakmu?" tanya Gwen pada Felix.
"Aku akan menanyakannya nanti," jawab Felix.
"Ah, tidak perlu, tidak perlu."
"Kenapa kau penasaran, Kak. Jangan-jangan ...."
"Hei, jangan berpikiran macam-macam. Aku hanya penasaran," sela Gwen.
"Aku tidak berpikiran macam-macam, kok. Kau saja yang suka menebak macam-macam," goda Felix. Lagi-lagi Gwen memukul bahu anak itu.
"Aduh, aduh. Aku bercanda, Kak. Kau dan Kak Wira sama saja, tidak paham mana bercanda mana seriusan!" keluh Felix cemberut.
...****************...
kurang gereget Thor endingnya, gimna reaksi kemala melihat Wira dan Gwen menikah, gimna Hana dan Clara d penjara, dan terpenting malam pertama Wira dan Gwen,
tp apapun itu karya othor luar biasa, GK bertele tele kayak film ikan terbang,
sukses selalu buat othor , ,
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
mari kita kawal sampai halal 🤭
semoga ngak bertepuk sebelah tangan y Gwen ,,,,