Viona tidak pernah ingin jika pernikahannya hancur. Walaupun dia menikah bukan karena cinta, tetapi Viona sudah berjanji pada diri sendiri untuk menikah hanya sekali seumur hidup. Tentu banyak perjuangan, cobaan, dan air mata yang harus Viona hadapi.
Meluluhkan hati suaminya begitu sulit, bahkan setelah berjuang pun, perjuangannya itu masih tidak di hargai. Rey sang suami, masih menganggap Viona wanita perusak hubungannya dengan Laura. Karena pernikahan mereka membuat Rey tak bisa menikah dengan Laura yang sudah lama menjadi kekasihnya.
Akankah Viona bertahan disisi suaminya dan mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih pergi untuk meraih kebahagiaannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai
Bi Marni sudah beberapa kali meyakinkan Viona untuk tetap semangat menjalani hidupnya. Walaupun kehidupan ke depannya pasti akan sangat sulit untuk dia jalani. Sekarang Viona jauh lebih tenang dari sebelumnya. Dia sudah benar-benar menerima kehamilannya itu. Viona pun sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah mempertemukan anaknya dengan Rey. Karena sudah pasti Rey tak mau menerima anaknya.
Alan yang baru pulang kerja, dia mencari keberadaan Viona. Di tangan kanannya ada amplop putih yang akan di berikan kepada Viona. Amplop itu dia dapat dari Rey. Alan menghampiri Viona yang sedang berkutat di dapur.
"Ternyata kamu ada disini, Vio. Ini ada sesuatu untuk kamu." Alan menyodorkan amplop putih itu kepada Viona.
"Apa ini?" tanya Viona sambil mengambil amplop itu dari tangan Alan.
"Itu di amplop ada tulisannya," ucap Alan.
Viona sedikit heran saat membaca tulisan pengadilan agama. Karena penasaran, Viona membuka amplop itu. Ternyata itu surat perceraian. Viona tersenyum miring membaca surat perceraian itu. Sekarang sudah semakin bulat tekadnya untuk menyembunyikan kehamilannya dari Rey. Jangan sampai nantinya Rey merebut anaknya.
"Vio, apa itu .... " Alan ragu-ragu untuk berkata.
"Iya, ini surat gugatan perceraian dan aku akan menandatanganinya. Mungkin ini yang lebih baik untukku dan anakku," jawab Viona.
"Yang sabar ya, dengan adanya perceraian ini menandakan bahwa Rey bukan lelaki yang terbaik untukmu," ucap Alan.
Viona mengangguk sambil tersenyum. "Aku ikhlas jika ini memang takdir hidupku. Aku tahu kalau perceraian itu tidak baik. Hanya saja aku sudah tidak bisa lagi terus menunggu Mas Rey yang sudah jelas tidak mencintaiku."
"Bagus, Vio. Ketika kita hidup itu harus menatap masa depan. Walaupun jalan yang kita lalui cukup terjal."
"Benar, kita harus kuat dan terus bersabar untuk meraih kebahagiaan itu," kata Viona.
Viona dan Alan saling melempar senyum.
...
...
Sidang perceraian antara Viona dan Rey telah selesai. Kini mereka sudah resmi bercerai. Viona merasa sedikit lega, walaupun hatinya terluka. Tetapi demi anak, dia harus kuat. Karena dia nantinya akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk anaknya.
"Vio, kamu yang kuat ya. Perjalanan hidupmu masih panjang. Mulai sekarang kamu fokus saja dengan kandunganmu. Jangan pikirkan hal lain yang tak penting," ucap Alan kepada Viona.
"Aku akan mencoba menjadi pribadi yang kuat menjalani cobaan apa pun. Karena jika aku menyerah, bagaimana dengan anakku? Tidak ada lagi yang akan merawatnya setulus hati kalau bukan ibunya sendiri."
"Kamu benar, Vio. Jadi, kamu tidak usah memikirkan hal yang bisa membuatmu stres. Kamu harus sembuh sepenuhnya demi anak yang sedang kamu kandung. Dan satu lagi, kamu tidak usah bekerja. Karena itu bisa membuatmu lelah," ucap Alan.
"Jika tidak bekerja, bagaimana caraku mendapatkan uang untuk membiayai persalinanku nanti?"
"Kamu serahkan semuanya kepadaku. Jangan sungkan begitu. Kamu tahu kan kalau aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri," ucap Alan.
Viona menghela napasnya. "Aku tidak enak jika hanya bergantung kepada Kak Alan saja."
"Tapi saya ikhlas membantu kamu, Vio."
Viona terdiam, tidak bisa jika dia terus bergantung pada Alan. Dia di izinkan tinggal di apartemennya saja sudah senang. Viona tidak mau jika terus merepotkan Alan.
"Maaf, Kak. Tetapi saya masih akan tetap bekerja. Lagian bekerja di kantor Kak Dio itu tidak capek kok." Viona mencoba meyakinkan Alan.
"Baiklah, tapi kamu harus jaga diri ya."
"Siap, Kak." Viona mengangkat tangannya dan menempelkan di atas kepala seperti sedang hormat.
Setelah berbicara dengan Viona, Alan berpamitan pulang. Tadi memang dia hanya berniat untuk mengantar Viona pulang. Alan yang baru saja keluar dari apartemen, mendengar ponsel miliknya berdering. Ternyata ibunya yang menelepon.
'Tumben sekali mamah telepon jam segini,' batin Alan lalu menggeser tombol hijau di ponsel miliknya.
📞"Hallo, ada apa Mah?" tanya Alan.
📞Cepat pulang! Mamah ingin bicara penting sama kamu," ucap Bu Maya dari seberang sana.
📞"Memangnya bicara apa?"
📞Nanti saja bicaranya kalau kamu sudah sampai rumah."
Panggilan telepon itu berakhir. Sebenarnya Alan sangat penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh ibunya. Tidak biasanya ibunya menelepon di jam kerjanya. Hanya saja hari ini Alan memang tak berangkat ke rumah sakit karena izin.
Jarak apartemen ke rumah hanya 20 menit saja. Kini Alan sudah sampai di rumah. Alan bergegas turun setelah menghentikan mobilnya di halaman rumah.
Bu Maya sudah menunggunya di depan rumah sambil melipat ke dua tangan di dadanya. Sudah tidak sabar untuk membicarakan hal penting dengan anaknya.
"Mah, kok berdiri disini?" tanya Alan.
"Mamah sengaja menunggu disini karena ada sesuatu yang ingin mamah tanyakan sama kamu."
"Apa itu?" tanya Alan.
"Siapa wanita yang tinggal di apartemen kamu. Apa dia kekasihmu? Kenapa tidak mengenalkannya ke mamah?"
Alan terkejut mendengar ibunya sudah mengetahui keberadaan Viona. Jika begini, bisa-bisa dia akan di desak untuk menikah. Karena sudah sejak lama ibunya memintanya membawa pasangan.
"Mah, dia Viona wanita yang aku tolong. Lagian dia sedang hamil. Tidak mungkin jika aku tertarik dengannya."
"Lalu dimana suaminya?"
"Suaminya tidak bertanggung jawab. Hari ini Viona dan suaminya sudah resmi bercerai."
Bu Maya ikut prihatin mendengar perkataan anaknya. Karena tidak mudah wanita hamil muda hidup sendiri.
"Besok mamah akan menemuinya," ucap Bu Maya.
"Apa mamah akan mengusirnya?"
"Jika mamah melakukan itu, sama saja mamah tidak punya rasa kasihan. Lagian mamah tidak tega membiarkan wanita hamil hidup sendirian," ucap Bu Maya.
Alan bernapas lega, ternyata ibunya tidak memarahinya dan mau mengizinkan keberadaan Viona di apartemen.
....
teruskan usaha kak thor dalam penulisan nya..
moga sukses selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya..😘