NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:254k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dayang Rindu

Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.

Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

Bram tak mencintai Habibah!

"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.


Walaupun terus saja terjadi.

"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.

"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.

Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?

Yuk baca>>

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Andaikan Anda adalah ayahku.

Seperti sedang menjahit, tapi jarumnya malah menusuk jari sendiri. Niat hati ingin memperbaiki hubungan Bram dan putrinya Larisa, tapi malah mendapat jawaban menusuk, terasa nyeri di dalam hati.

Wajah tampan penuh wibawa beraura pemimpin itu mendadak terpaku, tercekat dengan pertanyaan balik seperti serangan dari Habibah.

Benar jika Rudy pernah berada di posisi itu, dia adalah suami dari ibu Habibah, dan meninggalkannya bersama wanita muda, ibu dari Larisa.

"Maaf, maksud saya adalah. Saya butuh perbandingan untuk apa yang sedang saya alami saat ini. Tidak bermaksud untuk menyakiti atau menyinggung siapapun termasuk Larisa putri kesayangan Anda. Aku tahu Larisa hadir lebih dulu, dan tak sengaja aku datang menjadi istri Mas Bram. Tapi percayalah, kata tak sengaja hanyalah ungkapan kehadiran tiba-tiba diriku. Karena sesungguhnya tidak ada hal yang tak sengaja di dunia ini, bahkan daun yang jatuh sudah tertulis dalam takdir Ilahi, dia sudah mengatur semuanya dengan amat rapi. Pembuat skenario terbaik dan kita adalah pemeran dalam kehidupan sementara ini. Aku tidak tahu harus mengaku salah atau mengalah, tapi sebagai seorang istri aku berhak untuk mempertahankan suamiku. Karena kehilangan itu benar-benar menyakitkan."

Rudy melepas kaca matanya, antara kesal juga mendengar apa yang diungkapkan Habibah, pria itu teringat masa lalu dan juga wajah seseorang yang benar saat ini posisinya ada pada Habibah. Bedanya, dulu wanita dalam ingatannya hanya marah, menangis dan teramat sangat kecewa. Sedangkan Habibah terlihat kuat, berani, dan tidak khawatir dengan apapun.

"Ya, tidak salah Ayah memilihmu menjadi sekretaris ku. Kau pintar dan tegar, bicaramu pelan tapi mengalahkan. Sebagai seorang ayah aku hanyalah ingin yang terbaik untuk putriku." ungkap Rudy pula, tidak mau kalah begitu saja dengan pembelaan Habibah.

"Aku paham Pak, Sayangnya aku tidak paham bagaimana seorang ayah menyayangi putrinya. Karena ayahku pergi bersama wanita lain, bahkan keberadaan ku di rahim ibuku, dia tidak tahu."

Membuat Rudy semakin merasa di serang kembali, walaupun apa yang di ucapkan Habibah tak ada hubungannya dengan dirinya.

"Aku terbiasa membela diriku sendiri walaupun akhirnya aku harus kalah atau mengalah. Maaf jika aku menyinggung perasaan Anda. Aku menyayangimu Pak, andaikan saja Anda adalah ayahku." sambung Habibah lagi.

Sayangnya, mata indahnya tak mau di ajak berkompromi, air mata itu turun semaunya dan keluar sesukanya. Sedikit saja nyeri menyerang ulu hati, sungai kepedihan meluap membasahi wajahnya.

Habibah melangkah meninggalkan Rudy yang masih terpaku. Walaupun ia sadar bahwa pembicaraan mereka sudah terlalu pribadi, tapi rasanya begitu lega mengungkapkan luka dan derita kepada seseorang yang harusnya memang mendengarkan segalanya.

"Kau menangis?" pertanyaan Lee membuat Habibah mengusap air matanya berkali-kali.

"Aku sedang bersedih Lee." ungkapnya tak dapat menahan tangisnya. Air mata yang tadi sudah di usap malah turun lebih deras lagi.

Lee setia berdiri memandangi Habibah menangis menutup wajahnya dengan lengan bertumpu pada pintu mobilnya.

"Aku benar-benar sedih." ungkapnya lagi di sela isak tangis yang sulit di hentikan.

Lee mendekati Habibah, tapi malah sebuah tangan mendorong Lee untuk menjauh.

"Kita pulang." ucap Bram yang tiba-tiba datang, dan sepertinya dia memang belum pulang.

"Mas." Habibah menoleh dan menatap heran kepada suaminya tersebut.

"Kita pulang." ulangnya meraih bahu Habibah mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.

"Tapi Lee_" Habibah menoleh anak asisten kakeknya sekaligus temannya tersebut.

"Dia bisa pulang sendiri." kesal Bram tak mau repot dengan pria yang pasti akan menguntit mobilnya lagi.

Habibah menurut, masuk ke mobil Bram sambil terus berusaha mengusap air matanya.

Mobil mereka melaju. Di sepanjang jalan mereka hanya berdiam, hanya masih terdengar isak tangis Habibah yang mulai mereda. Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah.

Bram menoleh Habibah yang ternyata dia tertidur setelah puas menangis. Bram menarik nafas begitu dalam, tapi kemudian ia memutuskan untuk membawanya masuk tanpa membangunkannya.

Pemandangan yang sungguh membuat mata Lee terbuka sempurna. Pria yang setia mengikuti keduanya itu terlihat sangat heran ketika Bram membawa Habibah masuk dengan menggendong tubuh mungilnya.

Terlebih lagi Frans yang sengaja belum tidur, menunggu anak-anaknya pulang. Namun tak mau berkomentar apalagi bersuara, hanya melihat hingga putranya hilang di atas tangga menggendong Habibah.

Pria itu tersenyum menang, tipis tapi penuh arti, ia melenggang masuk ke dalam kamarnya.

Sementara di kamar atas, Bram meletakkan tubuh mungil Habibah di atas ranjang dengan hati-hati.

Sejenak terpaku dengan wajah yang lagi-lagi sembab dan ujung hidungnya memerah. Dia merasa bersalah. "Maafkan aku Habibah." ucapnya pelan, kemudian melepaskan sepatu Habibah satu-persatu, mengatur selimut dan membiarkan gadis itu tertidur.

*

*

*

Suara notifikasi pesan dari sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja membuat bulu mata lentik itu bergerak, perlahan ia menggeliat dan membuka matanya.

"Aku kesiangan." Habibah segera beranjak, tapi layar ponsel yang menyala itu membuat ia penasaran, terpancing untuk menyentuh dan melihatnya.

"Ulang tahun!" gumamnya menutup mulutnya sendiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

Bram masih di kamar mandi sehingga Habibah tak perlu khawatir dengan perdebatan pagi. Ia meletakkan ponsel tersebut pada posisinya semula.

Bola mata indahnya memutar tampak berpikir, lalu berpindah meraih tas yang terletak di atas meja riasnya.

"Astaghfirullah, artinya dia menggendongku semalam." menutup wajahnya sangat rapat, antara malu dan senang hatinya bersorak. Gugup dan bahagia bersamaan membuat ujung jarinya mendadak dingin.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Bram tiba-tiba sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang, tapi memakai kaos di atasnya.

"Hah." Habibah menoleh dan terkejut.

"Kau sedang menghayal?" tanya Bram lagi menebak apa yang sedang di lakukan gadis itu.

"Tidak." jawabnya dengan wajah menahan senyum dan terlihat malu-malu.

Bram tersenyum tipis, tentu ia tahu apa yang dipikirkan istrinya.

"Dasar bodoh." ucapnya membuka lemari pakaian, sekali melirik Habibah yang menuju kamar mandi.

Pukul 6:40. Sedikit terlambat pergi bekerja, biasanya Habibah sudah siap di pukul enam untuk menghindari kemacetan.

"Mas, aku ikut denganmu." ungkap Habibah setelah membawa kotak makanan berisi roti, dia tak sempat sarapan.

"Tidak, kau pergi sendiri saja." jawab Bram tanpa mau melihat wajah istrinya yang sedang bahagia.

Habibah menarik nafas, sedangkan Frans sudah berangkat lebih dulu.

Bram melewatinya begitu saja, entah apa yang membuatnya berubah, dia benar-benar lelaki yang sulit ditebak.

Habibah berjalan pelan menuju halaman depan, dengan terpaksa ia harus menghubungi Lee lagi.

"Dia benar-benar pergi." ucapnya dengan wajah di tekuk menyaksikan mobil Bram sudah menjauh dari rumahnya.

1
Nitnot
Luar biasa
Hana Nisa Nisa
top bgt
Hana Nisa Nisa
kerennnnnn
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
gitu donghh
Hana Nisa Nisa
😚😚😚😚😚
Hana Nisa Nisa
okelah
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
suka
Hana Nisa Nisa
😑😑😑😑
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
Ayu Dwi S
konten tidak sesuai judul
Dayang Rindu: itu orang yang sengaja kak, dia bukan murni hanya menilai tapi ingin menjatuhkan. biasanya itu akun fake,
total 3 replies
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
knp sih sllu perempuan yang dibikin jatuh cinta duluan, smga karakter habibah ga lmh dn lby cm krna cinta
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Dayang Rindu: makasih kak Soraya 😍😍😍
total 1 replies
Desa Febri
ceritanya sngt bagus aku suka bngt
Sela Pertiwi
lah lee nya sama ku aja boleh gak. wkwkwkwkwkwwkwk
Dayang Rindu: boleh kak, 😁😁😁
mampir di Karya baruku ya, "Anak Kos di rumah sebelah"
total 1 replies
Dayang Rindu
jangan lupa Mampir di karya terbaru otor, " Anak Kos Di Rumah Sebelah, selingkuhan suamiku. "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!