Ayah meninggal ketika aku berusia 20 tahun, semua aset habis tak tersisa satu pun. Aku mulai menjalan kan usaha ku, Cafe yang aku bangun sejak aku masih SMA itu mulai ku rintis kembali. Sempat putus asa karena kehabisan modal, tapi semua bisa aku lewati.
Namun, semua itu belum lah berakhir. Cafe beserta bangunan lainnya akan di robohkan. Ada perusahaan ternama yang membeli kawasan itu, mereka akan membangun sebuah Hotel mewah. Aku berada di ambang kebimbangan, harus bagaimana menyelesaikan permasalahan ini? Di tengah kebimbangan ku itu, aku mengalami kecelakaan. Bukan kecelakaan hebat yang mengharuskan aku untuk di rawat lebih lama, di pantau oleh para dokter, hanya cedera ringan yang aku alami. Tapi, orang tua yang menabrak ku justru malah memberiku sebuah penawaran. Anak nya di paksa untuk menikah dengan ku, dengan dalih pertanggung jawaban!!!
Bagaimana kisah ku selengkap nya, yuk tetap pantengin novel ini agar tidak ketinggalan ceritanya..
By. Mrs Ribet -,-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Ribet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 19 GAGALNYA ARMAN
BAB. 19 Gagalnya Arman
Terkadang apa yang kita ingin kan tidak akan mudah kita dapatkan, sama hal nya dengan Arman yang selalu gagal dalam membina sebuah bahtera cinta. Setelah mengetahui jika sang tambatan hati berselingkuh, Arman lebih banyak menutup diri dari berbagai macam jenis wanita. Tidak memberikan akses masuk kedalam hati nya, dan benar-benar mengunci rapat hati nya. Namun, semua sia-sia ketika sang ibu angkat terus merengek pada Arman agar mau kembali membuka hatinya.
Hingga suatu hari, Arman bertemu dengan seorang wanita yang begitu cantik. Sebut saja namanya Nita, wanita anggun dengan sejuta pesona. Seolah memiliki sinyal magnet, hati Arman seolah tertarik dengan sendiri nya. Dengan gigih dan penuh percaya diri Arman mulai mendekati, mencoba berbagai hal untuk mendekati Nita.
Sampai sekitar 3 bulan lamanya Arman dan Nita mulai dekat, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara kedua nya. Hingga kejadian tak terduga menimpa pada mereka, lebih tepat nya pada Arman. Hanya Arman seorang, Arman kira cinta nya terbalas kan. Tapi nyatanya, hanya cinta Arman lah yang ada. Nita wanita yang terlihat begitu cantik itu hanya memanfaatkan saja apa yang Arman punya. Menipu Arman dengan segala tipu muslihat. Menjadikan Arman ATM berjalannya, memoroti semua uang yang Arman miliki. Menyesal, sungguh Arman tidak menyesal. Hanya saja dia merasa bodoh. Telah terperdaya oleh seorang wanita. Dan itu bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
"Ngelamun terusssssss." Davin, atasan sekaligus Adik Arman. Datang-datang langsung melempar sebuah map berwarna coklat. Lengkap dengan amplop.
"Sopan dikit kek, gini-gini juga Abang lu."
"Iya Abang sorry." Mengatupkan kedua tangan, Davin meminta maaf dengan wajah mengejek. "Tuh kerjain, terus antar ke ruangan gue. Besok mesti kudu beres."
"Hmm gue usahain."
"Ngapa? Putus cinta lagi? Sama siapa? Sari, Nita, Andini, Dini, Apa siapa?"
"Berisik."
"Gitu aja ngambek, kaya anak perawan."
"Keluar sonoh, males gue lihat muka lu. Bikin eneg."
"Eh belagu, kemaren-kemaren kalo ada masalah siapa yang bantu? Gue vroh. Sekarang bisa nya bilang eneg."
"Udah lah sana keluar, males gue liat muka lu bosen."
Bukannya keluar Davin malah memilih duduk di sofa, dia tahu saudara nya itu pasti sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja Arman seperti nya enggan untuk meminta bantuannya.
"Udah cerita aja kenapa? Gengsi amat."
Menghela nafas nya dengan berat, Arman bangkit dari kursi kebesarannya. Mungkin dengan bercerita semua beban yang Arman tanggung akan sedikit berkurang.
"Kenapa? Muka kusut gitu, udah jelek makin jelek."
"Bingung mau ngomong dari mana."
"Masalah cewek lagi?"
Arman hanya mampu mengangguk dengan lesu, sebenarnya dia begitu enggan jika harus membahas seorang wanita. Hanya saja, kali ini sangat perlu untuk di bahas. Terlebih, mengingat dirinya yang terus dan terus gagal dalam menjalin sebuah hubungan.
"Di kibulin siapa lagi lu?"
"Kali ini gue gak di kibulin, tapi gue lebih menjaga jarak. Gue gak mau seperti yang sudah-sudah. Terlalu berharap dan ujung-ujung nya gue yang sakit."
"Lu deket sama siapa emang? Cewek mana?"
Arman melirik sekilas pada Davin, kemudian menengadahkan kepalanya. Sebenarnya dia bisa dekat pun tidak sengaja. Hanya saja, setiap kali melihat gadis tersebut jantung nya selalu berdegub tidak menentu. Bahkan seperti akan keluar dari tempat nya.
Satu bulan setelah Arman kembali di tipu oleh seorang wanita sebut saja namanya Dini. Wanita mungil berkulit sawo matang. Wajah nya begitu turus, memiliki bola mata belo dan hidung kecil. Alisnya begitu tipis bahkan bibir nya pun ikut tipis. Tapi sayang, wanita dengan postur unik tersebut hanyalah beberapa wanita yang menginginkan uang Arman. Dia begitu blak-blakan bicara pada Arman bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apapun pada Arman. Hingga suatu hari Arman melihat wanita tersebut tengah berciuman dengan seorang pria. Entah dia kekasih nya atau mangsa barunya dan Arman tidak perduli akan hal itu.
Karena kembali merasa sakit pada hatinya, Arman memutuskan untuk pergi ke clubs. Sebuah tempat laknat yang begitu Arman hindari. Namun, karena hati dan pikirannya sedang kacau Arman memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu siapapun. Dia hanya ingin sedikit minum, untuk melupakan kejadian pahit yang baru saja Arman lewati. Hingga di sebuah pertigaan jalan, tanpa sengaja Arman melihat seorang wanita yang tengah di tarik paksa oleh seorang pria. Arman pikir mereka mempunyai masalah, mungkin masalah Rumah Tangga. Namun, matanya kembali menangkap sesosok pria yang lain. Dan wanita tersebut terus meronta memberontak. Awalnya Arman ingin cuek dan memilih tidak perduli, tapi nyatanya hati kecil di dalam diri Arman terus berbisik untuk membantu wanita tersebut. Hingga dengan rasa berat hati Arman memilih menepikan mobil nya dan kemudian keluar.
Arman berjalan dengan pelan, sebelum dia bertindak Arman ingin memastikan terlebih dahulu. Karena telinga Arman masih bagus dan normal samar-samar Arman mendengar jika wanita tersebut menangis dan terus meminta di lepaskan. Ternyata dua orang pria tersebut adalah Begal, dan tidak jauh dari tempat Arman bersembunyi ada sebuah motor yang terparkir asal. Dengan berani Arman mendekat, kemudian memukul salah satu begal tersebut. Begal yang satu nya kaget melihat teman nya tiba-tiba tersungkur. Kemudian melepaskan wanita tersebut yang sempat ia tahan, dia melayangkan bogem nya tepat di wajah Arman. Arman yang belum siap akan hal itu pun tidak bisa mengelak. Hingga adu jotos dan pukul pun terjadi. Selang beberapa menit ada beberapa warga yang melintas kemudian membantu Arman yang tengah berkelahi dengan dua begal tersebut. Dengan di bantu Warga Arman bisa meringkus begal tersebut. Ternyata mereka adalah komplotan begal yang begitu meresahkan warga, sudah banyak korban nya dan kebanyakan seorang wanita. Ngomong-ngomong masalah wanita, dimana wanita yang di tolong Arman tadi?
Setelah berterimakasih Arman kemudian pamit, dan mencari wanita tersebut. Tapi sayang, wanita tersebut telah menghilang entah kemana. Hingga ketika Arman memutuskan kembali ke dalam mobil dan memilih bersikap acuh tepukan di bahu nya membuat Arman terdiam.
Dengan kaku Arman membalikan tubuhnya, kemudian melihat siapa yang telah berani menepuk bahunya.
"Terimakasih, telah menolong saya." Seorang wanita dengan perawakan tidak terlalu tinggi, berdiri tepat di hadapan Arman. Wajahnya kusut, dan masih terlihat bekas air mata. "Jika tidak ada anda, saya tidak tahu nasib saya akan berakhir seperti apa. Sekali lagi terimakasih dan sebagai tanda terimakasih saya tadi mengambilkan anda minum. Tapi maaf ini bekas saya. Mohon di terima, sekali lagi Terimakasih."
Menerima air minum tersebut, walau katanya bekas. Arman sampai lupa menanyakan keadaannya. Dan justru yang keluar malah..
"Siapa namamu?"
Wanita tersebut membalikkan badannya, kemudian menatap wajah Arman sesaat. "Saya Dea, panggil saja Dea." Jawab nya dengan tersenyum. Kemudian pergi meninggalkan Arman dengan sepeda motor nya.
🍃
🍃
🍃
"Dea?" Arman mengangguk, dan kemudian menegakkan tubuh nya. Pikirannya melayang pada kejadian satu bulan yang lalu. Dimana dia membantu wanita tersebut.
"Terus masalahnya dimana? Dari cerita lu, gue menyimpulkan jika dia wanita yang baik. Bukan wanita yang ada maunya."
"Semua nya juga begitu, awal mereka manis. Tapi ujung-ujung nya mereka berbisa. Meracuni gue dengan berbagai hal. Hingga gue terlena."
"Tapi untuk mencoba lagi apa susah nya? Mungkin aja cewek ini baik. Dan engga seburuk yang lu pikirkan."
"Kalau misal dia baik? Terus kalau gak gimana? Gue juga kan yang jadi korbannya."
"Cari tahu lah, jangan diam di tempat. Tapi ngomong-ngomong apa lu pernah ketemu lagi?"
"Setiap hari gue ketemu."
"Maksud nya?"
"Setiap hari gue ketemu sama dia, setiap hari."
"Setiap hari?"
"Iya."
"Maksudnya gimana sih?
"Dia anak sini."
"Anak sini gimana?"
Helaan nafas berat kembali keluar dari mulut Arman, kenyataan yang menurutnya sungguh di luar nalar.
Setelah membantu wanita tersebut, pagi harinya Arman masuk ke Kantor dengan wajah babak belur penuh luka di wajah Arman. Sudut bibirnya pun berwarna biru, tapi Arman tidak perduli akan hal itu. Hanya saja ketika melewati parkiran karyawan, Arman tidak sengaja melihat sebuah motor yang sama persis seperti yang dia lihat tadi malam. Motor matic dengan stiker Doraemon. Bahkan body motor tersebut pun sama. Tapi, Arman mencoba acuh dan berpikir jika banyak di dunia ini yang mempunya motor dan bentukan yang sama.
Dengan percaya diri dan wajah angkuh yang menjulang tinggi, Arman memasuki Kantor. Tidak perduli dengan tatapan karyawan yang memandang nya dengan aneh, dan juga tidak begitu menanggapi sapaan karyawan pada nya. Hingga langkah Arman terhenti ketika melewati meja resepsionis. Arman membalikkan tubuhnya, dan menghadap tepat meja resepsionis dimana dua orang wanita tersebut tengah berdiri dan memberi sapaan padanya.
"Kamu!!!"
Salah satu dari mereka terlihat kaget, namun dengan cepat menunduk. Terlihat jelas raut wajah ketakutan, terlebih teman sebelah nya sudah menginjak dan menyenggol nya. Seolah meminta penjelasan.
"Jadi dia kerja disini? Sebagai resepsionis?"
"Iyah, dan lebih parah nya setelah kejadian tersebut dia seperti menghindar. Jika gue datang dia tidak pernah ada di tempat nya. Dan jika gue keluar dia selalu menunduk. Dan sialnya jantung gue tidak pernah bisa di ajak kompromi."
"Nama panjang nya apa? Kok kaya baru denger. Karyawan baru apa gimana?"
"Dia kerja baru 6 bulan, menggantikan Hesti yang cuti melahirkan. Tapi setelah melahirkan si Hesti tidak di izinkan kerja oleh suaminya."
"Kenapa lu tahu banget?"
"Gue cari tahu lah, emang nya lu. Yang lu tahu cuman sekertaris sama gue doang."
"Menurut gue itu semua gak penting, yang penting mereka bisa kerja dengan baik. Jadi namanya siapa?"
"Deanita Putri."
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Maaf baru mampir hehe
Salam novel Fur Therese, yuk!