Menjadi anak seorang janda dengan ekonomi pas-pasan tak membuat Cika putus asa dan ia tetap semangat bersekolah,
Dan dengan pribadinya yang tak biasa itu, Cika pun jadi menarik perhatian seorang cowok murid baru yang tampan dan tajir.
Namun, kisah cinta mereka kemudian mengantarkan mereka pada satu pusaran masalah yang terhubung dengan masa lalu.
Apakah kira-kira?
Dan, bagaimana kemudian nasib hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Hari Yang Beruntung
"Aku pulaaang..."
Kata Romi dengan suara yang terdengar sangat bersemangat, sampai membuat Mama yang tengah memasak untuk makan petang di dapur dibantu si Mbok tampak terkejut,
Bahkan karena sebelumnya Mama belum pernah mendengar suara Romi sesemangat itu, sampai Mama mengira yang baru masuk rumah lewat pintu samping rumah bukanlah Romi,
"Siapa Mbok?"
Tanya Mama pada si Mbok yang melongok dari pintu dapur yang dari sana bisa melihat pintu samping rumah,
"Mas Romi, Nya,"
Jawab si Mbok,
"Hah, Romi?"
Mama malah jadi tambah terkejut, dan semakin terkejut lagi saat ia melihat Romi berjalan ke arah dapur sambil cengar-cengir tak jelas,
"Sakit gigi Mas?"
Tanya si Mbok pada Romi,
"Jiaaah... kok nyumpahi Romi sakit gigi sih Mbok?"
Romi mengerucutkan bibirnya,
Si Mbok tampak terkikik, lalu kembali masuk ke dapur untuk meneruskan tugasnya membantu majikannya menyiangi sayur untuk membuat capcay request Reno,
"Ini seragam, rambut, tas pada basah ini bagaimana ceritanya Rom,"
Mama menunjuk-nunjuk seragam Romi, rambut dan tas yang pada basah,
Romi nyengir sambil menyalami tangan Mamanya,
"Tidak apa Ma, namanya juga hujan, kan wajar kalau basah,"
Sahut Romi membuat Mama yang tangan kirinya sedang pegang centong jadi pura-pura mau memukul nya,
"Ini anak, maksudnya kalau hujan harusnya tadi minta dijemput Mas Reno, atau paling tidak pakai taksi online kan bisa,"
Ujar Mama,
"Tadi soalnya ada hal penting Ma, Romi harus naik angkutan umum,"
"Hal penting apa sampai harus rela basah begitu lari-lari dari jalan raya ke rumah,"
Mama menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Sudah sana mandi dulu, ganti baju, nanti malah masuk angin,"
Kata Mama pula akhirnya,
"Mas Reno di rumah kan Ma?"
Tanya Romi,
"Tadi lagi main gemes di kamar Mas,"
Kata si Mbok mewakili sang Nyonya menjawab,
"Gemes? Gemes sama siapa Mbok?"
Tanya Romi pada si Mbok,
Mama tampak berpura-pura akan memukulkan centongnya lagi pada Romi karena masih berusaha meledek si Mbok,
Romi pun tertawa kecil lalu berlari menuju kamarnya di lantai dua,
Namun, belum sampai Romi ke kamar, tampak Mas Reno yang baru keluar dari kamarnya sendiri sambil membawa gelas kosong,
Tampaknya ia akan menuju lantai satu untuk mengambil minum,
"Nah ini dia, baru pulang kamu?"
Tanya Mas Reno,
"Iya Mas, hujan,"
Kata Romi sambil memamerkan rambut dan sebagian atasan seragamnya yang basah,
Mas Reno menatap lucu ke arah Romi,
"Apa sih mas?"
Romi nyengir karena Kakaknya menatapnya dengan tatapan curiga,
"Kamu kalau lagi bahagia ketara sekali, kalau lagi sedih juga begitu,"
Ujar Mas Reno membuat Romi langsung salah tingkah,
Mas Reno mengulum senyuman, sambil kemudian menepuk bahu Romi,
"Kapan-kapan kenalkan dia pada Kakak,"
Kata Mas Reno pula sambil nyengir penuh arti sebelum akhirnya membawa langkahnya menjauh menuju anak tangga untuk turun ke lantai satu,
Romi sejenak menatap Mas Reno yang kini menuruni anak tangga,
Ah' apa benar ketara sekali?
Batin Romi sambil akhirnya berbalik untuk kemudian berjalan lagi menuju kamarnya,
Sambil berjalan menuju kamar, Romi tampak kembali cengar-cengir sendiri lagi karena teringat apa yang terjadi tadi,
"Ini nomornya kamu sendiri kan Cika?"
Tanya Romi saat tadi keduanya masih di halte sekolah, saat Cika usai menyebutkan nomor hp nya dan Romi mencatatnya di hpnya sendiri,
"Iya, itu nomor Cika sendiri, atau butuh nomor hp Ibu?"
Tanya Cika pada Romi, yang jelas saja Romi langsung cepat menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Tidak Cik, tidak usah, nomor kamu saja,"
Kata Romi,
"Ya, barangkali kan kalau langsung tanya ke Ibu soal pesanan kue lebih enak,"
Ujar Cika,
Romi tampak terbatuk,
"Uhuk uhuk... aduh... uhuk uhuk... bukan begitu Cik, uhuk uhuk..."
Romi saking bingungnya mau menjelaskan malah jadi batuk,
Cika cepat mengambil botol air kecil yang ia bawa di dalam tas miliknya yang ada di dalam kresek,
"Minumlah, kalau tidak keberatan tapi,"
Ujar Cika seraya mengulurkan tangannya memberikan botol minumnya pada Romi,
Romi terlihat ragu-ragu menerima botol air milik Cika,
"Tidak mau? ya sudah,"
Cika baru akan menarik tangannya lagi, saat Romi akhirnya malah cepat-cepat menyambar botol minum yang ada di tangan Cika,
"Bukan, bukan tidak mau, ngg... uhuk uhuk... aku cuma takut saja nanti pacarmu yang tadi pagi tahu lalu dia marah,"
Ujar Romi sambil bersiap membuka tutup botol,
Cika menatap Romi dengan kedua matanya yang bening dan bulu matanya yang lentik macam boneka Barbie,
"Siapa? Pacar?"
Tanya Cika bingung,
"Tadi pagi, cowok yang antar kamu, pacar kan?"
Kata Romi yang kemudian meneguk air dari botol minum milik Cika,
Cika sejenak terdiam, sebelum kemudian akhirnya gadis itu tertawa,
"Eh kenapa tertawa,"
Protes Romi,
"Mas Edy maksudnya kan? Yang tadi pagi mengantar?"
Tanya Cika lagi pada Romi yang mengangguk mengiyakan,
Cika tersenyum,
"Mas Edy tadi hanya mengantar karena menggantikan Ayahnya yang mengojek, berhubung Ayahnya sedang ada urusan ke pasar, jadi Mas Edy yang menggantikan,"
Terang Cika,
Romi yang mendengar langsung mantuk-mantuk dan langsung tersenyum lega,
Ah tentu saja, ia yang sejak pagi merasa terganggu dengan sosok Edy, kini begitu mendengar penjelasan Cika pun langsung merasa lega.
...****************...
gapapa lah yang penting Cika dan Romi udah bahagia,kalau aja semua hidup bisa sesimple itu yaa hihi
buruan bantuin s Cika
kasihan noh tas nya pda somplak pda awur awuran buku nya ge