Menikah bukan perkara sepele. Menikah itu perkara dua orang yang saling mencintai dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil.
Lalu? bagaimana dengan Nayara yang menikah dengan anak majikan nya yang sangat membencinya.
Setiap hari, Nayara harus menerima hinaan dan cacian dari sang suami.
Akan kah? Nayara mendapatkan cinta nya?
Akan kah Nayara akan bahagia??
yukkkk simakkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dua hari sudah Nara di rumah sakit, dia hari pula Andre berada di sisi nya.
Bagas meminta Andre untuk merawat istrinya, tidak boleh kemana mana selain hanya di ruang rawat Nara.
Andre membantu Nara makan, membatu minum dan membawa Nara ke toilet.
Di masa masa seperti ini, Andre jadi bisa melihat wajah Nara dengan leluasa.
Saat melihat waja Nara yang setengahnya di tutupi oleh luka bakar, membuat Andre merasakan hal lain.
Ada rasa yang sulit Andre artikan, tertanam di hati nya.
'Sebenarnya, apa yang terjadi antara aku dan Nara?'
Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Andre.
"Kak, aku mau ke toilet"
Andre tersentak, pria itu langsung berdiri dan membantu Nara turun dari ranjang.
"Udah, gak usah antar aku. Aku hanya kesulitan duduk saja" kata Nara melepaskan tangan Andre yang memegang bahunya.
"Kalau kau terjatuh, atau terjadi sesuatu pada mu. Aku yang kena marah!"
"Yah kan bukan aku!" balas Nara ketus.
"Dasar keras kepala! ya sudah, pergi aja sana!" Andre kembali duduk di tempat duduk nya samping ranjang Nara.
Baru aja ingin duduk, tiba-tiba Andre melihat Nara terhuyung.
Brusk...
Fyuu...
Andre bernafas lega, beruntung Nara berhasil ia tangkap. Kalau tidak, bisa bisa tangan nya terhempas dan akan membuat jahitan di pergelangan tangan Nara terbuka.
"Dasar durhaka! kau mendapat malapetaka nya kan!"
Nara hanya menunduk, menerima kemarahan Andre.
Andre menggendong Nara ke kamar mandi, tanpa sengaja milik nya bergesekan dengan bokong Nara.
"Njir, kenapa aku tiba-tiba naik..." batin Andre merasakan sengatan dari bawah sana saat milik nya bergesekan dengan tubuh Nara.
Ketika menurunkan Nara di toilet, wajah Nara berkerut.
"Kenapa wajah mu?" kata Andre.
"Kalau kau tetap menahan ku begini, bagaimana aku bisa buang air kecil?"
"Eh" Andre tersadar, tangan nya menahan tubuh Nara agar tetap menempel dengan nya.
"Sorry.."
Nara tidak ambil pusing, ia berjalan kearah closet dan langsung duduk di atas nya.
Tanpa rasa malu Nara menurunkan ****** ***** nya, lalu mengangkat sedikit jubah rumah sakit nya, sehingga memperlihatkan paha mulusnya pada Andre.
"Cih...Milik mu tegang, apa karena wanita murah mu itu tidak memuaskan mu?"
Wajah Andre memerah, ia merasa seperti tertangkap basah oleh seorang wanita.
"Ap-a mak-sud mu!" kata Andre gugup.
"Aku merasakan nya, dalam sekali gesekan saja kau sudah tegang, apalagi kau melihat ku telanjang" cibir Nara tersenyum miring.
Merasa di ledek, Andre membalikkan tubuhnya.
"Siapa yang nafsu dengan wanita jelek seperti mu? melihatnya saja aku jijik"
"Cih, mungkin mulut mu bisa berbohong. Tapi, adik kecil mu tidak akan bisa berbohong"
Nara menarik tangan Andre, sebenarnya ia berniat ingin minta tolong pada pria itu, agar membantunya berdiri.
Strett..
Andre berbalik karena terkejut oleh tarikan tangan Nara yang secara tiba tiba.
Sedangkan Nara malah terhuyung ke depan mengikuti tarikan tangan Andre yang jatuh ke lantai kamar mandi.
Entah karena mereka tidak fokus, atau lantai nya licin. Mimin gak tahu, tapi mereka benar benar jatuh dan saling berhimpitan.
"Aws.."Lenguh Nara merasa sakit di lututnya.
Sedangkan Andre malah terdiam, dengan bola mata membulat.
"Kau belum memakai ****** ***** mu?" tanya Andre dengan suara datar.
"Bagaimana kau tahu?" seketika mata Nara ikut membulat, merasakan ada gerakan kecil di bagian bawahnya.
"Singkirkan tangan busuk mu!!!!" peringat Nara.
"Apa ini?" bisik Andre. Ia masih belum sadar jika itu pusaka Nara. Pria itu malah penggerak gerakan jarinya.
Nara memejamkan matanya, sensasi yang ia terima sungguh luar biasa.
Sebisa mungkin Nara mengendalikan dirinya.
"Tangan ku sakit Andre! tolong bantu aku bangun!" titah Nara.
Deg.
Andre tersadar, cepat cepat pria itu menarik tangan nya.
"Ternyata mulus juga!" pikir Andre yang sadar apa yang ia pegang tadi.
Andre mendorong Nara pelan, agar dirinya bisa berdiri dan membantu Nara berdiri.
Saat akan berdiri, Nara menatap pusaka Andre yang mengembung di balik celana pria itu. Dengan senyum licik, Nara sengaja menyenggol kan kepalanya ke sana. Lalu berdiri di hadapan Andre dengan tubuh yang saling menghadap dan hampir menempel.
Karena adik kecil sudah mengembung, tentu saja dia bisa menggapai perut rata Nara.
"Jelek jelek begini, kau nafsu juga. Hahaha...." kata Nara tertawa meledek Andre, lalu cepat cepat melangkah keluar dari toilet sebelum pria itu mengamuk.
"Sialan kau Nara!" dengus Andre.
Nara kembali ke ranjang nya, ia kaget melihat mertua nya sudah ada di sana.
"Papa kapan datang?"
Bagas tersenyum, lalu memperlihatkan barang bawaan nya.
"Kata Nani, kamu kangen seblak yah?"
Mata Nara berbinar. "Kangen banget pa, apalagi Nani yang buatin"
"Yaudah ini, Nani titipkan buat kamu. "
Nara menerima kotak makan yang di bawa oleh Bagas.
"Makasih pa"
Andre keluar dari kamar mandi, ia melihat papa nya tengah mengobrol dengan Nara.
Beruntung andre berhasil menenangkan adik kecil nya. Kalau tidak bisa di tertawa kan oleh papanya, jika dia juga melihatnya.
"Kau mau?" tawar Bagas. Ia juga membawakan untuk putranya.
"Aku sudah kenyang" tolak Andre .
Kening Bagas mengerut, bagaimana mungkin putranya sudah kenyang tanpa memakan apapun sejak pagi.
"Makan apa kamu tadi? Samapi kenyang begitu!"
"Kak re selalu keluar ketika jam 8 pagi, katanya bertemu klien" jawab Nara di sela sela ia memakan seblak.
Mata Andre membulat, bukan karena Nara mengadu pada papa nya. Tapi, karena panggilan Nara terhadap dirinya.
Panggilan Nara persis sama seperti yang ada di mimpi nya.
"Apa dia orang? lalu? Reni?" pikir Andre.
"Jadi, kau selalu keluar? lalu menjaga istri mu siapa?" Bagas mulai marah, tapi tertahan ketika melihat Andre pergi begitu saja.
"Dasar anak yang tidak sopan!" gerutu Bagas.
"Udah lah pa, dia pergi di saat Cika atau Dika di sini. Aku tidak pernah di tinggalkan sendiri " jelas Nara membujuk mertuanya agar tidak marah.
...----------------...
Andre berjalan cepat, ia berhenti di taman rumah sakit. Terduduk dengan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Cepat cepat Andre mengeluarkan botol kapsul yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Setelah memakan obatnya, barulah rasa sakit itu perlahan menghilang.
"Arrrggg!!!! kenapa setiap kali aku ingin mengingatnya. Sakit itu muncul??? kenapa aku tidak boleh mengingatnya!!!!" marah Andre pada takdirnya.
"Hei, apa kau sedang menyalahkan takdir?" Andre menoleh,mencari siapa yang berbicara padanya.
"Aku di sini" ucap pria tua yang memakai jubah rumah sakit, menandakan dirinya adalah pasien di sini.
"Kau bicara dengan ku?"
"Yah, apa ada orang lain di sekitar sini, selain kita?"
Andre mendengus, ia hendak pergi. Hatinya yang sedang kacau, bertemu dengan orang seperti pria tua ini, hanya akan membuat emosinya kembali tersulut.
"Jangan menyalahkan takdir, terkadang takdir suka mempermainkan kita. Tapi di balik itu, takdir menyimpan sejuta keindahan. Jika saat ini kau merasa tidak adil, maka berkaca kah, lihat apa yang kau perbuat. Hati hati dengan setiap langkah yang kau ambil. Bisa saja mutiara yang harus nya kau dapat, malah di rubah menjadi bunga bangkai. Hahahaha...."
"Cih...Kau terlalu sakit, sebaiknya kau periksa lagi ke dokter!" balas Andre. Lalu benar benar pergi dari hadapan pria itu.
"Dasar, anak muda zaman sekarang "
...----------------...
Aku mampir.
Semangat berkarya ya💪🤗