“Ck..!! Kenapa aku bisa lupa!!!” rutuknya sambil melempar sembarangan botol air mineral yang dipegannya dan tanpa sengaja botol air mineral itu menganai kepala salah satu cowok yang sedang berkumpul di depan Elisan.
“Mati aku!” gumam Elisa saat pria yang terkena lemparan homerun nya tadi berjalan ke arah nya.
Dan dari muka pria itu sangat jelas kalau dia sangat marah.”Padahal tidak sengaja kan?” batin Elisa.
“Milik mu?” tanya Pria itu sambil mengarahkan botol yang Elisa lempar tadi ke arah Elisa.
“Sepertinya iya.” Aku Elisa mau tidak mau. Mau bohong juga percuma, jelas banyak saksi yang melihatnya.
Pria itu menatap Elisa dengan tatapan geram sambil membuka botol air mineral itu dan dengan tatapan tajam dan penuh kemarahannya dia menuangkan air itu di atas kepala Elisa. “ini baru sepadan.” Ucap nya tersenyum smirk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19 REVISI
“Maaf.....” seru Elisa memandang Alhen penuh rasa bersalah. Tapi Alhen sama sekali tidak membalas perkataan Elisa. Dia tanya terus mengelap wajah nya sambil menatap lurus ke Elisa.
“Bagaimana pun cara nya, aku akan pastikan wanita ini ma ti di tangan ku! Tidak akan aku izin ada malaikat maut lain yang mencabut nyawa nya. NYAWA NYA ADALAH MILIK KU.” Gumam Alhen dalam hati tanpa mengalihkan pandangannya.
Semakin Elisa melihat pada Alhen, semakin Elisa merasa pandangan Alhen sangat lah berbahaya.
Dirinya yang tadi diliput rasa bersalah, setelah melihat tatapan mata Alhen kini malah jadi bergidik ngeri.
”Apa dia mau memakan ku hidup-hidup?” seru Elisa dalam hati sambil sesekali melihat ke arah Alhen dan sesekali menunduk.
“El, kamu apa-apaan sih?? Muka nya Alhen jadi basah semua tu!” gerutu Miranda panik.
“Ayo cepat bantu Alhen bersihin wajah nya.” Miranda memberikan tisu ke tangan Elisa dan memerintahkan Elisa untuk membersihkan wajah Alhen.
Elisa memegang tisu yang Miranda berikan. Tapi jujurly dia tidak berani untuk mendekat ke Alhen. Bukan karena dia merasa bersalah pada Alhen tapi karena dia merasa Alhen seperti ingin memakannya.
“Ayoo nunggu apa lagi?!!” desak Miranda sambil menarik tangan Elisa supaya beranjak dari tempat duduk Elisa dan pergi ke tempat Alhen duduk.
Sambil di tarik-tarik oleh Miranda, Elisa melihat lagi ke arah Alhen. Dan ya tetap sama seperti sebelumnya, Alhen tetap memandangnya dengan tatapan setajam silet.
“Apa aku akan masih hidup jika berani menyentuh wajah nya? Jangan-jangan dia akan langsung membunuh ku saat tangan ku mendarat di wajah dingin nya itu.” Elisa pun jadi ragu untuk membersihkan wajah Alhen.
Pandangan mata Elisa dan Alhen pun tanpa sengaja bertemu.
Elisa langsung menundukkan pandang nya. Jangan sampai Alhen bisa membaca isi kepala nya dari mata nya.
Bukan kah orang-orang sering mengatakan kalau mata adalah jendela hati. Eh jendela hati ya, bukan jendela pikiran? Tapi jo wes lah! Anggap saja sama! Toh apa yang ada di hati dan pikiran Elisa saat ini. Sama-sama merasa kalau pria yang sedang menatap nya itu akan menelan nya hidup-hidup.
Alhen yang memandang Elisa lurus sambil terus mengelap wajah nya itu tanpa di sangka-sangka malah buka suara dan berkata, “Apa kamu akan diam saja dan tidak akan bertanggung jawab atas perbuatan mu Elisa Daniella Stuart?”
“Deg........” Jantung Elisa auto terasa cengkram oleh sesuatu.
“Bagaimana dia bisa tahu nama ku?” Elisa merasa ada yang janggal di sini.
”Apa dia memang sudah tahu soal kencan buta ini? sehingga dia mencari tahu semua tentang teman kencan buta nya?Atau jangan-jangan dia tahu nama ku karena hal lain??? Sebab kan aku sendiri tidak tahu siapa nama kencan buta ku kali ini. Tante Miranda hanya mengatakan kalau aku akan bertemu dengan anak teman lama nya.” Elisa terus bermonolog dengan pikirannya menduga-duga mengapa Alhen bisa tahu nama lengkap nya.
Entah mengapa dia merasa sangat was-was dengan Alhen.
“Heiii Elisa! Ayoo nunggu apa lagi! Alhen udah nungguin kamu tu untuk bersihin wajah nya tu!!.” Tante nya Elisa yang bernama Miranda tadi.
Elisa mengangkat wajah nya. Dengan sejuta perasaan ragu Elisa akhirnya terpaksa mendekat pada Alhen dan mulai membersihkan wajah Alhen.
“Apa kau tidak akan mengucapkan kata maaf lagi?.” Ucap Alhen sangat pelan sehingga hanya dapat di dengar oleh Elisa.