Aku harap ini adalah keputusan yang tepat untuk melupakan semua yang terjadi. Aku juga berharap Alexander bisa membahagiakanku. Aku ingin melupakan masa lalu dan si pria berwajah muram itu. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Namun, apakah semua akan berjalan sesuai kehendak hati?
Lanjutan Fall in Love with Lover
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arrived
Alexander menoleh ke arahku lalu memerhatikanku. Kurasa dia sedang mencoba mengerti keadaan ini. Aku pun tersenyum, melihatnya sejenak. Dan kulihat raut wajahnya seperti memendam sesuatu. Perlahan jari tangannya pun mulai meraih jari tanganku.
Dasar manja. Aku tersenyum melihatnya.
Alexander adalah pria normal. Tentunya jika berdekatan dengan wanita yang dicintai akan menimbulkan getaran pada tubuhnya. Hormon endorfin mulai bereaksi dan memicu hasrat yang selama ini disembunyikan. Tapi, aku juga harus tahu sedang berada di mana. Terlebih perjalanan kami masihlah panjang. Jadi sebisa mungkin menahan diri dari hasrat yang mulai berkobar di hati.
Pekerjaanku dulu cukup banyak memberi tahu tentang bagaimana pria yang sesungguhnya. Dan mungkin hal itu jugalah yang terjadi pada Alexander. Di mana hasrat mulai memenuhi pikiran sebagai respon alami tubuh saat seorang pejantan bertemu betinanya. Dan aku merasa tidak keberatan dengan hal itu semua, karena bisa dikatakan aku mulai membuka hati untuknya. Tidak mungkin seseorang mau disentuh jika tanpa cinta. Begitu juga dengan diriku ini.
Baiklah. Semoga jalanan tidak macet lagi.
Lantas kuteruskan perjalanan ini dengan fokus mengendarai mobilku. Tak lupa kuhidupkan lampu sen agar pengemudi di belakangku dapat berhati-hati. Saat ini hujan turun semakin lama semakin deras. Penglihatan pengendara pun jadi ikut terganggu. Semoga saja perjalanan kami bisa cepat sampai tanpa kendala yang berarti.
Setengah jam kemudian...
Rintik-rintik hujan mengantarkan kami ke sebuah rumah bercat putih yang ada di pedesaan. Pria berkemeja biru itu pun masih berdiri bersamaku di depan pintu. Kami menunggu seseorang membukakan pintu.
Alexander masih menunggu ibunya membukakan pintu. Dia berdiri di sisi kiriku sambil melihat ke sekeliling taman depan rumahnya.
Dingin ....
Untungnya kami tidak sampai kebasahan. Kanopi teras depan cukup lebar sehingga kami tidak terkena air hujan. Tapi sepertinya, walaupun tidak terkena air hujan, angin malam terasa mulai membuatku kedinginan. Alexander pun menyadarinya. Dia kembali mengetuk pintu agar cepat dibukakan.
"Ibu di mana, ya? Lama sekali membukakan pintu."
Lantas dia mencoba untuk menelepon ibunya karena belum juga dibukakan pintu. Sementara aku duduk di kursi teras sambil memandangi bunga-bunga di taman depan. Entah mengapa saat itu juga aku merasa tertarik untuk menanam bunga seperti ibunya. Kali-kali saja bisa dimanfaatkan untuk usaha masa depan.
Ibu Alexander adalah seorang florist. Dia menjual bunga hidup untuk acara pesta ataupun acara lainnya. Dan ini adalah kali ke duanya aku datang ke sini bersama putranya. Yang mana kedatangan pertamaku disambut hangat olehnya. Memperlakukanku seperti anak sendiri. Dan yang lebih mengejutkan, dia juga memintaku untuk segera menikah dengan putranya, tanpa ragu ataupun malu.
Alexander adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Baik kakak maupun adiknya adalah perempuan yang sudah lama menikah. Namun, kedua saudaranya belum bisa memberikan ibu cucu. Sehingga ibu memintaku untuk segera menikah dengan putranya. Kaget, sih. Tapi aku berusaha untuk memakluminya.
"Lilia? Alexander?"
Tiba-tiba pintu terbuka. Saat itu juga kulihat seorang wanita paruh baya seperti baru bangun tidur.
"Ibu, kenapa lama sekali?" Alexander terlihat pundung kepada ibunya.
Ibunya mengembuskan napas. "Hah ... ibu lelah. Jadi sesampainya di rumah, langsung tidur. Ini juga baru bangun. Memangnya menjagamu di rumah sakit itu tidak capek apa?" Ibunya memasang wajah sebal kepada putranya.
kapan update
ditunggu yaaqq