NovelToon NovelToon
Kata Mereka, Aku Pelakor

Kata Mereka, Aku Pelakor

Status: tamat
Genre:Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:295.7k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Asviana

Pelakor, adalah kata yang mereka sematkan padaku. Karena aku hadir, sebagai wanita kedua, bagi pernikahan Mas Ivan dan Mba Evelyn— sepasang manusia yang saling mencintai.

Aku, Qeiza Hikaru. Kata mereka, aku pelakor!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Qeiza

Evelyn belakangan ini tak pernah menghabiskan akhir pekannya di rumah. Wanita itu lebih sering bepergian ke luar kota bersama teman-temannya. Ivander tentu saja tak memersoalkan hal itu. Kesempatan itu justru dimanfaatkan oleh Ivander untuk menjalin kedekatan lebih dengan Qeiza dan keluarganya.

Terutama Qiana.

Karena Ivander yakin, jika Qiana menerimanya dengan baik, lambat laun, Qeiza pasti juga akan menerima dirinya. Menerima dijadikan sebagai istri kedua.

Maka dari itu, setiap akhir pekan, Ivander selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersama Qiana. Ivander kerap menjemput Qiana dan Qeiza untuk mengajak mereka bermain di taman hiburan bersama Ivona dan kedua anaknya.

Bertemu setiap hari, membuat gadis kecil itu bertambah lengket pada Ivander Bratajaya. Terlebih pria itu selalu memanjakan Qiana. Gadis kecil itu mendapatkan kembali kasih sayang seorang ayah yang mendadak hilang dari hidupnya.

Ivander juga semakin bertambah sayang pada Qiana. Pria itu sudah menganggap dan memperlakukan Qiana seperti anaknya sendiri. Qeiza pun bisa melihat hal itu. Kasih sayang Ivander begitu tulus pada anaknya.

Setiap pagi, saat mendengar suara mobil Ivander memasuki halaman rumahnya, Qiana seketika berlari dan berdiri di teras rumah demi menyambut pria itu. Dan Ivander akan langsung menggendong dan mengecup kedua pipi gadis kecil kesayangannya itu, sebelum berangkat bekerja.

“Qia mau dibawakan apa nanti sore?”

Itu adalah pertanyaan yang setiap pagi dilontarkan oleh Ivander kepada Qiana. Dan gadis kecil itu selalu menjawabnya dengan riang. Donat, susu strawberry, yogurt, cokelat, ada saja yang diminta oleh Qiana setiap harinya.

Tentu saja Ivander selalu membawakan apapun yang diinginkan oleh putri Qeiza itu, sepulang bekerja. Pria itu bahkan kerap makan malam bersama dengan Qeiza dan keluarganya.

Membeli makanan terlebih dahulu saat pulang bekerja bersama Qeiza, sebelum akhirnya pria itu menghabiskan waktu santap malam bersama Qeiza, Qiana dan Melati.

***

Tak ada lagi sapa, tak ada lagi kecupan hangat yang didaratkan Ivander saat pria itu berangkat bekerja. Toh, Evelyn juga tak akan mungkin menyadari hal itu. Karena saat Ivander berangkat bekerja, Evelyn baru saja terlelap.

Dari hari ke hari, hubungan sepasang suami istri itu semakin hambar. Sementara hubungannya dengan Qeiza, semakin hari semakin hangat. Walau janda beranak satu itu masih memanggilnya dengan sebutan 'bapak' tapi Qeiza tak lagi berusaha menjauhinya. Qeiza juga tak pernah lagi menghindar, saat dirinya menggenggam jemari wanita itu. Bahkan itu kerap dilakukan Ivander, saat mereka menghabiskan waktu bertiga setiap akhir pekan. Ivander menggendong Qiana di tangan kanannya, tangan kiri pria itu menggenggam erat jemari Qeiza. Potret itu pernah diam-diam diabadikan oleh Ivona.

Namun, mereka tak tau, yang diam-diam mengabadikan momen itu tak hanya Ivona. Ada orang lain yang juga memotret kehangatan Ivander bersama Qeiza dan Qiana.

***

Bertemu dengan Qeiza dan Qiana di pagi hari, membuat Ivander bersemangat sepanjang hari. Bagi pria itu, harinya baru dimulai ketika dirinya tiba di kediaman Qeiza. Menggendong dan mengecup hangat kedua pipi Qiana, serta menatap senyum manis Qeiza. Kedua wanita itu kini menjadi penyemangat hidup bagi Ivander Bratajaya.

Bahkan, semua kebutuhan keluarga Qeiza, Ivander yang mencukupi. Beras, gula, minyak, sabun, pembersih lantai, bahkan skincare Qeiza pun dibelikan oleh pria itu.

Hal ini membuat Melati, mulai merasa ada yang tak biasa dengan hubungan yang terjalin antara sang anak dan atasannya.

“Bukannya Pak Ivan sudah memiliki seorang istri?” tanya Melati suatu malam, saat Ivander baru saja meninggalkan kediaman mereka.

Qeiza bergeming.

Selama ini dia sengaja mengabaikan hal itu. Mengabaikan jika sang pria impian memiliki seorang istri. Terlebih saat melihat kedekatan yang terjalin antara Ivander dan Qiana—anaknya.

“Kamu tidurkan dulu Qiana, setelah itu, ibu mau berbicara.”

Melati meninggalkan Qeiza yang masih mematung, sebelum akhirnya Qiana mengajak sang ibu untuk pergi tidur. Qeiza pun mengikuti langkah kecil Qiana menuju kamar. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk gadis kecil itu terlelap. Harusnya Qeiza segera menemui sang ibu saat ini. Tapi, wanita itu takut. Bukan takut ibunya murka. Qeiza tau, jika ibunya pasti murka karena mengetahui bahwa dirinya begitu lengket dengan pria beristri.

Tapi ,yang ditakutkan Qeiza adalah dirinya kembali tersadar oleh sebuah fakta. Fakta yang selama ini coba dia kubur. Sebuah fakta jika Ivander— pria yang dicintainya— adalah pria yang memiliki istri.

Tiga puluh menit Melati menunggu sang anak di ruang tamu. Namun, Qeiza tak kunjung muncul dari balik pintu kamar. Wanita lanjut usia itu pun mendatangi kamar Qeiza dan Qiana.

“Qia sudah tidur kan?”

Melati yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, membuat Qeiza yang tengah melamun, sedikit terperanjat.

“Su - sudah, Bu,” jawab Qeiza gugup.

“Kamu mau kita berbicara di sini atau di ruang tamu?”

Qeiza menghela napas berat, “di ruang tamu saja, Bu.”

Kedua wanita yang memiliki hubungan darah itu pun melangkah beriringan menuju ruang tamu kediaman mereka.

“Jawab pertanyaan ibu, tadi.”

Qeiza tak langsung menjawabnya.

“Apa Pak Ivan masih memiliki istri?”

Dengan berat, Qeiza mengangguk pelan. Walau Melati sudah menduganya, tapi wanita lanjut usia itu tetap terperangah saat melihat anggukan kepala Qeiza.

“Apa mereka— Ivan dan istrinya — sedang dalam proses perceraian?”

Qeiza menggelengkan kepalanya.

“Ya ampun, Qeiza Hikaru ... Pernikahan Pak Ivan dan istrinya baik-baik saja, tapi Kamu masuk ke dalamnya? Kamu mau jadi perusak rumah tangga orang lain?!”

“Pak Ivan tidak bahagia dengan pernikahannya, Bu,” lirih Qeiza. Sebenarnya wanita itu tau, perbuatannya memang tak bisa dibenarkan. Menjalin hubungan tanpa status dengan pria yang masih berstatus suami orang.

Qeiza pikir sang ibu akan berteriak padanya. Memakinya karena menjadi perusak rumah tangga Ivander dan istrinya. Qeiza pikir sang ibu akan menamparnya karena sekarang dirinya tak lebih dari seorang pelakor. Qeiza sudah menyiapkan pembelaan demi pembelaan terhadap dirinya. Qeiza sudah merancangnya sejak tadi. Walau pembelaan yang akan dia lontarkan tak akan mungkin bisa dibenarkan.

Tapi, nyatanya tidak. Melati tak berteriak padanya. Sang ibu tak memakinya, apalagi menampar pipinya.

Melati menangis.

Wanita lanjut usia itu menangis sesenggukan.

Qeiza takut. Qeiza sedih melihat ibunya meratap.

Wanita itu berlutut. Qeiza menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang ibu.

“Maafkan Qei, Bu. Maafkan Qei,” lirihnya.

“Qei ingin Qiana memiliki seorang ayah. Qei ingin Qia merasakan kehangatan dan perlindungan dari seorang ayah.”

“Tapi tidak dengan merebut suami seseorang, Qei. Tidak dengan menjadi perusak rumah tangga wanita lain. Sepertinya ibu telah salah mendidikmu, Qei. Ini semua salah ibu.”

Kembali Melati terisak-isak. Qeiza pun kembali meminta maaf. Ibu dan anak itu menangis bersama.

“Tapi, istri Pak Ivan menyetujui jika Pak Ivan menikah lagi, Bu,” lirih Qeiza, saat mendengar sang ibu sudah berhenti terisak.

“Qei, lihat ibu.”

Qeiza menengadahkan kepalanya, menatap sang ibunda.

“Apa istri Pak Ivan sendiri yang mengatakannya kepadamu?”

Qeiza menggeleng pelan.

“Bisa saja Pak Ivan berbohong soal itu, Qei. Tidak ada wanita yang ingin berbagi suami. Tak akan ada wanita yang secara ikhlas melakukannya.”

Qeiza menghela napas berat. Ucapan sang ibu ada benarnya. Bisa saja pria romantis itu berbohong padanya.

“Jauhi Pak Ivan, Qei. Jangan perbolehkan dia ke sini lagi. Batasi hubungan kalian. Jaga sikapmu padanya. Bertindaklah sewajarnya seorang bawahan pada atasannya,” titah Melati.

“Ibu mohon, Qei.”

Terpaksa Qeiza menganggukkan kepalanya.

Dan pagi ini, saat Ivander menjemputnya, tak ada senyum di wajah Qeiza. Wanita itu malah berusaha menahan tangis saat melihat sang anak begitu bahagia di pelukan Ivander.

Qeiza memeluk Qiana erat. Lama wanita itu memeluk sang anak.

“Maafkan mama, Qi. Maaf karena mama yang membuatmu dekat dengan pria itu, dan sekarang kamu harus berpisah dengannya. Semua salah mama.”

Tak seperti biasanya, selama perjalanan menuju kantor, Qeiza hanya terdiam, dengan pandangan yang terus menatap lurus ke depan.

“Ada apa, Qei?”

“Tidak ada apa-apa, Pak,” jawab Qeiza. Wanita itu berusaha menahan perasaannya yang sedari tadi ingin menangis. Harus melepaskan pria yang belum dimilikinya, mengapa begitu sakit? Terlebih harus memisahkan pria itu dari anaknya.

Sakit.

Hanya itu yang dirasa oleh Qeiza, sekarang.

Ivander menepikan kendaraannya. Sedari tadi tak ada senyuman di wajah wanita yang dicintainya itu. Bahkan wanita itu berbicara dengan bibir bergetar.

“Hei, ada apa?”

Seketika Qeiza menelungkupkan wajah pada kedua telapak tangannya. Wanita itu menangis sesenggukan.

“Kamu kenapa, Qei?”

Ivander tak tega melihat Qeiza menangis tersedu-sedu. Pria itu membawa kepala Qeiza bersandar di pundaknya. Membiarkan wanita itu melepaskan semua rasa sedihnya.

“Tolong jangan ke rumah saya lagi, Pak. Jangan dekati anak saya lagi. Tolong menjauhlah dari hidup kami. Hubungan kita hanya sebatas pekerjaan.”

“Ada apa Qei? Apa aku ada berbuat salah?”

“Tidak ada yang salah, Pak. Saya yang salah karena menanggapi seorang pria beristri. Saya hanya tidak mau ibu saya bersedih karena anaknya dicap sebagai seorang pelakor.”

Ivander merasa hancur mendengar permintaan Qeiza untuk menjauhi wanita itu dan anaknya. Beberapa Minggu ini dirinya merasa tambah bersemangat karena kehadiran Qeiza dan Qiana. Dirinya sudah sangat menyayangi kedua perempuan itu. Jika tiba-tiba disuruh menjauh seperti ini, Ivander merasa tak sanggup.

Pagi itu, Ivander membatalkan semua jadwal kerjanya. Rasanya dia tak sanggup bekerja dengan baik karena harus merelakan Qeiza dan Qiana.

Ivander gegas menghubungi sang ayah, setelah pria itu tiba di ruang kerjanya. Menyeritakan perihal Qeiza yang memintanya menjauh. Ivander juga menghampiri ruang kerja Ivona— adiknya— dan menumpahkan segala keresahannya.

1
Dewa Nara
ada puluhan kali anda mengulang kalimat janda beranak satu, Thor
Dewa Nara
udah Thor jangan diulang terus janda beranak satu
Dewa Nara
jangan keseringan ngulang "janda beranak satu" Thor, gak nyaman bacanya kalau selalu diulang
Dewa Nara
ternyata ada laki2 sebodoh Ivan 😃😃
Dewa Nara
siapa ya
Dewa Nara
cari tau apa yg dilakukan istrimu di luar rumah, Ivan...
Dewa Nara
proses sidang itu cukup lama loh Thor, masak hukumannya langsung jatuh
Dewa Nara
berat resiko menjanda
Dewa Nara
udah tua masih ngambek 😃😃
Dewa Nara
disini saya setuju dg pelakor 😃
Dewa Nara
jangan gitu qei...nanti jatuh cinta...
Dewa Nara
ada ya istri kayak Evelyn
Dewa Nara
berapa pastinya umur ivander Thor, 36 apa 37?
Dewa Nara
kasian ivander, terlalu cinta jadi oon
Dewa Nara
ceritanya bagus tapi kok sedikit yg baca
Dewa Nara
bahasanya rapi Thor
Dewa Nara
baru mulai baca, mudah2an bagus ceritanya
asya yussi
Luar biasa
Soraya
mampir thor
Lila
Seperti di film Bollywood Khabi Khusi Khabi Gham😀
Mamak_A: Film Bollywood favorite 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!