Pagi itu semua warga gempar setelah di temukan mayat seorang wanita dengan luka di sekujur tubuh.
warga melapor kejadian ini ke pihak berwajib,tak berapa lama polisi datang dan segera mengevakuasi korban,pak Adit salah seorang polisi yang menangani kasus ini ikut terseret di dalamnya,karena arwah wanita yang terbunuh selalu datang menghantuinya.
mampukah pak Adit mengungkapkan siapa pelakunya dan apa motif di balik semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Piscok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"kalau mas sendiri apa gak takut ceweknya ngambek liat mas jalan sama aku"
"gak akan ada yang ngambek yu kecuali tumpukan berkas di meja kantor"ayu tertawa mendengar ucapan ku.
ternyata hari sudah sore kami sampai lupa waktu sangking asiknya ngobrol
"kita pulang yu,gak kerasa udah sore juga"aku mengajak ayu untuk pulang, kamipun menuju mobil,aku mengendarai mobil menyusuri jalan menuju rumah ayu yang gak jauh dari tempat tadi
"udah nyampe yu"aku keluar mobil dan membuka kan pintu mobil sebelum ayu keluar
"makasih mas"ku jawab dengan anggukan ucapan terimakasih dari ayu
"yu kalau misalkan ada yang ingin aku tanyakan tentang rencana kita tadi,apa aku boleh menelpon kamu"
" tentu saja mas bukankah kita sekarang partner"ayu tersenyum dan entah kenapa sekarang senyum ayu terlihat begitu manis
"oke kalau gitu aku pamit pulang dulu, assalamualaikum"
"waalkumsalam mas"ayu pun masuk kembali ke rumah sedangkan aku segera menuju mobil untuk pulang
"Bu..bibi"sesampainya di rumah aku mencari bibi untuk meminta tolong untuk membuat kan segelas jus
"ia mas bibi disini"
"Bu boleh minta tolong buatkan jus jeruk"
"baik den sebentar bibi buatkan"bibi melangkah ke dapur untuk membuat jus yang aku minta,aku sendiri duduk di ruang tamu dengan laptop yang sudah menyala
"ini mas jus jeruknya"segelas jus bibi letakkan di atas meja
"makasih ya Bu"aku segera meminum setengah dari jus tadi
"maaf mas kalau boleh bibi tanya ,kayak nya mas adit akhir akhir ini terlihat lelah sekali"aku pun tersenyum
"ia bi banyak pekerjaan dan kasus yang belum kelar"aku sudah biasa bercerita pada bibi karna aku sudah menganggap nya seperti orang tua maklum saja ibu dan bapak kan jauh di kampung,aku melihat bibi tampak gelisah seperti ada yang ingin di bicarakan
"sekarang kenapa malah bibi yang kelihatan gak tenang"
"hmmm begini mas.. sebenarnya perasaan bibi akhir akhir ini gak enak"
"apa bibi kangen anak di kampung"
"bukan mas tapi perasaan bibi gak enak karna kepikiran mas adit,bibi takut ada apa apa sama mas Adit"aku terharu mendengar apa yang dikatakan bibi,aku mendekat dan memeluk bibi seperti memeluk ibuku sendiri
"bibi gak perlu khawatir sama saya bi,saya bisa jaga diri dan yang penting selaku ada do,a dari bibi dan orang tua saya yang menjaga saya"
"ia mas bibi pasti selalu berdoa untuk keselamatan mas adit karena bibi udah anggap mas adit seperti anak bibi"
"makasih ya Bu, sekarang bibi jangan nangis lagi lebih baik bibi istirahat ini sudah malam"aku meminta bibi untuk istirahat karna tak ingin beliau jatuh sakit
"baik den bibi pamit kekamar dulu"bibi pun melangkah masuk sedang aku kembali fokus pada laptop,2 jam sudah aku sibuk berkutat dengan laptop hingga kantuk datang aku pun segera mematikan laptop lalu berjalan menuju kamar merabahkan tubuh ku dia atas kasur dan segera terbuai mimpi meski mimpi yang datang selalu sama
"Indira tolong katakan apa yang bisa baku bantu"sementara gadis yang aku ajak bicara hanya menatap ku dengan tajam
"Indira bicara lah atau setidaknya kamu bantu aku agar pembunuhan mu segera tertangkap",kali ini Indira berjalan membelakangi ku,entah mau ke mana dia ku ikuti saja langkah nya sampai aku tiba di rumah itu lagi
"ada apa sebenarnya dengan rumah ini Indira"belum selesai aku berbicara suara ketukan pintu sudah membangunkan ku