Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Siswa Berprestasi
Segera Aisyah berdiri, lalu berjalan ke atas panggung. Terlihat semua mata menatap Aisyah dengan penuh rasa bangga. Tidak sedikit teman-temannya merasa haru dan bangga atas pencapaian Aisyah.
Dibalik keluarganya yang hancur, Aisyah memiliki tekad untuk mengubah hidupnya dengan memberikan prestasi terbaiknya untuk sang ibu yang selalu mendukungnya dan sangat Aisyah sayangi itu.
Kepala sekolah itu pun ikut tersenyum, lalu memberikan cinderamata kepada Aisyah, lalu memberikan sebuah makropon ke tangan Aisyah untuk memberikan kata sambutannya.
Aisyah pun menerima makropon itu dengan hormat, lalu menghadap kepada teman-temannya yang berada di bawah panggung yang juga menatap dirinya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Terimakasih buat kepala sekolah dan guru-guru yang sudah mempercayai saya sebagai siswa terbaik di sekolah ini. Terimakasih juga buat teman-teman yang selalu mendukung Aisyah, semoga saya bisa mewujudkan mimpi saya. Aisyah juga mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Ibu yang selalu ada untuk Aisyah. Terimakasih Bu, tanpa Ibu, Aisyah bukanlah apa-apa." Ucap Aisyah dengan tulus.
Tidak di pungkiri, Aisyah sangat merasa bahagia saat ini. Apalagi ia bisa mewujudkan impian untuk membuat orang tuanya bangga kepadanya, walaupun dengan keterbatasan keluarga mereka yang tidak lengkap, namun hal itu tidak membuat semangat Aisyah berkurang. Karena kehancuran keluarganya itulah, yang menjadi pendorong bagi Aisyah untuk melakukan yang terbaik untuk keluarganya.
Kehancuran terletak di hatimu, tapi bukan pada hidupmu. Jika niat untuk berubah itu ada, maka dirimu akan menemukan hajatnya.
"Buat teman-teman, dimana pun kalian, jangan lupa untuk selalu mengingat kedua orang tua kalian. Jadikan mereka sebagai alasan bagimu untuk selalu melakukan yang terbaik untuk mereka. Apapun masalah hidupmu, tetap ingatlah, akan selalu ada Allah yang akan selalu menolong setiap masalahmu. Jangan lupa untuk selalu beribadah kepadanya, niscaya Allah akan selalu menolong hambanya yang sedang kesusahan"
"Baik, hanya itu yang saya sampaikan. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh"
Aisyah pun turun dari panggung setelah menyampaikan beberapa kata yang ia sematkan pada saat di atas panggung.
Kalian pernah mendengar? Bahwa usaha tidak akan pernah menghianati hasil, dan itu lah yang Aisyah rasakan. Hasil kerja kerasnya selama ini terbayar sudah dengan prestasi yang ia dapatkan saat ini.
Berjuang, dan selalu berjuang melakukan yang terbaik adalah prinsip yang harus selalu kita tanamkan. Agar kesuksesan itu akan dengan mudah kita raih. Untuk mencapai keberhasilan itu, keras kepada diri sendiri itulah yang Aisyah lakukan untuk melawan segala rasa.
_______________________________
My Deary.
Jangan bertanya kenapa aku keras kepala. Itu karena aku sendirian berjuang menyembuhkan lukaku sendiri. Aku berjuang untuk berdiri sendiri disaat tubuh dan hati ini tidak lagi bekerjasama. Aku berjuang melawan pikiran ku sendiri disaat pikiran buruk menghampiri.
Apa mereka tau, bagaimana aku berjuang menyembuhkan luka ini?
Bukan tak ingin perduli, namun hati ini sudah terbiasa oleh sebuah pengharapan yang berakhir dengan kekecewaan.
___________________________
****
Hari pun berlalu. Ini adalah saatnya Aisyah untuk pergi ke Kota.
"Aisyah pergi ya Bu!" pamit Aisyah. Tidak lupa ia mencium punggung tangan ibunya, lalu memeluk tubuh ibunya dengan erat.
Ibunya menangis, "Kamu harus baik-baik disana ya nak! Jangan lupa makan, dan jaga kesehatan" Ucap Ibu dengan membalas pelukan Aisyah dengan erat.
Aisyah mengangguk, melepaskan pelukannya, lalu membawa tas besar yang berisikan barang-barang miliknya keluar.
.
.
.
.
.
Bersambung
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏