Arabella Pramudita harus terjebak dengan seorang Duda Ganteng yang selama ini mengikuti dan mencintai nya.
"Menikahlah dengan ku sayank, aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
"Cihh....aku tidak sudi menikah dengan laki laki seperti kamu."
"Bagaimana kalau kamu hamil??"
Moreno Suryapradika sengaja menjebak seorang gadis kecil yang sudah mencuri hatinya, hanya dengan cara inilah Reno bisa menikahi gadis yang belakangan ini mengobrak abrik jiwa raganya.
Bagaimana Reno sang Duteng menaklukan hati Abel, gadis remaja yang masih sekolah itu??
Ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemanasan
"Wah...wah rupanya selera Pak Reno sebelas dua belas dengan Rangga dan juga Wahyu.", seloroh salah satu teman Abel lagi, yang ternyata dia adalah sahabat dari Rangga dan Wahyu.
Reno yang tadi nya tersenyum, tetapi setelah mendengar ucapan dari salah satu muridnya, ia langsung menyembunyikan senyuman nya dan memasang wajah yang tidak bersahabat, tentu nya dengan tatapan mata yang tajam, dan mengerikan.
"Siapa Rangga dan Wahyu??", tanya Reno dengan menyolot tajam.
"Mantan pacar dan calon pacar nya Abel, Pak." jawab pria yang merupakan sahabat kedua pria yang sudah disebutkan tadi.
'Bringgsikk....'
Tangan Reno mengepal, kedua rahangnya tiba tiba mengeras, panas panas dan panas, itu yang di rasakan oleh Reno saat ini.
Cemburu?? sudah jangan di tanya lagi, ini hanya segelintir dari pria yang ada di sekitar Abel, belum lagi di luaran sana.
Bagaimana dia akan kelihatan muda kalau cemburu setiap saat dan setiap waktu.
Sorot mata Reno kini berganti menatap tajam mata Abel, Abel yang sudah tidak enak, tidak berani lagi menatap Reno, bukannya apa apa, tetapi ia takut jika mendadak terpesona dengan pria di depannya itu.
"Mam*mposs lo Bel..pulang pulang jadi keripik lo.", bisik Resa yang sedari tadi tidak berhenti mengamati Reno yang melihat ke arah Abel.
"Diem!!! mulut petasan diem dulu, lo gak lihat tuh si Om masih lihatin ke sini??"
Resa mengangguk, ia kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, takut kalau menjadi sasaran Pak Guru baru nya.
'Tuh kan....kan???'
'Dasar Om om sudah tua!!, pemaksa, sok care, sok kenal, me sum lagi!!'
"Arabella!! jangan mengumpat saya!!"
"Eh...."
Abel yang namanya di sebut lalu mendongakkan wajah nya kemudian melihat ke arah depan, lebih tepatnya ke arah Reno.
Reno tersenyum nakaal, ia masih saja memainkan matanya ke arah Abel.
"Wah...wah...bapak rupanya juga terpesona dengan Abel?? awas loh Pak, patah hati."
"Tidak akan."
Glekkkk
Abel meneguk ludah nya sendiri, bagaimana tidak..... Reno secara tidak langsung mengatakan kepada semua orang yang ada di lapangan ini, kalau ia ada rasa dengan Abel.
"Cie...cie...Abel..yang mau di taksir Pak Reno juga."
"Asem!!"
"Kimprittt!!"
"Annn*jimmm"
"Bringgsikkk.."
Semua umpatan Abel keluarkan, yang malahan membuat teman teman nya tertawa dan semakin gemas untuk menggoda Abel.
"Wah...lanjut Bel, sebelum janur kuning melengkung, bisa di tikung., gue dukung Bel, kalau lo mau nikung, daripada lo yang selalu ketikung.", ucap si Romi lagi, beliau memang raja nya kompor, sama seperti Abel.
"Shialin!!!!"
Reno tertawa, ia seperti mendapatkan mood nya yang baru saja kembali, setelah sekian lama hatinya tidak ada yang menghuni , kini...ada sosok gadis cantik dengan sejuta tingkah dan pesona nya sudah membuat jiwa Reno seakan terobrak abrik dan jatuh cinta kepada gadis itu.
"Ehemmm....."
Setelah acara ramah tamah dengan beberapa pertanyaan, dan juga obrolan yang tidak manfaat, kini kembali ke pelajaran.
Tidaklah susah untuk Reno, mengajar olahraga, karena semua cabang olahraga sudah pernah ia lakukan, dan pastinya ilmu serta pengalaman yang di punya pun tidaklah main main.
"Oke, sekarang kita melakukan pemanasan dulu."
"Tolong, yang pria sebelah kanan dan perempuan sebelah kiri."
"Dan aturan ini wajib dilakukan setiap jam pelajaran saya, mau di lapangan atau di kelas.", sambung Reno lagi dengan mengamati murid muridnya yang sudah pindah posisi sesuai instruksi Reno.
Semua murid tidak masalah, karena bukan hanya Reno saja yang melakukan pengelompokan jenis kelamin, tetapi ada beberapa guru yang memang punya aturan seperti itu, jadi mereka tidak masalah, sudah biasa.
"Ckk aturan macam apa?? ini olahraga yang bisa bergerak bebas, bukan pelajaran agama??", gerutu Abel.
Reno yang tanpa sengaja mendengar lalu menyunggingkan senyum nya, kemudian menghampiri Abel, yang nyatanya belum berpindah, dan masih berada di dalam barisan pria.
"Sini sayank...kamu nakaal sekali.", bisik Reno di telinga Abel, kemudian membawa gadis pujaannya itu ke belakang barisan teman perempuan nya.
"Anteng sayank, jangan protes, atau mau Mas cium di sini.", ancam Reno yang sudah melihat kalau Abel ingin protes dan memaki nya.
Abel tidak merespon, ia hanya diam saja ketika Reno membawa nya ke belakang barisan, entah sihir apa yang bisa membuat nya menurut seperti ini.
'Wah dukun Om duda ini kental sekali...kapan kapan aku juga mau minta bantuan kalagondang dan Mak Lampir, siapa tau semua pasukan ilmu hitam nya bisa dikerahkan untuk menghempaskan duda yang nyebelin itu.', batin Abel di dalam hati sambil mulutnya komat kamit tetapi tidak bersuara.
"Jangan terlalu benci, nanti jadinya cinta sayank."
Reno kemudian ke depan, setelah ia berhasil membuat Abel cemberut dan mengumpat nya, dan itu membuat Reno semakin gemas.
"Semua sudah rapi ya? ketua kelas maju ke depan."
Romi ke depan sesuai dengan perintah Reno, "Mau apa Pak?? Nyanyi atau foto model??"
"Huuuuuuuuuu....", semua menyoraki Romi, pria itu memang tidak punya malu, dan pede abis, tetapi jangan di tanya lagi, otaknya juga cerdas.
"Kita pemasanan dulu tiga puluh menit."
"Rentangkan kedua tangan.... usahakan jangan sampai ada yang menempel."
Abel maupun teman teman nya mengikuti apa yang diperintahkan, cukup simpel hanya dengan merentangkan kedua tangannya.
Reno berkeliling, ia juga membawa sebuah tongkat sakti yang baru saja ia pinjem dari si kera, murid nya biksu tong, karena menurut informasi dari kepala sekolah, kelasnya Abel sangat sangat luar biasa, tidak bisa dikerasin, tetapi juga jangan terlalu di lembutin, tarik ulur... tetapi tetap waspada.
Pukkk
Reno memukul pria yang memakai gelang metal di tangannya, tidak keras tetapi cukup membuat siswanya itu kaget. "Lepas sekarang!!"
Joni yang kedapatan memakai gelang metal itu langsung melepaskan gelang kesayangan nya dan menyerahkan ke Reno.
"Tenang saja, nanti setelah ujian, bisa kamu ambil. Oke Boy??"
"Oke Pak...tapi jangan di jual loh??"
Reno tidak menanggapi, ia masih keliling untuk membenarkan posisi yang salah, dan juga menertibkan yang seharusnya tidak digunakan oleh siswa sekolah.
"Oke...sekarang kita lakukan pemanasan."
"Angkat kepala ke atas dengan menggunakan kedua tangan."
Reno mencontoh kan sekilas, kemudian melihat ke depan, apakah murid muridnya melakukan hal yang benar.
"Stop!!"
"Kemudian, dorong kepala ke bawah."
Satu menit
Tiga menit
Lima menit
"Stop!!"
Reno mengembangkan senyum nya, ternyata mengajar olahraga itu tidaklah sulit, apalagi ia tinggal nyuruh saja, dan kebetulan juga sang ketua kelas bisa cepat tanggap sehingga ia tidak perlu mencontoh kan nya lagi.
Ketiga
"Mendorong kepala ke kanan, dengan tangan kiri direntangkan, lurus dan jangan di tekuk."
Tanpa memberi contoh lagi, Romi langsung memperagakan.
"Ya bagus, seperti Romi. Dan jangan di lepaskan sebelum ada aba aba dari saya."
Teman teman Abel langsung mengikuti gerakan yang di contoh kan oleh Romi, kemudian Reno berkeliling untuk membenarkan jika ada yang salah atau kurang tepat.
"Tangan nya lurus...jangan belok!!"
"Di dorong ke kanan boy, bukan ke kiri, atau kamu jangan jangan tidak tau mana kanan dan mana kiri??"
Siswa yang di sebut boy itu langsung melihat ke arah teman teman dan nyengir saja. "Ngapunten Pak, Kulo ngertose namun kiwo kalian tengen." (Maaf Pak saya tau nya hanya kiri dan kanan saja.)
"Haishhh.... ikutin teman-teman kamu."
Reno mengembangkan senyuman lagi, setelah ia dibuat pusing dengan ucapan siswi nya yang ternyata baru pindahan dari Jawa Tengah.
Seperti mendapatkan angin segar.. Reno yang melihat Abel tidak melakukan sesuai dengan apa yang di instruksi kan, langsung menghampiri Abel, tentunya dengan beberapa ide yang menguntungkan untuk nya.
"Luruskan sayank....", bisik Reno.
Reno kemudian mengambil tangan kiri Abel,. kemudian meluruskan, bersama dengan tangan nya, dan tubuh nya menempel sempurna dengan tubuh Abel dari belakang. Sudah persis seperti adegan di kapal yang melegenda dulu nya.
Reno menghirup aroma dari tubuh Abel, apalagi dengan tengkuk Abel yang terlihat putih dan bersih karena gadis cantik itu menguncir rambut nya ke atas.
"Sayank...jangan tegang, rileks....ini hanya pemanasan olahraga, bukan pemanasan di ranjang sebelum kita melakukan begitu an.", bisik Reno lagi dengan menggigit kecil telinga Abel yang membuat gadisnya itu langsung merinding dan itu bisa Reno lihat dan rasakan.
'Shitttt....ikan ku!!! tidur dulu kan.. belum waktu nya.'
Ikan bobok yuks.
"Love u Abel,",
Cup
Reno dengan sengaja meninggalkan kecup@n di tengkuk Abel dengan lembut dan tanpa ada orang yang tau, karena Abel berada di barisan paling belakang sendiri, aman ..karena teman teman nya sedang konsentrasi melakukan pemanasan.
Cup
"Kamu begitu menggoda iman sayank."
Lalu segera meninggalkan Abel, karena sesuatu di bawah sana sudah meronta ronta untuk di lepaskan. Bahaya jika di teruskan...
gak masuk akal kalau gak tau gimana rasanya jatuh cinta.
yg bener aja Thor,😌
. trimakasih ka.. untuk novel reno sama abel