#DILARANG KERAS PLAGIAT CERITA INI#
Patricia Jessica Donovan selalu mengalami kejadian-kejadian mistis: tanpa sadar menghentikan hujan, mengutuk orang dan kutukannya benar terjadi, berkomunikasi dengan arwah, mengalami dejavu, meramal, bahkan bisa merasakan dengan tepat kapan seseorang akan "berangkat".
Sebastian Adrianus Verhoeven adalah sahabat baik Patricia dan hanya kepada Sebastian, Patricia bisa terbuka dan bercerita tentang semua kejadian termasuk kejadian di luar nalar.
Apakah Patricia akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya?
Apakah semua kejadian tersebut benar bakat alami atau berhubungan dengan kehidupan Patricia di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priskilawi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 : Restu Mertua Untuk Kami
Previous:
"Apakah Abraham benar-benar tidak punya pacar, papa dan mama mertua?" Tanyaku lancar, mulutku semakin lama semakin lancar saja bicara spontan.
"Tidak ada, karena papa mengajarkan Abraham untuk berpikir serius ke satu wanita dan ke jenjang pernikahan.
Mungkin kau terkejut karena ini tak lazim untuk pria Eropa, apalagi kami tinggal di Belanda sehingga **** bebas sudah biasa. Papa menurunkan tradisi keluarga bahwa menjadi pria yang bertanggung jawab adalah pria yang hanya memantapkan hatinya untuk satu wanita dan langsung menikahinya daripada berpacaran. Seluruh keluarga Morritz melakukannya, termasuk kami" aku sangat kagum dengan penjelasan papa mertuaku.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Patricia Jessica Donovan POV
Benar, pria Eropa terbiasa **** bebas. Memang selalu ada yang menjaga kesuciannya sampai menikah tapi sangat kecil jumlahnya.
"Apakah kamu bahagia sejauh ini dengan Abraham?" Tanya mama Griselda lembut.
Aku menatap wajah Abraham, manik hijau safirnya begitu dalam memandangku, penuh rasa cinta dan sayang.
"Aku, aku, sejauh ini aku bahagia dan nyaman dengan Abraham, mama. Aku belum terlalu mengenal Abraham sebanyak mama dan papa mertua. Namun aku berusaha supaya bisa lebih mengenal suamiku sendiri" jawabku agak terbata. Aku melihat Abraham tersenyum dan genggaman jemarinya semakin erat padaku.
"Son, kami akan tinggal di sini sementara waktu. Apakah kamu keberatan?" Tanya papa Thomas kepada Abraham.
"Silahkan, papa. Kalian tidak perlu sungkan datang dan menginap di sini" jawab Abraham dengan rasa hormat.
"Patricia ingin mengetahui apa lagi tentang Abraham atau keluarga kami? Supaya Patricia mengenal kami.
Sebelumnya, kami meminta maaf bila pernikahanmu terjadi begitu cepat dan kami tak sempat datang melamar kamu secara benar ke keluargamu karena keadaan." ucap mama Griselda dan malah mau berlutut di depanku.
"Ma, jangan. " Jeritku karena kaget dan menarik tangan mama, mencegahnya agar tidak berlutut di depanku. Abraham pun terlihat panik dan membantu ibunya supaya tidak berlutut di depanku.
"Tidak apa-apa Patricia. Kami dari dulu dibuang dan direndahkan karena kesalahan Opa buyut di masa lalu. Kami sendiri melihat bagaimana keluarga besar Verhoeven membuang kami bahkan keluarga Sebastian mendiskriminasi keluarga kami terutama ke Abraham.
Abraham bahkan tidak diberikan kesempatan untuk mendekatimu layaknya teman. Ketika dewasa pun Abraham ingin melamarmu namun ditolak karena kami dark witch.. " tangis mama Griselda pecah.
Papa Thomas memeluk istrinya. Aku merasa bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak.
Aku merasakan bahwa aku sudah berlaku tak adil dengan Abraham karena ikut terpengaruh ucapan Sebastian.
Abraham memelukku lama.
Kami cukup lama terdiam karena larut dengan perasaan kami masing-masing.
"Abraham, menantu. Kemarilah kalian, nak." Panggil papa Thomas.
Kami berjalan ke arah orang tua kami. Aku menahan nyeri di pangkal pahaku.
Abraham membantuku dan kami berdua berdiri di hadapan orang tua kami.
Abraham berlutut dan aku mengikutinya. Ku lihat Abraham menundukkan sedikit kepalanya dan aku mengikutinya.
"Abraham, kamu sudah dewasa. Sudah menikah dan memiliki seorang istri. Jagalah dia dengan segenap hati dan jiwamu. Janganlah berlaku kasar dan membentaknya. Selalu setia menemaninya dalam suka dan duka, kaya dan miskin sampai maut memisahkan kalian.
Ingatlah pesan yang pernah kami berikan kepadamu. Jagalah istrimu dan keluargamu karena dari istrimulah terlahir anak-anakmu. " Aku melihat Papa Thomas mendoakan Abraham sambil meletakkan tangannya di atas kepala Abraham.
"Baik pa, terimakasih atas doa restu dan berkat dari papa" jawab suamiku khidmat.
"Patricia, walau kamu belum terlalu mengenal Abraham, tetaplah di sisinya, mencintai dan menyayangi suamimu. Jangan berlaku tidak setia dan layanilah suamimu dengan tulus dan ikhlas. Temanilah suamimu dalam suka dan duka, sehat dan sakit, kaya dan miskin, sampai maut memisahkan kalian. Jadilah istri yang menopang suami. Dari rahimmu lah kelak lahir keturunan keturunan Morritz yang berikutnya." Papa Thomas meletakkan tangannya di kepalaku sambil memberkatiku.
Aku merasakan kepalaku dialiri listrik hingga ke semua tubuhku.
"Abraham, kamu anak lelaki kami satu-satunya. Kamu telah menemukan mate-mu dan kami menyetujuinya. Jalanmu tak mudah tapi bukan berarti tak mungkin diraih. Jagalah istrimu.
Semoga kebahagiaan, keberuntungan, kesetiaan, kecukupan materi, keluarga yang harmonis dan anak-anak yang banyak besertamu, istrimu dan semua keturunan Morritz." Aku melihat mama Griselda memberkati Abraham.
"Terimakasih mama untuk doa restu dan berkatmu" ucap Abraham, dari nada suaranya terdengar senang dan lega.
Sekarang giliranku, batinku. Mama mertua berpaling padaku
"Menantu, selamat datang di keluarga Morritz. Kamulah mate Abraham. Walau hatimu masih ragu dan ingin kabur dari Abraham. Kamu akan melihat, mendengar dan merasakan sendiri seperti apa Abraham dan keluarga kami.
Kamu akan mengandung anak-anak Abraham dan jadilah tim yang kompak dengan Abraham. Ketika kamu tergoda ingin meninggalkan Abraham, ingatlah, tanda coven Phoenix mu akan selalu memanggilmu kembali ke sisi Abraham dan keluarga Morritz." Mama Griselda meletakkan tangannya di kepalaku, memberikan doa restu dan memberkatiku.
Dejavu kembali aku rasakan. Bagaimana mama mertua tahu ada tanda lahir Phoenix kecil di tubuhku?
Tubuhku bergetar, dada kiriku terasa terbakar. Aku menjerit dan tak bisa mengingat dan melihat apa-apa.
Brugh!
"Patricia!" Aku sempat samar mendengar suara Abraham sebelum kehilangan kesadaran.
Author POV
"Mama, Patricia pingsan, aku bawa dia ke kamar dulu ya, ma" kata Abraham, mamanya mengangguk dan Abraham lalu menggendong istrinya ke kamarnya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu pingsan setelah diberkati mama.." ucap Abraham lirih sambil memegang tangan kanan istrinya setelah dia meletakkan istrinya di ranjang.
Terdengar ketukan di pintu "Masuk" ucap Abraham.
Lalu pintu terbuka, orang tua Abraham masuk ke dalam kamar Abraham dan menutup pintunya.
"Istrimu bagaimana?" Tanya Thomas pada Abraham.
"Patricia belum sadar, pa." Jawab Abraham murung. Tangannya masih menggenggam tangan kanan Patricia.
"Abraham, semalam mama mimpi, Sebastian melancarkan spell ke arahmu tapi spell nya berbalik dan mengenai dirinya sendiri. Kamu memasang pagar pelindung?" Tanya Griselda pada anaknya.
"Betul ma. Abraham memasang pagar di rumah ini dan pada diri kami supaya tidak dicelakai" jawab Abraham kepada mamanya.
"Mama walau dark witch, mama bisa melihat ke masa depan. Sebastian dan keluarga Verhoeven tak akan tinggal diam. Mama melihat kalau Patricia akan dibawa pergi oleh Sebastian.." suara Griselda terputus, dia menutup tangannya dan menangis.
Thomas memeluk istrinya. Abraham terlihat sedih dan tetap memegang tangan istrinya. Wajah istrinya pucat.
"Abraham, Patricia sebentar lagi mengandung anakmu. Kandungannya kuat namun saat itu Sebastian datang dan membawanya pergi. Apakah kamu siap berperang? Istrimu akan bingung harus memilih yang mana. Apakah kamu akan menyerahkan dia pada Sebastian?" Bibir Griselda bergetar. Thomas masih memeluk istrinya.
Abraham menunduk, genggamannya makin erat kepada Patricia.
"Abraham akan mempertahankan Patricia. Patricia istriku, mate-ku. Abraham akan berperang bila itu yang harus terjadi, ma." Suara Abraham parau, menahan air mata agar tidak jatuh.
Keheningan terjadi. Thomas masih memeluk istrinya yang menangis. Abraham memegang tangan istrinya yang masih belum sadar.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Mohon tinggalkan jejak dengan like, komen dan vote yaaa. Terimakasih ♥️♥️♥️
Sebagus itu guys