Kayla Wiranata dan Fatin Azahra adalah dua orang sahabat. Mereka bersahabat sejak belia ketika orang tua mereka bertugas sebagai diplomat di Prancis. Perpisahan mereka karena mengikuti tugas orang tua sebagai diplomat tidak lantas membuat persahabatan mereka putus.
Mereka masih menjadi sahabat dekat hingga keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. Ketika Kayla menyadari usianya tak panjang lagi, ia memohon Fatin untuk menikah dengan suaminya, Rayyan Rajendra.
Apakah Fatin bersedia menikahi suami sahabatnya sendiri?
***
Hallo! Ini novel pertamaku, Freya Alana, semoga suka yaaa….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Diam-diam Ngefans
Kayla dan Fatin dalam perjalanan ke rumah sakit. Rayyan akan menemui mereka di sana karena tadi Bella minta diantarkan ke rumah temannya.
“Fatin, besok kamu pulang, ya? Kita sering-sering video call ya.”
Fatin menatap wajah Kayla lalu menggandeng tangannya.
“”Siap, Paduka,” jawabnya sambil terkekeh.
Kayla tersenyum lalu memalingkan pandangan ke luar jendela taksi. Hujan membasahi seluruh wilayah kota Penang.
Mereka tiba di lobby rumah sakit. Rayyan sudah menunggu dan langsung membukakan pintu taksi untuk Kayla. Fatin menyusul mereka.
“Kay, aku tunggu di sini ya, nggak usah ikut masuk.” Fatin duduk di sofa ruang tunggu depan ruangan Dr Kim.
“Okay, doain ya hasilnya bagus,” sahut Kayla yang kemudian masuk ke ruangan bersama Rayyan.
Fatin menunggu sambil membuka iPad-nya, memeriksa pekerjaan dan desain baru yang akan dipakai di pemotretan untuk NiNoy.
“Good afternoon, Mrs Fatin,” sebuah suara berat menyapa. Fatin mendongak. Seorang dokter muda yang ikut merawat Kayla berdiri di depannya dengan senyum lebar.
“Oh good afternoon, I’m sorry I didn’t catch your name back then. It’s Dr Hakim, right?”
Senyum dokter itu semakin lebar, walau sempat mencelos hati karena menyangka wanita cantik di depannya tidak mengingat siapa dia.
“Ya, saya Hakim. Maaf Bahasa Melayu saya patah-patah.”
“Nggak apa-apa, in syaa Allah saya ngerti.”
“Ibu Kayla sudah masuk ya?”
Fatin mengangguk, “Barusan. Dokter mau ikutan masuk?”
“Tidak, tadi saya lihat Anda dari jauh dan ingin menyapa.”
Dr Hakim mengagumi sikap Fatin yang hanya memandang langsung tidak lebih dari 30 detik, selebihnya ia menundukkan arah matanya. Sungguh santun dibandingkan wanita lain yang sering melontarkan tatapan genit.
Sebenarnya ia ingin mengobrol lebih lama, mengenal wanita yang beberapa hari ini bayangannya menari-nari di kepala. Namun Dr Hakim sadar bahwa wanita di depannya ini masih berduka. Walaupun hanya sekilas, kilatan duka masih tersorot dari mata Fatin.
“Well, I must get going. Saya … saya harap bisa sering ketemu Anda ke depannya. Eh maksud saya, semoga ada kesempatan untuk ketemu Anda lagi. Bukan … bukan, anyway, it’s nice to see you,” ucap Dr Hakim tiba-tiba gugup.
Fatin tercenung sejenak kemudian mengangguk. “Okay,” jawabnya singkat.
Dr Hakim mengangguk lalu berlalu pergi. Di balik tembok ia memegang dada. Bulir-bulir keringat muncul di kening. Jarang sekali ia merasa gugup berhadapan dengan orang lain.
“Kenapa aku begini ya setiap ketemu dia?” Dr Hakim mengambil napas untuk memperlambat degup jantung yang sedikit meningkat.
“Dr Hakim, ah there you are … tadi ini jatuh dari saku Anda,” tiba-tiba Fatin sudah muncul di belakangnya sambil mengulurkan sebuah pena.
Degup jantung dokter muda itu kembali meningkat, dengan gugup ia menerima pena tersebut, sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia cepat-cepat berjalan.
Fatin mengangkat alis melihat punggung dokter yang menjauh. Dalam hati berkata, “Itu dokter gugupan banget, moga-moga dia pinter beneran deh ngerawat Kayla.”
Setelah itu ia kembali ke ruang tunggu meneruskan pekerjaannya.
***
Di dalam ruangan Dr Kim, Kayla dan Rayyan sedikit lega karena ada perubahan baik dari pengobatan yang sudah dijalani.
“Tiga kali lagi semoga sel kanker sepenuhnya hilang,” ucap Dr Kim sambil tersenyum. Sebagai dokter senior ia dikenal sangat perhatian kepada seluruh pasiennya. Kesembuhan pasien selalu menjadi tujuan sehingga perbaikan apapun akan membuatnya ikut bahagia beraama pasien.
“Saya lihat juga Mrs Kayla lebih ceria. Apa mungkin karena sahabat Anda sudah mengetahui keaadaan sebenarnya?”
“Mungkin karena saya lihat Fatin sekarang lebih baik. Masih sedih, tapi lebih baik,” balas Kayla.
“Well, keadaan psikologis seseorang memang sangat mempengaruhi dalam proses penyembuhan. Ini untuk sakit apa saja. Semakin orang itu depresi, semakin sulit proses penyembuhan. Jadi Mrs Kayla harus bisa jaga kondisi fisik dan psikis,” papar Dr Kim.
Rayyan menatap istrinya sambil berkata, “Nanti saya buat istri saya seneng terus, Dok.”
Mereka semua tertawa. Lalu Dr Kim meneruskan penjelasannya, “Mrs Kayla beruntung punya Mr Rayyan yang sangat perhatian. Jalan ke depan masih panjang, tapi dengan adanya dukungan orang-orang tercinta, semua bisa dilalui bersama.”
“Ah Dokter, ternyata romantis, ya?” Seloroh Kayla.
Rayyan menyahut, “She’s the love of my life, Doc. We will be rock solid in this journey, together, in syaa Allah.” Tangannya kini menggengam tangan Kayla yang menatapnya dengan penuh kasih sayang.
“Thank you, love,” sahutnya sambil menguatkan gengaman tangan Rayyan.
“Jadi, kita ketemu lagi tiga minggu dari sekarang untuk kemo ke empat?” Dr Kim menutup percakapan.
“In syaa Allah, kami pamit kalau begitu, thank you so much, Doc,” kata Rayyan mewakili istrinya.
***
Di lobby, Kayla dan Fatin sedang menunggu Rayyan yang mengambil mobil. Gedung parkirnya lumayan jauh dari gedung utama, sedangkan Rayyan takut Kayla kelelahan. Walaupun awalnya Kayla ingin ikut ke gedung parkir, akhirnya mengikuti kata suaminya.
“Mrs Kayla,”
Kayla dan Fatin menoleh ke asal suara. Dr Hakim dan seorang wanita muda yang sangat cantik muncul dari belakang.
“Hello, Doc. I just met Dr Kim,” balas Kayla sambil menangkupkan tangan di dada. Fatin mengangguk sekilas kepada Dr Hakim, pikirannya sedang ke proyek dengan NiNoy.
“I know, selamat ya resultnya bagus,” ucapnya sambil melirik Fatin, sementara yang dilirik sibuk membalas chat dari kantor.
“Yah mudah-mudahan bisa gini terus dan sembuh total. Aamiin.”
“Oh my god! You are Fatin Azahra, aren’t you?” Tiba-tiba wanita muda di samping Dr Hakim berkata.
Fatin terkejut, dia melirik Kayla sambil membatin, “Duh, Kay, kamu cerita apa aja sih?”
“Yes, I’m Fatin Azahra,” kata Fatin ramah sambil mengulurkan tangan.
“Oh my god, oh my god, oh my god! I’m such a big fan! Aku punya beberapa rancangan perhiasan dari brand kamu! I love them!”
Fatin tersipu namun hatinya melambung tinggi.
“You know, Ms Fatin, waktu itu saya ke Indonesia buat fashion show, lalu saya diminta untuk pakai perhiasan cantik-cantik yang Anda buat. Sejak saat itu kalau ada rejeki saya selalu beli perhiasan yang Anda desain,” cetus wanita itu berapi-api.
“Nggak usah formal, panggil aja saya Fatin. Kapan lagi ke Jakarta, kamu main ya ke butik. Saya juga rencana ingin buka counter di KL, moga-moga bisa akhir tahun ini.”
“Oh kita belum kenalan, saya Shawnia, adik bungsu Bang Hakim. Abang saya ini nggak pernah pulang ke KL, jadi saya kangen. Fatin, kita boleh foto nggak? Nanti mau saya masukin IG. Pasti temen-temen saya iri.”
Fatin mengambil tempat di samping Shawnia yang memberikan hapenya ke Dr Hakim. Kayla memperhatikan sikap dokter tampan yang lagi-lagi nampak gugup dan salting.
“Bang, ayo cepet, nanti Fatin keburu dijemput,” desak Shawnia yang melihat abangnya tidak bergerak cepat.
Kayla tersenyum karena ia melihat Dr Hakim malah terpesona memandang wajah sahabatnya dari balik layar kamera.
“Done, just check them. I took several,” ucapnya setelah menjalankan tugas mulia dari adiknya.
“All good! Thanks, Bang. Maafin abang saya ni dia kelamaan tinggal di London jadi Bahasa Melayunya parah.”
Fatin hanya tersenyum.
Mobil Rayyan tiba. Kayla dan Fatin mengucapkan salam lalu masuk. Kayla memperhatikan kaca spion.
“Tu … wa … ga … pat … ma … wow dia masih liatin, kamu officially punya fans, Fat!”
“Shawnia?”
“Dr Hakim! Itu dokter diem-diem naksir kamu. Shawnia malah dah sibuk sama hapenya posting foto sama kamu, kali. ”
Fatin tersenyum bukannya bahagia, pikirannya malah mengingat saat pertama ia jatuh cinta pada Ale. Mendadak rindu itu menusuk lagi.
Kayla masih berceloteh menceritakan pendapatnya tentang Dr Hakim. Rayyan melirik istrinya yang tiba-tiba bersemangat menjadi mak comblang untuk sahabatnya.
***
Di lobby rumah sakit, Dr Hakim masih memandang mobil yang dinaiki Fatin hingga hilang dari pandangan. Kekagumannya bertambah.
“Oh my god, she just lost her husband!” Cetus Shawnia.
Tanpa Fatin sadari, dia sudah menjadi public figure sehingga berita kematian Ale pun masuk dalam liputan situs fashion.
“Mendiang suaminya ganteng banget, Bang,” sambung Shawnia lagi.
Dr Hakim melihat foto Ale di situs. Laki-laki berseragam tentara yang meninggalkan cinta sangat dalam kepada Fatin.
“I know you like her, Bang. Dia masih berduka. Give her time. Sementara, Abang jadi pengagum rahasia aja. Eh nggak bisa juga ding orang keliatan banget kalo naksir ..,” cetus adiknya sambil tertawa meledek.
“Keliatan banget?”
“BANGET! Tapi aku nggak nyakin Fatin sadar sih. Tunggu aja, Bang, semoga kalian berjodoh.”
“Aamiin!” Sahut Dr Hakim tegas sambil menoleh ke arah perginya mobil yang membawa Fatin.
***
kopi Thor 👏🏼
pantas dia punya 2 kepribadian
Emre adalah korban 🙄
si Ray buang ke laut aje😂
egois juga suami istri ini👻😅
buat Fatin☕
imbas nya udah sampai ke ortu Fatin malah
gemes gue....
udah Fatin tinggalin saja 😂
bingung yg nga tau
setelah baca tak utuh😅