Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Getar Dawai Hatiku
Sekitar pukul delapan malam, Adi baru pamit pulang pada Bi Imah dan Cita.
Mungkin jika menuruti keinginan, aslinya Adi ingin menginap sekalian. Tapi jelas itu tidak mungkin, karena besok harus sekolah dan dia tak akan diijinkan Ibunya sampai menginap segala.
Meskipun sebetulnya, andai menginap di rumah Bi Imah tentu tak ada masalah karena di sana ada Bang Damar.
"Besok jadi kan berangkat?"
Adi memastikan lagi bertanya pada Cita saat keduanya di luar rumah dan Adi sudah naik ke atas motornya.
"Yah, aku besok akan berangkat, lalu pulang ke rumah."
Sahut Cita.
"Ngga enak ngerepotin Bi Imah terus."
Lanjut Cita lagi.
Adi tersenyum.
"Kalau nanti di rumah masih males, ke tempatku saja, Ibu ngga keberatan kamu tinggal di rumah."
Kata Adi.
Cita tersenyum sekilas saja sambil meninju pelan lengan Adi.
"Kamu mau lihat aku dicakar Desi?"
Seloroh Cita.
Adi menghela nafas begitu mendengar Cita menyebutkan nama Desi.
Ah bagaimana cara Adi menjelaskan pada Cita soal isu yang kini merebak di lingkungan sekolah yang dihembuskan Desi dan teman-temannya.
Adi menatap Cita.
Besok apa yang akan terjadi kira-kira? Adi pada akhirnya kembali cemas.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu? Aku merasa dikasihani jika kamu begitu."
Kata Cita.
Adi jadi mesem mendengar Cita.
Yah kasihan, iba, simpati, atau apalah yang lain yang Adi rasakan pada Cita saat ini.
"Aku pulang Ta, besok aku jemput deh."
Kata Adi.
Buru-buru Cita menggeleng.
"Ngga usah, aku masih punya uang buat naik taksi."
Kata Cita.
Adi tertawa.
"Yah, aku lupa kamu anak sultan."
Kata Adi.
"Hmm... Sultan apaan, bos Ayah baru sultan."
Kata Cita.
Adi tertawa.
Setelah itu Adi memakai helm nya, dan menyalakan mesin motor sport nya.
"Pulang Ta."
Kata Adi dari balik helm, Cita mengangguk.
Kali ini Adi akhirnya benar-benar pergi, tak seperti tadi yang bolak balik pamit pulang tapi prakteknya masih saja mengajak bicara Cita.
Dasar Adi masih kangen becanda dan ngobrol dengan Cita, rasanya jadi masih tidak ingin pulang.
Saat keluar dari gang, Adi sempat berpapasan dengan Bang Damar.
Keduanya saling menyapa dengan membunyikan klakson masing-masing.
**---------**
Cita baru akan ke kamar mandi ketika mendengar suara motor Bang Damar berhenti di samping rumah.
Tak lama kemudian Bang Damar mengetuk pintu, Cita yang posisinya lebih dekat dengan pintu tentu saja yang kemudian berjalan ke arah pintu untuk membukakannya.
"Ta, belum tidur?"
Tanya Damar begitu pintu dibuka dan mendapati Cita yang berdiri menyambutnya di dekat pintu.
"Belum Bang, baru mau ke kamar mandi."
Kata Cita.
Damar masuk ke dalam, lalu duduk di kursi ruang TV sambil melepas jaketnya.
"Tadi abang papasan sama Adi di depan, dia pulang dari sini?"
Tanya Damar.
Cita yang baru mengunci pintu mengiyakan.
"Ke sini dari siang, bawa oleh-olehnya seperti mengunjungi calon mertua saja."
Ujar Bi Imah yang baru keluar dari kamarnya, membuat Cita dan Damar terkekeh.
"Tapi dari kecil memang kalian serasi Ta, kalo Bang Damar sih ngga kaget kalian pacaran."
Kata Damar pada Cita yang buru-buru meralat.
"Ikh enggak gitu Bang, bukan gitu, kami enggak pacaran."
Kata Cita membuat Damar malah makin tertawa.
"Lho ngga apa pacaran, kenapa malah ngga mau."
"Ya bukan ngga mau sih."
Cita malah jadi bingung sendiri menjawabnya.
Ah yang benar saja, pacaran sama Adi yang sudah macam saudara buat Cita sejak masih kecil.
Cita menatap Bang Damar yang kini melepas kaosnya dan terlihat tubuhnya yang atletis.
Cita yang malu langsung memalingkan wajahnya dan permisi ke kamar mandi.
Dadanya entah kenapa jadi berdebar-debar melihat Bang Damar.
**-----------**
Hampir jam sembilan malam Ayah Cita masih di kantor.
Ia harus lembur menyiapkan beberapa berkas yang dibutuhkan Tuan Ardi Subrata untuk penyerahan sahamnya di perusahaan untuk dua cucunya.
Menjadi salah satu tim penasehat hukum Alpha Centauri membuat Ayah Cita belakangan memang cukup direpotkan dengan banyak sekali urusan pemindahan aset.
Untungnya, Adi baru saja memberikan kabar jika Cita besok akan pulang setelah masuk sekolah lebih dulu, itu jelas kabar yang sangat melegakan hati Ayah Cita.
"Pak, butuh kopi lagi?"
Tanya Emi, yang setia menemani atasan sekaligus calon suaminya lembur.
Perempuan cantik itu melongok dari pintu ruangan kantor Ayah Cita.
"Sudah cukup Em, aku takut insomnia lagi malam ini, sudah hampir tiga malam aku tak bisa tidur."
Kata Ayah Cita seraya melepas kacamatanya dan mengusap matanya yang mulai pegal.
Emi akhirnya masuk ke dalam ruangan.
"Sudah ada kabar soal Cita?"
Tanya Emi.
Ayah Cita mengangguk sambil tersenyum.
"Sudah, tadi temannya yang bernama Adi memberitahu Cita sudah bersedia pulang besok."
Emi tersenyum lega.
"Syukurlah."
Kata Emi.
Ayah Cita menghela nafas.
"Kapan kamu akan ke rumah?"
Tanya Ayah Cita.
Emi yang duduk di kursi depan meja Ayah Cita tampak diam sejenak, menimbang. Lalu...
"Akhir pekan saja yah."
Putus Emi akhirnya.
Ayah Cita mengangguk.
"Yah baiklah, aku akan kenalkan kamu ke Cita dan Manda."
Ujar Ayah Cita sambil meraih dua tangan Emi dan menggenggamnya dengan lembut.
"Manda bagaimana di rumah, katanya adik Mas pulang ke rumah Ibu."
Kata Emi.
"Aku suruh asisten rumah tangga kami menginap sementara waktu, sampai aku dapat pengasuh yang baru."
Ujar Ayah Cita lemah.
Ia jadi ingat lagi pertengkarannya dengan sang adik dan sore tadi juga dengan Ibunya yang merasa sikap Ayah Cita justeru tidak pantas pada adiknya.
"Dasar anakmu saja yang sudah diatur, tapi kamu nya selalu tidak sadar."
Begitu kata Ibunya Ayah Cita.
Ayah Cita menatap Emi.
Akankah terjadi lagi pada Emi, seperti yang terjadi pada Ibunya Cita? Yang karena ia nikahi karena pilihannya sendiri akhirnya jadi seperti dimusuhi keluarganya?
Batin Ayah Cita cemas.
"Mas serius akan menemui keluargaku?"
Tanya Emi tiba-tiba.
Ayah Cita mengangguk.
"Yah tentu saja."
Ujar Ayah Cita.
Emi tersenyum, membuat wajah itu semakin cantik.
Ah Ayah Cita sebagai laki-laki tentu jadi menginginkan yang tidak-tidak.
Melihat Emi begitu cantik malam ini, apalagi sekarang di kantor hanya mereka berdua, tentu saja melakukan hal itupun pasti tak ada yang tahu.
Gadis itu, yah gadis itu, yang baru lulusan setahun lalu dan baru masuk di kantor Ayah Cita enam bulan lalu itu nyatanya begitu menarik Ayah Cita.
Tapi...
Tidak!
Ayah Cita selalu ingat memiliki dua anak perempuan. Ia tak ingin jika ia sampai melakukan sesuatu yang jahat pada seorang gadis, pasti karmanya akan datang pada dua anak perempuannya, dan itu Ayah Cita tak mau.
Maka, Ayah Cita akan menjaga itu, menahan keinginannya pada Emi hingga jelas nanti mereka bersama dalam hubungan yang sudah diresmikan.
**---------**