Perjodohan, pernikahan yang tidak didasari cinta ini hanya mempunyai dua kemungkinan. Saling jatuh cinta dan ikatan pernikahan itu akan abadi, atau berpisah karena kecocokan itu tidak kunjung terlihat.
Wanita yang berdiri di atas tempat tidur dan menghadap figura besar di dinding, batinnya bergejolak. Diusapnya figura itu pertanda dia sudah memantapkan hati dan keputusannya.
"Divina...."
Suara itu membuat sang wanita berbalik dan mengulas senyum lembut, membuat laki-laki yang tadi memanggilnya itu merasa resah.
>>> Hihi.... Cerita baru, padahal yang lama masih belum juga dilanjut👉🏻👈🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainuru Fitori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peran Suami
Pagi ini Revan terlihat begitu bersemangat. Dia bahkan sudah memasak sarapan serta membuatkan susu untuk Divina. Istrinya itu masih lelap dalam tidurnya, jadi dia membawa sarapan mereka ke kamar.
"Div, bangun." Revan menyibak selimut dan menoel-noel pipi Divina agar istrinya itu bangun. Bisa dia rasakan tubuh Divina terasa panas.
Divina menggeliat pelan, matanya mulai terbuka. Hendak duduk, namun tubuhnya terasa lemah. Revan yang melihat itu segera membantu istrinya itu berbaring dengan baik kembali.
"Tunggu di sini sebentar," ucap Revan sebelum berjalan cepat menuju sofa kamar dna mengambil hpnya. Dia menghubungi dokter untuk segera datang karena menyadari istrinya sedang sakit.
"Ada yang sakit?" Revan duduk di pinggir tempat tidur dan mengusap puncak kepala istrinya.
"Kepala Divin sakit," jawab Divina sambil memejamkan matanya.
Tak lama kemudian, dokter yang tadi Revan hubungi datang. Dia segera memeriksa keadaan Divina dengan teliti.
"Nona kurang istirahat, oleh karena itu tubuhnya menjadi lemas. Harus dipasangi infus agar tenaganya kembali, namun saya harus menjemput semua keperluannya di rumah sakit terlebih dahulu." Dokter itu menjelaskan.
"Tidak perlu. Pergilah ke bawah dan minta pelayan untuk mengambilkan cairan infus dan keperluan lainnya di dalam ruang khusus obat!" titah Revan pada dokter wanita itu. Dia sudah menyiapkan segala sesuatu yang mungkin diperlukan istrinya jika terjadi sesuatu, seperti saat ini.
Dokter tersebut mengangguk dan keluar dari kamar. Dia sedikit tercengang kala pelayan membawanya ke dalam ruangan luas yang berisi segala obat-obatan dan alat medis lengkap.
Setelah mendapatkan apa yang dia perlukan, Dokter itu kembali ke kamar utama. Dia mendekat ke ranjang, ingin membersihkan punggung tangan bumil yang berbaring itu dengan alkohol.
"Mas, Divin nggak mau diinfus! Sakitt....." bumil itu merengek sambil menarik-narik tangan Revan. Dia tidak mau lagi dipasangi jarum kecil itu di punggung tangannya.
Revan tertegun sejenak mendengar rengekan Divina. Kemudian dia tersenyum tipis dan mengusap tangan istrinya itu.
"Cuma sebentar, sini Mas peluk." Revan mencondongkan tubuhnya hingga Divina bisa memeluknya walau dalam posisi berbaring. Diciuminya jidat istrinya itu bertubi-tubi agar ketakutannya hilang.
Revan kemudian memberi kode pada dokter itu untuk segera memasangkan infus. Hingga Revan bisa merasakan tubuh Divina tersentak ketika jarum itu sudah menusuk punggung tangannya. Terdengar desisan lirih dari bibir yang bergetar itu.
Revan melepas pelukannya dan mengelus wajah berkeringat Divina. Mata istrinya itu terbuka dan langsung meloloskan setetes cairan bening dari sana. Diusapnya air mata itu dengan ibu jarinya.
"Saya permisi, Tuan Muda." Dokter itu pamit undur diri setelah menyelesaikan tugasnya.
Revan mengambil sarapan yang tadi dia letakkan di meja sofa, lalu kembali duduk di samping istrinya yang masih meringis karena sakit di punggung tangannya. Dibantunya bumil itu duduk bersandar.
"Ayo, sarapan." Sambil menyodorkan sesendok nasi dengan sop kentang di depan bibir Divina.
"Divin bisa sendiri." Berniat mengambil mangkuk dan sendok dari suaminya.
"Kita udah sepakat untuk bersikap seperti suami-istri pada umumnya, Div!" ucap Revan mengingatkan Divina tentang kesepakatan mereka semalam. "Buka mulutmu!"
Divina menurut, dia membuka mulutnya dan suapan itu masuk mengisi rongga mulutnya. Awalnya Divina sedikit malas menerima suapan itu, namun karena makanannya sangat enak, dia makan dengan semangat.
Revan tersenyum senang melihat Divina sangat menikmati masakannya. Hatinya menghangat ketika bisa membuat Divina bahagia, walau rentang waktu untuk mereka bersama hanya sebentar. Namun dia akan memanfaatkan satu bulan ini dengan baik.
"Divin mau keluar," ujar Divina setelah menghabiskan sarapannya.
"Kau harus istirahat," balas Revan singkat.
Mendengar hal itu, Divina merengut masam. Dia bosan jika harus seharian berbaring di kamar saja. Ditambah melihat tangannya yang dipasangi infus itu, semakin membuat mood Divina memburuk.
"Ayo ke taman!" Revan mengangkat kedua tangannya ke depan sebagai tanda dia ingin membantu Divina berdiri.
"Tadi nolak," cibir Divina sambil meraih tangan Revan.
Revan hanya tersenyum lebar, dia mulai menuntun istrinya itu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka terlebih dahulu. Dia juga sudah mengirim pesan pada pelayan untuk mengantarkan kursi roda ke kamar.
Setelah selesai, Revan membantu Divina untuk duduk di kursi roda yang diantar oleh pelayan. Mulai mendorong kursi roda keluar kamar dan memasuki lift untuk turun ke lantai bawah. Sedangkan Divina memegangi tiang infusnya yang harus dia bawa karena keadaannya sekarang.
Setibanya di taman, Revan duduk di kursi yang ada di sana. Dia bisa melihat senyum istrinya ketika menghirup segarnya udara pagi.
"Divin kangen mama," ucap Divina tiba-tiba yang membuat senyum tipis Revan lenyap.
"Hanya satu bulan, setelah itu kamu bisa bebas." Tanpa memandang istrinya, Revan mengucapkan kalimat itu dengan lembut.
Revan menertawakan dirinya di dalam hati. Hanya ini kesempatan yang dia punya untuk merasakan menjadi suami dan calon ayah seutuhnya. Selepas satu bulan itu, mereka mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Revan yakin itu. Devandra pasti tidak membiarkan mereka bertemu lagi selamanya.
Bagi Divina sendiri, dia tetap memperkuat benteng hatinya. Dia menyetujui permintaan Revan semalam karena dia menganggap ini adalah saat-saat terakhir yang mereka miliki. Di masa depan, dia tidak ingin lagi ada pertemuan di antara mereka.
"Mas, nanti sore infusnya dicopot aja, ya. Divin udah nggak apa-apa, kok!" Divina memakai gaya bahasa akrab seperti dulu, saat dia masih memilih bertahan sebagai istri Revan Adiputra.
Mendengar itu, Revan langsung menoleh menatap Divina. Selama seminggu itu istrinya selalu bicara ketus, jadi dia agak terkejut mendengar nada akrab itu.
"Satu bulan, 'kan? Mari kita menjadi calon orang tua yang baik selama satu bulan itu. Seperti yang Mas minta, kita akan bersikap seperti suami-istri pada umumnya. Ayo kita mulai dengan baik," jelas Divina panjang lebar ketika melihat wajah bingung sekaligus terkejut suaminya tadi. Senyum manis terulas dari bibir cantiknya.
Revan mengangguk semangat. "Terima kasih, Sayang."
Hati Divina begitu senang mendengar panggilan 'Sayang' itu, disusul pelukan hangat dari Revan. Revan mengatakan akan membayar sedikit luka yang dia rasakan selama dua tahun itu dengan satu bulan ini, jadi Divina dengan senang hati menerimanya. Dia tidak ingin ada dendam atau masalah apa pun nanti setelah mereka berpisah.
"Infusnya jangan lupa," cicit Divina yang masih dalam pelukan Revan.
Mendengar itu, Revan tertawa. Tawa yang dulu begitu Divina ingin lihat.
"Iya, nanti kita lepas infusnya." Disusul ciuman penuh sayang di jidat Divina.
.
.
.
.
.
Bersambung......
utk divina kl ada sesuatu yg ganjal di hati/sebuah pertanyaan utk sang suami hrus diutarakan/ditanyakan langsung,krn sebuah hubungan hrus sling terbuka gak bisa klo cuma diem di batin aja, krn zaman skg sdah jrang org puya ilmu kebatinan,iya gak sodara2..??!!
good job thor, ttp smangat n Fighting ✊✊✊