Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Farika diculik!
Kaila mengambil langkah cepat masuk ke dalam rumahnya setelah berhasil turun dari taksi. Namun langkahnya terhenti saat melihat kondisi tokonya masih tertutup rapat.
"Kemana Widia? Apa hari ini dia tidak masuk bekerja?" Gumam Kaila lalu kembali melangkah menuju pintu utama rumahnya.
Tangan Kaila meraih knop pintu, mendorongnya dan berhasil masuk. Pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah empat manusia tua serentak memandanginya dengan tatapan yang tidak bisa Kaila artikan. Sedih, takut, dan cemas. Berbaur menjadi satu di wajah berkeriput mereka.
"Kaila!!"
Bu Desi beranjak dari duduknya. Dengan langkah yang tergopoh-gopoh ke arahnya dan langsung memeluk Kaila. Seketika wanita tua itu menumpahkan air matanya.
"Tidak apa-apa bude. Lila baik-baik saja." Kaila mengelus punggung budenya dengan lembut.
"Kami bersyukur kau baik-baik saja Nak." Pak Mukhlis ikut beranjak mendekati Kaila, lalu menggiring Kaila dan istrinya menuju sofa, di ruang tamu minimalis itu.
"Siapa yang menculikmu nak?" Bu Nini mengambil duduk di sisi kiri Kaila, sementara di sisi kanannya Bu Desi masih menangis.
"Apa mereka orang jahat? Kenapa mereka menculikmu? Apa mereka melukaimu?" Bu Desi menegakkan duduknya, menatap keponakannya dan memberinya pertanyaan beruntun.
"Tidak bude, aku baik-baik saja. Mereka tidak melukaiku."
"Syukurlah." Pak Johan menghela napas lega, "lalu dimana si kembar dan Niko?" Tanyanya lagi.
"Apa mereka yang menyelamatkanmu?" Pak Mukhlis kini.
Kaila menggeleng, "Hanya Fau dan Fer yang menyelamatkanku, sementara Niko... aku tidak pernah melihatnya."
"Apa!!!" Ucap mereka bersamaan dengan raut wajah yang cemas.
"Padahal semalam mereka pergi bersama untuk mencarimu."
"Tidak pakde. Hanya Fau dan Fer yang nekat menolongku dan karena kenekatan mereka itulah...," Kaila menggantungkan kalimatnya. "Ferdinan terluka dan sekarang dia dirawat di rumah sakit."
"Apa!" Bu Desi terbelalak.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Bu Nini kini.
"Kondisinya baik-baik saja sekarang. Ada Faustine yang menjaganya di rumah sakit."
Semuanya kembali bernapas lega.
"Oh yah Bude. Dimana Farika?" tanyanya pada Budenya. "Aku belum melihatnya." Kaila mengedarkan pandangannya di ruangan itu.
"Dia sedang keluar bersama Widia."
Kaila berkerut heran, "keluar?"
"Iya nak. Farika sangat khawatir sama kamu. Sejak semalam dia tidak tidur, dia terus saja menangis sampai pagi. Saat Widia datang, dia membujuk Farika dan mengajaknya untuk pergi makan ice cream."
"Tapi ini sudah hampir siang Bude. Kenapa mereka belum kembali juga."
"Iya juga yah." Pak Mukhlis mulai menyadarinya.
"Biar Pakde yang menghubungi dia, memintanya untuk segera kembali membawa Farika." Pak Johan pun mulai memisahkan diri untuk menelepon.
"Kamu tenang nak. Pasti mereka masih sibuk jalan-jalan." Bu Nini mengelus lembut punggung tangan Kaila.
Kaila mengangguk, meskipun hatinya sedikit cemas. Dia masih trauma dengan penculikan dirinya.
"Oh yah?" Tubuh Kaila terkesiap lalu mengedarkan pandangannya pada pakde dan budenya.
"Semalam kalian kemana? Niko memberi kabar, jika kalian diculik." Kaila memicingkan matanya.
"Maaf nak. Ini adalah ide anak-anakmu. Semalam mereka menyiapkan kejutan ulang tahun untukmu."
Wanita itu menghela napas jengah. Ternyata apa yang dikatakan Noah memang benar, dia tidak menculik anak-anaknya. Tiba-tiba saja dia merasa bersalah karena sudah berburuk sangka pada pria itu. Tapi sudahlah. Dia pria brengsek yang pantas untuk dicurigai.
"Baiklah." Kaila bangkit dari duduknya, "aku mau mandi dulu, setelah itu kembali lagi ke rumah sakit."
Kaila berjalan menuju kamarnya.
"Bude!"
Wanita itu menoleh lagi ke arah ruang tamu.
"Iya nak."
"Lila minta tolong dong."
"Apa itu?"
"Masakin makanan kesukaan Fau. Pasti dia sedang lapar sekarang. Dia belum makan sejak tadi."
"Baiklah."
"Terima kasih Bude." Kaila tersenyum tipis lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Sementara di tempat lain. Di dalam sebuah kamar yang sempit dengan pencahayaan yang kurang karena satu jendela yang merupakan celah cahaya pun tertutupi kain gorden.
Terlihat seorang anak perempuan tertidur nyenyak di atas kasur kecil itu, tubuhnya tertutupi selimut tipis. Dan juga seorang wanita dewasa yang terlihat sedang mengeluarkan seluruh pakaiannya dari dalam lemari dan memasukkannya ke dalam sebuah koper.
Drrttt! drrttt!
Wanita itu beranjak dari lemari saat mendengar ponselnya bergetar di atas meja kecil samping tempat tidur. Dia mengambil duduk di tepi kasur kecil itu, meraih ponselnya dan hanya menatap tanpa menjawab. Setelah beberapa menit panggilan pun terhenti.
Di layar benda tersebut terlihat lima panggilan tak terjawab dari Pak Johan.
Wanita yang ternyata adalah Widia itu menoleh menatap wajah damai Farika yang terlelap.
"Aku harus menyerahkan mu hari ini juga sayang." Widia menyeringai jahat.
"Kau tahu. Mereka sudah sejak lama menginginkan kalian bertiga. Tapi hari ini aku hanya mampu membawamu saja. Bukannya aku tidak sanggup untuk membawa kedua bocah laki-laki itu, hanya saja aku sudah muak mengawasi kalian selama ini. Jadi bersiaplah sayang." Widia mengusap dengan lembut wajah Farika sebentar lalu kembali bangkit untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah menutup rapat kopernya itu. Dia pun mengambil tubuh Farika yang sedang tertidur pulas. Menggendongnya keluar dari kamar kos kecil itu sambil menarik kopernya. Di depan bangunan itu sudah terparkir taksi yang siap mengantarnya menuju pelarian membawa Farika.
Supir taksi yang sejak tadi menunggu langsung mengambil alih koper Widia untuk di masukkan ke dalam bagasi. Sementara Widia memasukkan tubuh Farika di jok belakang terlebih dulu setelah itu baru dirinya. Taksi pun melaju dengan cepat meninggalkan area kos-kosan itu.
Saat dalam perjalanan menuju bandara, tiba-tiba saja mobilnya dicegat oleh dua mobil hitam. Mobil yang membawa Widia pun terhenti.
Wanita itu tersentak saat melihat beberapa pria bertubuh besar keluar dari mobil tersebut. Tubuhnya bergetar takut saat kini seorang pria membuka pintu mobil dan menyeretnya dengan kasar keluar dari dalam. Tubuh Widia terhempas cukup kuat, hingga kulitnya bergesekan dengan aspal.
"Siapa kalian!" Widia berteriak keras kepada sambil berusaha berdiri.
Saat dia sedang mencegat pria itu membawa Farika. Tubuhnya kembali terdorong.
"Pak, tolong anak saya di culik." Teriaknya dengan nada yang menghiba pada supir taksi itu.
"Maaf bu. Saya tidak bisa melakukan apa-apa mereka terlalu banyak dan terlalu kuat. Saya belum ingin mati." Jelas supir taksi itu yang kini sudah berdiri di sisi taksinya.
"Sial!" Widia mengumpat frustrasi.
Wanita itu lalu merogoh ponselnya dari dalam sakunya. Mencoba menghubungi seseorang.
"Ada apa?" suara pria di seberang telefon terdengar dingin.
"Bantu saya Tuan. Farika di ambil alih oleh sekelompok orang." Tangan Widia bergetar memegang ponselnya.
"Apa!" Pria itu terdengar berteriak murka, "dasar ceroboh, siapa yang membawanya?"
"Saya tidak tahu Tuan. Mereka terlihat asing. saya belum pernah melihatnya."
"Sial!" Terdengar suara benda yang terbanting keras.
"Lalu saya harus bagaimana Tuan?" Widia semakin takut.
"Jangan bertanya kepadaku." Sentak pria itu. "Urus saja dirimu sendiri."
Sambungan telepon pun terputus.
Widia semakin bergetar, tubuhnya merosot ke jalan. Wajahnya berubah pucat. Dia sangat takut sekarang. Jika dia anak tidak berhasil membawa Farika kepada bos besarnya, dia akan mati. Tidak! Dia tidak ingin mati. Dia juga tidak tahu siapa yang sudah merebut paksa Farika darinya. Bukan dari organisasi RAYAN ataupun ARC. Lalu mereka siapa?
Widia sangat pusing, sekarang dia harus bagaimana? Dia tidak bisa bersembunyi kemanapun saat ini. Karena pasti seseorang akan datang untuk membunuhnya. Sial!
Widia mencoba memutar otaknya untuk berpikir. Yah, dia harus kembali pada Kaila. Setidaknya dia akan aman bersama wanita itu sambil dia mencari tahu keberadaan Farika. Dengan lemah, Widia kembali masuk ke dalam taksi yang hampir meninggalkannya itu.
"Putar balik Pak!"
"Baik."
Supir itu pun segera memutar arah taksinya dan kembali melaju.
Kini Kaila sudah bersiap untuk kembali ke rumah sakit. Wanita itu tampak segar dengan penampilannya yang terkesan simple.
"Bude!" Kaila berteriak setelah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
"Iya nak." Bu Desi membalas teriakan Kaila.
"Bekalnya udah siap?" Tanya Kaila
Saat kini dia sudah berdiri di ruang tamu, yang di sana masih ada Bu Nini, Pak Mukhlis dan Pak Johan.
"Iya sudah." Bu Desi menutup tas bekal yang sudah berisi kotak bekal di dalamnya.
"Widia belum datang juga?" Kaila terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari keberadaan anaknya.
"Belum nak. Sejak tadi telpon pakde tidak dijawab sama dia." Pak Johan menjelaskan.
"Mungkin saja Widia tidak mendengar panggilanmu." Bu Nini menimpali.
"Iya. Mungkin dia sudah dalam perjalanan kini, kita tunggu saja." Tambah Pak Mukhlis.
Mereka semua mencoba menetralkan suasana. Namun Kaila tidak terpengaruh sama sekali, dia semakin cemas saat ini.
"Ah itu pasti Widia." Seru Bu Desi sembari meletakkan tas bekal di atas meja saat mendengar seru mobil berhenti di depan rumah.
Tok! tok! tok!
"Niko." seru pak Mukhlis saat membuka pintu.
"Halo pakde. Kaila dimana?" Wajah Niko tampak panik.
"Dia di dalam." Pak Mukhlis membuka lebar pintu lalu dengan sigap pria itu masuk, langsung berjalan menghampiri Kaila dan memeluknya erat.
"Aku sangat mengkhawatirkamu." Niko mengeratkan pelukannya. "Aku sudah tahu, ternyata Fau dan Fer yang menyelamatkanmu."
"Kemana kau saat mereka nekat melakukan hal berbahaya itu." Kaila berucap lirih.
Niko melepaskan pelukannya, "aku ada pekerjaan mendadak semalam akhirnya aku meninggalkan dia di rumahku. Aku sudah melarang mereka untuk pergi dan tetap disana sampai aku tiba. Namun ternyata mereka bergerak sendiri." Jelas Niko lalu kembali memeluk Kaila. "Ini salahku aku minta maaf." ucapnya.
BRAK!
Suara pintu terbanting sangat keras hingga membuat semua orang terkejut dan menatap ke arah pintu. Disana terlihat Widia melangkah masuk dalam keadaan banjir air mata.
"Bu... hiks."
Kaila panik dan langsung menghampiri Widia.
"Kamu kenapa Wid?" Kaila mencari seseorang di belakang Widia.
"Dimana Farika?" Kaila menatap tajam karyawannya itu.
"Maafkan saya bu."
"Dimana anak saya?" Kaila menyentak kuat sambil mengguncang tubuh wanita itu. Hatinya mulai resah dan gelisah. Dia takut apa yang terlintas di kepalanya menjadi kenyataan.
"Farika di-diculik Bu."
Tubuh Kaila seketika terkulai lemas. Pasokan udara di dalam rongga dadanya seketika hilang begitu saja.
"A-apa?" Tubuh wanita itu hampir saja ambruk sebelum Niko menangkap tubuhnya.
Sementara Widia langsung berlutut di depan Kaila.
"Maafkan saya bu. Saya memang bersalah maafkan saya." wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan Kaila dengan terus menangis.
"Tadi saat dalam perjalanan kesini, tiba-tiba taksi yang kami tumpangi di cegat oleh mobil lain. Beberapa pria berpakaian hitam pun langsung merebut Farika, bu," jelasnya berbohong.
"Kau sangat ceroboh." Niko menyentak kuat. "Apa kau tidak tahu, semalam Kaila diculik dan bisa saja pelaku yang menculik Kaila, adalah pelaku yang sama."
"Maafkan saya Tuan. Saya hanya mencoba menghibur Farika saja." Widia semakin terisak takut.
Semua orang di dalam ruangan itu juga tampak syok. Sementara Kaila hanya menangis dalam pelukan Niko. Kenapa masalahnya datang bertubi-tubi. Apa benar, pelaku yang menculiknya semalam yang kembali menculik anaknya? Tapi yang menculiknya itu adalah Noah, apakah sekarang Noah jugalah yang menculik anaknya? Dia harus memastikannya.
Kaila melepaskan diri dari Niko lalu berlari keluar rumahnya.
"Kaila!!!" Teriak orang-orang yang ada disana. Sementara Niko ikut berlari mengejar Kaila.
Kaila menghentikan taksi, dan hendak masuk. Namun sebelum dia berhasil masuk, Niko mencekal tangannya.
"Kau mau kemana?"
"Aku harus memastikan sesuatu Nik."
"Baiklah, aku akan ikut bersamamu. Berbahaya jika kau sendirian." Tawar Niko.
Kaila menggeleng, "tidak Nik. Aku akan pergi sendiri." Dia menyingkirkan tangan Niko yang menahannya lalu masuk ke dalam taksi.
"Jalan pak!"
"Baik."
Taksi itu pun melaju, meninggalkan area rumahnya menuju rumah Noah. Dia berharap kali ini bukan pria itu yang melakukannya. Karena jika itu orang lain, Kaila tidak bisa lagi menjamin keselamatan Farika. Setidaknya Noah adalah ayah dari anak itu, tidak mungkin dia menyakiti darah dagingnya sendiri bukan. Air matanya kembali menetes.
...Happy Reading ❤...
Kasihan banget yah nasib Kaila dan si kembar. Mereka harus menghadapi penculikan setiap saat.
Jangan lupa dukungannya guys. Terima kasih.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂