Secepatnya bakal direvisiz supaya tidak mengandung plot hole
Mereka bilang, itu nasib baik bila bertemu dengan Dosen tampan. Tapi, bagi Nara, itu tidak!
Kehidupan bebas menjadi penuh kekangan, misteri, tragedi, dan tangisan. Sempat dia tahu Nara melarikan diri, jangan salahkan dia memberikan hukuman setimpal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rainawjy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19: Who?
“Aku tak bisa melupakanmu sedikit pun, Nara. Kau tak tahu seberapa dalam aku terobsesi padamu, mencintaimu, dan memikirkanmu. Kau membuatku gila,” kata pria itu. “Nara, maafkan aku untuk semalam. Aku benar-benar merasa bersalah.”
Nara tak menjawab. Perlahan langkah kuda menjadi lambat.
“Bicaralah. Kau takut padaku? Kita akan menikah nanti. Kau harus terbiasa berbicara denganku.”
Tersentak jantung Nara. Membicarakan soal pernikahan, membuatnya berkeringat dingin. Dia benar-benar tak ingin menikah dengan pria itu.
“Nara,” panggil pria itu. Nara mematung.
Spontan terlintas sebuah kejadian yang menyeramkan di kepalanya. Rasa sakit menyebar ke daging kepalanya. Denyut sekali dan membuat penglihatannya berkunang-kunang.
-oOo-
Anak perempuan itu menciptakan kericuhan. Kaki dilapisi sepatu sekolahnya melangkah besar secara bergantian di jalan aspal yang sudah berlubang-lubang. Tangannya juga ikut bergerak. Keringat bercucuran di mana-mana. Wajahnya terdapat noda-noda hitam dan sedikit luka di bagian pipi kanannya. Tubuhnya masih mengenakan seragam putih biru.
Di sisi kanan dan kiri jalanan berlubang itu, tertanam pohon-pohon rindang. Beberapa lampu besar dengan tiang, menyinari jalananan. Namun, cahayanya remang-remang dan segerombolan laron di bawah cahaya itu. Suasananya amat mencekam. Apalagi ini sudah malam menjelang pagi. Jangkrik-jangkrik berbunyi. Kelelawar melayang di angkasa. Suara burung hantu menambah suasana dingin ini seperti berada di tempat horor.
"Sial," gumamnya saat dia melihat jalanan di ujung sana dipenuhi pohon-pohon rindang.
"Cepat cari anak itu sampai dapat!" Suara itu kembali ia dengar. Berarti, mereka tidak jauh dari tempat ia berada. "Ah, dia di sana!"
Anak perempuan itu melihat ke belakang untuk memastikan apakah ada orang di sana atau tidak. Kedua matanya menangkap mata dari kejauhan milik seorang pria yang sangat ia takuti. Dia ingat kejadian tadi saat dia dikurung dalam penjara kuno dan kedua orang tuanya dipukul habis-habisan oleh pria itu. Saat itu, ada pamannya yang bernama Viore, dia membantu pria itu. Darah bercucuran di lantai dan tangisan menyertai kedua orang tuanya. Anak itu menjerit, memohon agar pria itu tidak menghabiskan orang tuanya, tapi tidak ada yang menghiraukannya begitu juga pamannya. Alhasil, tetesan darah terakhir ditumpahkan di tempat itu. Anak perempuan ini berhasil lari saat para anak buah membuka pintu jeruji besi. Sebenarnya, mereka ingin menangkapnya, tapi dengan kelincahan dan kecepatannya, dia berhasil lari.
Dia berpaling ke depan. Tidak ada cara lain lagi. Dia lari cepat, masuk ke dalam hutan yang gelap dan menyeramkan. Tak peduli masalah apa yang akan dihadapinya. Tujuannya hanya untuk menyembunyikan diri dari pria itu.
"Ayo, cepat! Kejar!" titah pria itu.
Telinganya menangkap semua titahan pria itu. Kakinya pun berlari secepat mungkin sampai-sampai, dia jatuh ke sebuah lubang. Lubang itu tidak terlalu dalam, ia yakin bahwa ia bisa keluar dari lubang itu setelah mereka semua pergi meninggalkannya. Apalagi hutan begitu gelap. Jadi, mereka susah menemukan dirinya.
Dia membekap dirinya sendiri, berusaha untuk menahan suara tangisan. Badannya perlahan menurun dan duduk di lantai solid. Bau-bau tanah segar, membuatnya merasa jijik dan mual. Dia berpikir negatif akan lubang ini. Dia pikir, ada serangga-serangga kecil yang akan menyakitinya.
"Di mana anak itu?!" jeritan kasar terdengar. Sepertinya, keberadaan pria itu tak jauh dari lubang ini.
Dia mendongak, melihat semuanya gelap gulita. Tidak ada sinar senter atau api. Dia pikir, lubang ini sudah aman untuknya.
"Tidak ada di sini, Lorence!" jeritan dari sisi lain terdengar.
"Anak sialan!" gertak pria itu. "Jika kita tidak menemukannya, dia pasti akan melapor yang tidak-tidak. Apakah ada anggota keluarganya yang tersisa lagi?"
"Tidak ada, Lorence," jawab anak buah lainnya.
"Bagus. Aku yakin dia ada di sekitar hutan ini, tapi biarkan dirinya pergi karena aku memiliki rencana lainnya," kata pria itu.
"Aku tahu kau ada di sini, anak kecil! Jika kau berani membeberkan apa yang kuperbuat hari ini, siap-siap kau kusiksa! Dan kau tetap di bawah pengawasanku. Selamanya, anak kecil! Selamanya! Aku akan datang suatu saat nanti. Percayalah. Ingat perkataanku baik-baik," ancam pria itu kepada anak kecil di dalam lubang. Pria itu percaya bahwa anak itu berada di sekitar hutan.
"Semuanya, balik!" titah pria itu.
Dia yang di dalam lubang, menitikkan air mata pasrah. Dalam umurnya 13 tahun ini, dia kehilangan kedua orang tuanya. Rasa pahit kehidupan ia rasakan. Kenangan lama bersama keluarganya, berada di pikirannya. Dia menitikkan air mata lebih banyak sampai terisak-isak. Entah siapa yang akan mengadopsinya. Dia berharap ada orang yang ingin menjadi pengganti orang tuanya.
-oOo-
“Nara, kau tidak apa-apa?”
Tetap saja suara pria itu yang muncul pertama kalinya. Nara membuka matanya perlahan-lahan. Badannya pegal sekali. Tak sanggup ia gerakkan setitik pun anggota tubuhnya. Pria itu ada di samping kasur. Dia sedang duduk di kursi sambil menggenggam tangan Nara. Rasanya, dia sangat perhatian pada Nara.
Lorence... siapa dia? batin Nara berkata sesuatu yang ia ingat tentang kejadian tadi.
Nara memejamkan matanya. Sebenarnya, apa yang terjadi 10 tahun yang lalu? Apa dosa besarku? Kenapa kejadian tadi terlintas di pikiranku? Siapa pria itu? Apa benar orang tuaku meninggal karena dibunuh? Bibi bilang, mereka kecelakaan. Sebenarnya, apa yang terjadi? Oh, Tuhan... tunjukkanlah jawaban yang benar untukku, batin Nara.
“Lorence...,” Nara memanggil nama pria itu. “Siapa dia?”
Pria itu menatap Nara lebih lama. Dia tersenyum kepada Nara. “Siapa?”
“Lorence... aku tidak tahu siapa dia. Dia muncul dalam ingatanku,” jawab Nara. Pria itu tampak bingung. Dia mengerutkan keningnya.
“Siapa? Lorence? Apa-apaan ini? Kau berhalusinasi, ha? Ceritakan padaku apa yang kau ingat tadi sampai kau pingsan,” kata pria itu dengan sangat penasaran.
“Dia membunuh kedua orang tuaku, mengejarku, dan aku terjatuh dalam lubang. Dia mengancamku. Jika aku melaporkan kejadian itu, dia akan menyiksaku,” jelas Nara.
“Kejam sekali,” kata pria itu. Dia tersenyum. “Mungkin itu hanya imajinasi. Jangan terlalu anggap serius.”
“Tapi... itu seperti kenyataan. Aku tak bisa mengatakan itu adalah imajinasi.”
Tangan kiri pria itu mengelus rambut Nara. Dia tersenyum. “Kau kelelahan, Nara. Anggap sjaa itu imajinasi, jangan lelahkan otakmu,” nasihat pria itu.
“Lorence...," berhenti sejenak, "aku ingat benar namanya, tapi tidak tahu wajahnya. Kuharap suatu saat aku menemukan orang itu—”
Emosi membludak di dada pria itu. “Untuk apa? Kau ingin hidup bersamanya?”
“Tidak. Aku ingin melaporkannya.”
“Baiklah. Terserahmu. Nara, apakah kau mencintaiku?”
Nara membuang napas frustasi. Rasanya berat sekali menjawab pertanyaan itu.
“Aku mencintaimu saat kau baik, tapi membencimu saat kau berubah menjadi kasar," Nara berkata jujur.
“Aku suka kau berbicara denganku. Jangan takut kepadaku lagi, Nara. Aku tidak akan memarahimu lagi seperti kemarin. Maafkan aku, Nara. Aku minta maaf.”
“Adam, aku takut. Aku begitu takut saat kau menjadi kasar. Kumohon, jangan terlalu paranoid. Aku tidak akan melakukan apa yang tidak kau inginkan. Kadang, aku perlu bersosialisasi dengan orang lain.”
“Iya, Nara. Aku janji akan melakukan apa yang kau inginkan. Beri tahu kesalahanku lain kali. Kuharap, aku bisa membuatmu tampak sedikit bahagia.”
Nara tersenyum padanya. “Iya dan aku ingin kau membantuku untuk mencari Lorence.”
“Emm... mungkin itu hanya halusinasi, Nara. Jangan dibawa serius. Kumohon, jangan bebankan pikiranmu tentang orang itu.”
Nara menatapnya. “Tapi ini benar-benar nyata. Aku ingat, dia ada cincin naga.”
“Nah, halusinasimu mulai lagi. Kau suka sekali berhalusinasi dan membuatku takut. Jangan kau bilang di sini ada hantu,” pria itu bercanda. Ekspresinya berubah menjadi bahagia. “Aku benar-benar mencintaimu.”
Pria itu mengecup kening Nara dengan sangat lama.
-oOo-
What happened?
ak sukaaa cerita muuuu😍😍😍😍
ak sukaaa cerita muuuu👏👏👏
kasian aja klu Adam cuma pura'' suka ke Nara
ahh hasil nya sama aja
berawal dr WP