NovelToon NovelToon
Brondong Tajir Mengejar Janda

Brondong Tajir Mengejar Janda

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Berondong / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

IG. Suliani_Cucu

Seasen 1

Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.

Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.

Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.

Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.

Season 2

Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.

Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.

Siapa ya?

Yuk kita kepoin kisah nya.

Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersepeda

Tanpa Aksa sangka gadis kecil itu malah menawarkan Aksa untuk sarapan bersama, Aksa tentunya tak kuasa menolaknya. Karena sepertinya masakan yang Najma buat sangatlah menggugah selera.lnya.

Makanan rumahan tapi rasanya juara, itulah yang Aksa simpulkan saat makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya.

Aksa memakan sarapannya dengan lahap, ternyata Najma adalah seorang bunda idaman, pikirnya. Karena selain pandai mengurus anak, dia juga sangat pandai dalam memasak.

Bahkan, wanita itu juga bisa menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus untuk Callista. Hebatnya lagi dia malah bisa mencari rupiah untuk menafkahi anaknya sendirian.

"Makanan ini benar-benar sangat enak, aku sangat suka."

Selsai makan Aksa pun langsung menyenderkan punggungnya di kursi taman, dia juga mengelus elus perutnya yang terasa sangat penuh.

"Om, kalau habis makan jangan nyender seperti itu." Callista berbicara seraya perhatikan apa yang dilakukan oleh Aksa.

"Memangnya kenapa?" tanya Aksa penasaran.

Dia hanya menyandarkan punggungnya saja, tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kenapa Callista malah mengatakan kalau dirinya tidak boleh melakukan hal itu.

"Itu adalah pekerjaan seorang pemalas, kalau habis makan nggak boleh senderan tau." Callista nampak menjelaskan dengan wajahnya yang begitu menggemaskan.

Aksa langsung menegakan tubuhnya, Callista pun langsung mengangkat kedua jempol tangannya di depan wajah Aksa.

Aksa langsung tertawa dengan tingkah Callista, menurutnya anak itu sangat lucu dan menggemaskan. Najma Callista, pikirnya.

"Kamu kok tumben ke sininya pagi pagi, biasanya kamu suka datang sore hari."

"Aku tuh pengen menikmati udara di pagi hari Om, pasti seger karena banyak bunga di sini." Callista menjawab seraya mengedarkan pandangannya, dia menatap hamparan bunga yang begitu indah.

"Anak pandai, Om juga sangat senang jika berada di lautan bunga seperti ini. Makanya Om dan kakek Om dulu menanam bunga setiap hari di sini."

Aksa nampak bercerita kepada Callista, Callista langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sedangkan Najma hanya jadi pendengar yang baik, dari tadi dia hanya memandang ke arah Aksa dan Callista secara bergantian.

Callista memandang Najma yang sedari tadi hanya diam saja. "Bunda kenapa diam saja?"

"Tidak apa apa, Sayang. Bunda gelar karpetnya dulu ya, Nak. Biar kamu bisa rebahan sambil liatin bunga, begitu kan' maunya?"

Callista langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, dia merasa senang karena Ibunya selalu saja mengerti apa yang dia inginkan.

"Bunda memang pinter, Icha sayang Bunda." Callista langsung memeluk erat bundanya, sedangkan Najma tampak menahan tangis.

Najma segera berdiri, dia mengambil karpet yang sudah dia sediakan di atas motornya. Setelahnya dia langsung menggelar karpet itu, Callista nampak tersenyum senang saat Najma menggelar karpetnya.

Callista nampak berlari ke dekat motor, dia mengambil kantong plastik berisi camilan dan minuman. Setelahnya, dia pun menyusun makanan tersebut di atas karpet itu.

"Bun, ini sudah seperti piknik, ya? Icha suka, Bunda suka nggak?" tanya Callista dengan wajah riangnya.

"Suka, Sayang. Sangat suka," jawab Najma seraya mengelus lembut puncak kepala Callista.

Aksa yang melihat pemandangan itu sangat terharu, andai saja Callista mempunyai ayah, pasti Najma tidak akan terlihat sedih seperti itu.

Aksa dari tadi terus memperhatikan mimik wajah Najma, Aksa bisa melihat dengan jelas raut kesedihan di mata wanita itu.

Mungkin wanita itu bisa terus tersenyum dan tertawa untuk menutupi kesedihannya, tapi beban yang pikul terlihat sangat berat di pundaknya.

"Cantik, Om mau berkeliling taman menggunakan sepeda. Kamu mau ikut nggak? Jarang loh ada cowok ganteng kaya Om mau boncengin cewek keliling taman," ajak Aksa.

Callista memandang Najma untuk meminta persetujuan, Najma pun mengangguk tanda mengiyakan.

"Mau Om, tapi jangan ngebut ngebut ya. Aku takut soalnya," jawab Callista.

Aksa tersenyum, "Siap, Nona Cantik."

Callista langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa, garis kecil itu terlihat begitu bahagia sekali. Aksa langsung mengusap puncak kepala gadis kecil itu dengan begitu penuh kasih.

"Kamu tunggu di sini sebentar," ujar Aksa.

Setelah mengatakan hal itu, dia langsung berjalan untuk mengambil sepedanya. Setelah menaiki sepedanya, Aksa kembali menghampiri Callista.

"Ayo naik." Aksa menepuk boncengan sepeda miliknya, Callista langsung tertawa dengan riang.

Callista naik di belakang Aksa, Callista berdiri sambil memegang pundak Aksa. Saat Aksa mengayuh sepedanya, Callista langsung tertawa dengan lepas.

Ini adalah kali pertama untuk Callista di bonceng sepeda oleh seorang pria, dia terlihat sangat senang. Najma melihatnya dengan penuh haru, dia sadar betul jika Callista memang membutuhkan sosok seorang ayah.

Akan tetapi, Najma belum berniat untuk menggantikan posisi Bastian di hatinya, sampai saat ini masih ada Bastian di hatinya.

Namun, jika suatu hari nanti ada yang mau menikahinya, dia akan berusaha untuk melupakan Bastian. Akan tetapi, dia harap lelaki itu bisa menerima putrinya dan menyayanginya dengan sepenuh hati.

"Ya Allah, jika memang suatu saat nanti Aku ditakdirkan untuk berjodoh kembali dengan pria yang baik, aku mau. Apalagi pria itu mau menerima putriku dan menerima diriku dengan sepenuh hati."

Sekitar setengah jam Aksa mengajak Callista mengelilingi taman bunga seluas satu hektare tersebut, Aksa yang mulai merasa capek langsung mengajak Callista untuk beristirahat.

Aksa langsung merebahkan tubuhnya di hamparan rumput hijau, sedangkan Callista langsung duduk manis di atas karpet sambil menikmati minuman kaleng.

Najma mengambil satu buah minuman kaleng dan menyodorkannya kepada Aksa, Aksa pun langsung bangun dan dengan senang hati langsung mengambilnya dari tangan Najma.

"Terima kasih," ucap Aksa seraya membuka penutup minuman kaleng itu.

"Sama sama," ucap Najma.

Aksa mulai meneguk minuman kaleng itu, Najma yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Aksa sempat melirik Najma dengan ekor matanya, janda beranak satu itu terlihat sangat cantik saat sedang tersenyum, pikirnya.

Cukup lama mereka saling diam, hingga tidak lama kemudian Aksa mencoba mencairkan suasana dengan mulai mengajak Najma untuk berbicara.

"Kamu kenapa pergi meninggalkan toko? Bukankah toko akan sangat rame kalau weekend seperti ini?"

Najma langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Aksa.

"Karena anakku lebih penting dari segalanya, aku akan berusaha mewujudkan apa yang anakku inginkan. Walaupun tak ada sosok ayah di sisinya, aku tidak mau kalau anakku sampai kekurangan kasih sayang."

Aksa merasa salut dengan jawaban Najma, Karena wanita itu selalu menjawab apa yang dia pertanyakan dengan begitu bijak.

"Pasti sangat berat menjadi seorang single mommy, oiya. Apa keluarga Bastian tidak pernah mengunjungi kalian?"

Aksa selalu melihat Najma berjuang sendirian, tidak pernah sekalipun dia melihat kedatangan dari keluarga Bastian. Atau mungkin memang dia yang tidak pernah melihat akan hal itu.

"Dulu saat ibunya mas Bas masih ada memang suka mengunjungi kami, tapi karena beberapa waktu lalu dia meninggal, jadinya sudah tidak ada lagi yang berkunjung."

Najma mengatakan hal itu dengan sedih, karena jika sudah berhubungan dengan Bastian, selalu saja kesedihan yang menyeruak ke dalam hatinya.

Aksa mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, Aksa melirik jam tangan yang melingkar di tangannya dan berkata.

"Astaga! Sudah jam sembilan saja. Cepat sekali waktu berputar."

Aksa nampak kaget karena waktu cepat sekali berlalu, Najma yang mendengar perkataan pria itu malah terkekeh.

"Kamu itu aneh, waktu terus berputar. Tentu saja jam akan berubah sesuai dengan waktunya," ujar Najma.

"Hem! Kamu benar, kalau begitu aku pulang duluan ya, aku harus pergi soalnya."

"Pulang saja sana, nggak usah minta izin sama aku. Ngga penting juga izin dari aku, lagian ini weekend. Pergunakanlah waktu kamu untuk memanjakan diri, karena di hari hari biasa pasti kamu sangat sibuk bekerja."

"Ya, kamu benar. Aku pamit, kalian bersenang senang lah dulu," ucap Aksa, Aksa melirik ke arah Callista. "Om pulang dulu ya, kapan kapan kita ngobrol lagi."

Padahal Aksa masih ingin bersama dengan Callista, tapi tunggu dia tidak bisa berlama-lama lagi berada di sana.

"Siap Om, tapi lain kali beliin aku mainan ya, Om."

Callista nampak tidak canggung meminta mainan kepada Aksa, Aksa tersenyum karena Callista meminta mainan. Sedangkan Najma terlihat kurang suka saat melihat anaknya meminta sesuatu kepada orang lain.

Aksa yang mengerti tentang tatapan Najma terhadap putrinya pun langsung bersuara, karena takut-takutnya nanti putri kecil dari Najma itu akan dimarahi setelah dia tidak ada.

"Aku dan Callista sudah berteman, jadi jangan kamu marahi ya. Kalau dia meminta sesuatu kepadaku, sungguh aku merasa tidak keberatan. Justru aku merasa sangat senang," ungkap Aksa.

Najma terdiam dengar apa yang dikatakan oleh Aksa, berbeda dengan Callista yang langsung tersenyum mendengar ucapan Aksa.

"Kita beneran berteman kan, Om?" tanya Callista.

Callista bertanya dengan penuh harap, tentu saja Aksa tidak ingin mematahkan harapan anak kecil itu. Dia langsung tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.

"Yes, kita teman." Aksa berkata dengan nada tegas.

Mendengar apa yang dikatakan oleh Aksa, Callista tanpa ragu langsung menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Aksa.

"Om adalah teman Icha yang paling tampan," ucap Callista.

Aksa langsung terkekeh mendengarnya, begitupun dengan Najma. Karena putrinya terlihat begitu bahagia mendapatkan teman seperti Aksa.

"Om pulang dulu," pamit Aksa lagi.

Setelah berpamitan, Aksa langsung mengayuh sepedanya. Dia harus segera sampai dan bersiap, karena dia sudah ada janji untuk menemani Maria jalan jalan.

"Semoga saja aku bisa datang tepat waktu, semoga saja aku tidak terlambat datang. Agar Maria tidak marah," ujar Aksa seraya mengayuh sepedanya dengan cepat.

1
untung untung
hebat Imajinasinya
FIRA_SHAFIRAH27
kok ngk ada si kak
Cucu Suliani: Oh, diganti judul jadi Hati Yang Kau Sakiti😊
total 3 replies
KIRANA
kok ngk ada ya
nuraeinieni
Luar biasa
falea sezi
lagian lu gatel amat itu kakak ipar lu mau jd pelakor yee dasar g sesuai ma nama lu yg bagus tp hati busuk
falea sezi
karma mu bas g inget anak istri meski amnesia biasa nya feeling nya kuat nah ini tergoda ama jalang kek Deby mampus deh hidup lu
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
sedang khusyuk baca ada yg garing "makaroni" 🤧
🌹🪴eiv🪴🌹
siapa Elsa 🙄
🌹🪴eiv🪴🌹
selalu
🌹🪴eiv🪴🌹
menoleh
🌹🪴eiv🪴🌹
menegur
🌹🪴eiv🪴🌹
merajut 🙈
🌹🪴eiv🪴🌹
bukannya semester 4
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
🌹🪴eiv🪴🌹
mengurus
🌹🪴eiv🪴🌹
astoge,menggedor

menggoda 🤧
🌹🪴eiv🪴🌹
di biasain
🌹🪴eiv🪴🌹
humornya....?
🌹🪴eiv🪴🌹
wow
emezing kali 💃💃💃
🌹🪴eiv🪴🌹
tenang ayah Aksa ,bunda najma udah author jodohkan untukmu
he he he he
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!