Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umma aku mau Brownies
Setelah sekitar sepuluh menit kemudian mereka sampai di toko bahan kue. Arum memilih-milih bahan kue yang ia butuhkan dan memasukkannya ke keranjang belanjaan. Ketika sedang sibuk memilih, Arum melihat Ammar asyik mengobrol dengan kasirnya. Arum yang penasaran apa yang diobrolkan, langsung menghampiri mereka.
" Mas, ngobrol sama siapa?" tanya Arum kepada Ammar.
" Kenalin ini sepupuku juga, dari ayahku. Namanya Tina, Tina ini istriku Arum." Ammar mengenalkan mereka.
" Oh..." Arum hanya ber ohh saja.
" Eh iya Tina ini mulai besok bantuin kamu bersih-bersih rumah dan mengurus cucian kita. Dari pagi sampai siang. Jadi kamu lebih ringan bekerjanya." Kata Ammar pada Arum, Arum hanya mengangguk tapi sebenarnya dia tak mengerti karena sebelumnya mereka belum merencanakan memakai jasa ART.
Setelah membayar belanjaannya mereka pergi dari toko itu, di dalam perjalanan pulang, Arum langsung menanyakan perihal Tina tadi.
" Mas kok gak bilang aku dulu kalau mau pakai ART?" tanya Arum.
" Iya maaf Dik sebelumnya. Tadi aku memang gak sengaja ketemu dia, ternyata dia kalau sore kerja di situ, dia janda, anaknya dua masih kecil-kecil, dia butuh uang untuk biaya hidup dan sekolah anaknya. Aku kasihan, jadi untuk sementara kita pakai jasanya untuk meringankan pekerjaan kamu di rumah. Untuk sementara saja, kita evaluasi, nanti kalau kamu tetap gak nyaman kita bisa berhentikan dia." Ammar menjelaskan kepada Arum.
" Baik Mas, aku faham " jawab Arum singkat. Tak terasa mereka sampai di rumah. Arum segera masuk dan menyiapkan alat-alat dan bahan untuk membuat kue malam itu. Ketika adzan Isya berkumandang, Ammar dan dua jagoan pergi ke musholla, sedangkan Hanna berjamaah di rumah bersama Arum.
Selepas sholat Isya, anak-anak pergi ke kamar mereka masing-masing, mereka sudah sangat lelah dan mengantuk. Ammar menemani Arum membuat kue brownies. Dia duduk di kursi makan menghadap ke Arum sambil mengamati Arum yang sedang sibuk membuat adonan.
" Pak ngapain kok ngawasi saya?" tanya Arum mengetahui Ammar mengawasinya sejak tadi.
" Lagi lihat istriku yang cantiknya maa syaa Allah." jawab Ammar sambil tersenyum pada istrinya.
" Kamu bikin berapa sih Dik? Kok banyak banget kelihatannya." Ammar basa-basi, sebenarnya ia ingin menggoda Arum.
" Bikin empat loyang Mas, Dua dibawa anak-anak ke sekolah, satu aku bawa ke toko dan satu buat Mas dan teman-teman di kantor.
" Oooh, kamu gak capek Dik?" tanya Ammar.
" Kalau sekarang belum, kalau habis bikin kue gak tau lagi." Canda Arum, seakan tahu Ammar sedang menggodanya. Setelah memasukkan loyang-loyangnya ke dalam pengukus, dia pun segera duduk di samping suaminya itu, mungkin dia cukup lelah, dia menyandarkan kepalanya ke bahu Ammar.
" Mas...." Panggil Arum, sambil masih tersandar di bahu Ammar.
" Apa sayang?" Tanya Ammar.
" Mas, apa gak pengen punya anak dari aku? Kok setiap kita main, Mas selalu pakai pengaman." kata Arum. Ammar tersenyum dan membelai rambut Arum yang panjang dikuncir kuda.
" Maafin Mas ya, mau jelasin tapi lupa terus. Sementara kita fokus sama pengobatan Fitri dulu ya, setelah Fitri sembuh atau jauh membaik dari keadaannya sekarang, in syaa Allah kita fikirkan untuk menambah warga." Ammar menjelaskan pada Arum.
" Iya Mas, aku ikut saja pokoknya." jawab Arum faham.
" Eh iya Mas, kita belum pernah mengunjungi Mamanya Mas," kata Arum kemudian.
" Eh iya, akhir pekan ini kita ke sana ya." ajak Ammar.
" Iya Mas, tapi sebenarnya aku takut Mas, kok sepertinya Mamanya Mas kurang suka sama aku. Aku belum pernah diajak ngobrol berdua sama sekali, waktu lamaran dan akad nikah, beliau juga diam saja." kata Arum sambil manyun.
" Iya kah? Sebenarnya mama itu orang yang baik, cuma waktu Fitri memintaku menikah lagi, mama punya calon sendiri, tapi aku tidak menyukainya." Ammar menjelaskan dengan pelan-pelan.
" Haa? Waduh semakin berat kalau gitu, pasti mama akan membandingkan aku dengan wanita itu Mas." Arum semakin sedih.
" Itu semua karena Mama belum mengenalmu, bersikaplah baik seperti biasanya, waktu di rumah orangtua Fitri kamu bisa gitu lho mengambil hati banyak orang, kamu itu tipe yang bisa cepat menyesuaikan diri dimana saja, tadi di toko Aini juga cerita kalau kamu pandai melayani pembeli." kata Ammar menenangkan Arum sambil mencubit pipi Arum.
" Mas sepertinya sudah matang, aku angkat dulu ya kuenya." kata Arum sambil berjalan menuju pengukus dan mengangkat kue brownies yang telah matang.
" Hmmm... Baunya harum banget Dik, pasti enak nih." Kata Ammar sambil melihat kue-kue yang diletakkan Arum di meja makan.
" Iya Mas, tapi besok aja ya aku potongin, sekarang aku ngantuk banget." kata Arum memelas.
" Iya iya, tidur yuk." ajak Ammar.
" Ok." jawab Arum singkat sambil menutup kue-kue itu dengan tudung saji. Dan mereka berpelukan sambil berjalan menuju kamar. Malam ini mereka tertidur pulas karena kecapekan.
*****
Keesokan paginya Arum tidak mencuci baju atau menyetrika, karena akan ada Tina yang membantunya. Arum hanya memasak untuk sarapan dan bekal makan siangnya dan juga bekal Ammar. Untuk sarapan Arum memasak Cha sayuran dan telur dadar gulung Korea. Sedangkan untuk bekal makan siangnya dan Ammar dia memasak sayur asem, pepes tuna dan tempe bacem. Dia juga memotong-motong kue brownies yang dibuatnya semalam, menatanya dalam box-box brownies.
Setelah anak-anak selesai mandi dan berpakaian, mereka segera duduk di kursi makan, seperti biasa mereka makan dengan lahap. Begitu juga Ammar tak kalah semangatnya ketika makan.
Selesai makan mereka bersiap berangkat ke kantor dan sekolah. Sedangkan Arum nanti berangkat sendiri naik motor, karena dia akan menunggu Tina datang dan mengajarinya cara mencuci dan menyetrika.
" Nanti Tina ke sini sekitar jam tujuh ya." kata Ammar.
" Iya Mas." jawab Arum sambil menyerahkan tas bekal dan box kue untuk mereka.
" Umma berangkat duluan ya. Assalamualaikum." pamit anak-anak sambil memeluk dan mencium tangan Arum.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, semangat ya sekolahnya sayang." jawab Arum.
" Mas tinggal dulu ya, kamu hati-hati kalau berangkat." kata Ammar sambil mencium kening Arum.
" Baik Mas, fii amanillaah ( semoga Allah menjagamu )" kata Arum melepas kepergian mereka. Setelah mobil Ammar pergi, dia segera masuk dan melanjutkan sarapannya. Tak lama kemudian suara bel pintu berbunyi.
" Ting tong."
Arum segera ke depan untuk melihat siapa yang datang. Apakah Tina atau orang lain. Ternyata benar Tina yang datang.
" Assalamualaikum Mba." Sapa Tina setelah melihat Arum membuka pintu.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh, masuk Mba." Arum mempersilahkan Tina masuk, mereka pun masuk ke dalam.
" Mbak sudah siap kerja hari ini?" tanya Arum pada Tina.
" Siap Mba." jawab Tina. Kemudian Arum mengajaknya berkeliling dan menjelaskan pekerjaannya.
" Ini kamar saya, lalu sebelah sini kamar Hanna, kalau di lantai bawah mbak tugasnya nyapu ya, kalau ngepel dua hari sekali saja." Mereka menuju dapur.
" Trus cuci piring bekas sarapan di sini, ini sabunnya. Ini kamar mandi, kalau mau pipis boleh di sini. Trus kita ke atas yuk." Arum naik tangga menuju lantai atas diikuti Tina.
" Nah ini mesin cucinya, caranya begini." Arum menjelaskan sambil tangannya memencet-pencet tombol mesincuci.
" Trus sambil nunggu mesin cuci bekerja, Mbak bisa setrika di sini, ini semprotannya." Arum beralih ke meja setrika.
" Gimana faham ya Mbak?" tanya Arum.
" Iya in syaa Allah faham Mba." jawab Tina sambil memanggut-manggut.
" Oke, kalau sudah selesai semuanya, Mbak bisa makan di meja makan sudah ada sayur asem sama pepes patin, Mbak habiskan aja, kalau gak habis bisa Mbak bawa pulang." Arum melanjutkan. Tina tersenyum-senyum senang, dia merasa senang bekerja di rumah Arum ini.
" Sekarang aku tinggal ke toko dulu ya Mbak, kalau sudah selesai kunci rumah taruh di bawah pintu aja." Arum akhirnya berpamitan berangkat ke toko.
" Iya Mba, terimakasih ya sudah izinkan saya bekerja di sini." Kata Tina.
" Saya yang terimakasih, Mbak Tina sudah mau membantu saya di sini. Kalau ada apa-apa nanti hubungi saya atau mas Ammar saja ya." pesan Arum.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap