Keisha, meski memiliki paras yang cantik dan bentuk tubuh yang mendekati sempurna, tapi sama sekali tidak pernah tertarik untuk masuk ke dunia hiburan mengikuti jejak ibu ataupun sahabatnya. Namun, hidup Keisha dikelilingi dengan orang-orang dari dunia hiburan. Bertemu mantan pacar saat SMU yang sekarang menjadi sutradara, Keisha sempat menjalin kembali hubungan dengannya, tapi harus kandas karena suatu hal. Lalu menjalin hubungan yang intim dengan seorang model ternama, dia pun kembali harus mengalami kekecewaan yang bahkan jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Akhirnya Keisha memutuskan untuk bersama dengan seorang laki-laki yang sudah menyayanginya sejak kecil. Namun apakah akhirnya Keisha bahagia dengannya? Apalagi setelah laki-laki yang selama ini mengisi hatinya datang kembali dan memintanya untuk menikah dengannya.
.
image cover from Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Appetizer
Keisha bangun pagi dan menghabiskan sarapannya dengan cepat, kemudian meminta tolong kepada Kedric untuk mengantarkannya ke rumah Zio. Tepat jam 8 pagi Keisha sudah berada di kamar Zio lagi. Dia tidak perlu menggunakan kunci yang semalam diberikan Zafri karena tadi ketika datang Keisha bertemu di depan pagar dengan Bu Ida yang kebetulan juga baru pulang dari pasar. Bu Ida menawarkan untuk membuatkan sarapan tapi Keisha menolak karena dia sudah sarapan di rumah sebelumnya.
Kondisi kamar Zio masih sama persis dengan semalam ketika dia meninggalkannya, kecuali bahwa posisi tidur Zio saat ini telentang dengan selimut yang menutupi bagian kaki dan sebagian perutnya. Keisha membuka tirai jendela kamar Zio yang memenuhi hampir delapan puluh persen salah satu sisi dinding kamar dan membawa masuk sinar matahari pagi yang langsung membuat kamar tersebut terasa hangat.
Zio terbangun sesaat kemudian, bukan karena merasakan kehangatan matahari yang memenuhi kamarnya saat ini, tapi karena merasakan kecupan singkat di pipinya. Zio membuka kedua matanya dan menemukan wajah malaikat di depannya, ehm, maksudnya wajah Keisha yang saat itu terlihat seperti malaikat karena terkena cahaya matahari yang menyinari wajahnya. Keisha berbaring miring di sebelah Zio, sambil menumpukan kepalanya di tangan kanannya.
"Morning, Kei."
"Morning, Zio."
"Maaf, semalam aku ketiduran. Kamu pulang dengan siapa?"
"Kamu tahu kalau semalam aku pulang?"
"Tahu, semalam aku sempat terbangun sebentar dan sadar kalau kamu sudah tidak ada. Kenapa tidak membangunkanku?"
"Kamu sepertinya sangat lelah. Jadi aku minta jemput Kedric."
Zio memiringkan tubuhnya mendekati Keisha, "sekarang aku sudah tidak lelah lagi."
"Buruan bangun dan mandi, Bu Ida sudah membuatkan sarapan."
"Oke. But I want my appetizer first."
Zio berguling dan secepat kilat tubuhnya sudah berada di atas tubuh Keisha. Keisha tak bisa menolak, bibirnya sudah berada di dalam bibir Zio.
Satu jam kemudian mereka berdua sudah berada di meja makan yang penuh dengan makanan masakan Bu Ida. Keisha terpaksa mandi lagi di kamar mandi di dalam kamar Zio setelah mendapatkan 'serangan pagi' dari laki-laki dihadapannya yang saat ini wajahnya terlihat sangat cerah dan bahagia, menggantikan wajah penuh kelelahan yang ditampakkannya tadi malam.
Zio sarapan dengan lahap untuk mengisi semua energinya yang sudah terkuras habis setelah tadi malam dan pagi ini menyalurkan hasrat kerinduannya kepada Keisha yang sudah dipendamnya selama satu bulan. Sedangkan Keisha yang sudah sarapan di rumahnya sendiri sebelum ke rumah Zio, hanya minum segelas besar jus Alpukat dengan campuran susu kental manis cokelat yang tadi ditawarkan oleh Bu Ida.
"Kamu tidak bekerja?" tanya Zio sambil mengambil nasi putih lagi setelah sebelumnya menghabiskan seporsi sarapannya.
"As your requested before, aku mengambil cuti kerja selama kamu libur."
"Good. Kalau begitu setelah sarapan kita pikirkan enaknya mau melakukan apa aja selama enam hari ke depan. Tapi sebelumnya aku minta maaf, belanja di mall dan nonton di bioskop ataupun ke tempat umum lainnya tidak akan bisa kita masukkan ke jadwal kita."
"Kenapa? Takut ketahuan fans dan popularitas kamu akan turun?"
"Lebih tepatnya takut ketahuan fans dan mereka akan mengganggumu. Aku tidak mau itu terjadi."
"Kenapa begitu? Setahuku dulu kamu dan Ratu biasa aja jalan di depan umum. Aku pernah melihat artikel tentang kalian di majalah."
"Seingatku sebelumnya namaku aja kamu tidak tahu, kok bisa kamu ingat kalau pernah melihat artikel tentang aku dan Ratu?"
"Ehm, ya begitulah." Keisha malu mengakuinya, kalau selama sebulan ini dia sering mencari-cari artikel tentang Zio untuk mengobati kerinduannya.
"Ratu kan selebriti juga, dia sudah biasa digosipkan, jadi aku tidak terlalu khawatir. Lagipula dulu waktu ketahuan media, aku bilang kepada mereka semua kalau aku dan Ratu tidak ada hubungan apa-apa."
"Dan kamu khawatir denganku karena aku hanya orang biasa?"
"Kadang para fans terutama yang fanatik bisa sangat menakutkan. Apalagi dengan imageku yang selalu single." Zio menghentikan makannya dan menatap Keisha, "dan percayalah, aku sangat ingin mengatakan kepada dunia kalau kamu adalah wanita yang aku cintai."
Keisha merasakan perasaan senang di hatinya dan pipinya pasti merona merah saat ini.
"Kok Zafri bisa kencan dengan banyak wanita dan biasa aja menjalaninya?" Termasuk waktu itu beberapa kali jalan dengan Keisha di tempat umum.
"Dia imagenya sejak awal sudah playboy, jadi fans tidak terlalu mempermasalahkan kalau dia jalan dengan siapapun, karena mereka tahu memang Zafri seperti itu. Dan mereka semua juga tahu kalau Zafri hanya bersenang-senang, tidak ada yang serius. Kalau ada yang berhubungan serius dengan Zafri mungkin para fans baru mempermasalahkannya."
"Kalau suatu saat nanti hubungan kita ketahuan, aku tidak akan pernah mau mengatakan kepada mereka semua kalau kita tidak ada hubungan apa-apa. Meski itu mungkin akan menurunkan popularitasku, aku tidak peduli. Tapi aku khawatir dengan fans yang mungkin akan menyerangmu jika aku melakukannya. Jadi untuk saat ini, sebaiknya kita berhati-hati dulu." Zio menggenggam tangan Keisha di atas meja.
"Oke."
Setelah sarapan Zio dan Keisha duduk di ruang tengah, merencanakan acara mereka untuk enam hari ke depan.
"Sebelumnya aku pikir, hanya aku yang jatuh cinta sama kamu. Tapi setelah aku mengalami sendiri betapa agresifnya kamu semalam dan betapa antusiasnya kamu hari ini, boleh aku anggap kalau kamu juga mencintaiku sebesar aku mencintaimu?" Zio bertanya setelah mereka selesai berdiskusi dengan penuh semangat.
"Aku tidak tahu kenapa kamu bisa berpikir seperti itu. Aku tidak akan tidur denganmu kalau aku tidak mencintaimu sebesar ini."
Selanjutnya mereka berbincang santai di ruang tengah, membicarakan tentang apa saja yang terjadi selama mereka tidak bertemu.
Zio dan Keisha makan siang bersama di rumah Zio, akhirnya Keisha merasakan masakan Bu Ida yang rasanya memang bikin nagih. Tidak heran kalau Zio makannya sampai nambah, batin Keisha.
Zafri yang baru keluar dari kamarnya bergabung dengan mereka di meja makan.
"Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri untuk sering melihat kamu di rumah ini ya, Kei." Zafri menarik kursi dan duduk di sebelah Zio.
"Obviously."
"Nanti malam anak-anak mengajak bertemu di ENZ, termasuk Kia juga. Kamu mau ikut bergabung, Kei?" ajak Zafri.
"Oke."
"Kamu bukannya tidak suka tempat itu?" Zio berhenti makan dan menoleh kepada Keisha.
"Sebelumnya aku kan tidak punya alasan untuk datang ke sana. Tapi kalau kamu tidak mau aku ikut, aku tidak akan ikut."
"Aku lebih senang kalau kamu ikut. Nanti malam aku akan menjemputmu."
Setelah selesai makan siang, Zio dan Keisha menonton film hollywood di ruangan home theater. Sebuah ruangan yang cukup luas dengan karpet lantai dan dinding yang berwarna hitam, langit-langitnya juga berwarna hitam namun dengan bintang-bintang kecil yang terlihat persis sama seperti langit berbintang di malam hari, dilengkapi dengan lima pasang sofa single berlapis kulit berwarna hitam juga yang dipasang berdampingan dan dipisahkan oleh meja kecil diantaranya untuk tempat minuman dan snack, dua pasang di depan dan tiga pasang di belakang, serta proyektor lebar yang memuaskan visual dan audio yang tersebar di seluruh ruangan yang memanjakan telinga. Anggota BERSERK sering menonton bersama di ruangan tersebut, daripada harus repot-repot ke bioskop dan bertemu para fans yang mungkin akan membuat acara nonton mereka menjadi tidak nyaman. Awalnya Zafri juga ikut menonton bersama mereka, tapi kemudian dia keluar untuk menerima panggilan telepon dan tak kembali lagi.
Zio mengantarkan Keisha pulang ke rumahnya sore hari dan menjemputnya lagi jam delapan malam untuk mengajaknya ke ENZ bergabung dengan teman-temannya.
"Apakah tidak masalah kita bergandengan tangan seperti ini?" Keisha bertanya saat Zio menggandeng tangannya memasuki ENZ. Padahal sebelumnya dia bilang agar berhati-hati dulu saat ini agar tidak ketahuan fans.
"Ini salah satu tempat yang aman, kamu santai aja."
Saat tiba di meja mereka, Zafri, Rendra, Bhisma dan Adzkia sedang berdiskusi dengan asyik sambil melihat ke layar ipad Zafri.
"Eh, pasangan baru datang," sapa Bhisma.
"Kita mau liburan di Bali 5 hari 4 malam, kalian mau bergabung?" tanya Zafri.
"Ikut yuk, Kei, nanti aku yang akan membantu minta ijin ke orang tuamu." Adzkia menawarkan bantuannya agar Keisha mau bergabung dalam rencana liburan mereka.
Zio dan Keisha berpandangan sambil mengingat semua rencana yang sudah mereka bicarakan tadi siang.
"Bagaimana? Mau ikut tidak?" bisik Zio di telinga Keisha.
"Aku sih mau aja, tapi bagaimana dengan rencana kita tadi?"
"Untuk lain kali aja, tidak biasanya kan kita bisa liburan bersama seperti ini."
"Okay then."
"Oke, kita ikut." Zio mengatakan keputusannya kepada teman-temannya.
Mereka sampai malam di ENZ, mencari lokasi yang ideal untuk mereka bisa liburan dengan nyaman, dan membeli tiket pesawat yang mengharuskan mereka berangkat besok siang. Pada akhirnya Zio yang membiayai liburan tersebut, karena teman-temannya menggodanya yang baru jadian dengan Keisha.
lanjutttt
satu hari z tanpa kabar uhhhh
sakittttt