Hanya membangunkan sang kaisar yang tertidur akibat sihir, hidupmu akan berubah drastis dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loserpryyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Your Behavior Make Me Hate
"Jonathan!"
Beberapa pria berpakaian khas pengawal bersama seorang pemimpinnya tiba-tiba menyelinap masuk tanpa menghasilkan suara sedikitpun. Mereka memergoki putra sang Duke, tengah melakukan hal tak terduga bersama seorang gadis desa.
Duke Roberto jelas terkejut, dengan amarah memuncak, pria paruh baya itu tiba-tiba melayangkan pukulan tak main-main pada putranya, "Anak sialan! Cari masalah lagi, kau! Sudahi semuanya, cukup, sekarang jangan pernah kembali ke rumah atau kau akan mati!"
Sudah semestinya sang ayah marah, ketika melihat putranya yang kian dewasa bertumbuh menjadi lelaki yang tak baik. Bukan hanya di matanya, namun di mata semua orang. Dia seketika merasa kecewa, sudah semestinya kelakuan sang anak menurun dan berasal dari didikan orang tuanya, tapi Jonathan... dia melenceng dari arahan. Benar-benar membuat ayahnya murka.
Sang duke lantas mengalihkan pandangan pada Alice yang masih terdiam kaku di tempat, seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada, "Dan kau, jangan jadi perempuan bodoh. Kalau ada yang berniat buruk padamu, hajar saja sampai mati sekalian kalau bisa. Jangan diam saja!" Nadanya meninggi diakhir kalimat, membuat Alice seketika mengangguk patuh.
Sekumpulan orang yang merupakan kawanan dari bangsawan Namus itu lantas pergi meninggalkan tempat tanpa sepatah kata, sebelumnya Duke Roberto sempat melempar gulungan kertas papyrus pada putranya yang masih meringkuk kesakitan.
Alice pun beringsut menjauhi Jonathan, tapi ia tidak pergi dari tempat.
Sembari beranjak duduk dengan memegangi bahu yang sempat dihantam, lelaki itu melirik Alice dengan tatapan bingung, "Kenapa kau masih di sini? Maaf, sempat membuatmu takut. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukan hal seperti... yang kau pikirkan."
"Se-sebaiknya kau pergi," lirihnya dengan napas menderu, Alice tak pernah ada diposisi seperti yang baru saja terjadi. Ia masih terkejut dengan keadaannya sendiri.
"Maaf Alice, sungguh--"
Ucapan Jonathan terpotong kala Paman Ludrigo terburu menghampiri keduanya, kedua bola matanya tampak berbinar tapi rautnya mrnunjukkan ketakutan, "Alice, Jo, apa yang terjadi?! Paman melihat Duke Roberto masuk kemari tadi. Ini sebuah keajaiban! Tapi, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jonathan yang punya masalah dengan mereka, paman. Sekarang sebaiknya kau istirahat lagi, aku juga akan segera tidur," Alice bangkit untuk menuntun sang paman kembali ke kamarnya.
Setelahnya, gadis itu kembali ke dapur dengan tatapan tajam, "Dan kau sebaiknya pergi. Sekarang sudah sangat larut."
"Alice, kau berjanji untuk saling memercayai."
Alice mengibaskan tangannya bersikap tak peduli, "Kita belum membuat kesepakatan, dan kau sudah mengacaukan kepercayaanku terlebih dulu. Jadi di sini bukan aku yang salah."
"Kau sudah tahu letak titik kesalahannya dariku, sekarang kau tidak mau menceritakan kejujuranmu?" Sebelumnya keduanya memang sudah mencoba saling percaya dan menceritakan pengalaman janggal masing-masing demi menyelesaikan masalah yang nereka hadapi. Sayangnya Jonathan berbuat gegabah, saking paniknya karena mebdengar suara sang ayah, ia bertindak buruk yang mana mengakibatkan orang-orang sudah tidak bisa memercayainya termasu Alice sendiri, 'Huh, aku sendiri tidak sadar bagaimana bisa melakukan hal seperti itu.'
Alice tiba-tiba menjerit seraya melayangkan pukulan pada wajah si lelaki yang sudah cukup babak belur, kini dia mencoba menambahnya lagi, "Sudah ku bilang, kau menghancurkan kepercayaanku! Siapa yang salah?! Kau sendiri!"
Jonathan balas memukul Alice sampai hidung gadis itu mengeluarkan darah, ia lantas mengacak surainya kasar, kakinya melangkah tak tahu arah, mondar-mandir mengitari sekeliling. Tubuhnya serasa dikuasai jiwa lain, seperti ada yang aneh memang, ada beberapa tindakan yang ketika diambil dalam kedaan gegabah, malah jadi fatal, "Hah! Siapa kau sebenarnya?! Pengganggu sialan!"
Sementara Alice yang masih memegangi hidung, merasakan hal aneh pula dengan keadaan Jonathan sejak mendatangi rumahnya. Dia bersikap lebih atraktif dari biasanya, "Apa yang kau katakan, siapa yang kau murkai?"
"Alice? Hidungmu..." Ketika suara Alice menyapa, Jonathan memiringkan kepala. Ia panaik saat menyadari darah yang mengalir dari hidung si gadis semakin banyak, "Astaga, sekali lagi maafkan aku. Ck! Ada apa dengan semua ini sebenarnya?!"
Alice tiba-tiba memikirkan sesuatu yang cukup logis di kondisi mereka saat ini, "Sekarang aku bisa percaya, kita sedang dikelilingi arwah pendendam."
Si lelaki mengernyitkan dahi kebingungan.
"Sebaiknya kita segera menyelesaikan masalahmu dengan Kaisar Enrique. Aku meyakini titik puncaknya ada di situ, dan kita termasuk orang-orang yang bersangkutan selalu merasa diteror. Kau diyakini sebagai pelaku utama kesalahannya, sedangkan aku saksi mata sebagai korban yang masih hidup."
"Aku tak bisa memahami karena kau belum menceritakan apapun padaku, yang jelas, sekarang juga kita harus pergi ke bukit tua. Kita temui orakel itu dengan membawa apa yang ada di daftar."
"Jangan!" Sentaknya, membuat si lawan argumen keheranan, "Pokoknya jangan bawa apapun jika kita pergi ke sana. Tapi, belum tentu di sana ada jawabannya, seseorang--maksudku sesuatu memberitahuku."
"Baiklah, kita mulai lagi perjalanan dengan taktik baru."
'Tapi jiwa kaisar menyuruhku datang sendiri,' Alice membatin bimbang.
...---...
Celine terbangun di sebuah ruangan tua dengan dinding bagian atas penuh tanaman merambat. Sementara alasnya merupakan kasur keras yang rapuh seperti sudah bertahun-tahun tidak dipakai.
Decitan yang berasal dari gesekan antara pintu dengan lantai membuat atensinya beralih, hadus bersurai merah itu kembali menjerit saat melihat sosok yang memasuki ruangan di mana dia berada.
Sosok itu yang ia temui di depan rumah tua milik ahli sihir.
"Nona muda! Jangan takut, aku... tidak berbahaya dan tidak berniat menyakitimu," ujarnya menenangkan Celine. Dia mendekat dan menurunkan tangan gadis itu yang senantiasa menutupi pandangan matanya.
Perlahan Celine memberanikan diri membuka mata, dan menatap secara langsung sosok mengerikan bersurai panjang sepinggang dengan pakaian putihnya yang terlampau lusuh, wajah orang itu tidak begitu terlihat, namun Celine bisa meyakini kalau kulit yang tidak rata tersebut memiliki rupa mengerikan.
"Perkenalkan, aku tidak punya nama tapi kau bisa memanggilku ahli sihir penyuka buah apel," dia tersenyum, menampakkan deretan giginya yang tidak rata. Yang hampir membuat Celine pingsan lagi, seluruh gigi itu lancip, tidak ada yang persegi seperti miliknya.
Dengan perlahan menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan, Celine mulai memberanikan diri untuk bertanya, "Ja-jadi kau ahli sihir itu... kau bisa menggunakan sesuatu dengan sihirmu kan?"
"Tentu saja!" Jawabnya antusias, "Biar ku tebak nona muda, pasti kau datang kemari untuk meminta bantuanku menggunakan sihir, iya?"
"Iya."
"Perkenalkan dulu namamu, aku sudah tadi. Lalu dari mana asalmu, baru utarakan keinginanmu. Tapi... aku hanya akan mengabulakan permintaan tentang kebaikan ya."
Gadis itu mengangguk patuh, "Namaku Celine dari kota. Aku ingin meminta bantuanmu membangunkan Kaisar Enrique yang tertidur tanpa bisa dibangunkan."
Mendengar nama sang kaisar disebut, sosok itu tampak terkejut, matanya memerah bagai terdapat laser di dalamnya, "Kaisar yang tertidur?!"
...Tale of The Sleeping Emperor...
nagis aja gak akan ada hasil
ada lanjutnya ga thor