Perasaan yang benci lama-lama terluluhkan oleh seorang siswa yang super duper nakal yaitu Gita. Namun ia menemukan sikap dan sifat yang berbeda dari Gita yang membuat seorang guru sangat menyukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Martha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk
dari kejauhan tampak 2 orang tadi mengikuti mereka, tetapi Gito belum memberi tahu kepada pak Seno dan Gita. Karena tidak ingin kejadian terulang kembali Gito meminta Pak Seno melewati jalan yang ramai.
"Kamu kenapa sih? ini kan bukan mobil kamu. Kok kamu suruh-suruh pak Seno sih?" tanya Gita yang kesal kepada Gito.
"Bukan gitu, soalnya nanti kalau lewat jalan yang ramai kan enak lihatnya. Kalau jalan sepi seram tau. Oh ya, kamu kok tiba-tiba follow Instagram saya? Kamu kepo ya sama saya?" tanya Gito yang membuat pipi Gita tiba-tiba memerah. Karena ia sangat malu, dan ia juga tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Ya Tuhan. Kenapa di ungkit-ungkit lagi sih. aduhhhhhhh gimana dong? sabar Gita Lo harus tenang biar Lo bisa jawab" benak Gita
"idihhhh itu mah karena papa yang suruh, gue mah ogah kali." jawab Gita dengan sombong.
"masuk akal juga" jawab Gito
"eh, maksud Lo apaan. emang Lo pikir gue mau follow Lo gitu. Hello Lo sorry ya bapak guru yang sok keren yang keganjenan juga." jawab Gita yang emosi dengan jawaban Gito
"siapa bilang kalau saya keganjenan, kalau keren itu memang dari dulunya sama memang keren" jawab Gito tidak ingin kalah.
"Dari pada Lo, murid ternakal di sekolah. tau nya cuman ganggu orang"
"heh gue ngga pernah ya ganggu orang, mereka aja yang mulai duluan. gue ngga akan ganggu mereka kalau mereka ngga manas-manasin gue." jawab Gita.
"iya. iya" Gito pun tidak ingin berdebat lagi. Karena ia melihat orang-orang tersebut sudah dekat mobil. ia pun lalu menutup mulut Gita dan menyuruh pak Seno untuk berhenti.
Tiba-tiba mereka menyuruh untuk mengikuti mereka, tetapi Guno dengan sigapnya keluar dari mobil dan menghampiri mereka.
"kalian mau apa? kalau berani sini" ujar Gito.
Tentu saja mereka tidak berani melawan karena banyak orang. Mereka pun langsung kabur dan meninggalkan Gito.
"dasar sampah" ucap Gito.
"yok pak. jalan lagi"
"kamu kok tau kalau mereka ngikutin kita? emang dari tadi kah? kok kamu ngga bilang sih?" tanya Gita tanpa henti.
"sejak kapan kamu panggil saya dengan sebutan "kamu"? perasaan tadi pakai Lo gue? emang kita sedekat itu apa" tanya Gito.
Hal tersebut membuat Pipi Gita memerah.
"ya.. ngga gitu. ah udah ah malas aku ngomong."
Gito pun mengacak rambut Gita. ini ke dua kalinya jantung Gita berdetak kencang.
"ya Tuhan. please jangan gitu lagi, aku ngga sanggup" benak Gita sambil senyum sendiri.
Setelah sampai di rumah, Gita pun segera keluar mobil namun tiba-tiba saat ia menaiki tangga ia terpeleset dan untung saja Gito berada di belakangnya sehingga ia tidak jatuh ke tanah.
"wah... ada pemandangan yang indah" teriak Titin, dan Ayah Gita hanya tersenyum melihat adegan tersebut.
Gito pun langsung membantu Gita berdiri lagi.
"eh om" ucap Gito sekalian salaman dengan ayah Gita.
"iya nak. yok masuk dulu" pinta ayah Gita
"ngga om. saya langsung balik aja om, kasihan mama pasti udah tunggu di rumah" jawab Gito yang sedikit tidak enak.
"ya udah. Biar Seno aja yang antar ya. Soalnya motor kamu barusan om suruh orang ngantarnya" ujar ayah Gita
"iiiih papa ni ngga bilang kalau motor udah di antar. kalau gitu kan dia ngga perlu nebeng Gita tadi" ujar Gita dengan kesal. Sebenarnya Gito juga sudah tau kalau siang ini Motor sudah di antar ke rumah, tetapi karena kondisi yang tidak baik akhirnya Gito tidak memberi tahu kepada Gita.
"ah. ngga boleh kayak gitu. Dia kan juga guru kamu, siapa tau jadi calon suami kamu pula" gurau ayah Gita yang membuat Gito semakin tidak enak.
"ya udah om. saya permisi dulu ya" ujar Gito lalu masuk ke mobil.
Setelah Gito sampai di rumah Gito pun langsung membersihkan diri dan tidur siang. Karena ia merasa sangat capek. Saat tidur siang ia bermimpi kalau pacarnya menikam pisau ke dadanya dan ia pergi meninggalkan Gito.
Gito pun langsung terbangun. ia sangat takut kalau hal tersebut terjadi.
"Sayang, kamu jadikan Minggu depan balik ke Kalbar?" tanya gito
"jadi sayang. tapi kamu jangan jemput ya, kemungkinan aku datangnya sekitar jam 11. Kamu kan harus ngajar" balas pacar Gito
"ngga apa-apa sayang. aku bisa izin kok demi kamu" balas Gito
"jangan sayang. aku ngga mau kamu kayak gitu. Kamu kan baru ngajar di sekolah jadi jangan rusakin reputasi kamu ya" balas pacar Gito. Gito pun merasa ada benarnya apa yang di bicarakan pacarnya.
Gito pun bergegas memasang sepatunya karena ia merasa masih ada waktu untuk joging. saat Gito turun ayah Gito memberi tahu kalau nanti malam ada Acara dan Gito harus ikut. Tentu saja Gito tidak menolak permintaan ayahnya.
Saat Gito sedang membantu anak-anak menyebrang jalan Gito melihat seseorang yang tidak asing baginya. ia terus mengikutinya dan ternyata itu membuat Gito benar-benar hancur.
Gito pun mengeluarkan handphonenya
"sayang kamu di mana?" tanya Gito
"aku masih di Jakarta, kenapa?" tanya balik pacarnya
"oh gitu, kamu ngga bohongkan?" tanya Gito
"ngga lah sayang. aku masih di kantor ni, nanti aku telfon lagi ya" pinta pacarnya
"nanti dulu. lihat kebelakang dulu" pinta Gito
saat pacarnya yang ia sayangi ternyata jalan bareng sahabatnya sendiri. Dan pacarnya membohonginya demi sahabatnya itu. Gito pun langsung mematikan telfonnya dan berjalan melewati mereka seperti tidak kenal.
Seorang laki-laki bisa saja lebih setia dari perempuan, tetapi jika sekali hatinya sudah tersakit. Obat apapun itu tidak akan pernah mampu mengobatinya.
"Gito... Gito" panggil pacar Gito
Gito sosok orang yang tidak pernah main tangan meskipun ia tersakiti. ia tidak ingin orang yang dia sayangi merasa tidak senang.
Gito pun tetap tegar sambil meneteskan air mata. Meskipun ia tahu jika ini sangat menyakitkan baginya. Pacar dan sahabatnya sendiri bersekongkol di belakangnya.
Sesampainya di rumah ia segera mandi dan bersiap-siap untuk menemani ayahnya. terlihat dari notifikasi 20 panggilan tak terjawab dan chat dari pacarnya. Gito pun langsung memblokir kontak pacarnya, karena ia merasa tidak perlu di jelaskan lagi dan hubungannya dengan pacarnya benar-benar sudah putus.
Gito pun menarik napasnya dalam-dalam, ia tahu bahwa hatinya saat ini memang sangat rapuh tetapi ia juga tidak ingin mempermalukan ayahnya.
menuruni anak tangga
"ayah, Gito siap' ujar Gito yang membuat ibunya terpukau dengan ketampanan Gito.
"wah anak ku. gantengnya" ujar ibu Gito
"anak siapa dulu dong." ucap Gito
"ah. Gisel juga cantik kan ma" ujar Gisel yang tidak mau kalah lawan Gito sambil menjulurkan lidahnya.
"iya iya. anak papa dan mama semuanya ganteng dan cantik" ucap mamanya
"ya udah. yok Gito, nanti kita terlambat pula" ucap ayah Gito.
kelanjutan nya..