Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Rutinitas biasa
Ayah Delia yang ditangkap karena kasus pencurian ringan saat ini sedang menjalani hukuman satu bulan penjara yang tersisa tinggal dua pekan lagi.
Nathan mengetuk pintu rumah papan yang rapuh itu.
"Permisi..."
Pintu terbuka, dan Delia muncul. Penampilannya terlihat sedikit lebih rapi dibandingkan pertama kali Nathan datang.
"Eh, Pak Polisi!" seru Delia terkejut.
Ibu Delia segera datang dari arah dapur. "Ah, Pak Nathan! Silakan masuk, Pak."
Nathan tersenyum tipis dan berdiri di ambang pintu. "Tidak perlu, Bu. Saya hanya sebentar. Saya ke sini mau menyampaikan informasi terkait pekerjaan yang pernah saya katakan."
Ibu Delia dan Delia saling tatap dengan raut wajah berharap.
Nathan mengeluarkan secarik kertas berisi alamat dan nama kontak. "Pemilik restoran di dekat persimpangan distrik sedang membutuhkan tenaga tambahan di bagian dapur dan pelayanan. Saya sudah bicara dengan Komisaris Martin, dan pemilik restoran itu menyetujui untuk menerima Ibu bekerja di sana mulai lusa depan. Gajinya cukup untuk kebutuhan harian."
Ibu Delia membelalak, air matanya menetes seketika.
Ia menggenggam tangan Nathan dengan penuh rasa syukur.
"Terima kasih banyak, Pak Nathan... Terima kasih banyak. Kami tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak dengan cara apa."
"Tidak perlu membalas apa-apa, Bu. Yang penting setelah suami Ibu bebas nanti, pastikan beliau tidak mengulangi perbuatannya lagi dan bisa bekerja di tempat yang benar," jawab Nathan tenang.
Ia lalu menatap Delia. "Untuk Delia, di area dekat pasar ada toko kelontong besar yang mencari kasir paruh waktu shift pagi. Kamu bisa coba melamar ke sana jika ingin membantu keuangan keluarga sambil menunggu ayahmu bebas."
Delia mengangguk mantap dengan mata berbinar. "Baik, Pak! Saya pasti akan ke sana hari ini juga!"
Setelah memastikan kondisi keluarga itu aman, Nathan pamit pergi.
Tujuan Nathan berikutnya adalah Panti Asuhan Memberi Kasih.
Menggunakan kombinasi uang bonus resmi dari kepolisian dan sisa uang dari sistem, Nathan memesan satu truk bahan makanan pokok—beras, minyak goreng, telur, susu, dan daging segar serta memanggil tukang bangunan lokal.
Tiba di panti asuhan, anak-anak kecil bersorak gembira melihat truk bahan makanan datang. Ibu Panti keluar dari dalam rumah dengan wajah terharu dan heran.
"Nathan... Ini semua apa, Nak?" tanya Ibu Panti saat melihat para pekerja mulai menurunkan karung-karung beras dan bahan makanan.
"Ini bantuan untuk panti, Bu. Hasil bonus pekerjaan saya kemarin," jawab Nathan sambil tersenyum.
Bukan hanya bahan makanan, Nathan meminta tukang bangunan untuk mulai mengukur dan memperbaiki bagian atap panti yang bocor, mengganti kayu-kayu yang lapuk, serta mengecat ulang dinding luar yang sudah mengelupas.
Ibu Panti tidak berhenti mengusap air matanya. Beban berat yang membelenggunya selama berbulan-bulan terkait operasional panti seketika terangkat.
Anak-anak panti berlarian mengelilingi Nathan, menarik-narik ujung jaketnya dan mengajak bermain.
Nathan menghabiskan sisa siang itu di panti. Ia ikut membantu merapikan gudang penyimpanan, mengecat dinding teras bersama tukang, dan makan siang bersama anak-anak serta Ibu Panti.
Melihat panti asuhan tempatnya dibesarkan kini menjadi jauh lebih layak dan aman memberikan rasa tenang yang luar biasa di dada Nathan.
Malam harinya, Nathan kembali bertugas di Distrik 1 untuk menjalankan shift malam.
Suasana kantor terasa familiar. Suara radio komunikasi berisik sesekali menanggapi laporan warga, bau seduhan kopi hitam memenuhi ruangan, dan kertas-kertas laporan tertumpuk rapi di meja.
Niko sedang duduk menyandarkan kepala di meja kerja, sementara Reno sibuk memainkan pemantik api sembari membaca koran lokal yang memuat foto mereka.
"Lihat ini, Nathan," panggil Reno sambil menunjukkan halaman depan koran. "Mukaku di foto ini kelihatan agak blur. Wartawannya tidak profesional sekali mengambil foto."
Nathan terkekeh pelan sambil meletakkan cangkir kopinya di meja. "Yang penting bonusnya cair, Reno."
Niko mengangkat kepalanya, tersenyum lebar. "Benar kata Nathan! Yang penting uangnya asli. Anakku tadi sore senang sekali waktu kupeluk sambil kubawa mainan baru."
Pintu ruangan utama terbuka. Komisaris Martin keluar memegang cangkir kopinya sendiri, mengenakan kemeja dinas yang lengan bajunya digulung hingga siku. Ia menatap tiga bawahannya itu.
"Kalian bertiga, jangan cuma mengobrol," tegur Martin, meski sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis. "Laporan warga terkait keributan kecil di pemukiman sektor 2 baru saja masuk. Lakukan patroli seperti biasa."
Nathan, Reno, dan Niko segera berdiri tegap, merapikan sabuk dinas dan topi mereka.
"Siap, Pak!" jawab mereka kompak.
Mereka bertiga melangkah keluar dari kantor polisi menuju mobil patroli yang baru saja selesai diperbaiki.
Di luar, angin malam Distrik 1 berembus dingin menyapu jalanan.
Lampu-lampu jalanan menyala remang-remang membelah kegelapan.
Nathan berjalan di samping rekan-rekannya, menikmati keheningan malam dan dinamika pekerjaan kepolisian yang sesungguhnya.