Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang sebuah pengorbanan seorang gadis cantik untuk keluarganya. Ia dipaksa menikahi kekasih kakaknya sendiri untuk menyelamatkan nama baik keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Nameera
Hubungi keluarganya, " Alex terdiam sejenak, Ia melihat dan menatap wajah Diana yang sekarang sedang duduk di atas ranjangnya, "Aku akan segera kembali. "
Alex melangkah mendekati ranjang Diana, Alex menatapnya tapi Diana mengalihkan pandanganya dari Alex.
"Kekanakan. " Desisnya
Diana sungguh tidak memperdulikan keberadaan Alex disana, Ia sungguh tidak ingin memandang wajahnya. Karena, hal itu akan terlalu menyakitkan baginya. Melihat wajah seseorang yang sudah merusak paksa dirinya. Tiba tiba Diana turun dari ranjangnya, berjalan dengan langkahnya yang terhuyung dan hampir terjatuh, namun dengan sigap lengan Alex menatahan tubuhnya.
"Kau mau kemana? Aku antar. " Ucapnya tetap dengan nada dinginnya dan tatapan kesal menatap Diana,karena Diana yang tiba tiba turun dari ranjangnya, padahal jelas jelas tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.
Diana menyingkirkan lengan Alex dari tubuhnya, Alex mengerutkan dahinya menatap heran tingkah Diana. Diana memilih berjalan sendiri menuju ke kamar mandi, Ia tidak perlu bantuan siapapun, terlebih lagi dari Alex. Dengan langkah yang agak sulit, Diana tetap berusaha dan tetap berjuang. Badanya masih terasa sangat lemas dan kepalanya juga pusing, langkah Diana terhuyung hingga sesekali Ia akan terjatu ke lantai, namun dengan sigap Alex membantunya. Namun, Diana melepaskan kembali genggaman tangan Alex pada tubuhnya, Diana tidak perlu itu.
Sesampainya di depan pintu kamar mandi, baru saja lenganya memegang kenop pintu dan hendak membukannya, Alex sudah mengatakan sesuatu yang membuat langkahnya tercekat dan tercengang.
"Kita harus segera kembali, Nameera sedang sakit. Ia membutuhkanmu segera. " Ujarnya masih dengan nada dinginnya, seolah itu adalag hal biasa baginya
Apaa?! Diana membatin
Seperti hantaman berat pada dada Diana, kondisinya bahkan belum pulih seutuhnya. Tapi, kenapa Alex tega berkata seperti itu. Beberapa detik Ia hanya termangu tanpa kata dan tanpa membalikan tubuhnya. Diana masih berdiri membelakangi Alex, Diana Menundukan wajahnya ke lantai dengan tatapan nanar. Ia mencoba mengatur nafasnya, menahan kesedihannya. Diana tahu, Ia tidak boleh lemah, Ia tidak boleh kalah oleh keadaan.
"Baiklah, aku akan segera bersiap. " Ujarnya dengan tenang, mencoba mengontrol dirinya agar tidak gusar.
Dengan cepat Diana membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian langsung menguncinya. Diana menyenderkan tubuhnya pada pintu kamar mandi, tubuhnya melorot hingga duduk di lantai. Diana duduk sembari memeluk lututnya, tatapannya kosong dengan bibir yang terus bergetar. Air matanya mengalir tanpa Ia kehendaki, di keadaan yang paling kelam dalam hidupnya, orang lain bahkan masih ingin memanfaatkanya. Diana membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangan, Ia tidak ingin tangisannya terdengar ke luar kamar mandi. Hatinya terasa sangat sakit, dadanya terasa sesak. Diana tidak bisa menahanya, keadaan begitu menyiksa fisik dan batinnya.
'Apa kesalahanku padamu? Kenapa kau tidak pernah bisa membuatku tenang? Kenapa kau terus menyakitiku? Bunuh saja aku! Kenapa kau malah menyelamatkanku! Kenapa? ! '
Alex mengetuk pintu kamar mandi karena Diana terlalu lama berada di dalamnya, Ia cemas jika gadis bodoh itu akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Karena perbuatanya itu, Alex bahkan di tatap dengan tatapan sinis orang orang yang melihatnya. Seumur hidupnya, itu adalah penghinaan besar bagi dirinya.
Diana begitu lama di kamar mandi, padahal Ia tidak melakukan apa apa di dalam. Ia hanya menghindar dan tidak ingin bertemu dengan Alex.
Setelah mendengar suara pintu di ketuk dari luar, Diana langsung menghapus air mata yang membasahi pipinya. Diana beranjak dan mencoba merapikan penampilannya. Diana mencoba mencuci wajahnya agar tidak terlihat bahwa dirinya telah menangis.
"Kau duluan saja, aku akan menyusulmu. " Teriaknya dari dalam kamar mandi.
Alex mengeryitkan keningnya dan menjadi kesal mendengar perkataan dari Diana,"Cepat! Aku menunggumu. " Tegasnya sembari mengetuk kamar mandi.
Kenapa hatinya terasa sangat sakit, padahal ini bukan pertama kalinya Alex membentak dan berperilaku kasar kepadanya. Diana segera menyelesaikan aktivitasnya, Ia memakai setelan jeans dan baju lengan panjang, dengan syal yang melilit di lehernya. Ia menutupi rapat bagian tubuhnya, Diana tidak mau bertemu dengan seseorang dengan penampilannya yang terlihat begitu menyedihkan. Apalagi, mengingat Ia akan pergi ke rumah sakit dan menemui Nameera. Pasti otomatis keluarganya ada di sana, termasuk ayahnya.
Ayah, aku sangat merindukanmu. Ayah maafkan aku telah bertindak konyol.
Diana menahan tangisnya, Alex tengah menunggunya dan sudah terlalu lama dirinya berada di dalam kamar mandi. Diana harus cepat keluar dan tentunya harus terlihat baik-baik saja. Diana mencoba menenangkan hatinya, meskipun sekuat apapun dirinya mencoba dan Ia selalu gagal. Rasanya Diana ingin lari dan lenyap saja dari dunia ini, apalagi ketika Ia melihat wajah Alex yang terlihat biasa akan keadaannya. Itu membuatnya semakin ingin menenggelamkan dirinya lagi.
Diana membuka pintu perlahan, terlihat Alex yang tengah menunggunya. Mungkin, terlalu lama menunggu. Alex menatapnya tajam, Diana mengalihkan pandangnya. Diana berjalan menuju keluar ruangan, Alex mengikutinya dari belakang. Tubuhnya masih terasa sakit dan kepalanya juga masih terasa pening, berjalan sedikit saja sudah membuatnya merasa pengap. Sesekali langkahnya goyah, namun Diana bersandar pada tembok agar menahan tubuhnya. Alex hanya memperhatikannya.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, di bandara sudah ada Zeno yang datang menjemput mereka.
"Tuan muda, Nona. Silahkan. " Ucapnya sembari membukakan pintu mobil
Diana berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat Nameera. Sesampainya di sana, Ia melihat ayah dan ibunya sedang menunggu di luar dan berbicara kepada dokter.
Diana langsung memeluk sang ayah dengan erat, air mata tidak terasa menetes dari kelopak matanya. Ingin rasanya Ia mengeluh dan menceritakan kesulitanya pada sang ayah. Namun, Diana tidak ingin membuat ayahnya khawatir.
Wajah Diana terlihat pucat pasi dengan matanya yang sembab, Ayahnya yang melihat itupun tampak khawatir dengan kondisi putrinya.
Sembari menghapus air mata Diana yang mengalir membasahi pipinya,
"Apa kau sakit, Nak? Kau tampak pucat? " tanya sang ayah dengan raut wajah khawatir
"Aku baik baik saja, Ayah. " Jawabnya tersenyum sembari menggeleng pelan.
"Yang sakit itu putrimu Nameera, bukan dia." Timpal ibunya seraya menarik lengan Diana dan menyerahkannya kepada dokter agar segera melakukan tranfusi darah pada Nameera.
Diana menatap wajah Alex yang tampak memperhatikan perdebatan antara keluarga ini, tatapan Diana seakan memohon agar Alex menghentikanya melakukan tranfusi darah pada Nameera. Karena Diana sendiri belum sepenuhnya pulih.
Alex tampak acuh dan langsung mengalihkan pandanganya dari Diana. Ia benar benar tidak peduli pada kondisi Diana.
Baiklah, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Tanpa berontak,tanpa memohon dan tanpa air mata. Aku sudah lelah memohon padamu untuk sebuah kesempatan.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menyemangati author ya. 😍