"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbincang dengan Mr. Vano
"Ini atas nama siapa aja?" tanya Jimmy kepada Vano. Saat ini mereka berada di saung ujung kolam renang rumah Vano, melakukan survei lokasi. "Katanya dua keluarga," lanjut Jimmy lagi.
"Kasih kertasnya nanti saya catat." Jimmy menyerahkan nota kecil yang sedari tadi dia pegang. "Jangan sampai ada yang terlewat ya Jim."
"Iya siap bang."
"Maaf kemarin gak dateng ke acara nikahan kamu Jim, karena acara nikahan-mu bertepatan sama kelahiran putriku."
"Iya saya ngerti kok Bang,"
"Nanti usahakan bawa istri kamu kesini." ucap Vano.
"Oke..." jawab Jimmy, lalu bergantian mencatat semua yang akan dibutuhkannya nanti. "Total kira-kira mengundang tamu berapa?"
"Hanya seratus orang saja," jawab Vano sambil menyesap kopinya. "Kamu nggak merokok?"
Jimmy menggeleng, "batuk saya Bang, sudah pernah coba berkali-kali."
"Saya menghormati kamu kalau begitu" Vano kembali meletakkan rokoknya. "Sudah punya berapa crew di usaha decoration ini?"
"Sedikit, baru sekitar lima belas orang."
"Berarti kamu punya gudang sama mess-nya sendiri?"
"Punya, di dekat rumah."
"Buket bunganya juga sekalian."
"Dua juga Bang?"
Vano mengangguk. "Mau tahu, satu buket bunga itu biasanya kamu lepas berapa?"
"Tergantung, beda-beda harganya, sesuai permintaan dari customer."
"Dimulai dari harga berapa?"
"Karena itu bunganya asli import, memang agak mahalan Bang, paling murah delapan ratus ribu, dan yang paling mahal diatas satu jutaan."
Vano terus bertanya-tanya layaknya wartawan kepada narasumbernya. "Kamu berhasil?"
Jimmy mengangguk, kemudian berujar "Alhamdulillah, tolong bantu rekomendasikan 'Jims flower' kepada saudara atau kerabatmu ya Bang..."
"Ya, pasti saya bantu kamu."
"James dimana, nggak kelihatan? Saya juga belum melihat bayinya. Cewek kan Bang?"
"Iya cewek, James lagi diatas sama Mami dan adiknya" jawab Vano sambil berbisik. "Istriku belum tahu kalau saya mau ngasih kejutan."
"Oooh, lah nanti kalau kita pasangnya gaduh gimana, apa nggak ketahuan?"
"Kamu bilang sama mereka, supaya volumenya dikecilin."
"Tapi Bang, mulut karyawanku macam speaker bioskop, keras semua."
"Hahaaa...." keduanya tertawa bersamaan.
Mereka menikmati kopi dan berbincang sampai tak sadar hari telah larut malam. Vano memekik dalam hatinya saat melihat jam ditangan kirinya.
"Kita nggak sadar berduaan dari siang sampai se-malam ini." Vano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Pasti saya dapat hukuman."
Jimmy tertawa lagi. "Kupikir orang kayak Abang nggak takut istri,"
"Istriku galak, kalau marah nggak main-main ngasih hukumannya."
"Masa sih?" Jimmy berekspresi tak percaya.
"Iya, dulu aja pernah mau diungsikan ke apartemen sebulan. Beruntung bisa ngakalinnya."
Jimmy beranjak dari duduknya. "Yaudah kalau gitu sampai ketemu lagi besok. Saya juga nggak enak pulang terlalu malam."
"Pengantin baru." Vano meledeknya hingga Jimmy terkekeh.
***
Jimmy langsung pulang setelah selesai berunding dengan anak-anak di-mess perihal pemasangan dekorasinya besok di kediaman keluarga Vano.
Turun dari mobilnya, Jimmy merogoh kunci yang berada di kantong saku celana bagian kiri. Rumah sudah sepi, lampu pun sudah dimatikan. Ya, wajar saja waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tak ingin mengganggu tidur seseorang yang sedang nyenyak, Jimmy berjalan mengendap-endap dan sengaja mandi di kamar sebelah agar tak menimbulkan suara berisik.
Setelah membersihkan diri, Jimmy membuka pintu kamar pelan-pelan.
"Tumben baru pulang?"
Jimmy sedikit tersentak. Padahal dia sudah berusaha beraktifitas selirih mungkin, tapi ternyata Mutia tetap terbangun juga.
"Iya tadi habis ketemu sama temen,"
"Teman siapa?"
"Teman..." Jimmy belum mempersiapkan jawabannya. Tidak mungkin kan? Dia mengatakan 'orang yang pernah ku tolong. "Ya biasa, teman Mas kan banyak."
"Yaudah, matiin lagi lampunya."
"Iya," Jimmy mematikan lampunya kemudian merebahkan diri di sebelah Mutia.
"Dek, boleh peluk nggak?" tanyanya setelah terdiam beberapa saat.
"Hmm..."
Jimmy bingung, 'hmm' itu iya atau tidak?
Jimmy mencoba melingkarkan tangannya ke pinggang Mutia. Terdiam beberapa saat untuk menunggu responnya. Ternyata Mutia tidak bersuara atau melayangkan protes. Laki-laki itu tersenyum dan lantas berucap "perlu di save dalam memori ya dek, "hmm" berarti boleh."
***
Ya boleh, kata Ana.
To be continued
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭