Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17-Pernikahan Paksa
Selamat Membaca 🐣
Wajah cantik Viana tidak berani menatap Harry, bukan Harry namanya kalau dia tidak pandai untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Harry menarik Viana, bukan Viana namanya kalau menyerah sebelum mencoba.
"Tatap aku Vi!" perintah Harry yang membuat Viana merasa sedikit takut.
"....." Viana masih menunduk, tangannya meremas kasur untuk menutupi rasa takutnya.
"Aku tidak suka mengulangi ucapan ku!"
Viana mengangkat wajahnya untuk menatap Harry yang menahan amarahnya, kali ini Harry menyeringai melihat Viana yang menuruti dirinya. Harry merasakan kepuasan tersendiri, dia bisa merasakan rasa takut Viana yang justru membuat Harry begitu bahagia. Yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.
"Mulai saat ini dan seterusnya kamu hanya milik ku, Viana. Dan kamu harus menjaga jarak dari laki-laki manapun, terutama Tomi!" Harry memberikan penekanan pada kalimat belakang.
"Aku tahu, tapi jika suatu saat aku tidak bisa memberikan sesuatu yang kamu inginkan jangan salahku aku!" Viana bicara dengan nada bergetar menahan Isak tangisnya.
"Tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan, lagi pula tidak akan aku biarkan orang lain mengambil mu."
"Apa kamu sungguh mencintai ku?" tanya Viana yang kini sudah berani menatap Harry.
"....." Harry masih diam, memastikan hatinya.
Kini posisi berbalik, Viana yang sekarang mendominasi ketimbang Harry. Jika masalah ancaman mungkin Harry yang menang, tapi jika masalah kejujuran Viana pemenangnya dalam hal ini. Diamnya Harry membuat Viana mencurigainya.
"Jangan bilang pernikahan ini hanya permainan?!" Viana menangis pilu, sekali lagi harus kecewa.
"Kalau iya kenapa? dan kalau tidak kamu mau apa?"
"Kalau iya, batalkan saja! tapi kalau tidak aku akan berusaha untuk menjalani ini semua."
"Biar aku jujur, kamu hanya pelampiasan untuk dendam ku pada Tomi yang sudah merebut Nayla dari ku! lagi pula kamu kan tidak mau menikah dengannya." Harry membuat Viana hancur dengan kejujurannya.
"Jadi selama ini--" Viana tidak melanjutkan ucapannya.
"Iya, aku hanya ingin melakukan apa yang di lakukan Tomi kepada Nayla puas!"
"Tolong batalkan pernikahan ini, aku mohon!" Viana menangis sejadi-jadinya, terasa hidupnya sudah tidak ada artinya.
"Tidak semudah itu, kamu yang memaksa ku untuk jujur bukan? tenang saja, setelah satu Minggu kita akan bercerai. Aku hanya ingin membuat Tomi menderita itu saja, jangan berani kabur karena Aku akan membuat mu menderita jika melawan ku!"
"Harry, kamu jahat, kamu kejam!"
"Terserah!"
Harry mengurung Viana dalam kamarnya, sedangkan dia pergi keluar untuk mencari ketenangan. Harry pergi ke dalam hutan, mengintai mangsa untuk memuaskan dahaganya. Di Mansionnya, Margaretha membantu Viana untuk keluar dari kamar Harry. Kini Viana dan Margaretha sibuk menyusun rencana untuk menghindari pernikahan yang di rencanakan Harry.
*********
Keesokan harinya, Harry kembali dengan wajah yang segar. Melihat Viana tidak ada, Harry masuk ke dalam kamar Margaretha. Terkejut dengan kedatangan Harry membuat Viana menjatuhkan handphonenya, terlebih hanya ada mereka di sana. Margaretha sudah berangkat ke kantor.
"Menelpon siapa?" tanya Harry menyelidiki.
"Tante," jawab Viana singkat.
"Ayo bekerja sama! bantu aku mendapatkan Nayla dan aku akan membantu mu mendapatkan Tomi kembali!" tawaran yang Harry berikan sangat tidak masuk akal.
"Aku bukan pengemis cinta, Tomi sudah mengkhianati ku. Aku tidak akan mengharapkan dia lagi."
"Viana kamu memang gadis pintar, sayangnya kamu tidak bisa memahami Tomi. Kamu tidak mau menikah dengan ku, tapi juga tidak mau kembali dengan Tomi. Apa kamu tidak memikirkan nasibmu nanti?" tanya Harry dengan senyum miring.
"Terima kasih, bertemu dengan mu adalah nasib buruk ku!" Viana hanya mengucapkan terima kasih dan tidak berniat untuk melawan Harry, Viana jadi tahu Harry begitu licik.
Harry menarik Viana menuju Kamarnya, benar-benar gila. Viana sudah memberontak tetap saja gagal, hal yang tidak di inginkan terjadi untuk kedua kalinya. Pemaksaan dalam hubungan demi mendapatkan hubungan lainnya telah menghanjurkan banyak hati. Terutama Viana yang berniat meninggalkan pengkhianat, malah bertemu penjahat lainnya.
Kamar itu menjadi saksi, betapa gadis malang itu di perlakukan tidak senonoh. Viana berjalan tertatih menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, selanjutnya hanya hari-hari yang penuh kesedihan yang dia hadapi. Harry yang sudah terbangun menyadari bahwa Viana tidak ada di sampingnya, merasa khawatir Harry mengetuk pintu kamar mandi.
Tidak ada suaranya, tapi terkunci. Harry mendobrak pintu kamar mandi dan melihat Viana tergeletak dengan handuk yang basah. Wajah gadis itu terlihat pucat, Harry membawa Viana menuju kasur. Sesekali Harry membelai pucuk kepala Viana.
"Maaf atas kata-kata kasar ku yang mungkin menyakiti mu, jujur aku hanya ingin tahu isi hati mu. Ya, harus aku akui ingin sekali aku membalas perbuatannya Tomi. Tapi aku tidak akan menyakiti istri ku nantinya, Aku sungguh mencintai mu." Harry menggantikan pakaian Viana.
Ketika Viana baru bangun, sekujur tubuhnya terasa sakit. Kepalanya juga masih pusing, terasa ada beban di perutnya. Ternyata tangan Harry melingkar di sana, dengan sigap Viana menyingkirkan tangan Harry. Setiap kali melihat Harry, hati Viana teriris. Siapa yang ingin memiliki calon suami yang tidak mencintai calon istrinya? pernikahan itu suci dan sakral.
"Aku harus pergi dari sini," batin Viana.
Sebelum Viana beranjak, tangan Harry sudah mencekal pergelangan tangannya. Viana menoleh, hatinya menciut melihat Harry yang sudah bangun. Harry masih menatap Viana dingin, tanpa bisa di cegah buliran bening menetes begitu saja. Viana mengalihkan wajahnya untuk mengindari tatapan Harry.
"Lepaskan, aku mau pulang!"
"Ini rumah mu Viana, mau pulang kemana lagi?" tanya Harry yang tersenyum simpul.
"Aku tidak pernah menganggap ini rumah ku," jelas Viana yang kini malah membuat hati Harry yang teriris.
Viana memang berbeda dari yang lain, gadis di samping Harry begitu keras kepala. Meski sudah di perlakukan demikian, dia masih bersikukuh untuk pergi. Kalau gadis lain pasti akan meminta pertanggungjawaban, bukannya Viana munafik. Bagi Viana meminta pertanggungjawaban hanya sia-sia, karena sifat yang Harry tunjukkan begitu kejam di mata Viana.
"Mulai sekarang ini rumah mu juga!" Harry menarik Viana untuk ikut dengannya.
"Lepaskan! kamu mau membawa ku kemana?" tanya Viana yang masih di tarik oleh Harry.
Harry membawa Viana masuk ke dalam mobil, entah kemana Harry akan membawa Viana pergi. Viana tidak lagi bertanya, percuma Harry tidak menggubris perkataannya. Setelah beberapa jam perjalanan, ternyata Harry membawa Viana ke sebuah Mansion. Viana sendiri tidak tahu itu mansion siapa.
Harry membawa Viana masuk dari pintu belakang, Viana sangat terkejut melihat mua yang sudah menyiapkan gaun pernikahan. Harry meninggalkan Viana dan saat ini wajah Viana sudah di rias. Cantik sekali, hati Viana berdebar hari penderitaannya akan di mulai.
"Margaretha," ucap Viana yang sangat terkejut.
"Maaf aku sudah berusaha, tapi--"
"Ayo nona, kita harus turun ke bawah!" seorang wanita menggandeng Viana untuk turun ke bawah.
"Aku tidak percaya ini, aku akan menikah SEKARANG?" Viana hanya dapat bicara dalam hatinya saja.
Bersambung 🌻
Fyi guys
Cerita yang sesungguhnya baru saja di mulai, bab pertama sampai sekarang itu baru pemanasan aja. Belum apa-apa, jadi kalian yang udah nungguin upnya semangat ya ngasih like buat Author. Author emang gila like, apresiasi buat Author semangat soalnya ✌️😂 canda tapi serius.
Siapa coba Author yang nolak like?
Yang nolak like, sini aja kasih author likenya 🤭