Seorang pemuda yang baru saja mengakhiri perang abadi antara dewa dan manusia kini sudah mati bersama dengan lenyapnya dewa, di atas ruangan kematiannya sendiri kini dia hanya diberi satu pilihan yakni harus menyelamatkan dunia yang baru saja ia selamatkan.
"Tidak ada cara menolaknya, bila ada? Mungkin sudah ku tolak dari dulu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 18 - Menuju Kota Luashi
Wajah dari Xian Nian tampak cemberut sepanjang perjalanan, dirinya tidak terima dengan rencana keberangkatan menuju kota terdekat ini yang memaksanya bangun sangat pagi, lebih pagi dari biasanya ia bangun.
“Kenapa? Apa kau masih tidak terima dengan masalah bagun pagi tadi?” Saudaranya Xian Han tampak mendekatinya dengan wajah yang mengesalkan bagi Xian Nian, “Ah aku lupa itu! Julukan mu di sekte kan sebagai putri tidur, maafkan aku tuan putri” setelah kata itu terucap dari mulutnya, pukulan keras mendarat tepat diperutnya.
“Bila kau ingin mati silahkan saja. Aku tidak akan menghalangi mu, tidak aku akan memberi dukungan lebih kepada mu” Xian Nian memandangi saudaranya yang sedang berlutut kesakitan, dirinya tampak menatap Xian Han dengan tatapan merendahkan.
Xin Chen yang hanya bisa menikmati pemandangan itu hanya bisa meneguk air ludahnya kembali sambil sedikit bergetar, ‘Wanita lebih menakutkan dari pada mahkluk manapun, aku percaya itu. Tapi aku tidak percaya bisa semenakutkan ini!’ Xin Chen mengalihkan pandangan nya dari mereka berdua memandang kearah lain, dihatinya dia berharap adiknya tidak akan seganas itu dimasa depan.
“Rasanya sangat menyenangkan! Nah ayo lanjutkan perjalanannya” Ucap Xian Nian dengan menunjukkan wajah segarnya, yang membuat Xin Chen sedikit mengerutkan dahinya tidak percaya dengan yang baru saja dilihatnya.
Wajah bugar dari Xian Nian memang tidak dibuat-buat membuat Xin Chen bertanya-tanya dari mana ia mendapat kepuasan untuk mengganti kualitas tidurnya. Xin Chen kemudian kembali menatap ke arah Xian Han, dirinya sempat tersedak nafasnya sendiri karena mendapati Xian Han tidur dengan tubuhnya yang sudah babak belur.
‘Perempuan ini sangat sadis! Dia juga ada ditingkat Bintang Dua Emas, pencapaian yang bisa dibilang tinggi untuk anak seumurannya’ Batin Xin Chen menatap kearahnya, tapi karena merasa ada yang menatapnya secara refleks dia langung memandang kearah Xin Chen dengan cepat.
“Ada apa?”
Xin Chen sedikit gugup saat pandangan mereka bertemu, dan memutuskan untuk tidak mencari masalah lebih lanjut, “Tidak, tidak ada apa-apa” Ucap Xin Chen mengalihkan pandangannya, jelas dirinya tidak ingin berakhir seperti Xian Han yang terbaring babak belur.
Tapi Xian Nian tidak mudah percaya dengan perkataan Xin Chen dirinya ingin bertanya lebih lanjut, tapi setelah mendapati adik Xin Chen mulai aktif dan membuka matanya dirinya mengurungkan niatnya tersebut.
“Adikmu! Biar ku urus” Ucap Xian Nian sembari menjulurkan kedua tangannya dengan mata berbinar-binar.
Xin Chen hanya bisa menghela napasnya lega, saat ini ia sangat berterima kasih kepada adiknya karena sudah menyelamatkannya di waktu yang sangat tepat.
Xin Chen menyerahkan adiknya tersebut kepada Xian Nian, bebannya sedikit terangkat untuk merawat Xin Ying, dilain sisi sebenarnya Xin Chen sedikit terburu buru untuk sampai ke kota, sadar bahwa susu yang menjadi persediaan makan bagi Xin Ying mulai menepis.
“Bisakah kita lanjut perjalanannya” Xin Chen pada awalnya ingin mengatakan hal tersebut, tapi sudah didahului oleh saudara dari Xian Nian yang mulai bisa berdiri dari tidurnya.
“Apa kau tidak apa-apa? Saudara Han”
“Tck, lupakan saja dia! Ayo kita lanjut” Xian Nian berjalan terlebih dahulu bersama Xin Ying yang ada di rangkulannya, kemudian di ikuti oleh Xin Chen yang membantu Xian Han berjalan.
Karena jarak mereka sedikit jauh, Xin Chen memberanikan diri untuk menanyakan beberapa hal yang sedikit sensitif bagi orang yang tidak memiliki pasangan hidup dan orang yang masa depannya tidak cerah kepada Xian Han yang sedang dibantunya saat ini.
Xin Chen ingin tahu apa yang sedang dipikirkan perempuan yang ada di dunia ini, tapi sayangnya Xian Han juga tidak memiliki pengetahuan akan hal itu, dirinya mengaku masih memperjuangkan seorang perempuan yang ada di Sekte nya.
“Sekte ya? Kalian dari sekte mana?” Xin Chen memutuskan untuk mengenal lebih jauh mereka berdua, Xin Chen juga sadar setidaknya mengetahui pengetahuan dasar dunia ini akan lebih mudah dengan bantuan dua saudara ini.
“Kami-“
“Kami dari sekte yang dipimpin Jagoan Pedang generasi ini!” Sahut cepat Xian Nian
“Jagoan Pedang? Apakah itu sebuah pencapaian yang besar?”
“Bukankah itu sudah jelas” Xian Nian memandanginya dan menyadari Xin Chen tidak kaget sama sekali oleh gelar manusia tersebut, Xin Chen malah tampak biasa saja, padahal biasanya orang-orang yang mendengarkan kalimat tersebut akan bergetar ketakutan atau kemungkinan fatalnya akan terkena serangan jantung.
Gelar Jagoan hanya akan diberikan kepada orang yang memiliki ilmu atau keahlian yang sangat tinggi tentang suatu hal tertentu, seseorang yang memiliki Gelar ini hanya ada beberapa di penjuru dunia, meskipun begitu semuanya hanya mewakili satu kemampuannya masing-masing, dalam kasus Xin Chen saat ini adalah Jagoan Pedang yang memiliki pemahaman soal ilmu pedang yang sangat tinggi.
“…Begitulah ceritanya” Xian Nian melirik kearahnya, dia sedikit tertarik dengan Xin Chen yang tidak mengetahui soal hal sepele dan paling dasar seperti ini.
“Jadi nama Sekte kalian sebenarnya apa? Aku bertanya soal nama sekte kalian bukan gelar pimpinan sekte kalian” Xin Chen menusukkan tajam omongannya di hati Xian Nian, membuat Xian Nian tersedak nafasnya.
Dirinya tidak pernah menyangka bahwa perkataannya yang menyombongkan sekte nya tadi akan menjadi celah untuk menyerang hatinya, yang membuatnya menjadi sakit hati.
Xian Nian ingin mengumpat kesal, tapi itu berhasil dihentikan oleh bayi yang sedang ada di rangkulannya, dia akhirnya memutuskan untuk bermain dengan bayi itu sebagai peredam rasa kesalnya kepada Xin Chen.
Dari samping Xin Chen, Xian Han tampak menghela nafasnya kemudian sedikit melirik kearah Xin Chen, “Dia tertarik kepadamu” ucapnya sedikit berbisik kepada Xin Chen agar tidak terdengar oleh saudarinya.
“Apa maksudmu? Kau tahu bukan, aku sama sekali tidak paham dengan perempuan!”
“Apa ada kaitannya dengan itu?”
“Apa kau ingin menjebak ku, membiarkan nasibku sama dengan mu?” Xin Chen menatap datar kearah Xian Han, Xian Han kini juga menatap kearah Xin Chen.
Dengan pandangan mereka yang saling bertemu, mereka seperti berkomunikasi lewat matanya masing-masing dan tidak ada pembicaraan sama sekali.
“Nasibmu? Sama dengan ku?... apa maksudnya itu?” Xian Han sedikit menyiritkan matanya karena tidak tahu apa yang ada sedang dipikirkan Xin Chen.
Di mata Xian Han Xin Chen tampak lebih sulit dipahami dari pada mahkluk bernama perempuan yang dipertanyakan Xin Chen. Kenyataan ini membuat Xian Han sadar betapa tidak pekanya Xin Chen terhadap perempuan yang ada disekitarnya.
“Apa kau tidak sadar nasibmu beberapa saat yang lalu?... kau hampir tewas ditangannya” Xin Chen mengalihkan pandangannya kearah Xian Nian yang sedang asik asiknya bermain dengan Xin Ying yang ada dirangkullannya.
Ini membuat Xian Han menemukan fakta baru mengenai Xin Chen, disini dia mengambil kesimpulan bahwa Xin Chen memang tidak peka terhadap perempuan, tapi Xin Chen sangat peka terhadap situasi yang sedang ia lewati, dirinya juga yakin bahwa Xin Chen penuh dengan perhitungan di masalah yang sedang dilewatinya.
“Maafkan aku bila membuatmu berpikir seperti itu” Xian Han mengalihkan pandangannya menatap kearah lain, berusaha menutupi kekagumannya kepada Xin Chen.
“Tidak, tidak apa-apa… Seharusnya aku lah yang berterima kasih, atas bantuan mu aku bisa melihat sedikit gambaran tentang perempuan”