Jangan lewatkan juga "DITAKDIRKAN MENCINTAIMU" dan "NGUMBARA CINTA"
Mengandung adegan dewasa 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
Seorang dokter cantik bernama Ziya Almahiyra yang harus membayar hutang ayahnya dengan menjadi pembantu dirumah Aditya Dewa Bagaskoro tanpa gaji sedikitpun selama satu tahun.
Lalu bagaimana dengan cita citanya yang ingin mendirikan klinik sendiri,untuk menolong sesama, meringankan rasa sakit yang diderita pasien?
Ayahnya yang bangkrut karna hutang menggunung.Membuat sang ayah mengidap sakit jantung.Sang kakak bernama Nabila Sahara yang selalu pergi ke klub bersama teman temannya seperti tidak mau tau akan keadaan yang menimpa keluarga, adalah persoalan rumit bagaikan benang kusut yang tak mampu Ziya uraikan.
Aditya Dewa Bagaskoro menikahi Ziya. Kebahagiaan pun menghampiri keduanya. Namun apa jadinya jika ternyata ibunya tidak menyetujui pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelayat.
Ziya terperanjat bukan kepalang, seingatnya tadi dia bersama bi Narsih. Tapi kenapa tiba tiba ada yang membisikinya dengan suara cowok.
"Aku saja yang menikah dengan kamu."
degh.. siapa itu
"Kauuu.., kapan datang mas?" Memutar badannya, dengan mata terbelalak dan hati yang gembira.
"Dari semalam, kakak langsung ikut memakamkan jenazah ayah, lalu berbincang sama tetangga, belum ketemu sama kamu." Mencubit pipi Ziya.
"Auwhh sakit mas, jangan keras keras ih." Memukul lengan lawan bicara.
"Habis gemesin gini ih, tapi kok kurusan kenapa dek."
"Mikirin aku ya, kangen ya, ciee yang kangen." menoel noel pipi Ziya.
"Ge er banget seh, siapa yang kangen? tak ada ih." Menepis.
"Rafa, sini sarapan dulu, bi Narsih panggil semuanya bi, biar pada sarapan." titah Nabila.
Nabila yang melihat Ziya dan Rafa ribut pun memanggil mereka untuk sarapan. Steven membantu menata makanan di meja, padahal dia tidak pernah melakukan kegiatan itu, apapun tinggal minta pasti akan tersedia. Riko sang sekretaris pribadi geleng geleng kepala saat melihat kebucinan bosnya.
"Siyap kak!"
"Kaka sudah tau kalau mas Rafa sudah pulang kenapa nggak beri tahu aku." cemberut.
"Tadi malam dia pulang, tak kira siapa dek, malam malam pakaian serba item, eh taunya ini bocah." Rafa hanya nyengir.
Ya malam itu Rafa yang dapat kabar bahwa ayah Ardi meninggal dia langsung pulang dari Surabaya. Dia langsung bergabung dengan para pelayat dan pas ketika disholatkan. Akhirnya dia tidak menyapa kedalam rumah karna pelayat yang membludak, tapi langsung mengikuti penghormatan terakhir ayah Ardi hingga selesai.
"Mas langsung kekamar dek, abis dari makam. Capek banget, mas bawa motor sendiri biar bisa ikut penghormatan ayah terakhir."
"Maaf ya Rafa, kami kasih tau kamunya udah telat."
"Tidak apa apa kakak, yang penting aku masih bisa melihat ayah sebelum dikuburkan." Dengan raut wajah sendu.
"Kalian pasti mulai lupa padaku, buktinya ada masalah kayak gini kalian diem aja." Menatap Ziya dan Nabila bergantian dengan wajah marah.
Ziya dan Nabila mendekat lalu memeluk Rafa.
"Kami tidak mau menyusahkan mu terus menerus, kau sudah banyak membantu ayah selama ini."
"Iya, kau sudah sering mengirim uang untuk ayah." Ziya menimpali.
"Sudah sudah, lanjutkan sarapan jangan lebay." Nabila melepas pelukan.
Steven melihat ketiganya ikut tersenyum manis. Dia tahu siapa Rafa sebenarnya, jadi tidak ada alasan untuk cemburu.
"Selamat pagi!" Winda dan Diki menyapa.
"Pagi! tuan Aditya nggak ikut turun?"
Keduanya saling pandang lalu mengangkat bahu."Baiklah biar aku yang panggil" Bangkit dari duduknya lalu pergi ke kamar tamu tempat Aditya.
Didalam kamar Aditya termenung menimbang nimbang hatinya. Tadi pagi dia merasa sangat senang dikala melihat Ziya dan memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Ziya, dia juga merasa perasaan nya akan terbalas.
Semua susunan strategi nembak cewek sudah terekam di memory nya, dan dia berusaha secepat mungkin bisa mengungkapkan. Naasnya, pada waktu menuruni tangga dilihatnya Ziya sedang bercanda mesra dengan seorang pria. Rasa cemburu telah menyakiti hatinya.
Aku pikir, selama ini kau bersikap malu malu padaku dengan pipi yang merona, karna kau ada perasaan terhadapku.
Aditya pun kembali lagi ke kamar, saat bertemu Winda dan Diki diapun enggan menjawab.
"Tuan, kenapa tuan tidak turun untuk sarapan?" Lamunan Aditya buyar seketika.
"Ah Ziya...ada apa?"
"Kenapa tuan tidak turun untuk sarapan?"
"Owhhh, iya karena aku sakit kepala" Memegang kepalanya pura pura pusing.
"Pasti karena kecapekan ya, sini biar aku pijitin" Langsung meraih kepala Aditya dan memijatnya pelan.
Dada Aditya makin berdetak kencang dan keringat dingin mulai keluar wajahnya pun merona karena senang disentuh Ziya.
"Anda berkeringat tuan, lebih baik anda istirahat, saya akan bawakan sarapan anda kemari, mungkin telat makan."
Aditya hanya mengangguk seperti orang bodoh.
Kenapa aku malah grogi seh. Harusnya aku santuy saja tadi bodoh bodoh bodoh huhh. Apa yang dipikirkan Ziya nanti.
Berulang kali mengatur pernapasan agar saat Ziya kembali dia sudah dalam keadaan baik.
Sampai dibawah.
"Mana tuan Aditya nya"
"Masih diatas kak, katanya pusing jadi aku bawa saja makanannya keatas"
"Tapi sepertinya dia baik baik saja tadi?" Winda heran.
"Ya namanya juga sakit, nggak tau datangnya kapan!" Ziya.
"Aditya tuh siapa?" Rafa yang tadi diam saja akhirnya ikut bersuara. Dia sudah berkenalan dengan Diki dan Winda tadi tapi belum dengan Aditya.
"Dia bos kita mas!"
"Ya udah sana kamu ambilin gih." Nabila memerintah
"Baik kak!"
Ziya mengambil beberapa menu dan minuman lalu naik lagi. Yang lain melanjutkan makan dengan tenang.
Jam menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh rumah kembali ramai. Warga yang belum melayat berdatangan lagi. Bahkan murid murid yayasan dan para alumni juga hadir. Tak terkecuali jajaran kepengurusan yayasan juga datang melayat. Setelah baca tahlil ketua yayasan memberi pidato diantaranya.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un kami turut berduka cita atas meninggalnya bapak Drs KH Ardi Raharja yang sudah banyak memberikan dukungan berupa moril maupun materil kepada yayasan kami. Beliau adalah suri tauladan bagi kami. Seorang yang bijak dan tulus, dermawan dan penyayang.
kala itu saya masih pelajar magang, beliau meminta saya untuk menangani masalah zakat, kebanyakan didaerah kita, zakat fitrah uangnya kita gunakan untuk renovasi gedung.
Tapi tidak oleh Bapak Ardi, beliau sangat adil, uang zakat harus untuk mustahiq 8 begitu kata beliau. Kalau didaerah kita sudah mampu semua, berikan pada désa lain. Kami juga diberi uang bensin dari saku beliau sendiri. Beliau tidak pernah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Pada saat pelajaran, jika lelah, murid murid disuruh tidur aja daripada ganggu yang lain, atau pergi berwudhu agar segar kembali, tapi kita sebagai murid malah milih tidur ya haha (sambil mengusap air mata)."
Yang paling kami sesali, mungkin saya pribadi, berani menuduh beliau kala itu, saya baru jadi guru pengganti saat itu, kasus besar yang menimpa yayasan kita. Bapak Ardi mengundurkan diri dari yayasan, apa yang murid murid katakan, mereka semua berkumpul di halaman dan berkata:"Pak, jika pak Ardi keluar dari sekolah kita, kami juga akan keluar dari sekolah."
Semua orang menangis sesenggukan mengingat semua kenangan ayah Ziya dan Nabila. Lalu ditutup oleh do'a.
Ketika para rombongan pelayat pulang, tinggallah dua orang suami istri yang nampak gugup dan meneteskan air mata. Mendekati Nabila dengan perasaan berdebar, antara ingin bicara atau mereka akan menyesali perbuatan mereka dengan kebungkaman.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh nak Nabila"
Nabila diam saja tak menjawab apapun.
"Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh, salam kok nggak dijawab seh kak? Siapa yang ..." Ziya membelalakkan matanya saat melihat dengan jelas siapa mereka.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca karya receh saya...terima kasih atas like, vote, dan komennya. Love you all.
ending yang membanggongkan