NovelToon NovelToon
MISTLETOE

MISTLETOE

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Tamat
Popularitas:199.7k
Nilai: 5
Nama Author: Xiie Lu

"Aku lihat kamu mirip seseorang."

"Mirip siapa?"

"Mirip menantu idaman Papaku."

---

Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.

Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.

Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.

Status : Tamat.

Lagu rekomendasi :

Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler

Johnny Orlando - Everybody Wants You

Johnny Orlando - Last Summer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Shaun & Lele 17

Happy reading!

.

***

Tidak ada yang bisa dilakukan Alita. Pemuda yang enggan menjauh darinya sedikit merisihkan. Tangan yang hendak mengaduk tepung terasa berat karena kepala Diego terlalu dekat, mengintip ke dalam mixing bowl.

"Apa kamu ingin buta? Aku dengan senang hati akan mengabulkan." Alita mendesah.

Namun Diego bergeming. Masih dengan posisi yang sama dan beralibi sedang melihat cara Alita mengaduk.

Gadis blonde itu hanya mendesah pasrah. Diego tidak bisa dia atasi, tidak seperti perkataan seseorang padanya.

"Ayolah, Shaun. Ini tidak akan selesai sampai malam nanti." Alita masih berusaha menyingkirkan kepala Diego dari hadapannya.

"Itu lebih bagus. Kamu tidak perlu punya alasan lagi untuk keluar dari tempat ini," timpal Diego tanpa mau mengangkat kepalanya.

Alita memutar bola mata malas. Sejak tadi, Diego tidak melepasnya untuk menjauh seinci pun. "Aku tahu ini hanya akal-akalanmu agar aku tidak pergi keluar."

"Memang seperti itu." Diego menatap wajah gadis di sampingnya. Mengerut kesal dan bibir mengerucut. "Aku sudah bilang kamu tidak boleh berpacaran dengan Summer, kenapa tidak menurut?"

"Dia tampan. Aku tidak bisa menyia-nyiakan wajah tampan seperti dia," kilah Alita. "Lagipula, dia siswa paling pintar di kelas kita," lanjutnya.

"Aku juga pintar," ujar Diego. Membuat Alita tertawa tidak percaya.

"Pintar apanya? Kamu selalu mendapat nol besar, jukukanmu juga All Zero." Alita mencibir, jelas sekali dia tidak mengetahui rahasia Diego.

Pemuda tampan itu hanya tersenyum tipis. Akan ada saatnya Alita mengetahui siapa Diego sebenarnya, seberapa banyak lembar ijazah legal miliknya. Seberapa hebat dirinya sebelum datang ke Brasil dan membawa pergi Alita bersamanya.

"Aku tidak sehebat Summer, tapi aku tidak kalah tampan darinya. Bahkan aku lebih tampan dan imut," ucap Diego sambil tersenyum manis tepat di hadapan Alita.

Gadis itu mengerjap. Dia tak berkedip dan seakan lupa bahwa dia baru saja dibuat kesal oleh Diego. Tangan yang mengaduk adonan terhenti seketika.

"Iya, tampan. Tapi tidak bisa diajak kawin lari," gumam Alita mencibir lagi. Masih menatap intens wajah tampan di depannya itu.

"Kamu sekarang mengakui aku tampan, Sayang." Diego tersenyum, dia tahu Alita mengatakan itu tanpa sadar.

Alita kembali mengerjap, sesaat kesadarannya kembali. Dia menjitak kepala Diego. "Memang tampan. Tapi Summer-ku lebih tampan lagi."

Diego terkekeh, mencolek adonan yang tadi diaduk Alita dan mengusapnya di wajah gadis itu. Alita berteriak, hidung dan pipinya menjadi sasaran tangan jahil Diego.

"Kamu menyebalkan. Sudah jelek, menyebalkan lagi."

Alita membiarkan wajahnya kusut, lanjut mengaduk adonan yang sebentar lagi akan dijadikan cake. Berdebat dengan Diego tentu menguras tenaga.

"Dasar plin plan." Diego mencibir. Kali ini bukan hanya hidung dan pipi, tapi hampir seluruh wajah Alita dijadikannya alas adonan. "Kamu cantik seperti ini."

"Aku memang cantik. Bagaimana pun kamu menggambar wajahku, kecantikan itu tidak akan pernah pudar." Dengan kesombongan yang kental, Alita tersenyum mengejek. Tidak menghiraukan wajah cantiknya yang sudah berubah seperti mumi.

"Akan lebih cantik lagi kalau kelakuannya tidak bar-bar."

Alita tertawa. Di mata semua orang, dia memang seperti itu. "Kamu penyebabnya."

"Kenapa aku?" Diego tidak terima.

"Aku ajak kawin lari tapi tidak mau."

"Apa hubungannya dengan itu?"

Alita mengedikkan bahu acuh. Dia tahu, Diego mengetahui tapi lebih memilih untuk bertanya agar tidak menjauh darinya.

***

"Ini manis," ujar Diego setelah mencicipi sebagian cake yang mereka buat bersama tadi.

"Seperti orang yang membuatnya."

"Bocah, kamu sangat percaya diri." Diego mendelik pada gadis cantik yang tertawa di tempatnya.

Sambil menatap langit yang penuh bintang dan ditemani cahaya rembulan di balkon, keduanya menikmati cake yang rasanya manis menurut Diego.

"Siapa lagi yang akan memujiku kalau bukan diriku sendiri?"

Diego balik menatap wajah mungil dan polos itu. Memang manis dan cantik, tapi rasa kesal menyelimuti hati Diego mengingat fakta bahwa Alita sedang berpacaran dengan Summer.

"Pacarmu bisa mengatakannya."

"Tidak. Mereka hanya menciumku."

Pengakuan yang seperti bom bagi Diego. Dia memukul kepala Alita dan melotot horor. "Siapa yang selalu menciummu? Summer? Atau pacarmu yang lain?"

"Ck, sakit tahu. Jangan terus memukul kepalaku."

"Jawab dulu pertanyaanku tadi, Bodoh." Diego kesal sendiri tatkala Alita masih tidak menjawab. "Hei, Bocah!"

"Apaan? Semua pacarku melakukannya."

"Apa?!"

Diego bangkit dari bangku panjang itu kemudian berdiri tepat di hadapan Alita. "Katakan itu sekali lagi atau aku akan membunuh semua pacarmu itu!"

Alita mendongak. Dia masih asyik menikmati malam yang damai ini. Sudah beberapa waktu keduanya tidak menjalankan misi.

"Bunuh saja. Mati satu tumbuh seribu," imbuh Alita sambil menyengir. Dia menikmati wajah Diego yang memerah kesal. "Kamu cemburu?" lanjutnya kemudian.

Pemuda itu termangu, memilih untuk menghindari tatapan menyelidik Alita. "Tidak," kilahnya.

Dan suara tawa Alita mengembalikan ekspresinya. "Kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu."

"Berhenti melakukan hal konyol untuk menghentikanku pergi. Membersihkan rumah itu melelahkan." Alita mengerucutkan bibirnya. "Kamu bisa menghentikan aku langsung tanpa berbuat licik."

Diego kembali duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis yang sesekali mengecek ponselnya. "Apa kamu akan menurut? Aku kehilangan akal jika suatu saat kamu pergi bersama mereka."

Alita kembali tertawa, kali ini sampai air matanya menetes. Dia memegang perutnya yang ikut sakit.

"Kenapa tertawa lagi? Aku mengatakan kebenaran."

"Tidak, kamu manis saat mengatakannya. Seperti cake brownies ini."

Diego terkekeh dan ikut terhanyut dalam kebersamaan mereka. Kepalanya diusap oleh Alita, membuat Diego kembali merasakan kenyamanan. Kehangatan yang selama ini tidak pernah dia rasakan lagi.

"Aku menemukan satu tempat yang bagus. Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" Diego memecah kesunyian yang hendak mengambil alih.

"Jauh? Kalau iya, jangan."

Diego tersenyum tipis, sudah tahu maksud Alita menanyakan pertanyaan ini. "Pokoknya tidak perlu mengeluarkan uang."

Gadis itu segera bangkit setelah mengangkat kepala Diego dari pundaknya. "Oke, anggap saja sebagai ganti karena kamu tidak jadi menjual diri padaku."

"Astaga, apa yang telah aku lakukan pada bocah ini," gumam Diego.

Sinar bulan yang lembut diiringi semilir angin yang membawa kesejukkan, menemani malam dua insan yang saling berpegangan tangan.

"Masih jauh?" tanya Alita yang mulai lelah karena berjalan jauh.

"Sedikit lagi."

Diego terus menggenggam tangannya dan membawa Alita pergi. Ke suatu tempat yang membuat Alita membelalakkan matanya.

"Ada apa di sini? Bekas galian?"

"Valent menyembunyikan beberapa orang di sini. Ada jalur yang menguntungkan, mungkin bisa menggantikkan uang yang habis siang tadi." Diego menjelaskan.

"Jadi?" Alita mengerutkan kening bertanya.

"Seperti yang kamu pikirkan, Princess."

Alita menutup mulutnya takjub. "Yang benar saja. Apa ini jalur keuangan menuju mesin di seberang jalan sana?"

Diego tertawa, kemudian menarik Alita pergi dari sana. "Kamu berisik. Ayo pulang."

"Hanya ini? Kamu tidak berniat mengajakku kencan romantis?" Alita mengerucutkan bibirnya, tiba-tiba kesal.

"Aku tidak kaya seperti pacar kamu."

"Romantis tidak perlu menunggu kaya, apa kamu tidak mengerti? Ck, dasar jomblo abadi."

Pemuda itu menghentikan langkahnya kemudian menghadap Alita. Keseriusan Diego membuat Alita mundur perlahan. "A-apa?"

Jarak yang semakin menipis, terpaan napas Diego terasa di wajah gadis itu. Entah sejak kapan, jarak di antara keduanya menghilang. Alita menatap manik cokelat madu yang menatapnya dengan keteduhan.

"Peraturan pertama," tukas Alita menutup mulutnya sebelum bibir pemuda itu benar-benar menyentuh bibirnya. "Jangan cium!"

Diego terkekeh pelan kemudian menarik tengkuk gadis itu dan mengecup keningnya. "Bukan di bibir ya," celetuk Diego sambil tersenyum dan mengusap kening Alita yang lembab karena kecupan tadi.

Pemilik manik zamrud itu terdiam. Jantung Alita makin berdebar tidak karuan, balas menatap Diego yang juga tersenyum padanya.

"Kenapa?"

"Aku tidak rela para bajiingan itu menciummu lebih dulu daripada aku."

Alita membalikkan badannya, menahan tawa yang hampir meledak. Dia berhasil. Alita menyentuh keningnya yang terasa masih hangat, senyum puas tercetak jelas. "Pecundang," gumamnya.

Kecanggungan untuk beberapa saat, Alita memilih untuk berdiam diri. Sementara Diego masih terus menarik tangannya menembus malam.

Di tepi jalan yang ramai oleh kendaraan, Alita tidak sengaja melihat seseorang yang hendak menyebrang. Dia menarik tangannya dari genggaman Diego dan mengejar orang itu.

"Sialan, kalau mau bunuh diri jangan di jalanan!"

Seorang pemuda yang tampak kacau, mata sembab dan penuh air mata, Alita menatap nyalan padanya.

"Apa hidup bagimu sangat membosankan?! Jangan mati dulu, biarkan aku memukul wajah tampanmu sebelum kamu bunuh diri."

.

---

Jan lupa klik jempol dan komen next ya😊

***

1
Ahmad Dinis
a@ btw tadi malam tidur
Ahmad Dinis
yang penting bisa bahagia
Ahmad Dinis: event
lombok sbr sm sy
total 1 replies
Jelita S
bagus banget,,
Triani
lega....,, akhirnya metong tuh aki2...!!!
Veny Tria Kusumanita
kak...novel will n lea kok.g dilanjutin?
def.: Lanjut say, cuma lg hiatus aja sorry🙏
total 1 replies
{♠️𐔣α𝒇 ιᷜͷͥαᷟༀ♠️}🐍
selalu sukses dengan hasil karyanya ya thor
{♠️𐔣α𝒇 ιᷜͷͥαᷟༀ♠️}🐍
semangat
Sisca Wilujeng
mks kak karyanya... ttp semangat & sukses selalu...👍👍😊😊
Sisca Wilujeng
mampir kak...
fe La'grimas
maaf summer (musim panas 🤭🤣) kamu memang tampan tapi diego lebih menarik (lebih segalanya 😍🤣)
Partiah Yake
crazy coupleee
Dewi Djordan
mks
Dewi Djordan
terlalu bodoh lele..masa anak silver mafia bodohnya kebangetan dan tidak punya keahlian apapun..
sizih_hm
Diego nyamar kayanya
Erny Area
😶
Adin
good novel
Noejan
Mampir kakk❤❤
Niena Saleh
aku telat bacanya 🤭 aku pikir lanjutannya di the devil of athlete...aku nungguin ajah dengan pedenyaa....ga taunya pas sadar udah kelar ajah 🤭👻👻👻👻
Niena Saleh
aku ga penasaran...aku lebih suka cerita yg sesuai dengan isu kepala othornya...daripada cerita yg mengikuti pembacanya...akan mudah ditebak dan tidak menyenangkan lagi untuk dibaca....just let the stories flow...🌷🌷
Niena Saleh
ahaaayyyy....madu terus yg diolesin dimulutnya alita 😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!