6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. MAYA BUKAN MAYA
Lampu minyak padam.
Gelap total.
Hanya suara napas kami berdua yang terdengar di dalam rumah Mbok Darmi. Napas Maya yang cepat dan terputus-putus, dan napasku yang tercekat karena takut.
"Mbok... Mbok Darmi..." panggilku pelan dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban. Hanya suara KRETEK KRETEK dari alat tenun yang masih bergerak sendiri di kegelapan. Suaranya semakin cepat.
Tiba-tiba, lampu minyak itu menyala lagi sendiri. Ceklek.
Aku bisa melihat sekeliling. Mbok Darmi sudah tidak ada di depan alat tenunnya. Kursinya kosong. Gunting besar berkarat yang tadi dia bawa tergeletak di atas kain kafan yang setengah jadi.
"Mbok?" Maya menarik bajuku. "Mbok nya kemana, Vi?"
Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Perasaan takutku semakin menjadi. Rumah panggung ini terasa semakin sempit, dinding kayunya seperti bergerak mendekat.
"Kita keluar, May. Kita keluar dari rumah ini sekarang!"
Aku menarik tangan Maya menuju pintu. Tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Aku tarik sekuat tenaga, aku dorong, aku tendang. Tidak bergerak sama sekali. Seperti dipaku dari luar.
Jendela juga sama. Semua terkunci.
Kami terjebak.
"Selvi..." Maya berbisik di belakangku. Suaranya pelan sekali. Beda dari suara Maya biasanya.
Aku menoleh.
Maya berdiri di tengah ruangan, di bawah lampu minyak. Wajahnya menunduk, rambut panjangnya menutupi wajahnya. Kain kafan yang tadi dia peluk kini dia bentangkan. Di dalam kain itu, ada 6 nama yang sudah ada, dan satu nama baru yang sedang muncul perlahan, ditulis dengan darah.
NAMA KETUJUH.
"May, kamu kenapa?" Aku melangkah mendekatinya pelan-pelan.
Maya perlahan mengangkat kepalanya.
Dan aku menjerit tanpa suara.
Wajah Maya bukan wajah Maya. Matanya hitam semua, tidak ada putihnya. Dari matanya keluar benang-benang putih yang menetes seperti air mata. Mulutnya sobek sampai ke telinga, dan dari dalam mulutnya keluar suara Mbok Darmi.
"Kamu belum sadar ya, Selvi?"
Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding. Kakiku lemas. "K-kamu siapa? Kamu bukan Maya! Kamu dimana Maya?!"
Sosok yang memakai wajah Maya itu tertawa. Tertawa melengking. Suaranya tumpang tindih antara suara Maya dan suara Mbok Darmi.
"Maya yang asli sudah lama masuk sumur, Selvi. Sejak malam pertama. Di BAB 3, TEROR MALAM PERTAMA, ingat? Yang tidur di samping kamu itu bukan Maya lagi. Itu aku. Aku yang pakai kulitnya."
Darahku berhenti mengalir.
Apa maksudnya? Malam pertama? Di balai desa?
Aku ingat. Malam pertama kami di balai desa tanpa bayangan itu, Maya memang tidur di sampingku. Dia bilang kedinginan. Tapi... tapi aku ingat bayangan Maya tidak ada di dinding saat senter menyala.
"Gak... gak mungkin... bohong!" teriakku sambil menangis. "Maya ada terus sama aku! Dia yang tolong aku di hutan larangan tadi!"
"Yang tolong kamu di hutan tadi juga aku, Selvi," kata sosok itu sambil melangkah mendekatiku. Setiap langkahnya, lantai kayu rumah itu mengeluarkan darah hitam. "Kalau bukan aku, kamu sudah ditarik akar tadi. Aku butuh kamu tetap hidup. Karena kamu penenun terakhir."
Aku memeluk kepalaku. Tidak. Tidak mungkin. Maya temanku dari semester 1. Maya yang selalu pinjam catatanku. Maya yang selalu traktir aku cilok.
"Maya anakku, Selvi," lanjut sosok itu. Suaranya kini sepenuhnya suara Mbok Darmi yang serak. "Anak kandungku yang aku buang ke sumur 20 tahun lalu karena dia cacat. Kakinya pincang. Warga bilang dia pembawa sial. Jadi aku tenun dia jadi kain kafan pertama. Dan sekarang, dia pinjam tubuh temanmu."
Sosok Maya itu menyentuh wajahnya sendiri. Kulit wajah Maya itu terkelupas sedikit, terlihat kulit keriput Mbok Darmi di bawahnya.
Aku mual. Aku ingin muntah.
"Jadi selama ini... yang sama aku itu..."
"Mayanya sudah jadi kain, Selvi. Lihat," dia membentangkan kain kafan itu di depanku. Di antara nama SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN, ada nama MAYA yang ditulis dengan benang merah, masih basah. "Dia sudah aku tenun duluan. Tubuhnya ini hanya wadah. Wadah kosong yang aku pakai biar kamu gak curiga."
Aku menangis sejadi-jadinya. Jadi aku sendirian selama ini? Jadi dari 6 orang yang berangkat KKN, hanya aku yang tersisa hidup? Teman-temanku semua sudah mati dan aku bahkan tidak sadar kalau yang di sampingku adalah hantu?
"Kenapa? Kenapa aku? Kenapa harus aku yang disisain?" teriakku.
Sosok itu berjongkok di depanku. Wajah Maya yang mengerikan itu dekat sekali dengan wajahku. Bau tanah basah dan kemenyan busuk menyengat hidungku.
"Karena kamu mirip aku, Selvi. Tanganmu. Tanganmu lentik, cocok untuk menenun. Pak Lurah Karjo sudah aku kasih tau, cari 6 anak KKN yang tangannya bagus untuk gantiin aku jaga sumur. Dan kamu yang paling bagus. Makanya kamu aku sisain terakhir."
Dia mengangkat tanganku. Tanganku yang gemetar dia pegang dengan kuku hitamnya yang panjang.
"Lihat? Cantik. Cocok untuk pegang alat tenun ini selamanya."
Tiba-tiba, dari luar rumah, terdengar suara kentongan bertalu-talu. TUNG TUNG TUNG TUNG.
Itu suara kentongan Pak Lurah Karjo. Tapi Pak Lurah kan sudah mati jadi tumbal di BAB 11?
Sosok Maya itu menoleh kaget ke arah jendela. Wajahnya panik.
"Dia datang..."
Pintu rumah yang tadi tidak bisa dibuka, tiba-tiba terbuka sendiri dengan keras. BANTING.
Di depan pintu, berdiri Pak Lurah Karjo. Tapi bukan Pak Lurah yang biasa. Tubuhnya gosong terbakar, matanya bolong, di tangannya membawa obor yang menyala besar.
"M-BOK DARMI! KEMBALIKAN ANAK-ANAK ITU! DESA INI SUDAH CUKUP TUMBAL!" teriak Pak Lurah Karjo dengan suara berat.
Sosok Maya itu menjerit. Jeritannya bukan jeritan manusia.
Aku melihat ini kesempatan. Aku mendorong tubuh Maya palsu itu sekuat tenaga dan aku lari keluar rumah, menabrak Pak Lurah Karjo yang gosong itu.
Aku jatuh ke tanah lumpur di halaman. Aku tidak peduli. Aku lari. Aku lari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah Mbok Darmi, meninggalkan hutan larangan, meninggalkan Maya yang bukan Maya.
Aku lari sambil menangis. Di tanganku, aku masih membawa kain kafan itu. Aku tidak sadar kapan aku mengambilnya.
Di belakangku, aku dengar rumah itu terbakar. Dan suara dua makhluk itu berkelahi. Suara Maya yang tertawa dan menangis bersamaan.
Aku terus lari. Sampai akhirnya aku melihat balai desa lagi. Balai desa tanpa bayangan itu.
Aku sendirian. Sekarang benar-benar sendirian.
Tinggal aku yang tersisa.
Aku memeluk kain kafan itu. Di dalam kain itu, ada 5 nama teman-temanku. Dan di ujung kain, ada nama ketujuh yang baru selesai ditulis dengan darah segar.
Namanya adalah... MAYA.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐