Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Deru mesin mobil perlahan mati, digantikan oleh suara deburan ombak yang berkejar-kejaran memecah keheningan. Kenzo menepikan mobilnya di pinggiran pantai yang cukup sepi, jauh dari hiruk-piruk pusat kota dan drama kampus yang melelahkan.
Kenzo menurunkan kaca jendela mobilnya setengah, membiarkan aroma khas garam dan angin laut yang segar masuk ke dalam kabin. Udara pantai yang kaya akan oksigen murni ini adalah alasan utama kenapa ia memilih tempat ini sangat baik untuk membantu memulihkan paru-paru Rindu yang sempat menyempit tadi.
Kenzo melepas sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menghadap Rindu yang tampaknya sudah setengah terbangun karena mobil yang berhenti.
"Gimana dadanya? Masih terasa sesak?" tanya Kenzo lembut, suaranya terdengar sangat kontras dengan ketegasannya saat di kolam renang tadi.
Rindu mengerjapkan mata, menatap hamparan laut biru yang membentang luas di depan sana, lalu beralih menatap Kenzo. Genggaman tangan Kenzo yang hangat di atas tangannya ternyata sama sekali tidak terlepas selama perjalanan.
"Udah jauh lebih mendingan, Kak. Udah gak sesak lagi," jawab Rindu jujur. Udara segar pantai dan ketenangan tempat ini benar-benar membuat dadanya terasa lapang.
Kenzo mengembuskan napas lega, lalu tersenyum tipis. Ia membawa tangan Rindu yang digenggamnya ke atas dasbor, mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.
"Maaf ya, harusnya hari ini kita fokus latihan buat Rektor Cup, tapi kamu malah harus keseret drama masa lalu kakak," ucap Kenzo tulus, matanya menatap Rindu penuh rasa bersalah. "Kakak janji, setelah hari ini, gak akan ada lagi Tria atau siapa pun yang bisa bikin kamu sampai sesak napas kayak tadi. Kakak yang akan jaga kamu."
“Gak apa-apa kak, kakak gak usah merasa bersalah, Rin seharusnya tidak menganggu latihan kakak untuk rektor cup” ucap Rindu lirih.
Mendengar kalimat pasrah yang keluar dari bibir Rindu, Kenzo justru menghentikan usapan jemarinya di punggung tangan gadis itu. Ia terdiam sesaat, lalu mengembuskan napas panjang dengan raut wajah yang berubah menjadi lebih serius.
"Rin, dengerin kakak," kata Kenzo, memutar tubuhnya agar bisa menatap Rindu sepenuhnya. "Jangan pernah bilang kalau kamu itu mengganggu.
Dari awal kakak yang narik kamu masuk ke kehidupan kakak, dari awal kakak yang mutusin buat jadi pelatih privat kamu. Jadi, apa pun yang terjadi sama kamu, itu tanggung jawab kakak."
Kenzo menegakkan punggungnya, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Rindu yang masih tampak sayu.
"Rektor Cup itu emang penting buat fakultas, tapi target emas atau piala bergilir itu gak ada artinya kalau kakak bahkan gak bisa ngejaga atlet privat kakak sendiri dari bahaya," lanjutnya dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan penekanan tulus. "Hari ini kakak sadar satu hal... kakak lebih takut kehilangan fokus kamu daripada kehilangan trofi juara itu."
Rindu terpaku, lidahnya mendadak kelu mendengar pengakuan jujur yang begitu telanjang dari seorang Kenzo yang biasanya selalu menomorsatukan gengsi dan target latihan.
"Jadi, stop merasa bersalah," ucap Kenzo lagi, kali ini seulas senyum tipis kembali terukir di wajah tampannya saat ia merogoh sesuatu dari kantong dasbor.
"Sekarang, karena napas kamu udah aman dan suasananya udah tenang... kakak mau nagih jawaban yang tadi sempat kepotong sama si ratu drama. Gimana, Rin? Kamu mau kan jalan bareng kakak? Bukan cuma sebagai pelatih dan atlet, tapi... sebagai pacar?" Kenzo menatap dalam ke mata Rindu.
“Kakak serius? Rin hanya anak SMA nantinya buat kakak repot” gumam Rindu lirih.
Kenzo terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat tulus di telinga Rindu. Genggaman tangannya di jemari gadis itu justru semakin erat, seolah menegaskan bahwa argumen Rindu sama sekali tidak mempan untuknya.
"Kakak kelihatan lagi bercanda, ya?" tanya Kenzo dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya. Ia menunduk sedikit, menyamakan level pandangannya dengan Rindu.
"Rin, kalau kakak takut direpotin, dari awal kakak gak akan mau repot-repot nyari tahu jenis obat asma kamu, gak akan mau repot-repot bikinin porsi latihan khusus yang aman buat paru-paru kamu, dan kakak gak akan ada di sini sekarang, di pinggir pantai cuma buat mastiin kamu bisa napas lega."
Kenzo menghentikan kalimatnya sejenak, menatap lekat-lekat mata Rindu dengan sorot mata yang begitu teduh namun mengunci.
"Status kamu yang masih SMA itu cuma masalah waktu, Rin. Dua tahun itu gak lama. Kakak siap nunggu sampai kamu pakai almamater yang sama kaya kakak. Jadi, jangan jadiin itu alasan buat nolak kakak."
Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, kembali memamerkan senyum menggoda khasnya yang selalu berhasil membuat Rindu salah tingkah. "Gimana? Masih mau cari alasan lain, atau sekarang udah siap bilang 'iya'?"
“Kenapa harus Rindu kak?” Tanya Rindu mencari kejujuran di mata Kenzo yang menatapnya teduh.
“Yah karena kamu ngangenin sama kayak nama kamu” ucap Kenzo dengan lembut.
Rindu melempar pandangannya ke luar jendela, menyembunyikan senyum kegelian sekaligus wajahnya yang dipastikan sudah merona hebat. Pertanyaan retoris yang sebenarnya ia tanyakan karena rasa tidak percaya diri, malah dibalas dengan gombalan maut yang sangat lancar.
"Ih, Kak Kenzo! Gombalnya receh banget, penonton di kolam tadi kalau dengar pasti langsung look away," cicit Rindu sambil memukul pelan lengan tegap Kenzo menggunakan papan klip yang sedari tadi dipeluknya.
Kenzo tertawa lepas, suara tawa yang jarang sekali didengar oleh anak-anak tim utama di kampus. Ia menangkap tangan Rindu yang memukulnya, lalu menggenggamnya kembali.
"Dibilang gombal, padahal kakak serius. Nama kamu itu doa, Rin. Buktinya baru ditinggal ke ruang dekan sebentar aja, kakak udah kepikiran terus. Gak salah kan kalau kakak bilang kamu ngangenin?" ujar Kenzo, matanya kembali menatap Rindu dengan binar jenaka namun sarat akan kasih sayang.
Rindu menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan udara pantai yang segar sekaligus rasa hangat yang menjalar di seluruh dadanya. Rasa ragu karena statusnya yang masih SMA seolah menguap begitu saja melihat bagaimana gigihnya kapten tim renang ini meyakinkannya.
Sambil menunduk malu-malu, Rindu akhirnya mengangguk pelan, sangat pelan sampai hampir tidak terlihat kalau Kenzo tidak memperhatikannya dengan lekat.
"Iya... Rin mau," bisik Rindu menyerah.
"Mau apa? Kakak gak kedengeran, ketutupan suara ombak," goda Kenzo sengaja memajukan telinganya, memancing Rindu.
"Ih, Kak Kenzo! Iya, Rin mau jadi pacar Kakak!" seru Rindu agak keras karena kesal sekaligus malu setengah mati.
Kenzo tersenyum puas, sebuah senyuman kemenangan yang jauh lebih lebar daripada saat ia menyentuh garis finish di kejuaraan mana pun. Ia mengacak rambut Rindu gemas. "Nah, gitu dong. Berhubung sekarang udah resmi, habis ini latihan tambahannya kakak diskon sepuluh persen deh. Gimana? Adil kan?"
“Cik adil apanya kak?”
Kenzo langsung tertawa melihat bibir Rindu yang mengerucut sebal. Reaksi protes dari pacar barunya ini justru terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan di matanya.
"Adil dong," sahut Kenzo santai, telunjuknya mencolek hidung Rindu dengan gemas. "Sebagai pelatih yang profesional, kakak gak boleh pilih kasih sama atlet sendiri. Tapi sebagai pacar yang baik, kakak kasih dispensasi khusus. Sepuluh persen itu lumayan loh, Rin. Kamu gak perlu ambil jatah sprint tambahan di akhir sesi nanti."
Rindu mendengus geli, meski hatinya tidak bisa berbohong kalau ia merasa sangat senang diperlakukan seistimewa ini. "Alasan aja. Bilang aja Kakak emang aslinya monster kalau melatih, makanya diskonnya pelit banget."
"Hei, dibilang monster lagi," kelakar Kenzo, pura-pura terluka dengan ucapan Rindu namun matanya berkilat jenaka. "Monster gini juga yang tadi panik setengah mati pas kamu lari dari kolam. Jadi, gimana? Mau diterima diskon sepuluh persennya, atau mau kakak hapus sekalian dan balik ke porsi latihan normal?"
"Iya, iya, diterima! Pelit banget sih," gerutu Rindu pasrah, yang langsung disambut senyum kemenangan dari Kenzo. Di bawah langit pantai dan udara yang bersih, rasa sesak yang sempat menyiksa Rindu benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang baru.
“Tapi bentar kamu nggak selingkuh kan? Maksudnya nggak jadiin kakak selingkuhan kamu kan Rin?” Kenzo bertanya jangan sampai Rindu punya pacar selain dirinya.
Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu, tawa Rindu langsung terhenti seketika. Ia menoleh ke arah Kenzo dengan mata membelalak bulat, benar-benar tidak menyangka cowok setegas dan sepopuler Kenzo bisa kepikiran hal sejauh itu.
"Hah? Kakak ngomong apa sih?!" seru Rindu, wajahnya campur aduk antara kaget dan ingin tertawa. "Selingkuhan? Memangnya Rin kelihatan kayak cewek yang suka mainin cowok apa?"
Kenzo tidak ikut tertawa. Ekspresi wajahnya justru berubah agak intens. Sifat posesif dan dominannya sebagai seorang kapten mendadak keluar. Ia memajukan sedikit tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata Rindu, memastikan tidak ada kebohongan di sana. Kenzo benar-benar tidak mau kecolongan ia ingin memastikan bahwa ia adalah satu-satunya cowok di hati Rindu.
"Kakak serius, Rin. Kakak gak mau ya, udah telanjur sayang begini, ternyata di sekolahan kamu punya pacar anak SMA," ujar Kenzo dengan nada baritonnya yang rendah, terdengar cemburu namun juga sangat protektif. "Pokoknya jangan sampai kakak jadi yang kedua."
Melihat muka Kenzo yang mendadak melas sekaligus siaga satu seperti itu, Rindu akhirnya tidak bisa menahan tawa gembiranya. Rasa gengsinya runtuh, digantikan rasa hangat karena tahu kapten tim ini begitu takut kehilangannya.
"Enggak, Kak Kenzo sayang... Rin gak punya pacar selain Kakak," ucap Rindu, untuk pertama kalinya menyelipkan kata 'sayang' yang membuat kuping Kenzo langsung memerah seketika. "Jangankan pacar, setiap hari waktu Rin habis buat sekolah sama disiksa latihan di kolam sama Kakak. Mana sempat Rin cari cowok lain?"
Mendengar jawaban jujur dan polos dari Rindu, pertahanan dingin Kenzo langsung lumer. Ia mengembuskan napas lega yang sangat kentara, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke jok kemudi sambil tersenyum puas.
"Bagus deh. Mulai hari ini, status kamu di luar sana resmi dikunci. Hak milik pelatih privat kamu," sahut Kenzo mutlak dengan senyum kemenangan yang tertanam jelas di wajah tampannya.
Kenzo menatap Rindu dengan tatapan yang begitu dalam, seolah semua ketegangan, drama Tria, dan kepanikan di kolam renang tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Genggaman tangannya di jemari Rindu mengerat, memberikan kehangatan yang menjalar langsung ke hati gadis itu.
"Makasih ya sudah mau jadi pacar kakak," ucap Kenzo tulus. Suaranya melembut, kehilangan seluruh aksen tegas seorang pelatih atau kapten tim yang biasa ia tunjukkan di depan orang banyak.
Rindu sempat tertegun sesaat. Melihat cowok se-berkarisma Kenzo bisa menunjukkan sisi serapuh dan setulus ini di depannya membuat dada Rindu kembali berdesir hangat.
"Rin yang harusnya makasih, Kak," balas Rindu malu-malu, senyum manis akhirnya terukir jelas di wajahnya yang kini sudah kembali merona segar. "Makasih udah selalu sigap jagain Rin, bahkan sampai tahu rahasia yang Rin sembunyiin rapat-rapat dari semua orang."
Kenzo tersenyum teduh, lalu mengangkat tangan Rindu yang berada di genggamannya dan mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut.
"Mulai sekarang, gak ada lagi yang perlu kamu sembunyiin sendirian. Tugas kakak bukan cuma mastiin kamu sampai di garis finish sebagai juara, tapi juga mastiin kamu selalu aman di samping kakak," bisik Kenzo. "Siap lanjutin sisa hari ini tanpa drama, Sayang?"
Mendengar panggilan baru dari Kenzo, Rindu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang makin memerah di balik papan klipnya, mengangguk pelan penuh kebahagiaan.
“Turun yuk kak” ajak Rindu
“Ayo sayang” Kenzo langsung melepaskan sabuk pengamannya, lalu bergerak memutari kap mobil dengan langkah lebar untuk membukakan pintu di sisi Rindu. Sikap dewasanya yang penuh perhatian kembali terpancar, membuat Rindu merasa begitu dihargai.
Begitu pintu terbuka, angin pantai yang sejuk langsung menyapu wajah mereka, menerbangkan beberapa helai rambut Rindu. Kenzo mengulurkan telapak tangannya yang hangat ke hadapan Rindu.
"Silakan turun, Tuan Putri," goda Kenzo dengan kedipan mata jenaka yang langsung membuat Rindu menahan senyum.
Rindu menyambut uluran tangan itu, merasakan jemari tegap Kenzo langsung bertaut erat mengunci jemarinya begitu ia melangkah turun dari mobil. Pasir pantai yang putih dan halus menyapa sol sepatu mereka saat mereka mulai berjalan berdampingan menuju bibir pantai.
"Gimana? Udara di sini jauh lebih enak daripada bau kaporit kolam kan?" tanya Kenzo sambil menoleh, menatap lekat wajah pacar barunya yang kini tampak jauh lebih segar dan bahagia.
"Iya, Kak. Segar banget," sahut Rindu tulus. Ia menghirup napas dalam-dalam, menikmati sensasi lapang di dadanya yang kini benar-benar telah bebas dari rasa sesak. Berjalan di tepi pantai sambil menggandeng tangan cowok yang begitu protektif padanya membuat semua drama melelahkan hari ini terasa menguap begitu saja tanpa sisa.
“Rin.. bisa ceritakan sama kakak, sejak kapan kamu menderita asma?”
Mendengar pertanyaan Kenzo membuatRindu terdiam
“Kak, sebenarnya rin gak tau sejak kapan, hanya saja ketika rin mendapat tekanan yang hebat rin merasa dada Rin tiba-tiba sakit” ucap Rindu
“Kamu sudah konsul ke dokter Rin?” Tanya Kenzo dan Rindu menggeleng.
Kenzo menghentikan langkahnya di atas pasir pantai. Genggaman tangannya di jemari Rindu mengerat, lalu ia menuntun gadis itu untuk duduk di sebuah batang kayu besar yang terdampar di tepi pantai. Tatapannya berubah menjadi sangat serius, namun memancarkan kekhawatiran yang teramat dalam.
"Terus obat ini?" tanya Kenzo lagi, suaranya melembut namun menuntut penjelasan. Ia merogoh saku jaketnya dan menunjukkan botol inhaler milik Rindu yang sejak tadi ia amankan. "Kalau kamu belum pernah ke dokter, dari mana kamu bisa dapat inhaler dosis ini, Rin?"
Rindu menunduk, memainkan ujung jarinya dengan canggung. Suara deburan ombak di depan mereka seolah mengisi keheningan sesaat sebelum Rindu akhirnya berani membuka suara.
"Itu... punya Almarhumah Ibu, Kak," bisik Rindu lirih, matanya mulai berkaca-kaca mengingat memori masa lalunya. "Dulu Ibu punya asma parah. Waktu Rin pertama kali ngerasa sesak napas hebat pas SMP pas Papa sama Ibu sering berantem sebelum Ibu meninggal Rin panik banget. Rin gak berani bilang siapa-siapa karena takut nambah beban Papa."
Rindu menarik napas perlahan, mencoba menenangkan hatinya yang mulai bergetar. "Jadi, Rin diam-diam pakai sisa obat Ibu yang masih disimpan di kotak p3k rumah. Pas obatnya habis, Rin nekat beli sendiri di apotek... beli merek yang sama lewat aplikasi online pakai uang jajan Rin."
Mendengar pengakuan jujur yang begitu polos sekaligus berisiko itu, jantung Kenzo rasanya seperti mencelos. Ada rasa sesak yang ikut menghantam dadanya mendengar betapa rapuhnya gadis di depannya ini selama bertahun-tahun, berjuang sendirian menyembunyikan penyakit mematikan demi tidak merepotkan orang tuanya.
Kenzo langsung menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Ia meletakkan inhaler itu di kantongnya kembali, lalu menangkup kedua pipi Rindu dengan lembut, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam matanya.
"Rindu, dengerin kakak," ucap Kenzo dengan suara bariton yang bergetar penuh emosi. "Memakai obat asma tanpa resep dan diagnosis dokter itu bahaya banget, apalagi kamu seorang atlet renang dengan intensitas latihan yang tinggi. Gejala dadamu sakit saat tertekan itu bisa jadi Psychogenic Asthma asma yang dipicu oleh stres atau serangan panik. Dan dosis obatnya gak bisa sembarangan disamain dengan orang lain."
Kenzo mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Rindu menggunakan ibu jarinya.
"Besok, gak ada bantahan. Kakak sendiri yang akan temenin kamu ke dokter spesialis paru," ujar Kenzo mutlak, memberikan proteksi penuh yang belum pernah Rindu dapatkan dari siapa pun selama ini. "Kamu gak sendirian lagi, Rin. Ada kakak sekarang. Paham?"
—bersambung—