Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 CEO Galak
Keesokan paginya...
Langit masih berwarna biru pucat ketika mobil Maria memasuki kawasan pusat bisnis. Anjani yang duduk di kursi penumpang memandangi gedung menjulang di hadapannya. Dindingnya dari kaca dan baja. Logo perusahaan besar yang berdiri gagah di bagian depan.
Jujur saja. Dadanya sedikit berdebar karena gugup menghadapi pekerjaan. Apalagi dia bakal lebih sering bertemu Ren Aksara. Manusia yang bisa membuat orang naik darah dalam lima menit dan membuat orang berutang lima puluh juta dalam satu hari.
"Kamu tegang." Suara Maria memecah lamunan.
"Aku normal."
"Bohong. Wajahmu pucat."
"Aku memang putih."
"Itu pucat."
Anjani akhirnya mendesah kalah, membuat Maria terkekeh.
"Kamu tuh dari dulu gini."
Anjani menoleh. "Hm?"
"Kalau gugup malah kelihatan tenang. Tapi wajah pucatmu tidak bisa ditutupi."
Maria memandang gedung tinggi itu, lalu menyenggol lengan Anjani.
"Ayo."
Lima menit kemudian...
Anjani resmi menyesal datang terlalu pagi, karena saat mereka masuk ke area kantor pusat, suasana yang menyambut mereka bukan ketenangan, melainkan teror.
"Kalau otak kalian benar-benar dipakai, laporan ini nggak mungkin sampai ke meja saya."
Suara pria terdengar tajam dari ujung koridor. Suaranya cukup keras untuk membuat satu lantai menahan napas serentak.
Anjani langsung tahu siapa pemilik suara itu. Tentu saja Ren. Siapa lagi manusia yang bisa terdengar seperti audit pajak berjalan?
Beberapa staf terlihat berdiri kaku. Ada yang menunduk. Ada yang pucat. Ada yang tampak sedang berdoa diam-diam agar namanya tidak dipanggil.
Di tengah kerumunan itu, Ren berdiri dengan setelan jas mahalnya, dilengkapi dengan postur tinggi, tatapan tajam, dan wajah masam yang rasanya bisa membuat kopi kehilangan rasa pahitnya karena kalah saing.
Di depannya berdiri seorang manajer muda. Pria itu berkeringat, padahal pendingin ruangan sedang bekerja maksimal.
"Pak Ren saya bisa jelaskan--"
"Tidak." Suara Ren memotong pendek, dingin, mematikan.
"Pak--"
"Tidak."
"Kalau diberi kesempatan--"
"Tidak."
Sunyi.
Ren membuka berkas, membalik beberapa halaman, lalu mengangkat wajah.
"Tiga bulan."
Deg.
"Tiga bulan saya kasih kesempatan."
"Pak Ren--"
"Tiga bulan." Suara Ren tetap tenang, namun justru itulah yang mengerikan, karena saat Ren berteriak, orang masih bisa berharap emosinya akan turun.
Saat Ren tenang? Biasanya karier seseorang sudah selesai.
"Saya membayar Anda untuk bekerja. Bukan untuk menjadi pajangan kantor."
Beberapa staf menelan ludah.
Yang lain pura-pura sibuk melihat laptop yang bahkan belum menyala.
"Mulai hari ini Anda tidak perlu datang lagi."
Pria itu membeku. "Pak Ren..."
"Selesai."
"Tapi--"
"Saya tidak suka mengulang kalimat."
Mati sudah. Karier orang itu tamat dalam waktu kurang dari lima menit. Yang paling mengerikan, Ren tidak tampak marah, seolah memecat orang hanyalah bagian kecil dari jadwal paginya. Seperti minum kopi atau mengecek email.
Namun ternyata penderitaan pagi itu belum selesai, karena beberapa menit kemudian, seorang staf perempuan dipanggil masuk. Anjani yang kebetulan masih menunggu di area depan ikut melihat.
Perempuan itu keluar lima belas menit kemudian dengan tangannya gemetar dan menangis. Benar-benar menangis.
Maria melongo. "Ya Tuhan."
Sementara Anjani masih diam mengamati
Perempuan itu berjalan melewati mereka sambil terisak. Salah satu rekan kerjanya buru-buru menghampiri.
"Gimana?"
Perempuan itu menutup wajah. "Aku dikuliti hidup-hidup..."
Maria yang mendengarnya hampir tersedak. Sementara di dalam ruangan, suara Ren kembali terdengar.
"Panggil berikutnya."
Astaga. Manusia itu bahkan tidak memberi jeda trauma.
Lima belas menit kemudian, Anjani akhirnya dipanggil. Begitu pintu terbuka, suasana langsung berbeda. Di balik meja kerja yang luas, Ren sedang membaca dokumen. Tidak mengangkat kepala. Tidak menyapa. Tidak menyuruh duduk. Tidak melakukan apa pun.
Anjani berdiri. Maria berdiri. Dan anehnya, tak satu pun dari mereka berani bicara duluan, karena aura pria itu benar-benar seperti kepala sekolah yang sedang mencari pelaku perusakan fasilitas negara.
Beberapa detik berlalu. Ren akhirnya mengangkat kepala. Tatapan tajamnya langsung bertemu Anjani.
Entah mengapa udara mendadak terasa aneh, karena untuk pertama kalinya bentakan di pagi itu berakhir lebih cepat. Ekspresi mengerikan Ren perlahan longgar, meski masih ada sisa-sisa masam di wajahnya yang tampan. Yang ada hanya tatapan panjang, tenang, dan sulit dijelaskan.
Di luar ruangan, beberapa staf diam-diam memperhatikan melalui kaca, lalu mereka saling melirik.
"Eh."
"Hm?"
"Pak Ren belum marah."
Staf lainnya diam mengamati.
"Udah dua menit. Biasanya tiga puluh detik."
Yang lain mengangguk setuju. Benar juga. Ada rekor baru.
Sementara di dalam, Ren akhirnya bersandar. "Terlambat tiga menit."
Nah, kumat lagi. Tapi memang begitulah Ren. Melihat sikap itu, Anjani justru merasa semuanya kembali normal.
"Jam delapan lewat tiga."
"Saya datang sebelum jam delapan. Lift berhenti di lantai lain."
"Itu bukan urusan saya."
Anjani menghela napas. Maria langsung menutup mulut, menahan tawa.
Syukurlah, CEO ini masih menyebalkan. Dunia masih berjalan sebagaimana mestinya. Namun setelah itu, Ren justru memandang beberapa berkas di mejanya, lalu kembali menatap Anjani.
Diam-diam ada sesuatu yang terasa asing dalam dirinya. Perasaan yang sangat jarang muncul. Mungkin bahkan belum pernah.
Puas. Ya, puas. Perempuan itu akhirnya benar-benar ada di sini. Bukan lagi bayangan yang hanya bisa ia lihat sesekali. Kini ia berada di perusahaannya, di bawah pengawasannya, dalam jangkauan matanya setiap hari.
Pikiran itu membuat Ren sedikit mengernyit. Rasanya aneh. Namun, sebelum sempat menelaahnya lebih jauh, Anjani sudah lebih dulu bicara.
"Jadi saya kerja bagian apa?"
Ren menatapnya, lalu menjawab singkat. "Belum tahu."
Maria langsung tepuk jidat.
Sementara Anjani melongo. "Pak Ren."
"Hm."
"Bapak merekrut saya."
"Hm."
"Menarik saya ke perusahaan ini."
"Hm."
"Ngasih syarat aneh."
"Hm."
"Lalu sekarang bilang belum tahu saya kerja apa?"
Ren menutup map dengan tenang. "Yang penting kamu sudah datang."
Anjani membelalak sempurna, merasa Ren sangat menyebalkan. Sedangkan Maria langsung tertawa keras.
Sementara di luar ruangan, beberapa staf yang mendengar percakapan itu hampir menangis haru. Untuk pertama kalinya mereka melihat sesuatu yang mustahil terjadi di dunia ini. Itu sebuah mukjizat.
Seseorang. Benar-benar seseorang yang berani membalas Ren Aksara. Tanpa gemetar, tanpa menangis, tanpa kepanikan, tanpa terlihat menyesal sedikit pun. Yang lebih mengejutkan, ia masih hidup setelah melakukannya.
Anjani masih sedikit kesal karena sampai sekarang belum benar-benar mendapat jawaban pasti tentang posisi kerjanya, setidaknya ia sudah resmi diterima.
"Kalau begitu saya keluar dulu," izin Anjani.
"Hm." Jawaban Ren pendek. Tatapannya sudah kembali ke dokumen-dokumen di meja.
Anjani menghela napas kecil. Pria ini memang luar biasa menyebalkan.
Ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, Maria tiba-tiba menyenggol lengannya.
"Kamu duluan aja."
Anjani mengernyit. "Hm?"
"Aku mau ngomong bentar sama manusia galak ini."
Ren langsung punya firasat buruk. Anjani sendiri tidak terlalu curiga. Ia hanya mengangguk.
"Oke."
Pintu tertutup. Dan baru setelah suara langkah Anjani menjauh, Maria perlahan menoleh. Senyumnya muncul. Senyum yang selalu membuat Ren ingin memecat anggota keluarganya sendiri.
"Kenapa?" Ren bertanya datar.
Maria melipat tangan. "Lucu."
"Apa?"
"Kamu."
"Aku sibuk."
"Kamu aneh."
"Aku normal."
"Bohong."
Ren bahkan tidak mengangkat kepala saat menimpali. Ia sudah hafal, kalau Maria mulai begini, biasanya percakapan tidak akan berakhir baik.
"Kamu tahu nggak?" Maria berjalan mendekat. "Dari dulu aku nggak pernah lihat kamu ngurus orang sampai segitunya."
"Aku sedang bekerja."
"Bohong."
"Aku sedang bekerja."
"Bohong."
Ren mengembuskan napas pelan. "Maria."
"Hm?"
"Pergi."
"Nanti."
Ren mulai memijat pelipis, tanda awal migrain keluarga. Maria justru semakin semangat.
"Kalau cuma cari karyawan, biasanya kamu suruh HR."
"Dan?"
"Yang datang ke kontrakan Anjani siapa?"
Jari Ren sempat membatu di atas dokumen sepersekian detik, namun Maria menangkapnya. Tentu saja. Ia hidup bertahun-tahun bersama manusia bermuka tembok ini.
"Aku kebetulan lewat."
Maria langsung tertawa. "Kebetulan?"
"Hm."
"Kebetulan yang sampai hafal alamat?"
"Hm."
"Kebetulan yang sampai nyuruh tim legal bikin kontrak secepat kilat?"
"Hm."
"Kebetulan yang sampai--"
"Maria."
"Ya?"
"Diam."
Maria tertawa makin keras. Tidak takut sedikit pun, padahal kalau staf lain mendengar nada suara Ren sekarang, mereka mungkin sudah mulai menulis surat wasiat.
"Terus..." Maria belum ingin berhenti.
"Apa lagi?"
"Kamu bahkan nyuruh tim legal nyiapin kontrak kilat."
"Itu prosedur."
"Bohong."
"Itu prosedur."
"Kamu bohong."
Ren mulai kehilangan kesabaran.
"Maria."
"Hm?"
"Keluar."
Maria malah tertawa.
"Belum selesai."
"Sudah."
"Belum."
"Keluar."
"Tunggu."
Ren mendesah kesal, selaras dengan wajah masam yang kali ini kian paripurna.
"Aku cuma heran," lanjut Maria.
"Aku tidak."
"Padahal selama ini banyak desainer hebat yang minta kerja sama kamu."
"Hm."
"Kamu cuek."
"Hm."
"Tapi yang satu ini beda," timpal Maria yang sukses membuat sunyi jatuh.
Ren menutup map dengan sangat pelan. Maria langsung tahu, ucapannya tepat sasaran.
"Aku cuma menghargai kemampuannya."
"Oh."
"Itu saja."
"Oh."
"Jangan membuat cerita sendiri."
"Oh."
Ren mulai kesal, karena tiga kata 'oh' dari Maria lebih mengganggu daripada tiga puluh halaman laporan keuangan.
Maria mendadak menyipitkan mata. "Hm."
"Apa?"
"Kamu tahu nggak?"
"Apa lagi?"
Maria menunjuk telinganya sendiri. "Ini lucu."
Ren mengernyit. "Apa?"
"Telingamu."
Akhirnya Ren benar-benar dibuat membeku. Maria langsung tersenyum lebar.
Nah. Ketemu.
"Kamu sadar nggak sih kalau telingamu merah? Atau jangan-jangan nggak sadar?"
Ren membisu.
"Astaga." Maria menutup mulut.
Terlambat, tawanya sudah pecah duluan. "Ren Aksara. Manusia yang bikin satu lantai kantor stres tiap pagi. Ternyata masih punya sistem peredaran darah normal."
"Keluar."
Maria tertawa. "Kamu gugup?"
"Keluar."
"Jantungmu aman?"
"Keluar."
"Perlu aku panggil dokter? Atau aku panggilkan Anjani?"
"MARIA."
"HAHAHAHA!"
Tawa Maria menggema satu ruangan. Sementara Ren menatapnya dengan wajah datar. Namun satu hal yang tidak bisa disembunyikannya, ujung telinganya memang semakin merah. Dan itu jauh lebih memalukan daripada seluruh laporan bermasalah yang masuk ke mejanya pagi ini.
Bersambung~~