NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 18 (Jebakan yang Berbalik)

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, memantulkan cahaya keemasan di atas seprai abu-abu gelap yang tampak berantakan. Arini membuka matanya perlahan, menyesuaikan indra penglihatannya dengan terangnya ruangan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan kokoh yang mendekap tubuhnya dari belakang. Satu tangan kekar Adrian melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh Arini tanpa jarak hingga punggungnya menempel pada dada bidang pria itu.

Arini menahan napas, wajahnya seketika merona merah padam saat memori keintiman malam tadi berputar kembali di kepalanya. Keintiman tanpa sekat yang mereka lalui menghancurkan seluruh logika kaku yang biasa ia agungkan.

"Sudah bangun?" suara bariton Adrian yang serak khas orang baru bangun tidur terdengar tepat di ceruk leher Arini. Pelukannya di pinggang Arini justru semakin mengerat secara intuitif, menolak untuk melepaskan.

Arini memutar tubuhnya dengan canggung agar bisa menghadap Adrian. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Adrian... lepaskan. Kita harus bersiap. Sore ini kita harus ke rumah Kakek untuk menghadapi Baskoro."

Adrian tidak langsung bergerak. Ia menatap lekat-lekat manik mata Arini, lalu menunduk sedikit untuk mendaratkan satu kecupan lembut yang lama di kening istrinya. "Biarkan Yudha yang mengurus persiapan awal di kantor. Di dalam kamar ini, fokusku hanya kamu."

Kecanggungan yang manis itu terus berlanjut hingga mereka sarapan. Adrian yang biasanya dingin, kini tidak lagi menatap tablet kerjanya, melainkan terus memperhatikan gerak-gerik Arini, membuat Arini beberapa kali salah tingkah saat memotong roti tangkapnya. Namun, di balik kemesraan baru itu, bayang-bayang konfrontasi dengan Baskoro tetap menggantung di kepala mereka.

Sore harinya, sedan mewah milik Adrian membelah jalanan kawasan elite Menteng menuju kediaman utama Kakek Wijaya. Di dalam mobil, keheningan yang sarat akan ketegangan menyelimuti mereka. Arini menatap keluar jendela, mengusap gelang berlian di pergelangan tangan untuk meredakan gemuruh di dadanya.

Melihat kekhawatiran itu, Adrian menggeser duduknya mendekat. Tangan kanan pria itu bergerak menggenggam jemari Arini, lalu membawanya ke depan bibir untuk memberikan kecupan lembut yang menenangkan.

"Jangan tegang, Sayang. Ada aku di sini," bisik Adrian rendah. Suara baritonnya yang biasa sedingin es kutub utara kini selalu terdengar begitu hangat dan posesif setiap kali memanggil istrinya.

Arini menoleh, menatap manik mata elang suaminya dengan senyuman tipis. "Aku hanya tidak sabar ingin melihat bagaimana wajah Baskoro saat jebakannya berbalik malam ini."

Adrian terkekeh pelan, namun tatapannya mendadak berubah menjadi binar manja yang sangat langka saat ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Arini. "Sebelum kita masuk dan menghadapi Baskoro... aku ingin meminta sesuatu darimu, Baby."

Arini mengernyitkan dahi bingung. "Minta apa?"

"Aku memperhatikan sejak kita kembali dari pulau, aku sudah memanggilmu dengan sebutan Sayang atau Baby, dan kamu tidak keberatan," ucap Adrian dengan nada rendah yang menuntut dengan manis. "Tapi kamu sendiri masih sering memanggilku dengan nama saja atau 'Tuan' jika sedang canggung. Aku juga ingin diberi panggilan spesial dari bibir istriku sendiri. Bagaimana kalau kamu mulai memanggilku 'Mas' atau 'Sayang'?"

Wajah Arini seketika merona merah muda. Sisi kaku sang konglomerat yang runtuh total demi meminta sebuah panggilan sayang benar-benar mengacaukan fokusnya. "A-akan aku coba... Mas Adrian."

"Tanpa kata Adrian di belakangnya, Sayang," koreksi Adrian seksi, mencium punggung tangan Arini sekali lagi tepat saat mobil mereka berhenti di lobi depan rumah Kakek Wijaya.

Yudha sudah menunggu di sana dengan koper kerja peraknya. Ketiganya melangkah bersama dengan langkah tegas menuju ruang kerja Kakek di lantai dua.

Atmosfer di dalam ruangan itu terasa sangat mencekam. Kakek Wijaya duduk di kursi kebesarannya dengan wajah tanpa ekspresi, sementara Baskoro berdiri di sisi meja dengan senyum kemenangan yang mengembang lebar, memegang selembar map dokumen merah.

"Ah, akhirnya sang aktor utama kita datang," sindir Baskoro dengan nada mengejek yang kental saat pintu ruangan terbuka. "Kek, seperti yang kubilang tadi, pernikahan mendadak mereka ini hanyalah lelucon besar untuk membodohi Kakek demi mengamankan takhta CEO!"

Kakek Wijaya tidak langsung merespons. Beliau menatap Adrian dan Arini bergantian. "Baskoro, tunjukkan bukti yang kamu bawa. Jangan membuat tuduhan tanpa dasar di rumah ini."

"Dengan senang hati, Kek," Baskoro dengan pongah melemparkan kertas-kertas laporan dari detektif swastanya ke atas meja marmer. "Ini adalah bukti aliran dana sebesar dua ratus juta rupiah dari rekening pribadi Adrian langsung ke yayasan rumah sakit tempat ibu Arini dirawat. Transaksi ini terjadi tepat satu malam sebelum Adrian mengenalkan pelayannya ini sebagai calon istri! Ini adalah bukti transaksi jual-beli pernikahan, Kek! Adrian membayar wanita ini untuk pura-pura menjadi istrinya!"

Arini merasakan tangan sedikit mendingin mendengar kalimat kasar Baskoro, namun Adrian dengan sigap menarik pinggang ramping Arini, merangkulnya sangat posesif di depan Kakek dan Baskoro, menunjukkan kepemilikan mutlak.

"Hanya ini yang kamu punya, Baskoro?" suara Adrian memecah keheningan, kembali ke mode datar dan mengintimidasi. Tidak ada sedikit pun riak kepanikan di wajahnya.

Baskoro mengernyitkan dahi. "Hanya ini?! Ini sudah lebih dari cukup untuk membuat Kakek mencopot jabatanmu sebagai CEO karena telah melakukan penipuan publik!"

Adrian tidak membalas. Ia melirik Yudha, memberikan isyarat kecil. Dengan sigap, Yudha melangkah maju dan meletakkan sebuah dokumen resmi bersampul hukum di atas meja, tepat di atas kertas-kertas milik Baskoro.

"Kek, saya rasa sepupu saya ini terlalu sibuk menguntit kehidupan pribadi kami sampai lupa memeriksa hukum dasar administrasi Wijaya Group," ucap Adrian tenang. "Dokumen yang dibawa Yudha itu adalah akta notaris resmi mengenai jaminan dana kesehatan keluarga yang telah saya daftarkan atas nama Ibu Arini."

Arini kemudian mengambil alih pembicaraan, menggunakan kemampuan bicaranya yang taktis. "Pak Baskoro, sebagai seorang akuntan, saya sangat mengerti alur transaksi. Dana dua ratus juta itu adalah dana talangan darurat yang dikeluarkan suami saya sebagai bentuk komitmen awal seorang pria yang berniat serius menikahi saya. Adrian melunasi utang keluarga calon istrinya menggunakan dana pribadinya sendiri, apakah itu sebuah kejahatan?"

Arini melangkah satu bagian ke depan, menatap tajam ke arah Baskoro yang mulai pucat. "Jika ini adalah pernikahan kontrak atau transaksional seperti yang Anda tuduhkan, untuk apa kami mendaftarkan pernikahan ini secara sah di mata hukum dan agama? Untuk apa kami menghabiskan waktu dua minggu penuh di pulau pribadi tanpa ada satu pun kamera media yang meliput? Apakah sebuah kepalsuan perlu dinikmati berdua saja di tempat terpencil?"

Mendengar argumen Arini yang sangat logis dan menusuk, Baskoro mulai tergagap. "Tapi... tapi kalian baru kenal seminggu! Mana mungkin ada cinta secepat itu?!"

"Baskoro!" suara Kakek Wijaya menggelegar, memotong kalimat sepupu Adrian tersebut hingga membuat seisi ruangan seketika menunduk takut.

Kakek Wijaya mengambil dokumen legal yang dibawa oleh Yudha, membacanya sekilas, lalu melemparkannya kembali ke atas meja marmer. Tatapan mata sang Kakek beralih sepenuhnya kepada Baskoro dengan kilatan amarah yang sangat besar.

"Kamu telah menggunakan dana operasional divisi infrastruktur untuk menyewa detektif swasta demi menguntit cucu dan menantuku!" ucap Kakek Wijaya dengan nada rendah yang menakutkan. "Kamu mencoba merusak nama baik keluargamu sendiri hanya karena ambisi butamu untuk merebut posisi CEO!"

"Kek, aku hanya—"

"Cukup!" Kakek Wijaya berdiri, menunjuk pintu keluar dengan tongkat perak pribadinya. "Mulai besok pagi, posisimu di divisi infrastruktur resmi dicopot! Kamu diskors dari seluruh kegiatan operasional Wijaya Group selama enam bulan ke depan! Keluar dari rumahku sekarang!"

Baskoro terpaku diam, wajahnya memerah padam menahan malu dan syok yang amat sangat. Dengan langkah gontai dan penuh amarah yang tertahan, ia terpaksa melangkah keluar dari ruangan, menatap Adrian dan Arini dengan pandangan penuh dendam sebelum pintu tertutup rapat.

Setelah kepergian Baskoro, ketegangan di dalam ruangan seketika mencair. Kakek Wijaya kembali duduk, mengembuskan napas panjang lalu menatap Arini dengan senyuman hangat yang tulus.

"Maafkan kekacauan ini, Arini. Kakek tahu Adrian adalah pria yang kaku, tapi Kakek sangat bahagia melihat dia memiliki istri yang cerdas dan berani sepertimu," ucap Kakek Wijaya lembut.

"Terima kasih, Kek. Kami hanya ingin melindungi apa yang sudah menjadi hak kami," jawab Arini dengan anggun.

Malam itu, dalam perjalanan pulang di dalam mobil mewah, Adrian tidak lagi memberikan jarak. Ia menarik tubuh Arini ke dalam dekapannya, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di dada bidangnya.

"Kamu luar biasa di dalam tadi, Baby," bisik Adrian rendah, mengecue pelipis Arini dengan penuh kelembutan. "Jadi... bagaimana dengan panggilan spesialku? Aku belum mendengar kata 'Mas' yang murni tanpa embel-embel namaku."

Arini menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang Adrian, lalu berbisik sangat pelan dengan nada manis. "Terima kasih banyak untuk malam ini... Mas."

Mendengar panggilan itu, Adrian tersenyum sangat lebar, mendekap tubuh Arini semakin erat di bawah temaram lampu jalanan kota Jakarta. Kebohongan kontrak itu kini benar-benar telah mati, digantikan oleh jalinan cinta yang nyata di antara mereka.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!