Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat part 3
Setelah selesai, Clara berdiri.
Ia membersihkan tangannya di pasir, lalu berkata.
"Ayo kita cari jalan keluar,"
Will mengangguk.
Ia ikut berdiri. Mereka keluar dari gua.
Pagi di hutan terasa berbeda.
Lebih terang. Lebih hidup.
Tapi tetap terasa asing.
Will melihat ke atas celah-celah daun yang menyisakan langit biru.
"Semoga hari ini kita bisa pulang," batin Will.
Clara mulai membaca situasi hutan di sekitarnya.
Matanya menyapu pepohonan, semak-semak, dan tanah di bawah kaki.
Sekali-sekali ia melihat ke atas celah-celah daun yang ditembus sinar matahari pagi.
Ia sedang mencari jalan keluar hutan.
"Matahari terbit di timur," gumam Clara.
"Kalau kita berjalan menjauh dari matahari, berarti ke barat,"
Will mendekat. "Kita kemarin datang dari arah mana?"
"Timur. Kita masuk dari timur," Clara mengerutkan kening.
"Tapi setelah dikejar goblin, aku tidak yakin masih di jalur yang sama,"
Will terdiam.
Ia mencoba mengingat arah lari mereka, tikungan-tikungan yang mereka lewati, pohon-pohon besar yang menjadi tanda.
Tidak banyak yang bisa diingat. Semuanya terasa gelap dan terburu-buru.
"Kita coba ke barat saja," usul Will.
"Setidaknya kita tidak semakin masuk ke dalam hutan,"
Clara mengangguk. "Baik,"
Mereka berjalan perlahan dan hati-hati. Clara di depan, Will di belakang.
Sesekali Clara berhenti, mendengarkan suara hutan, lalu melanjutkan lagi.
Pepohonan mulai terasa sedikit renggang.
Cahaya matahari semakin mudah masuk.
Tanah tidak lagi licin.
Will mulai berharap.
"Mungkin kita ke arah yang benar," pikirnya.
Tiba-tiba, dari atas pohon, seekor ular besar melesat turun.
Tubuhnya sebesar pohon tua. Sisiknya hitam mengkilap. Matanya kuning menyala. Kepalanya jatuh tepat di depan Will, lalu dalam sekejap, mulutnya menganga lebar.
Will tidak sempat berteriak dan berlari.
Ular itu menelannya mentah-mentah.
Clara yang melihatnya shock.
Mulutnya terbuka.
Tidak ada suara yang keluar.
Tangannya gemetar memegang pisau.
"Will...!" bisiknya dengan putus asa.
Ular besar itu berbalik. Matanya kini tertuju pada Clara. Lidahnya bercabang menjulur ke udara, mencium bau mangsa lain.
Ia mulai merayap mendekat.
Tapi tiba-tiba, ular itu berhenti.
Tubuhnya bergerak aneh. Kejang-kejang. Sisiknya mengendur di beberapa bagian. Dari dalam perutnya yang membengkak, terdengar suara robekan.
Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar. Bukan untuk menelan. Tapi seperti kesakitan.
Jebol.
Tubuh ular itu robek dari dalam.
Will keluar.
Seluruh tubuhnya basah oleh lendir dan darah ular. Napasnya berat. Matanya, merah.
Ular besar itu mati jatuh ke tanah.
Will berdiri di tengah bangkai ular.
Ia melihat ke tubuhnya sendiri, lalu ke tangannya.
"Will...?" suara Clara gemetar.
Will menoleh. Wajahnya lelah, tapi masih utuh.
"Aku baik-baik saja," katanya.
Clara tidak percaya. Tapi ia tidak bisa berkata apa-apa.
Will melihat ke tubuh ular itu.
Ia sudah beradaptasi dengan tubuh ular itu, dimana struktur anatomi tubuh ular dirancang khusus untuk mengunci mangsa agar tidak bisa keluar.
Itulah sebabnya, ia bisa merobek tubuh ular itu dari dalam.
"Ayo cepat pergi dari sini. Sebelum ular lain muncul,"
"Iya," balas Will.
Mereka mulai mencari jalan lain.
Di tengah jalan, Clara menginjak sesuatu yang keras.
Bukan batu. Bukan akar.
Ia berhenti, lalu menunduk. Tangannya menyapu dedaunan kering yang menutupi tanah.
Sebuah kompas.
Benda itu terbuat dari logam tua berwarna keperakan, sedikit kusam karena waktu.
Permukaannya tergores, tapi masih utuh. Gelas pembungkus jarum tidak pecah.
Clara mengambilnya. Ia membersihkan tanah yang menempel.
Akan tetapi, kompas ini aneh.
Jarumnya tidak menunjuk ke utara seperti kompas biasa. Jarum itu bergerak pelan, berputar sebentar, lalu menetap ke arah barat daya.
Clara mengerutkan kening.
Ia memutar kompas itu ke berbagai arah. Tapi jarumnya tetap menunjuk ke yang sama, seolah-olah ada sesuatu yang menariknya.
"Aneh," gumam Clara.
Will mendekat. "Apa itu?"
"Kompas. Tapi jarumnya tidak menunjuk arah utara,"
Will melihat kompas itu. "Rusak?"
"Tidak. Masih berfungsi dengan normal. Tapi..." Clara mengamati gerakan jarum itu.
"Jarum ini konsisten. Selalu ke arah yang sama,"
Ia menatap arah yang ditunjuk jarum itu, barat daya. Ke arah pepohonan yang semakin lebat.
"Atau mungkin kompas ini bukan untuk mencari utara," kata Clara pelan.
"Tapi mencari sesuatu,"
Ia merasa kompas ini bisa membantunya mencari jalan keluar.
Will tidak yakin. Tapi tidak ada pilihan lain.
"Kita ikuti saja," katanya.
Clara mengangguk.
Mereka berbalik arah, mengikuti jarum kompas yang menunjuk ke barat daya.
Di rumah pohon.
Suasana di dalam rumah pohon terasa hangat, berbeda dengan malam sebelumnya. Lampu minyak masih menyala di sudut ruangan.
Aisa duduk di kursi kayu, menyilangkan kaki. Matanya menatap Lola dengan sedikit kesal.
"Kenapa kau menyuruh Will mencari dua orang itu? Kau ingin mereka dikenal trio pendek?" tanya Aisa.
Lola tersenyum tipis. "Awalnya memang seperti itu,"
Wajah Aisa terlihat tidak senang.
"Tapi, dua orang itu bukan makhluk biasa," lanjut Lola.
Aisa mengerutkan kening. "Emang apa kelebihan mereka?"
Lola menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Pertama, Clara sih beruntung. Dia punya kemampuan mengubah keberuntungan sesuatu yang mengancamnya, menjadi miliknya. Karena itu, yang mengancam dia kena sial, bukan dia,"
Aisa terdiam.
"Jadi selama bersama dengan Clara, Will tidak akan celaka?" tanya Aisa.
"Justru Will sering celaka," jawab Lola.
"Apa!"
"Tenang, kekuatan Daimos yang dimiliki Will, membuatnya bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya,"
Lola berhenti sebentar.
"Bahkan, hukum alam yang membuat semua makhluk hidup memiliki batasan. Dengan mudahnya, kekuatan itu menembus batasan tersebut,"
Aisa terdiam. Wajahnya masih tegang, tapi tidak sepanik tadi.
"Jadi... selama dia bersama Clara, dia memang akan sering celaka. Tapi karena kekuatan Daimos, dia akan selalu selamat?"
"Begitulah," jawab Lola.
Aisa menghela napas.
"Itu terdengar melelahkan,"
"Tapi, itu bisa membuat Will menjadi lebih kuat," kata Lola.
Aisa terdiam, merenung sejenak.
Ia tahu, Will bisa beradaptasi dengan semua kemampuan yang ada. Itu semua, berkat kekuatan Daimos.
Bahkan Will, bisa saja tidak terpengaruh kemampuan Clara. Bahkan sebaliknya, siapa pun yang ingin mencelakai Clara akan bernasib sial karena bertemu Will.
Aisa menyadari sesuatu.
Ini seperti hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan.
Clara dilindungi oleh kekuatan Will. Will bisa terus terpapar bahaya untuk memicu adaptasinya, tanpa benar-benar mati.
"Jadi kau sengaja menyusun ini?" tanya Aisa pada Lola.
Lola tersenyum tipis. Tidak menjawab.
Aisa menghela napas. "Lalu yang kedua?"
"Kedua, pemimpin grup band The Howlers. Namanya Reno,"
Aisa mengerjap. "Reno? Penyanyi jalanan itu?"
"Iya. Dia pintar banyak hal, termasuk menciptakan gadget," Lola berhenti sebentar.
"Sekarang dia di penjara Provinsi Estburg,"
Aisa mengusap dahinya.
"Jadi Will harus masuk penjara?" tanya Aisa.
"Atau membantunya keluar," jawab Lola dengan santai.
Aisa terdiam. Wajahnya tidak senang.
Tapi ia tidak bisa membantah. Itu sudah menjadi tugas Will.
Lola hanya tersenyum.
Bersambung...