NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 — Kebahagiaan yang Terganggu

Malam di depan rumah Ravin mendadak terasa aneh dan tidak nyaman. Angin berembus dingin melewati halaman yang sepi, membuat rambut panjang Arum bergerak perlahan di bawah cahaya lampu teras. Ravin masih berdiri kaku beberapa langkah dari wanita itu, kebahagiaan yang tadi memenuhi kepalanya perlahan hilang digantikan rasa bingung dan waspada.

“Kamu… ngapain di sini?” tanya Ravin pelan namun penuh curiga.

Arum menatap rumah itu sebentar sebelum kembali melihat Ravin. “Aku tahu ini rumahmu.”

Ravin langsung mengernyit. “Hah?”

“Aku juga tahu banyak tentangmu.”

Jawaban datar itu justru membuat Ravin makin merinding. Setelah semua kejadian aneh di kuil, sekarang wanita misterius itu tiba-tiba berdiri di depan rumahnya sambil bicara seolah mengenalnya sejak lama.

“Kamu ini sebenarnya dukun atau orang gila sih…” gumam Ravin pelan.

Arum tidak marah. Wajahnya malah tetap tenang seperti tidak peduli disebut aneh.

“Tadi… kau berhasil bersama wanita yang kau sukai.”

Ucapan itu membuat Ravin refleks menyentuh bibirnya lagi, wajahnya langsung salah tingkah. Namun Arum kembali bicara sebelum Ravin sempat menyangkal.

“Tapi dia belum sepenuhnya menjadi milikmu.”

Senyum Ravin perlahan hilang. Kalimat itu terasa aneh, seperti peringatan samar yang membuat dadanya tidak nyaman.

“Kamu ngomong apa sih sebenarnya…” Ravin menghela napas kasar. “Dan kenapa tahu soal hidupku?”

Arum hanya diam beberapa detik sebelum menjawab pelan.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Tatapan matanya terlihat kosong saat mengatakan itu. Tidak ada kebohongan di sana, hanya kesepian yang terasa terlalu dalam.

Ravin makin bingung sendiri. Baru beberapa jam lalu hidupnya terasa sempurna karena Dewi, sekarang ia malah berdiri di depan rumah bersama wanita misterius yang muncul entah dari mana.

“Oke… cukup.” Ravin mengusap wajah frustrasi. “Aku bakal anter kamu balik ke kuil.”

Mendengar kata kuil, ekspresi Arum langsung berubah keras untuk pertama kalinya.

“Aku tidak mau kembali.”

“Nah kan mulai aneh lagi…”

“Aku tidak mau bertemu para biksu itu lagi,” ucap Arum lebih dingin. “Aku muak berada di sana.”

Ravin memandangnya tidak percaya. “Ya terus mau gimana? Masa kamu nongkrong depan rumahku tengah malam begini?”

Perdebatan mereka terhenti ketika pintu rumah terbuka.

“Ravin?”

Suara ibunya terdengar bingung. Wanita paruh baya itu keluar memakai cardigan rumah sambil melihat keadaan depan teras. Namun begitu melihat Arum berdiri di sana, ekspresinya langsung berubah terkejut.

Ravin langsung panik. “Bu tunggu, ini bukan—”

“Ya ampun…” ibunya menatap Arum lalu Ravin bergantian. “Kamu bawa pacar malam-malam?”

“BUKAN!”

Arum hanya memandang polos tanpa membela ataupun menjelaskan, yang justru membuat Ravin terlihat makin salah di mata ibunya.

Karena malam semakin larut dan Arum jelas tidak punya tempat pergi, akhirnya wanita itu masuk ke rumah Ravin.

Suasana ruang makan terasa canggung. Lampu dapur yang kekuningan menyinari meja sederhana tempat ibu Ravin menaruh makanan seadanya—nasi hangat, telur, dan sup sisa makan malam.

“Maaf cuma ada ini,” ucap ibunya ramah.

Arum menatap makanan itu cukup lama. Tatapannya perlahan berubah asing… seolah ia sedang melihat sesuatu yang sudah sangat lama tidak ditemuinya.

Lalu tanpa banyak bicara, Arum mulai makan.

Dan langsung melahapnya dengan cepat.

Ravin yang duduk di seberang sampai berhenti bergerak. Ibunya juga ikut diam sambil memperhatikan Arum yang makan tanpa henti seperti orang yang benar-benar kelaparan.

Sendok di tangan wanita itu bahkan sedikit gemetar.

Ravin dan ibunya saling pandang pelan.

“Dia… emang nggak makan berapa hari?” bisik ibunya.

“Aku juga baru kenal dia, Bu…”

Arum tetap makan tanpa peduli tatapan mereka. Untuk pertama kalinya sejak muncul dari kuil itu, wajah dinginnya terlihat sedikit hidup. Namun justru karena itu Ravin makin sadar…

Wanita di depannya benar-benar bukan orang biasa.

Setelah Arum selesai makan, ibu Ravin pelan menarik tangan anaknya menjauh ke dapur. Wajah wanita itu penuh rasa penasaran sekaligus tidak percaya. Sementara Ravin sudah bisa menebak arah pembicaraan ini akan ke mana.

“Jadi?” tanya ibunya pelan namun menekan. “Kamu masih mau bilang dia bukan pacarmu?”

Ravin langsung memijat pelipisnya. “Bu… serius, bukan.”

Ibunya malah menyipitkan mata. “Mana mungkin ada gadis secantik itu berdiri depan rumah malam-malam sama kamu kalau bukan pacarmu.”

“Ya karena dia lagi ada masalah!”

“Masalah sampai dibawa pulang ke rumah?”

Ravin menghela napas panjang frustrasi. Ia bahkan tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Masa iya dia harus cerita soal kuil tua, roh wanita, dan kejadian aneh semalam?

Ibunya malah semakin yakin melihat Ravin gelagapan.

“Pantes aja kemarin kamu belum sampai ke villa Dewi,” ucap ibunya sambil mengangguk sendiri. “Ternyata jalan sama dia.”

“BUKAN GITU!”

Suara Ravin menggema sampai ruang makan.

Ibunya justru tersenyum kecil seolah sedang melihat anaknya ketahuan bohong.

“Ravin… Ibu nggak marah kok.”

“Tapi emang bukan pacar aku!”

“Kamu jangan nyakitin perasaan perempuan seperti itu ya,” lanjut ibunya serius. “Cantik, sopan, keliatan kasihan juga… nanti kamu kena karma.”

Ravin sampai menatap kosong ke langit-langit dapur. Rasanya percuma menjelaskan. Semakin ia menyangkal, ibunya justru semakin yakin.

“Yaudah terserah deh…”

Dengan kesal Ravin langsung berjalan naik ke lantai atas meninggalkan ibunya.

Pintu kamar tertutup cukup keras.

Ravin merebahkan tubuh di atas kasur sambil mengacak rambut frustrasi.

“Kenapa hidup gue jadi aneh banget sih…”

Namun beberapa detik kemudian, pikirannya kembali teringat kejadian di depan rumah Dewi.

Kecupan singkat itu.

Seketika wajah Ravin berubah merah sendiri. Ia menutup wajah memakai bantal sambil tertawa kecil tidak percaya.

“Dewi beneran nyium gue…”

Jantungnya kembali berisik dipenuhi rasa bahagia. Semua kekesalan tadi langsung terasa hilang separuhnya. Ravin bahkan duduk lagi lalu membuka laci meja kecil di samping tempat tidur.

Di dalamnya ada sebuah kotak hitam kecil.

Ia membukanya perlahan.

Cincin sederhana berwarna perak berkilau terkena cahaya lampu kamar.

Ravin tersenyum tipis. Itu sebenarnya hadiah yang sudah lama ia siapkan untuk diberikan saat dinner romantis bersama Dewi nanti. Namun karena semuanya berantakan hari ini, cincin itu malah masih tersimpan rapi.

“Belum waktunya…” gumamnya pelan sambil menutup kotak itu lagi.

Sementara itu di lantai bawah, ibu Ravin duduk menemani Arum di ruang tamu. Lampu rumah sudah diredupkan, menyisakan suasana hangat dan tenang di tengah malam.

“Kalian udah lama pacaran?” tanya ibu Ravin lembut sambil menuangkan teh hangat.

Arum yang duduk tegak memandang wanita itu beberapa detik. Dari cerita ibunya Ravin tadi, ia mulai memahami hubungan Ravin dan Dewi.

Dan perlahan… sebuah ide muncul di kepalanya.

“Sudah lama,” jawab Arum tenang.

Jawaban itu langsung membuat ibu Ravin tersenyum lebar.

“Ya ampun… Ravin nggak cerita apa-apa sama sekali.”

Arum hanya diam sambil memegang cangkir hangat di tangannya.

“Kamu asalnya dari mana?”

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi.”

Nada suara Arum terdengar datar, tetapi justru membuat ibu Ravin merasa iba.

“Orang tuamu?”

“Sudah tidak ada.”

Ruangan langsung terasa lebih sunyi.

Ibu Ravin menatap Arum dengan wajah kasihan. Gadis secantik itu ternyata hidup sendirian tanpa keluarga. Hatinya langsung luluh membayangkan Arum seperti sebatang kara.

“Kasihan sekali…” ucapnya lirih.

Arum menunduk pelan menyembunyikan tatapan matanya. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari kuil itu, ia merasa menemukan tempat yang bisa memberinya sesuatu yang selama ini hilang.

Bukan hanya tempat tinggal.

Tetapi kesempatan.

Malam semakin larut ketika Arum akhirnya masuk ke kamar tamu. Cahaya lampu tidur menerangi wajah pucatnya yang kini tampak jauh lebih tenang.

Ia duduk di tepi kasur sambil tersenyum tipis.

Senyum kecil yang terasa asing di wajah dinginnya.

Seolah wanita itu… sedang merencanakan sesuatu yang menarik.

Kabut tipis turun menyelimuti halaman kuil tua itu. Angin malam berhembus pelan melewati lonceng-lonceng kecil di atap kayu hingga menimbulkan suara nyaring yang sepi dan panjang. Di dalam aula utama, cahaya lilin bergetar redup menerangi dinding batu yang dipenuhi lukisan tua. Namun satu lukisan paling besar di tengah ruangan kini kosong. Tidak ada lagi sosok wanita berambut panjang yang dahulu memeluk bulan perak di sana.

Biksu tua berdiri diam cukup lama di depan bingkai kosong itu. Tatapannya tenang, tetapi wajah keriputnya terlihat berat seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin terjadi. Tongkat kayunya menyentuh lantai perlahan, memecah kesunyian malam.

Beberapa biksu muda yang sedang membersihkan ruangan saling melirik dengan gelisah. Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri bertanya pelan.

“Guru… roh wanita itu menghilang?”

Biksu tua tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas kecil sambil memandang bekas lukisan yang sekarang tinggal noda samar seperti bayangan yang memudar dimakan waktu.

“Jangan mencarinya,” ucapnya akhirnya pelan namun tegas. “Dan jangan mencoba mengusiknya.”

Para biksu muda tampak bingung. Salah satu dari mereka menunduk ragu.

“Tapi bukankah dia roh terkutuk? Jika dibiarkan berkeliaran—”

“Dia bukan iblis.”

Suara biksu tua memotong cepat. Untuk pertama kalinya nada suaranya terdengar berat. Ruangan kembali sunyi.

“Roh itu hanya sial… tetapi hatinya tidak sejahat yang kalian kira.” Matanya kembali memandang bingkai kosong itu. “Dahulu… dia juga manusia.”

Angin dingin tiba-tiba masuk dari celah pintu kuil membuat api lilin bergoyang liar. Beberapa biksu muda bergidik tanpa sadar. Suasana malam itu terasa aneh, seolah ada sesuatu yang sedang memperhatikan mereka dari kegelapan luar kuil.

Salah satu biksu kembali bicara pelan. “Lalu pemuda yang datang kemarin malam… apakah dia ada hubungannya dengan roh itu?”

Biksu tua terdiam cukup lama. Wajahnya perlahan berubah muram.

“Aku tidak tahu siapa pemuda itu sebenarnya,” katanya lirih. “Tetapi saat dia memasuki kuil ini… takdir mulai bergerak.”

Ucapan itu membuat para biksu saling menatap tidak nyaman.

Biksu tua menggenggam tongkatnya lebih erat. Ada firasat buruk yang sejak kemarin terus menghantui pikirannya. Perasaan yang bahkan lebih mengganggu daripada keberadaan roh bulan itu sendiri.

“Akan ada seseorang yang celaka,” gumamnya pelan hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Dan saat semuanya dimulai… mungkin sudah terlambat untuk menghentikannya.”

Suasana aula mendadak terasa semakin dingin. Di luar kuil, bulan purnama perlahan tertutup awan hitam sementara suara angin malam terdengar seperti bisikan panjang yang menyeramkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!