Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: DARAH DI LANTAI SEMEN DAN SUMBU YANG TERBAKAR
Kegelapan di dalam sel tahanan sementara itu terasa lebih dari sekadar absennya cahaya. Udara di sana berat, bercampur aroma karat besi, keringat masam, debu yang mengendap bertahun-tahun, dan keputusasaan yang merayap di setiap sudut dinding semen yang lembap. Reyhan duduk di bangku panjang ruang makan tahanan, tempat di mana hukum rimba berlaku lebih nyata daripada pasal-pasal di pengadilan.
Kaki kanannya yang digips terasa berdenyut nyeri, sensasi panas seperti ditusuk-tusuk jarum terus menjalar hingga ke pinggang. Namun, wajah Reyhan tetap sedingin es, setenang permukaan danau di tengah badai. Ia tahu, Derian tidak akan membiarkannya tenang. Rupanya, Derian telah mengatur siasat busuk; menggunakan oknum polisi yang bisa disuap dengan beberapa gepok uang untuk memastikan Reyhan tidak hanya mendekam, tapi juga "dibereskan" sebelum persidangan dimulai.
Di hadapan Reyhan, sebuah nampan plastik berisi nasi kering, sayur hambar yang sudah layu, dan sepotong tempe keras tersaji. Saat ia baru saja hendak menyentuh sendoknya, sebuah tangan kasar dengan kuku-kuku hitam menepis nampan itu hingga isinya tumpah berantakan ke lantai semen yang kotor.
"Ups, sori. Tanganku licin," ucap seorang pria bertubuh tambun dengan tato ular yang melilit lehernya hingga ke telinga. Namanya adalah Jalu, tahanan bayaran yang disewa khusus oleh Derian melalui orang ketiga untuk membuat hidup Reyhan seperti neraka.
Reyhan hanya menatap butiran nasi yang berceceran di lantai tanpa emosi. Ia tetap diam, tidak terpancing. Ia tahu, kemarahan adalah umpan yang diinginkan musuhnya.
"Heh, Gembel! Kamu tuli?" Jalu kembali memprovokasi. Kali ini, ia mengambil gelas plastik dan menumpahkan air minum tepat ke atas kepala Reyhan. Air dingin itu mengalir di sela-sela rambut Reyhan, membasahi kemeja putihnya yang sudah kusam. "Di sini tidak ada tempat untuk pahlawan kesiangan. Kamu tahu kenapa kamu ada di sini? Karena kamu itu sampah yang mencoba memakai mahkota raja. Sadar diri, Supir!"
Reyhan menyeka wajahnya dengan punggung tangan perlahan. Matanya yang tajam—mata sang penguasa Dirgantara yang sedang menyamar—menatap Jalu dengan intensitas yang mematikan.
"Jangan cari masalah yang tidak sanggup kamu selesaikan," ucap Reyhan pelan. Suaranya rendah, namun memiliki vibrasi yang membuat beberapa tahanan lain di sekitar mereka mendadak diam karena ngeri.
"Wah, berani mengancam?" Jalu tertawa keras, suaranya menggema di ruang makan. Tanpa peringatan, ia melayangkan satu pukulan hook keras ke arah wajah Reyhan.
Bugh!
Reyhan terhuyung, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. Namun, dalam sekejap mata, ia bangkit. Meski satu kakinya cedera berat, gerakan Reyhan masih secepat kilat. Ia meraih leher Jalu dengan satu tangan yang kuat bagai cengkeraman besi, lalu dengan kekuatan penuh, ia menghantamkan kepala pria tambun itu ke pinggiran meja besi dengan suara dentuman yang memilukan.
Krak!
Jalu langsung ambruk, tak sadarkan diri dengan darah mengalir deras dari pelipisnya. Ruang makan itu mendadak sunyi sesaat, sebelum akhirnya kegaduhan pecah.
Melihat kawan mereka tumbang, lima orang tahanan lain yang merupakan anak buah Jalu langsung bangkit. Mereka mengeroyok Reyhan dari segala sisi. Dalam kondisi kaki patah, Reyhan hanya mampu menahan serangan dari depan. Sebuah tendangan keras menghantam punggungnya dari belakang, dan sebuah bogem mentah mendarat telak di rahangnya.
Reyhan tersungkur. Kepalanya menghantam lantai semen. Pandangannya mengabur, lampu neon di langit-langit seolah menari-nari. Kaki-kaki itu terus menghujam tubuhnya—perut, rusuk, dan yang paling kejam, mereka sengaja mengincar gips di kakinya.
"Aakh!" Reyhan mengerang tertahan.
Sebelum kesadarannya hilang total, ia mendengar suara tawa puas dan langkah kaki oknum petugas yang sengaja menjauh agar pengeroyokan itu tuntas. "Beres. Buat dia menyesal pernah lahir ke dunia," kata salah satu pengeroyok. "Tuan Derian pasti senang mendengar berita ini."
Guna-Guna dan Luka Hati
Di kediaman Hutama, Vanya mengurung diri di dalam kamarnya. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan keremangan dari lampu jalan yang menembus celah jendela. Ia meringkuk di atas tempat tidur king size-nya, memeluk lututnya erat-hadiah dari trauma dan keraguan.
Hatinya hancur berkeping-keping. Bukan karena ia percaya sepenuhnya pada Derian, tapi karena ia merasa dikhianati oleh intuisinya sendiri. Bagaimana bisa ia, Vanya Hutama yang cerdas dan angkuh, bisa menaruh hati pada seorang pria yang kini dicap sebagai dalang pembegalannya?
"Rey... aku benci kamu. Akan kubuat kamu menyesal karena telah membohongiku dengan wajah polosmu itu," bisiknya pada bantal yang sudah basah oleh air mata.
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan. Derian masuk tanpa menunggu jawaban. Ia duduk di pinggir tempat tidur, mencoba mendekat, namun Vanya secara insting bergeser menjauh, menciptakan jarak yang nyata.
"Vany... sudahlah, jangan sedih terus," ucap Derian dengan nada yang sangat tulus, meski di dalam kepalanya ia sedang menghitung keuntungan. "Aku di sini setia menemanimu. Kamu ini gimana sih? Aku yang jelas-jelas setia lima tahun tidak kamu percaya sepenuhnya, tapi si Reyhan yang baru sebentar sudah membuatmu ragu padaku?"
Vanya terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela yang gelap.
"Vany, aku maklum kalau kamu sulit melupakan dia. Karena jujur, aku curiga dia punya 'ilmu hitam' atau semacam guna-guna pengasihan," hasut Derian lagi, menanamkan benih mistis untuk menutupi kecerdasan Reyhan yang sebenarnya. "Dia bisa mempengaruhi pikiran orang agar bersimpati. Mungkin itu sebabnya dia selalu tahu apa yang kamu pikirkan sebelum kamu bicara. Itu bukan perhatian, Vany... itu jerat."
Vanya tersentak. Ia teringat momen-momen saat Reyhan selalu tahu suasana hatinya tanpa ia bercerita. "Apa benar dia setega itu? Apa aku memang... kena guna-guna?"
"Bisa jadi, Sayang. Orang rendahan seperti dia biasanya pakai cara kotor untuk masuk ke lingkungan elit seperti kita. Dia ingin 'memakan' kamu dari dalam," Derian mencoba mengecup kening Vanya.
Vanya segera menghindar, perasaannya masih carut-marut. Rasa jijik mendadak muncul, entah pada Reyhan atau pada situasi ini. "Der, tolong... biarkan aku sendiri dulu. Kepalaku pusing sekali."
Wajah Derian mengeras sesaat, namun ia segera memasang topeng senyum palsunya. "Baiklah. Istirahat ya, Sayang. Besok kita bicarakan soal pertunangan kita untuk menenangkan Papa."
Begitu pintu tertutup, Vanya menangis lagi. Jika benar itu pengaruh ilmu hitam, mengapa rasa sakit di hatinya terasa begitu nyata, begitu manusiawi, dan begitu... tulus?
Investasi di Balik Cincin Pertunangan
Di kamar utama, Bramantyo duduk bersandar dengan wajah letih yang nampak sepuluh tahun lebih tua. Melly, istrinya, memijat bahu Bram dengan lembut, mencoba mengurai ketegangan di sana.
"Pah, apa Papa benar-benar yakin Reyhan pelakunya? Dia anak yang sopan selama di sini," tanya Melly ragu.
"Entahlah, Mah. Logika Papa bilang iya karena polisi punya saksi kunci, tapi hati Papa merasa ada yang hilang sejak dia dibawa pergi," desah Bram. "Besok Papa akan ke kantor polisi. Papa ingin menatap matanya sekali lagi tanpa ada Derian di sana."
"Tapi Pah, kondisi perusahaan bagaimana?"
Bram memijat pelipisnya yang berdenyut. "Itu dia yang bikin Papa pusing. Saham perusahaan anjlok. Investor lari karena isu keamanan keluarga kita. Derian bilang dia punya kenalan investor besar dari Singapura yang siap menyuntikkan dana segar miliaran rupiah."
Bram terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada berat, "Tapi Derian ingin investasi itu menjadi 'hadiah pertunangan' dengan Vanya. Dia ingin kepastian bahwa Vanya menjadi miliknya sebelum dia menyelamatkan aset kita."
Melly menghentikan pijatannya, matanya membelalak. "Apa harus secepat itu, Pah? Vanya sedang terguncang. Itu seperti menjual anak sendiri!"
"Papa tahu! Tapi ini soal periuk nasi ribuan karyawan kita, Mah. Jika perusahaan bangkrut, kita semua habis. Derian sangat mencintai Vanya, tapi Papa takut jika dipaksa, Vanya malah akan hancur."
Sang Naga Bangkit dari Tidur
Di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang berfungsi sebagai markas rahasia, suasana mendadak mencekam melebihi malam jumat kliwon. Seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka jahitan di pipinya—Bruno—sedang meremas ponselnya hingga layarnya retak seribu.
Ia baru saja menerima kabar dari informannya yang menyamar di dalam penjara.
"Apa kau bilang? Tuan Rey... Tuan Reyhan Dirgantara dikeroyok di dalam sel oleh tahanan bayaran?" suara Bruno menggelegar, membuat tumpukan peti di sekitarnya bergetar.
"Benar, Bos. Dia jadi bulan-bulanan pengeroyokan di ruang makan. Kondisinya kritis karena kakinya memang sedang patah dan ia tidak bisa menghindar dengan sempurna," lapor anak buahnya dengan suara gemetar.
Bruno berdiri, mengenakan jaket kulit hitamnya yang berat. Matanya menyala penuh amarah yang purba. Reyhan bukan sekadar mantan bos bagi mereka; Reyhan adalah pria yang pernah menyelamatkan nyawa Bruno dari eksekusi lawan dan memberikan martabat pada kelompok mereka sebelum Reyhan memutuskan masuk ke dunia bisnis legal keluarga Dirgantara.
"Kumpulkan anak-anak yang punya kasus ringan atau yang punya catatan kriminal 'nanggung'," perintah Bruno dengan nada dingin yang mematikan. "Kita sendiri yang akan masuk ke penjara itu malam ini. Aku akan melakukan keributan di depan kantor polisi sekarang juga agar bisa dijebloskan ke sel yang sama."
Ia mengambil sebilah pisau lipat kecil dan menyelipkannya di balik sepatu boot-nya. "Aku akan pastikan siapa pun yang menyentuh Tuan Rey akan pulang dengan membawa nyawa di dalam kantong plastik. Sang Naga sedang terluka, dan saat ia bangun, dunia ini harus bersiap untuk terbakar."
Malam itu, di sel yang gelap, Reyhan terbaring pingsan dengan luka-luka baru yang menghiasi wajah tampannya. Darah mengering di lantai semen di bawah kepalanya. Ia tidak tahu bahwa sementara Vanya sedang membencinya dan Derian sedang merayakan kemenangannya, sebuah pasukan bayangan sedang bergerak menuju penjara untuk memulai perang yang sesungguhnya. Sumbu ledak telah terbakar, dan ledakannya akan meruntuhkan siapa pun yang berani bermain api dengan seorang Dirgantara.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan